NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Wanita yang Tak Kunjung Pulang

Lampu merah di atas pintu ICU menyala sejak magrib.

Arya berdiri di depan loket administrasi dengan kemeja yang basah di bagian bahu. Hujan awal Desember baru saja mengguyur Surabaya, membawa bau aspal, antiseptik, dan udara dingin dari pendingin ruangan rumah sakit menjadi satu.

"Keluarga pasien atas nama Ratna?"

Arya segera mengangkat tangan. "Saya cucunya."

Petugas administrasi menyodorkan dua lembar formulir melalui celah kaca. "Dokter perlu persetujuan tindakan. Ada obat yang tidak seluruhnya ditanggung BPJS. Bapak harus menandatangani ini dan melunasi deposit di kasir utama."

"Berapa lama saya punya waktu?"

"Secepatnya, Pak. Kondisinya turun."

Arya mengambil formulir tanpa bertanya lagi. Tangannya bergerak tenang, tetapi ujung bolpoin menekan kertas begitu keras sampai meninggalkan bekas pada lembar di bawahnya.

Di layar ponselnya, nama Bella masih berada di urutan paling atas.

Tujuh belas panggilan tak terjawab.

Pesan terakhir yang ia kirim satu jam lalu hanya memiliki dua tanda centang abu-abu.

Nenek kritis. Tolong datang. Beliau terus menanyakanmu.

Arya menatap kalimat itu selama dua detik, lalu memasukkan ponsel ke saku. Ia berlari turun dua lantai karena lift terlalu lama, membayar deposit, kembali membawa bukti pembayaran, dan menandatangani persetujuan tindakan di depan dokter jaga.

"Kami akan melakukan yang terbaik," ujar dokter itu. "Tapi saya harus jujur, peluangnya kecil."

"Saya mengerti, Dokter. Jangan tunggu siapa pun lagi. Lakukan apa yang harus dilakukan."

Pintu ICU kembali tertutup.

Arya duduk sendirian di kursi plastik. Di seberangnya, keluarga pasien lain saling menyandarkan kepala. Ada seorang ibu yang berbisik membaca doa. Ada anak kecil tidur di pangkuan ayahnya. Mereka semua tampak takut, tetapi setidaknya mereka takut bersama-sama.

Kursi di samping Arya kosong.

Ponselnya bergetar. Bukan Bella. Sebuah pesan dari perawat bangsal meminta fotokopi KTP dan kartu keluarga.

Arya bangkit lagi.

Selama dua jam berikutnya, ia berpindah dari ruang fotokopi ke farmasi, dari farmasi ke laboratorium, lalu kembali ke lantai ICU. Ketika jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, dokter mengizinkannya masuk selama satu menit.

Nenek Ratna tampak jauh lebih kecil di atas ranjang. Selang oksigen menutup sebagian wajahnya. Kulit tangannya tipis dan dingin ketika Arya menggenggamnya.

Kelopak mata perempuan tua itu bergerak.

"Arya?"

"Saya di sini, Nek."

"Bella belum datang?"

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada semua angka di monitor.

Arya tersenyum. Ia merapikan selimut di dada neneknya. "Dia sedang dalam perjalanan. Hujan deras, jalannya macet. Nenek istirahat dulu."

Nenek Ratna berusaha menarik napas. "Jangan... marahi dia. Rumah tangga itu... harus sabar."

"Iya, Nek."

"Kamu selalu bilang iya." Mata tua itu berkaca-kaca. "Sekali-sekali... pikirkan dirimu sendiri."

Jari di telapak Arya melemah.

Perawat menyentuh bahunya. Waktu kunjungan habis.

Arya keluar tanpa menoleh sampai pintu tertutup. Baru setelah itu ia menghubungi Bella lagi.

Panggilan kedelapan belas ditolak.

Kali ini, Arya tidak menunggu. Ia membuka aplikasi pelacak keluarga yang dipasang Bella sendiri beberapa bulan lalu. Titik lokasi istrinya berhenti di area parkir bawah tanah sebuah hotel dekat pusat kota.

