NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Sayang, Kebetulan Sekali

Selama tiga malam berikutnya, Nathan benar-benar berada di sana.

Bukan secara fisik. Ia masih muncul dari layar ponsel saat Keira sarapan, bekerja lembur, atau memeriksa pintu sebelum tidur. Namun pesannya datang teratur tanpa terasa seperti laporan wajib. Sudah makan. Sudah sampai. Jangan lupa mengisi baterai tongkat kejutmu.

Keira tidak pernah memberi tahu bahwa kalimat terakhir membuatnya tertawa.

Pada Sabtu sore, ia kembali ke Studio Nebula untuk mengejar revisi. Gedung hampir kosong. Dari jendela, gedung A tampak hidup oleh lampu putih dan barisan teknisi.

Ponselnya berdering.

"Aku menemukan asal koneksinya," kata Nathan tanpa salam. "Surel penguntit dibuka melalui perangkat di Jakarta, tetapi instruksi terakhir diteruskan dari alamat IP Paris."

Keira berhenti menggambar. "Paris?"

"Kau punya kenalan di sana?"

"Mama pernah rapat di sana. Ko Fabian juga sering pergi untuk urusan Wijaya Land. Tapi itu bukan bukti."

"Aku sudah memeriksa keluargaku sendiri. Mama sedang di Milan waktu akun itu dibuat, tetapi perangkatnya tidak cocok. Papa dan Ko Marcus tidak punya alasan menguntitku."

"Kau memeriksa ibumu?"

"Aku memeriksa semua kemungkinan. Perasaan keluarga bukan metode audit."

Keira memutar kursi menjauhi layar kerja. Mariana pernah menasihatinya agar tidak melindungi perasaan Fabian. Nathan berjanji tidak mengambil alih hidupnya. Kalau ia menginginkan janji itu berlaku, ia juga harus memberi informasi yang cukup.

"Ada sesuatu yang belum kuceritakan," katanya.

Suara di seberang hening.

"Ko Fabian bukan kakak sedarahku. Mama adalah ibu kandungnya, tetapi beliau mengangkatku setelah menikah dengan Papa. Fabian pernah mengatakan bahwa dia menyukaiku sebagai perempuan. Aku menolak. Sejak itu, dia tetap bertingkah seperti kakak di depan keluarga, tetapi semua laki-laki yang mendekatiku selalu mendapat masalah."

"Berapa lama?"

"Pengakuannya sepuluh tahun lalu. Sikapnya dimulai bahkan sebelum itu."

"Dan kau menanggung ini sendirian?"

"Mama tahu. Papa tahu sebagian. Aku bukan tahanan. Aku tinggal sendiri, bekerja, dan bisa menolak Fabian."

"Aku tidak bilang kau tahanan."

"Nada suaramu bilang kau ingin menerbangkan pasukan."

Nathan mengembuskan napas. "Aku ingin pulang."

"Selesaikan urusanmu dulu."

"Sudah hampir selesai."

Di Cambridge, Nathan menutup panggilan lalu masuk ke ruang server sementara. Tim sedang menempelkan label pada kotak penyimpanan, sementara Lucas memeriksa daftar perangkat yang akan dibawa dalam penerbangan kargo berikutnya.

"IP Paris itu bergerak lagi," kata Tim. "Masuk ke surel selama empat puluh detik, lalu keluar melalui jaringan pribadi."

"Simpan waktu aksesnya. Cocokkan dengan penerbangan dan transaksi yang kita punya."

"Kalau ini benar keluarga istrimu, apa kita tetap serahkan ke pengacara?"

Nathan memandang rangka server yang separuh kosong. "Keluarga tidak mendapat hak untuk menguntit. Tapi sebelum aku tahu siapa yang membayar siapa, jangan sentuh mereka."

Tim mengangguk. "Penerbanganmu dua jam lagi."

"Kau berangkat besok bersama Lucas. Carl tetap di sini sampai audit selesai dan aksesnya tetap dibekukan. Jangan biarkan ia tahu bagian data mana yang sedang kita lacak."

"Keira tahu kau pulang?"

Nathan meraih jaket dari kursi. "Belum."

