Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.
Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—
*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*
Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.
Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**
Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:
*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*
Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**
Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.
Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**
Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**
Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:
*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*
Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.
——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Cemburu yang Tak Punya Nama
“Kita ke Sentosa.”
Naren mengucapkannya saat sarapan, seolah keputusan itu termasuk agenda bisnis.
Laras menaruh cangkir. “Rapat?”
“Tidak ada rapat sampai sore.”
“Lalu kenapa?”
“Karena kamu sejak tadi menatap roti seperti mau menggugatnya.”
Bayangan Nirmala masih melekat, tetapi Laras tidak mau memberi Naren kepuasan melihatnya terluka. “Baik. Anggap saja studi lapangan.”
Universal Studios Sentosa ramai oleh keluarga dan turis. Di tengah warna-warni toko, Laras tampak lebih muda, lebih ringan. Ia berhenti di kios suvenir dan mengangkat boneka Minion edisi khusus.
“Lucu,” katanya.
“Beli.”
“Mahal.”
“Aku bayar.”
“Itu bukan solusi semua hal.” Laras menoleh kepada penjaga kios. “Abang, kasih diskon dong. Saya beli dua.”
Penjaga itu tertawa. “Pacarnya baik banget, pasti dibeliin.”
Laras dan Naren sama-sama diam.
“Bukan pacar,” kata Laras akhirnya.
“Belum,” gumam penjaga sambil memindai harga.
Mereka membeli satu boneka. Naren membawanya meski Laras sudah dua kali meminta kembali.
Di depan wahana, fotografer taman menawarkan foto. Laras setuju. Saat fotografer menyentuh bahunya untuk menggeser posisi, Naren langsung berdiri di antara mereka.
“Saya cuma atur posisi,” ujar fotografer.
“Tidak perlu pegang dia.”
“Pak, dia punya saya?” Laras menyindir.
“Dia punya aku,” kata Naren.
Kalimat itu meluncur tanpa sempat ditahan. Ketiganya membeku.
Laras melipat tangan. “Punya siapa? Punya Mas Galih atau punya kamu?”
Naren menatap fotografer. “Ambil fotonya.”
“Jangan kabur.”
“Aku tidak kabur.”
“Wajahmu bilang lain.”
Untuk pertama kali sejak pesta, Laras tertawa sungguhan. Naren terlihat kesal, tetapi telinganya memerah tipis.
Mereka mencoba satu wahana, makan es krim, lalu duduk di bangku. Laras memeluk boneka Minion.
Di wahana pertama, Naren bersikeras memilih kursi depan. Lima menit kemudian, pria yang biasa memimpin rapat tanpa berkedip itu keluar dengan wajah pucat.
“Anda takut roller coaster?” Laras menggoda.
“Tidak.”
“Tangan Anda masih pegang pengaman.”
Naren melihat ke bawah dan baru sadar jemarinya mencengkeram tali tas suvenir. Laras tertawa sampai harus bersandar ke pagar.
“Jangan cerita ke siapa-siapa.”
“Saya sudah jadi pemegang rahasia keluarga Hardjanto sekarang?”
“Satu rahasia tidak membuatmu keluarga.”
Tawa Laras berhenti sepersekian detik. Naren menyadari kesalahannya, tetapi tidak tahu cara menarik kalimat itu.
“Benar,” kata Laras. “Saya bukan keluarga siapa pun di lingkaran Anda.”
Ia berjalan menuju kios es krim. Naren menyusul dan membayar dua cone tanpa bertanya rasa. Cokelat untuk Laras, kopi untuk dirinya. Pilihannya tepat.
“Anda ingat rasa kesukaan saya juga?”
“Kamu selalu mengambil cokelat kalau tegang.”
“Saya tidak sedang tegang.”
“Kamu baru saja berjalan terlalu cepat selama seratus meter.”
Laras menerima cone. “Jangan kira es krim bisa memperbaiki ucapan Anda.”
“Aku tahu.”
“Tapi saya tetap makan.”
“Aku juga tahu.”
Permintaan maaf tidak terucap. Rasa kopi dan cokelat yang meleleh di bawah matahari menjadi bentuknya.
“Saya mau kirim ini ke Rumah Puspa.”
“Rumah yang atapnya bocor?”
Laras menoleh tajam. “Anda ingat?”
“Aku ingat banyak hal.”
“Tempat sementara untuk anak perempuan.”
“Berapa anak?”
“Belum waktunya.”
Naren mengambil boneka, memeriksa jahitannya, lalu membeli satu lagi tanpa bertanya. Laras hendak protes, tetapi ia melihat ukuran dua boneka berbeda.
“Kenapa dua?”
“Kalau satu, mereka bertengkar.”
