NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Kata Kayla

"Om Jendra, kalian sudah ciuman?"

Kayla yang berusia enam tahun menanyakan itu di tengah ruang tamu penuh keluarga.

Janendra baru saja mengoreksinya agar tidak memanggil Kakak, melainkan Om Jendra. Anak Mbak Sinta itu lalu menyimpulkan bahwa orang dewasa yang menjadi pacar Tante Nindi pasti sudah menikah atau berciuman.

Anindita berharap sofa menelannya.

"Sudah dong," jawab Janendra tenang.

Bu Sulastri berseru kaget. Para tante tertawa. Kayla mengangguk puas seperti baru menyelesaikan soal matematika.

Anindita menyeret Janendra ke kamar Bimo.

"Kenapa bilang sudah?"

"Kalau bilang belum, mereka curiga kita bohong."

"Sekarang mereka mengira kita macam-macam!"

Janendra mengamati wajahnya. "Kak Nindi belum pernah ciuman, ya?"

"Pernah. Banyak."

"Sama siapa?"

"Bukan urusanmu."

"Wajah Kakak bilang belum."

Anindita mengumumkan tidak akan bicara dengannya seharian. Ia benar-benar menjaga janji, meski Janendra berkali-kali mengirim camilan, teh, dan catatan maaf lewat Kayla.

Sepanjang siang, keluarga besar terus menguji sandiwara mereka. Mbak Sinta bertanya tempat kencan pertama, Bu Sulastri meminta Janendra menyebut makanan yang dibenci Anindita, dan Kayla ingin tahu siapa yang lebih dulu bilang cinta. Janendra menjawab tanpa ragu. Tempat pertama mereka bertemu di bandara, Anindita membenci pare, dan soal cinta masih menjadi rahasia.

Semua jawaban benar, tetapi memiliki arti berbeda dari yang dipahami keluarga.

Ketika Anindita mengambil teh, Janendra sudah lebih dulu mengurangi gula. Saat ia kepanasan, pemuda itu memindahkan kipas tanpa disuruh. Perhatian kecil itu membuat Mbak Sinta berbisik bahwa mereka terlihat cocok.

"Dia cuma pintar mengamati," jawab Anindita.

"Orang mengamati karena peduli," kata sepupunya.

Anindita menoleh. Janendra sedang membantu Pak Prawira menata kursi sambil mendengarkan ceritanya dengan sabar. Tidak sekali pun dia memeriksa ponsel. Kesepian yang sempat terlihat kemarin seolah menemukan tempat beristirahat di rumah mereka.

Malamnya Anindita tak bisa tidur. Senyum Janendra terus muncul setiap kali memejamkan mata. Pukul dua dini hari ia keluar mencari keripik dan menemukan pintu kamar Bimo terbuka.

Janendra berdiri di sana dengan rokok di tangan.

"Kamu merokok?"

"Sedikit kalau bad mood."

Anindita mengulurkan telapak. "Sini."

Anehnya, Janendra menyerahkan rokok itu dan mematikannya.

"Kenapa bad mood?"

"Ada orang yang nggak mau bicara sama aku."

"Salah sendiri."

"Tapi lihat Kakak sekarang, mood-ku langsung naik."

"Gombal."

Suara pintu kamar orang tuanya bergerak. Panik, Anindita mendorong Janendra masuk dan mematikan lampu. Dalam gelap, tangannya berniat menutup mulut pemuda itu, tetapi justru memegang dagunya.

Cahaya bulan membentuk garis bibir Janendra. Anindita menatap terlalu lama. Janendra menunduk. Ia memejamkan mata.

"Kak," bisik Janendra.

"Apa?"

"Kakak menginjak kakiku."

Anindita mundur. Kepalanya membentur lemari.

Janendra menahan tawa. "Tadi mau cium aku?"

"Aku nggak punya nafsu duniawi begitu."

"Kalau aku punya."

Tatapan Anindita turun refleks. Janendra langsung menutup matanya dengan telapak tangan.

"Jangan lihat sembarangan, Tante Nindi."

Anindita menepis tangannya dan kabur ke kamar.

Di balik pintu, ia mendengar Janendra tertawa pelan. Rokok yang disita masih ada di genggamannya. Ia membuangnya ke tempat sampah, lalu mencuci tangan, tetapi aroma tembakau samar dan sabun Janendra tetap tertinggal.

Keesokan pagi Kayla datang membawa gambar krayon. Ada dua orang bergandengan tangan di bawah tulisan Tante Nindi dan Om Jendra.

"Ini hadiah karena kalian sudah ciuman," katanya.

