NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Boleh, kan, Kak?

"Ketemu lagi."

Karina menatap senyum pemuda itu melalui pantulan dinding lift.

"Apa lucunya?"

"Nggak ada." Dia memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Aku cuma baru tahu orang yang memelukku tadi ternyata sudah menikah."

Jari Karina menegang di sisi tubuh. "Kamu mengikutiku?"

"Aku kebetulan dengar sedikit dari lorong. Suara tamparannya lumayan jauh."

Pipi Karina memanas. Rasa malu, marah, dan sakit bercampur menjadi satu. "Kalau mau menertawakan, silakan."

"Aku nggak menertawakan kamu."

"Tatapanmu bilang sebaliknya."

Pemuda itu menekan tombol lantai tiga puluh enam. Lift yang semula turun kembali melambat.

"Tatapanku cuma bilang suamimu bodoh."

Karina tertawa pendek. "Kamu bahkan nggak kenal aku."

"Aku tahu kamu berani datang ke pintunya, menampar dia, lalu keluar tanpa bikin dirimu terlihat murahan. Cukup untuk malam ini."

Pintu lift terbuka di lantai dua puluh. Sepasang tamu masuk. Karina bergeser, bahunya bersentuhan dengan lengan pemuda itu. Tubuhnya kembali mengingat hangat dada yang tadi dipeluknya. Dia buru-buru menjauh.

Pemuda itu menunduk sedikit. "Takut?"

"Sama kamu? Nggak."

"Bagus."

Ketika kedua tamu keluar, lift kembali menyisakan mereka berdua. Angka bergerak naik menuju tiga puluh enam.

"Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Karina.

"Aku menekan lantai kamarku. Kamu bebas turun kapan saja."

Jari Karina menggantung di depan panel tombol. Lobi tinggal satu sentuhan. Dia bisa pulang, memasuki rumah yang masih dipenuhi barang-barang Andri, lalu menangis sendirian sampai pagi.

Di kepalanya terdengar lagi suara Tania.

Anak kita.

Andri sudah memilih. Selama ini Karina memegang pernikahan mereka dengan dua tangan sampai telapak tangannya terluka, sementara suaminya diam-diam melepaskan semuanya.

Kenapa hanya dia yang harus menjaga kesetiaan yang sudah mati?

"Siapa namamu?" tanya Karina.

"Nathan."

"Umur?"

Alis Nathan terangkat. "Dua puluh."

Sepuluh tahun lebih muda.

Benar-benar anak kecil dibanding dirinya.

"Kalau kamu ingin pergi, Kak, tekan tombolnya sekarang."

Panggilan itu menyentuh sesuatu yang rapuh sekaligus nekat dalam diri Karina. Nathan tidak bergerak mendekat. Dia justru memberi ruang, seolah sengaja menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadanya.

Angka tiga puluh lima menyala.

Karina tidak menekan apa pun.

Pintu terbuka di lantai tiga puluh enam. Nathan mengambil satu langkah keluar, lalu menoleh. "Terakhir kali aku tanya. Kamu yakin?"

Karina berjalan melewatinya.

"Jangan banyak bicara."

Suara tawa rendah mengikuti langkahnya menuju kamar.

Begitu pintu tertutup, keberaniannya sempat goyah. Kamar itu luas, dingin, dan terlalu rapi. Jendela memperlihatkan lampu Jakarta seperti ribuan mata yang mengawasi.

Nathan meletakkan kartu kamar di meja. "Mau minum air?"

"Nggak."

"Duduk dulu?"

"Aku bilang jangan banyak bicara."

Karina meraih kerah kausnya dan menciumnya.

Nathan diam sesaat, jelas tidak menduga dia akan seberani itu. Lalu satu tangannya menahan pinggang Karina, tidak menarik, hanya memastikan dia tidak jatuh.

Ciuman itu kasar di awal. Karina menumpahkan marah ke sana, seolah setiap tarikan napas bisa menghapus gambar Andri yang berlutut di depan Tania. Namun Nathan tidak membiarkannya terus menyakiti diri sendiri. Dia memperlambat ciuman, menunggu Karina mengikuti, memberi kesempatan baginya untuk mundur.

Karina tidak mundur.

"Kak," bisik Nathan di dekat bibirnya. "Lihat aku."

Karina membuka mata.