Tim tertawa satu kali. "Semoga sofa apartemenmu nyaman."

"Aku pemilik setengah ranjang secara hukum."

"Itu bukan cara kerja ranjang pernikahan."

Nathan mengabaikannya, tetapi sebelum keluar ia memeriksa ponsel lagi. Pesan-pesan Keira tentang Fabian tersusun seperti jejak yang menunjuk ke satu arah. Ia datang ke Amerika untuk membersihkan kebocoran NARA. Kini dua ancaman itu terasa berdekatan, seolah seseorang sengaja menguji perusahaan dan pernikahannya sekaligus.

Di dalam mobil menuju bandara, ia menelepon Marcus.

"Gedung A siap?"

"Sejak kau menyuruh tiga kontraktor bekerja bergantian siang malam," jawab kakaknya. "Papa bertanya kenapa jadwalmu maju dua minggu."

"Katakan ada masalah keamanan data."

"Itu hanya setengah alasan."

"Setengah lain bukan urusan Papa."

Marcus terdiam sesaat, lalu terdengar tawa pendek. "Pulanglah. Aku ingin melihat berapa lama adik jeniusku bisa merahasiakan kedatangannya dari istri baru."

Nathan memutus panggilan. Pesawat membawanya meninggalkan Amerika malam itu, bersama satu koper pakaian dan salinan terenkripsi seluruh bukti penguntitan.

Keira menatap peti server yang bergerak masuk ke gedung A. "Apa hubungan ini dengan aku menikah?"

Pertanyaan itu keluar lebih pelan. Ia tak suka mengakuinya, tetapi keputusannya menerima perjodohan memang tidak sepenuhnya bebas dari bayang-bayang Fabian.

"Setengah," jawabnya sendiri. "Aku ingin membangun hidup yang tidak bisa dimasuki Ko Fabian sesukanya. Menikah denganmu memberiku batas yang mudah dipahami orang lain. Tapi aku tidak memilihmu hanya untuk lari."

"Kenapa memilihku?"

Keira mengingat meja kafe, kemeja hitam, dan tatapan Nathan yang tidak pernah berkeliling menilai perempuan lain. "Kau tidak membuatku lelah."

"Romantis sekali."

"Itu pujian besar dariku."

Nathan tertawa pelan. "Aku menerimanya."

Seusai panggilan, Keira kembali bekerja, tetapi ingatannya justru bergerak ke minggu sebelumnya.

Calon yang seharusnya ia temui adalah Marcus Halim. Pagi sebelum pertemuan, Marcus mendadak sakit. Nathan datang menggantikannya dengan alasan keluarga mereka sudah memesan meja dan sayang jika dibiarkan kosong.

Belakangan Keira baru tahu Marcus hanya berpura-pura demam. Marcus sudah melihat foto Keira, lalu mendorong adiknya yang selama ini menolak perjodohan untuk datang.

Di meja kafe, Nathan tidak menawarkan rumah, jabatan, atau kartu keluarga Halim. Ia bertanya tentang jam kerja Keira, kesediaannya memiliki anak, dan apakah ia ingin perjanjian pranikah.

"Aku tidak suka orang menyentuh barangku tanpa izin," kata Keira saat itu.

Nathan menjawab, "Aku juga. Berarti kita tinggal membuat izin yang jelas."

Selasa mereka bertemu. Rabu menjalani pemeriksaan kesehatan dan berbicara dengan notaris tentang aset terpisah. Kamis menandatangani dokumen pernikahan sipil yang diperlukan sambil menyiapkan pemberkatan gereja serta pesta resmi kemudian. Cepat, tetapi setiap langkah dijawab sadar oleh dua orang dewasa.

Keira baru mengetahui harga sebenarnya dari penggantian Marcus beberapa jam sebelum menikah. Nathan menukar kesediaannya datang dengan investasi Grup Halim untuk NARA dan hak memakai gedung A di Menara Halim.

"Kau seperti menegosiasikan merger," kata Keira.

"Merger biasanya tidak membuatku gugup sampai telapak tangan basah," jawab Nathan.

Mengingat itu, Keira menekan ujung pena ke bibir. Laki-laki tersebut tampak terlalu tulus untuk dijadikan tameng. Karena itu ia merasa wajib memberi jalan keluar.