Anindita menutup wajah. Janendra menerima gambar itu dengan sangat serius dan menempelkannya di dinding kamar Bimo.

"Biar nanti kalau nikah beneran kita punya bukti dukungan keluarga," katanya.

"Jangan ajari anak kecil aneh-aneh."

Kayla menarik ujung baju Anindita. "Tante Nindi mukanya merah."

Seluruh ruang tamu kembali tertawa.

Janendra membungkuk di dekat telinganya. "Kalau mau membuktikan jawaban kemarin bukan bohong, malam ini aku siap."

Anindita menyikut perutnya, tetapi pemuda itu hanya tertawa. Di antara keramaian Lebaran, rumah itu terasa lebih hidup daripada biasanya, dan Janendra tampak menikmati setiap teguran Bu Sulastri seolah sudah lama merindukan suara seorang ibu.

Saat semua tamu pulang, Anindita menemukan Janendra sendirian di teras, menatap gambar Kayla melalui jendela.

Di meja teras ada dua cangkir jahe hangat. Janendra mendorong satu kepadanya.

"Kamu memang selalu menyiapkan dua?"

"Aku tahu Kakak akan keluar. Kalau penasaran, alisnya berkerut terus."

"Aku nggak penasaran."

"Berarti menemani aku. Lebih bagus."

Anindita meniup minuman. "Kenapa kamu suka rumah ramai?"

Janendra menatap halaman. "Karena di tempat ramai, orang sadar kalau kita nggak ada."

Jawaban itu datang begitu pelan hingga hampir hilang bersama suara motor di jalan. Anindita ingin bertanya tentang orang tuanya, tetapi melihat jemari Janendra mencengkeram cangkir. Ia memilih tidak memaksa.

"Kalau besok kamu nggak ada di meja makan, Ibu pasti keliling Jogja mencarimu," katanya.

Janendra tertawa, tetapi matanya berkilat. "Makanya aku betah jadi pacar bayaran di sini."

Kata bayaran mengingatkan Anindita bahwa semua ini punya batas waktu. Anehnya, pikiran itu terasa seperti kehilangan.

"Masih bad mood?"

"Sudah nggak."

"Karena lihat aku?"

Janendra menoleh. "Nah, sekarang Kakak yang gombal."

Untuk pertama kalinya hari itu, Anindita tidak menyangkal. Ia duduk di sampingnya, dan bahu mereka bersentuhan dalam diam yang tidak canggung.

Janendra memecah keheningan lebih dulu. "Besok jangan diamkan aku seharian lagi."

"Kalau kamu nggak asal bicara di depan keluarga."

"Aku cuma menyelamatkan sandiwara kita."

"Dengan mengaku sudah menciumku?"

"Kalau Kakak keberatan karena itu bohong, kita bisa memperbaiki faktanya."

Anindita mencubit lengan pemuda itu. Janendra tertawa, tetapi tidak mendekat lagi. Dia tahu kapan godaan harus berhenti.

Sebelum kembali ke kamar, Anindita melihat tempat sampah kecil di teras. Hanya ada satu puntung rokok. Janendra benar-benar merokok sedikit, bukan menghabiskan malam dengan kebiasaan itu. Namun kalimatnya tentang orang yang tak sadar ketika dia menghilang terus mengusik.

"Jendra," panggil Anindita.

Pemuda itu menoleh dari pintu.

"Kalau lagi bad mood, bangunkan aku. Jangan merokok sendirian."

Lesung pipinya muncul perlahan. "Katanya hari ini nggak mau bicara sama aku?"

"Hari ini sudah lewat."

"Baik, Bu Guru."

Malam itu Anindita kembali ke kamar sambil membawa cangkir kosong. Gambar krayon Kayla masih terlihat dari lorong, dua sosok sederhana bergandengan tangan. Ia tahu gambar itu dibangun dari kebohongan keluarga, tetapi kehangatan yang tertinggal di bahunya sama sekali tidak terasa palsu.

Di meja rias, ponselnya menyala karena pesan Janendra.

Janendra: Selamat tidur, calon pacar beneran.

Anindita mengetik bantahan, menghapusnya, lalu mengganti dengan satu pesan pendek.

Anindita: Jangan merokok lagi.

Balasan Janendra datang seketika.

Janendra: Kalau Kak Nindi tetap peduli, aku nggak butuh rokok.

Anindita menelungkupkan ponsel dan menarik selimut sampai ke hidung, gagal menyembunyikan senyum dari kamar yang kosong.

1
imel
👍
imel
baru mulai baca, sepertinya menarik 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!