Tatapan Nathan tidak lagi bermain-main. "Kalau ini cuma untuk menghukum suamimu, berhenti sekarang. Besok kamu akan benci dirimu sendiri."

"Dia bukan suamiku lagi."

"Secara hukum masih."

"Di hatiku sudah tidak."

Nathan menyapu air mata yang baru Karina sadari jatuh. "Kamu sadar dan yakin?"

"Aku sadar." Karina menggenggam pergelangan tangannya. "Dan aku memilih ini."

"Memilih siapa?"

Pertanyaan itu terdengar sombong, tetapi Karina mengerti apa yang dia minta.

"Kamu. Malam ini."

Nathan mengembuskan napas pelan. Jarak terakhir di antara mereka hilang.

Dia mencium Karina lagi, kali ini tanpa ragu. Punggung Karina menyentuh pintu. Jari Nathan menyelip di rambutnya, sementara tangan lain tetap di pinggang, hangat dan kokoh. Setiap kali Karina tampak tegang, dia berhenti. Setiap kali Karina menariknya kembali, ciumannya menjadi lebih dalam.

"Masih mau?" tanyanya sekali lagi.

Karina mengangguk.

"Jawab."

"Iya."

Senyum Nathan menyentuh sudut bibirnya. "Boleh, kan, Kak?"

"Nathan."

"Aku suka kalau kamu menyebut namaku."

Dia mengangkat Karina, membawanya beberapa langkah menuju ranjang. Karina sempat memeluk bahunya karena terkejut, lalu menyadari pemuda ini tidak terasa seperti anak dua puluh tahun. Tatapan dan cara tangannya menahannya justru membuat Karina menjadi pihak yang kehilangan arah.

"Turunkan aku," bisik Karina, lebih karena gugup daripada menolak.

Nathan langsung menurunkannya. Kedua tangannya terangkat menjauh. "Begini?"

Karina menatapnya. Ada rasa aman aneh dalam kepatuhan secepat itu. Nathan boleh terlihat liar dengan tato, anting hitam, dan senyum kurang ajar, tetapi dia berhenti tepat ketika diminta. Andri, yang selama sepuluh tahun mengaku mengenalnya, bahkan tidak berhenti saat diminta berkata jujur.

Karina melepas jam tangannya sendiri dan meletakkannya di meja. "Aku cuma nggak suka diperlakukan seperti barang."

"Kamu bukan barang." Nathan mendekat satu langkah. "Kamu perempuan yang tadi memilih masuk ke kamar ini."

"Jangan membuatnya terdengar seperti keputusan pintar."

"Aku juga nggak bilang begitu."

Karina tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu. Nathan memandangnya seakan suara tersebut lebih menarik daripada seluruh pemandangan kota di belakang mereka.

"Kenapa aku?" tanya Karina.

"Karena kamu memelukku duluan."

"Itu kecelakaan."

"Karena setelah itu kamu menatapku seperti ingin menampar, menangis, dan menciumku pada saat bersamaan."

"Sombong."

"Tapi salah?"

Karina tidak menjawab. Dia meraih tangan Nathan dan menaruhnya kembali di pinggangnya.

Kali ini Nathan mencium pelipisnya lebih dulu, lalu sudut mata yang masih lembap. Gerakan itu terlalu lembut dan hampir membuat Karina mundur. Dia siap menghadapi nafsu, bukan kelembutan dari orang asing. Nathan seolah mengerti. Dia tidak mengatakan kata-kata penghiburan yang kosong. Bibirnya turun ke rahang Karina, memberi panas tanpa rasa kasihan.

Karina membenamkan jari pada rambut abu-abunya. Ketika napas Nathan menyentuh leher, tubuhnya menegang, lalu perlahan melunak. Setiap sentuhan mengajukan pertanyaan. Setiap kali Karina mendekat, jawabannya menjadi lebih jelas.

"Kalau sakit atau berubah pikiran, bilang," ujar Nathan.

"Aku tahu."

"Aku serius."

"Aku juga."

Nathan mengusap pipinya dengan ibu jari. "Bagus. Karena setelah ini aku mungkin susah melupakanmu."

Karina menahan tatapannya. "Besok lupakan."

"Lihat nanti."

Blazer Karina jatuh ke lantai. Setelahnya, hanya ada cahaya kota, napas yang saling mengejar, dan sentuhan yang berkali-kali terhenti untuk memastikan satu sama lain tetap menginginkannya.

