Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16 — Rebutan Sorotan di Vivi's Bar
Pertanyaan tentang keluarga Wijaya harus menunggu. Dua hari setelah pesan anonim itu muncul, Raka menerima pekerjaan yang sudah memiliki tempat, jadwal, dan pihak yang bisa diperiksa.
Vivi's Bar & Kafe mengundangnya membuat panel live art sebelum jam operasional malam. Pemiliknya, Vivi, memiliki ratusan ribu pengikut dan terkenal karena mampu mengubah percakapan biasa menjadi potongan video yang ramai.
Raka memilih sesi sore sebelum pelayanan minuman beralkohol dimulai. Sasa mengikuti kegiatan pendampingan yang sudah tercatat dalam rencana Dinas Sosial, bukan dibawa ke bar. Kontrak kolaborasi menetapkan honor Rp12.000.000: separuh sebelum acara, separuh setelah laporan tayangan dan penyerahan panel.
"Kita mulai pukul empat," kata Vivi ketika Raka datang. "Satu jam melukis, tiga puluh menit ngobrol. Setelah itu kita foto berdua di depan panel."
"Foto karya boleh. Foto berdua juga boleh selama keterangannya soal kolaborasi," jawab Raka. "Tidak ada judul yang menyiratkan hubungan pribadi."
Vivi tersenyum lebar. "Mas Raka selalu bicara seperti kontrak?"
"Kalau kamera menyala, batas yang tidak jelas mudah dijual sebagai gosip."
"Justru gosip menaikkan engagement."
"Saya datang untuk menunjukkan kerja. Bukan mencari pasangan lewat algoritma."
Bagas yang sedang memasang lampu tertawa keras. Di dekat meja kontrol, Nindya pura-pura sibuk memeriksa kabel.
Vivi memandangnya. "Dan Mbak ini?"
"Tetangga," kata Raka.
"Saya membantu moderasi komentar," tambah Nindya.
"Tetangga rajin sekali."
"Daripada ada orang memotong ucapan Mas Raka menjadi judul murahan."
Kedua perempuan saling tersenyum. Suhu ruangan terasa turun meski pendingin belum dinyalakan.
Raka memilih bekerja pada panel kayu yang sudah dilapisi dasar aman dan dikeringkan. Karena acara berlangsung di area makanan, ia hanya memakai cat berbasis air rendah bau, tanpa proses amplas atau bahan yang menghasilkan debu. Desainnya memperlihatkan garis cakrawala Jakarta yang berubah menjadi gelombang suara.
Siaran dimulai.
Vivi berdiri dekat bahunya, membaca komentar dengan suara ceria. "Penonton bertanya, Pak Seniman masih sendiri atau sudah punya seseorang yang menyiapkan makan malam?"
"Penonton sebaiknya bertanya mengapa garis horizon dibuat lebih rendah," jawab Raka sambil menarik satu garis panjang. "Kalau terlalu tinggi, komposisi akan menekan ruangan."
Komentar tertawa dan tanda hati memenuhi layar.
Vivi tidak menyerah. "Kalau saya minta diajari dari dekat begini, boleh?"
Ia hendak mengambil kuas di tangan Raka. Nindya segera mengubah tampilan komentar pada layar besar.
"Ada polling," katanya. "Penonton memilih warna lampu kota. Emas hangat atau biru dingin?"
Ribuan suara masuk. Percakapan beralih dari tubuh yang berdekatan ke keputusan visual.
Vivi melirik Nindya. "Moderatornya pintar mengambil sorotan."
"Saya hanya menjaga tema."
"Tema kita hiburan."
"Karya yang bagus juga menghibur."
Raka mendengar semuanya. Sudut bibirnya naik, tetapi tangannya tidak berhenti. Ia meminta Vivi mengisi tiga bidang warna berdasarkan hasil polling, lalu menjelaskan tekanan kuas dan arah cahaya. Kerja sama mereka tetap hidup tanpa perlu berpura-pura intim.
Puncak penonton mencapai empat ribu delapan ratus. Pengikut Studio Nusa Karya melewati empat puluh dua ribu. Dua pemilik ruang komersial mengirim permintaan survei melalui formulir, sementara akun Vivi juga mendapat kenaikan interaksi.
Keduanya memperoleh manfaat.
Tak satu pun membutuhkan judul pacaran palsu.
Saat jeda, Vivi menyerahkan air mineral kepada Raka. "Mas tahu, kalau kita pura-pura makan malam setelah live, angka ini bisa dua kali lipat."