“Anaknya enam.”
Naren memanggil pegawai dan membeli empat lagi.
“Naren!”
“Sekarang cukup.”
Laras menatap enam boneka dalam kantong besar. “Saya akan ganti uangnya.”
“Tidak perlu.”
“Saya serius.”
“Anggap ongkos karena kamu memperbaiki kontrak kemarin.”
Alasan itu cukup menghormati harga dirinya. Laras mengangguk.
Seorang anak kecil yang lewat menunjuk kantong mereka. “Mama, banyak sekali!”
Ibunya tersenyum kepada Laras dan Naren. “Anaknya banyak, ya?”
Laras tersedak es krim. Naren, yang biasanya paling cepat memperbaiki salah paham, justru menjawab, “Enam.”
Ibu itu mengucapkan selamat lalu pergi. Laras memukul lengan Naren dengan kantong kertas.
“Kenapa Anda iyakan?”
“Memang enam.”
“Bukan anak kita.”
“Aku tidak bilang anak kita.”
“Wajah Anda bilang begitu.”
“Sekarang wajah bisa bicara?”
“Wajah Anda berisik sekali hari ini.”
Mereka kembali tertawa. Dalam keramaian taman, tak ada yang mengenal Galih. Tak ada yang menilai Laras dari tasnya. Selama beberapa jam, kebohongan mereka tidak terasa seperti jebakan, melainkan libur singkat dari kehidupan masing-masing.
Mereka mengobrol tentang masa kecil. Laras belum pernah naik wahana sampai dewasa. Naren tumbuh dengan guru privat, les etiket, dan jadwal yang diatur per lima belas menit.
“Kaya ternyata membosankan,” kata Laras.
“Miskin juga tidak menyenangkan.”
“Setidaknya kita sepakat hidup sama-sama menyebalkan.”
Naren tertawa pelan. Laras menatapnya, kaget mendengar bunyi yang sangat jarang itu.
Malamnya di hotel, kesunyian berubah berat. Begitu pintu kamar tertutup, Naren mencium Laras dengan tergesa. Laras menahan dadanya.
“Kenapa?”
“Aku mau kamu.”
“Bukan jawaban.”
“Fotografer itu menyentuhmu.”
“Demi foto.”
“Aku tidak suka.”
Laras menatapnya lama. “Cemburu?”
“Jangan geer.”
“Kalau saya bilang berhenti?”
Naren langsung melepaskan pinggangnya. “Aku berhenti.”
Jawaban tanpa ragu membuat Laras sendiri yang menarik kerahnya kembali.
Kali ini kedekatan mereka bukan transaksi atau ketenangan. Ada desakan, napas yang lebih berat, dan tangan Naren yang selalu kembali ke pinggang seolah memastikan Laras tidak hilang. Meski tergesa, ia tetap menunggu setiap izin. Laras merasakan sesuatu yang baru di balik semua itu: ketakutan seorang pria yang belum mengerti mengapa ia takut kehilangan.
“Jangan dekat-dekat cowok lain,” bisik Naren.
“Aturan baru?”
“Permintaan.”
“Saya pikir Anda tidak meminta.”
“Sekarang aku minta.”
Laras menyentuh sisi wajahnya. “Anda tidak boleh meminta kesetiaan kalau Anda sendiri tidak bisa memberi saya posisi.”
“Aku tidak menyentuh perempuan lain.”
“Itu bukan posisi.”
“Apa yang kamu mau?”
“Saya mau Anda berhenti berpura-pura ini cuma aturan.”
Mata Naren gelap. “Kalau aku berhenti berpura-pura, kita tidak bisa kembali.”
“Kita memang sudah tidak bisa kembali sejak malam pertama.”
Naren menunduk dan menempelkan dahi pada dahi Laras. Mereka diam sangat lama, cukup dekat untuk saling merasakan napas, terlalu takut mengucapkan kata yang sudah berdiri di antara mereka.
Sesudahnya, Naren tidak pergi. Ia memeluk Laras dari belakang, terlalu erat untuk disebut kebiasaan. Laras memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Napas Naren tetap terjaga sepanjang malam.
Setiap kali Laras bergerak, pelukannya mengencang seolah tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya. Menjelang subuh, Laras membuka mata. Enam boneka Minion berjejer di dekat koper, menjadi saksi lucu bagi dua orang yang tak mampu tertawa lagi. Ia menyentuh tangan Naren di pinggangnya, tetapi tidak melepaskannya.
Di belakangnya, Naren masih terjaga dan tahu Laras tidak benar-benar tidur. Keduanya memilih mempertahankan kebohongan kecil itu sampai cahaya pagi masuk perlahan ke seluruh kamar hotel.