Karina tidak memikirkan besok.

Kancing blusnya terbuka satu per satu. Bukan dengan tergesa, melainkan dengan kesabaran yang membuat nadi di lehernya berdenyut lebih keras. Karina sempat menutup diri dengan kedua lengan. Nathan tidak memaksa menyingkirkannya. Dia hanya mencium buku-buku jarinya sampai tangan itu turun atas kemauan sendiri.

"Cantik," katanya.

Satu kata sederhana itu menancap di tempat yang paling sakit. Selama bertahun-tahun, Karina melihat tubuhnya sebagai sesuatu yang rusak karena tidak mampu hamil. Malam ini, seorang lelaki yang tidak tahu riwayat pemeriksaannya memandang setiap bagian dirinya tanpa menemukan kekurangan.

Untuk beberapa jam, dia ingin menjadi perempuan yang tidak gagal memberi keturunan, tidak ditinggalkan, dan tidak perlu meminta siapa pun memilihnya. Di bawah tatapan Nathan, dia tidak terlihat seperti istri yang kalah. Dia hanya terlihat diinginkan.

Malam bergerak perlahan, lalu pecah menjadi panas yang membuat jemarinya mencengkeram seprai. Nathan menyebut namanya tanpa pernah bertanya tentang masa lalu. Karina membalas dengan memeluknya lebih erat, membiarkan rasa sakit di dadanya tenggelam dalam kehangatan tubuh lain.

Mereka tidak memikirkan perlindungan.

Saat semuanya mereda, hujan tipis mengetuk jendela. Karina tertidur dengan kepala di lengan Nathan, wajahnya masih menyimpan jejak air mata.

Nathan tetap terjaga.

Dia memandangi perempuan di sisinya. Tadi, dia mengira ketertarikannya hanya rasa penasaran. Sekarang kamar itu terasa berbeda hanya karena Karina bernapas di sana.

Ponsel Karina menyala di meja samping ranjang. Sebuah pesan masuk dari nama Andri.

Pulang. Kita bicara.

Nathan membaca pratinjau tanpa menyentuh ponselnya. Rahangnya mengeras tanpa alasan yang mau dia akui.

Karina bergerak dalam tidur. Tasnya jatuh dari kursi, menumpahkan dompet dan kartu nama kantor. Nathan berjongkok untuk membereskannya. Di salah satu kartu tertulis nama lengkap dan nomor telepon.

Karina Wijaya.

Nathan menyimpan nomor itu di ponselnya sendiri. Dia tidak mengambil kartu tersebut. Setelah berpikir sesaat, dia membuka kamera, berbaring kembali, lalu mengambil satu foto.

Tidak ada bagian tubuh terbuka dalam bingkai. Hanya wajah Karina yang tertidur di bahunya, rambut kusut di bantal, dan bibir Nathan yang menempel ringan di keningnya.

Sebuah bukti bahwa malam ini nyata.

Menjelang pukul empat, Karina terbangun.

Kesadaran datang sekaligus. Kamar asing. Pakaian di lantai. Lengan seorang pemuda di pinggangnya.

Apa yang sudah dia lakukan?

Karina melepaskan diri perlahan. Tubuhnya terasa berat dan pipinya terbakar oleh malu. Dia memungut pakaiannya satu per satu, masuk ke kamar mandi, lalu menatap dirinya di cermin.

Andri berselingkuh.

Tania hamil.

Dan dia baru menghabiskan malam bersama pemuda dua puluh tahun yang bahkan tidak dikenalnya.

"Gila," bisiknya kepada bayangan sendiri.

Dia membasuh wajah, berpakaian, lalu keluar. Nathan masih tampak tertidur. Dalam cahaya remang, wajahnya terlihat lebih muda. Perbedaan usia mereka mendadak terasa seperti alarm.

Karina mengambil tas dan ponsel. Dia sempat berhenti di sisi ranjang.

"Kita impas," bisiknya, entah kepada Andri atau kepada dirinya sendiri.

Dia pergi tanpa meninggalkan pesan.

Pintu menutup pelan.

Mata Nathan langsung terbuka.

Dia meraih ponsel, menatap foto yang diambil beberapa jam lalu, lalu melihat pintu yang baru saja menelan punggung Karina.

"Kabur saja dulu, Kak," gumamnya. "Kita pasti ketemu lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!