"Lalu besok saya harus membuat kepura-puraan baru agar angka tidak turun."
"Semua orang menjual cerita."
"Saya juga. Tapi cerita saya adalah proses karya."
Vivi menatapnya lebih serius. "Pantas orang sulit menyeret Mas ke arah yang mereka mau."
"Sebagian masih mencoba."
Di ujung ruangan, seorang pelayan membawa daftar minuman untuk persiapan malam. Nindya melihat satu label pada botol di troli dan refleks berkata, "Jangan simpan yang tahun itu di rak terbuka. Suhu lampu akan merusak nilainya. Botol tersebut hanya diproduksi kurang dari seribu—"
Ia berhenti.
Vivi menoleh perlahan. "Mbak Nindya paham koleksi anggur?"
"Pernah membantu acara hotel."
"Hotel mana yang memberi staf kontrak akses ke botol edisi terbatas?"
"Hotel dengan manajer ceroboh."
Nindya menunduk dan pura-pura membenahi lengan kemeja. Saat itulah jam mekanis tipis di pergelangannya keluar dari manset.
Mata Vivi menyipit.
"Jam itu menarik."
Nindya segera menutupnya. "Barang bekas pasar daring. Tiruan."
Vivi mengulurkan tangan. "Boleh lihat?"
"Tidak. Talinya rusak."
Ia mundur satu langkah dan hampir menabrak Raka yang membawa palet bersih.
Raka menahan siku Nindya. "Hati-hati."
"Terima kasih, Mas."
"Mbak kelihatan lebih gugup menghadapi jam tangan daripada proyek kantor."
"Saya takut dipermalukan karena memakai barang palsu."
Vivi terkekeh. "Kalau itu palsu, pembuatnya meniru gerak mesin sampai detik mikro."
Nindya menatapnya tajam. "Mbak Vivi biasa memeriksa pergelangan tangan tamu?"
"Saya biasa memeriksa orang yang mengaku biasa."
Raka menyelamatkan mereka dengan mengangkat panel. "Cat lapisan pertama sudah siap. Kita selesaikan pekerjaan sebelum menyelidiki aksesori moderator."
Siaran kedua berfokus pada detail cahaya dan tanda tangan Studio Nusa Karya. Vivi mencoba satu kali lagi membuat pose berdekatan, tetapi Raka memilih foto bertiga bersama kru dan panel. Caption akhirnya berbunyi: Kolaborasi seniman mural dan ruang kreatif Jakarta—tanpa janji asmara, dengan garis yang jauh lebih jujur.
Unggahan itu tetap ramai.
Setelah acara, Vivi menyerahkan laporan tayangan dan jadwal pembayaran sesuai kontrak. "Saya mengaku kalah soal drama. Profesionalisme Mas ternyata juga bisa dijual."
"Bukan kalah. Kita hanya menjual produk yang benar."
Pemberitahuan bank masuk beberapa menit kemudian. Pelunasan Rp6.000.000 telah dibayar, menutup honor tanpa menunggu gosip atau target hubungan palsu. Raka menyimpan laporan dan bukti transfer dalam folder proyek.
Ia langsung memisahkan porsi pajak, biaya panel, dan pendapatan bersih. Bagi Raka, angka yang tercatat rapi lebih berguna daripada jumlah penonton yang hanya lewat semalam dan dapat diaudit oleh klien maupun dirinya sendiri.
"Kalau begitu datang lagi. Tapi moderatornya boleh saya pinjam?"
"Tidak," jawab Nindya sebelum Raka sempat bicara.
Vivi tertawa. Bagas bersiul dari dekat pintu. Raka menatap Nindya, yang baru sadar jawabannya terlalu cepat.
"Mbak Nindya keberatan saya bekerja dengan Vivi?" tanyanya saat mereka keluar.
"Tidak. Saya hanya keberatan kalau karya Mas dipakai untuk gosip."
"Hanya itu?"
Nindya mempercepat langkah. "Tentu."
Raka tidak mengejar pertanyaan. Namun kehangatan kecil muncul ketika ia melihat telinga Nindya memerah.
Di belakang mereka, Vivi bersandar pada kusen pintu. Tatapannya tidak mengikuti Raka, melainkan pergelangan tangan Nindya yang kembali tersembunyi.
Seorang staf bertanya, "Kenapa, Mbak?"
"Jam tiruan tidak berdetak seperti itu," kata Vivi. "Dan staf kontrak tidak mengenali botol langka hanya dari label belakang."