Senin siang, A gedung mulai beroperasi. Para pegawai Nebula menempel di kaca saat kendaraan hitam berhenti bergantian di lobi sebelah. Bella menghitung jumlah teknisi asing, sementara Dimas menyuruh semua orang kembali bekerja.

Keira menerima pesan dari Nathan.

Nathan: Kau lembur malam ini?

Keira: Sampai sekitar delapan.

Nathan: Jangan pulang lewat parkiran bawah. Gunakan taman udara.

Keira: Kenapa?

Nathan: Lampunya lebih terang.

Jawaban itu masuk akal, tetapi terlalu spesifik. Keira menatap titik hijau pada profilnya.

Keira: Kau sudah tidur?

Nathan: Belum.

Keira: Cambridge masih pagi.

Nathan: Aku tahu cara membaca jam.

Keira menyimpan ponsel dengan rasa curiga yang aneh. Menjelang delapan, ia mengirim uang bulanan ke rekening Papa untuk renovasi warung. Ia mengecek tabungan, investasi, dan saldo gajinya. Mariana telah memberi aset besar sebagai bekal, tetapi Keira selalu memisahkan pemberian keluarga dari uang yang ia hasilkan sendiri.

Kemerdekaan bukan berarti menolak kasih sayang. Bagi Keira, kemerdekaan berarti tahu ia bisa tetap berdiri jika semua pemberian itu suatu hari hilang.

Ia menutup komputer, memasukkan tablet gambar ke tas, lalu memilih jalan melalui taman udara sesuai pesan Nathan.

Lorong penghubung sepi. Di balik kaca, Jakarta berkilau oleh lampu kendaraan. Taman di tengah kompleks dibuat seperti rumah kaca, dengan pohon palem pendek, bangku batu, dan kabut tipis dari alat penyiram otomatis.

Keira baru melangkah melewati rumpun monstera saat sebuah tangan mendarat di bahunya.

Tubuhnya bergerak sebelum pikiran. Ia mencengkeram pergelangan itu, memutar bahu, dan meraih saku tas.

"Sayang," suara laki-laki di belakangnya berkata, "kebetulan sekali."

Keira membeku.

Nathan berdiri di bawah cahaya hangat rumah kaca, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung. Tidak ada layar, tidak ada jeda suara lintas benua. Hanya aroma sabun bersih dan hangat tubuh nyata di depan wajahnya.

"Kau seharusnya di Amerika."

"Secara teknis, aku memang seharusnya begitu beberapa jam lalu."

Keira melepaskan tangannya. "Sejak kapan kau di Jakarta?"

"Tiga hari."

"Tiga hari?"

Nathan mengangkat kedua tangan saat mata Keira menyipit. "Aku harus memastikan pemindahan server aman. Aku juga ingin melihat apakah orang yang mengikuti aku akan berpindah target. Tidak ada yang mendekatimu. Tom dan Jerry mengawasi dari jauh, tanpa merekam dan tanpa mengganggu."

"Kau berjanji memberitahuku."

"Aku berjanji memberi tahu hal yang menyangkut keselamatanmu. Ini kejutan buruk, bukan rahasia keselamatan."

"Pemutar kata."

"Pendiri perusahaan teknologi. Mirip, tetapi gajinya lebih tinggi."

Keira ingin marah. Namun garis lelah di bawah mata Nathan dan kenyataan bahwa ia telah memindahkan hidupnya melintasi benua membuat amarah itu kehilangan bentuk.

Ia melirik gedung A. "Perusahaan misterius itu milikmu."

Nathan mengikuti pandangannya. Logo NARA baru saja menyala pada dinding lobi, huruf putih di atas bidang hitam.

"Selamat datang di rumah baru NARA," katanya. "Dan aku pulang, Ci. Kali ini untuk tinggal."

Di belakangnya, logo itu memantul pada dinding kaca bersama bayangan mereka. Keira melihat dua sosok yang masih hampir asing, berdiri begitu dekat seolah kepulangan ini sudah lama direncanakan oleh keduanya. Padahal hanya Nathan yang berlari tanpa ragu. Benar-benar sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!