Arya turun ke halaman rumah sakit. Hujan telah menipis menjadi gerimis. Ia menyalakan Toyota Kijang tua yang diparkir di bawah pohon, lalu melaju menembus jalan basah.

Perjalanan dua puluh menit terasa seperti dua jam.

Di lantai B2 hotel, deretan lampu putih memantul di kap mobil. Arya mematikan mesin beberapa meter dari titik lokasi. Ponselnya bergetar sekali lagi.

Bella tetap tidak menjawab.

Lalu ia mendengar tangis.

Di antara dua mobil mewah, Bella berdiri dalam pelukan seorang pria tinggi berjas abu-abu. Rambutnya yang biasa tertata untuk kamera kini menempel di pipi. Kedua tangannya mencengkeram punggung pria itu seolah takut orang tersebut akan menghilang lagi.

"Kenapa baru pulang sekarang, Reno?" suara Bella pecah. "Aku menunggumu bertahun-tahun."

Reno Halim mengusap rambutnya. "Aku pulang untukmu. Kali ini gue enggak akan pergi lagi."

Arya berhenti di balik pilar beton.

Ia pernah melihat foto Reno. Mantan kekasih Bella sebelum kariernya naik, putra pemilik jaringan bioskop yang pergi ke luar negeri tanpa penjelasan. Nama itulah yang selalu membuat Bella diam setiap kali mereka bertengkar.

Arya menekan tombol panggil.

Dari tangan Bella, nada dering terdengar jelas.

Bella melirik layar, lalu membalik ponselnya dan menyelipkannya ke tas.

"Suamimu?" tanya Reno.

"Bukan siapa-siapa."

Tiga kata.

Tidak ada teriakan di kepala Arya. Tidak ada dorongan untuk menerjang. Hanya sesuatu yang selama ini ia pertahankan dengan keras akhirnya patah tanpa suara.

Reno mengangkat dagu Bella. "Kalau begitu, tinggalkan dia."

Bella tidak menjawab. Namun ia juga tidak mundur ketika Reno merangkulnya lebih erat.

Arya menurunkan ponsel.

Ia berbalik dan berjalan menuju Kijang. Langkahnya tetap terukur. Hanya buku-buku jarinya yang memutih saat menggenggam kunci.

Sebelum masuk mobil, sebuah notifikasi muncul dari kontak bernama R.

Satu foto dikirim tanpa penjelasan. Sudut pengambilannya berasal dari sisi lain parkiran: Bella dalam pelukan Reno, wajah keduanya terlihat jelas.

Di bawah foto itu terdapat satu kalimat.

Perlu saya bereskan sekarang?

Arya mengetik balasan, tetapi tidak langsung mengirimkannya.

Matanya kembali pada Bella yang terlihat melalui kaca belakang mobil. Perempuan itu pernah menemaninya makan mi instan saat mereka baru menikah. Pernah tidur di sampingnya ketika listrik kontrakan padam. Namun malam ini, ketika satu-satunya orang yang membesarkan Arya sedang bertarung dengan maut, Bella memilih mematikan dering ponsel.

Arya menghapus jawaban pertamanya dan mengetik empat kata.

Jangan bertindak tanpa perintah.

Pesan terkirim.

Ia kembali ke rumah sakit. Baru melewati pintu lobi, seorang perawat sudah berlari menghampirinya.

"Pak Arya, dokter mencari Bapak."

Lampu merah di atas ICU telah mati.

Dokter jaga membuka masker. Dari caranya menarik napas, Arya sudah tahu jawabannya sebelum satu kata pun keluar.

"Kami turut berduka. Pukul dua puluh tiga lewat empat puluh tujuh, pasien dinyatakan meninggal."

Arya berdiri tanpa bergerak.

"Pak?"

"Saya dengar."

Suaranya begitu datar hingga perawat memandangnya dengan cemas. Arya menandatangani dokumen terakhir, mengurus pemindahan jenazah, lalu menelepon pengurus kampung di desa tempat Nenek Ratna tinggal. Semua ia lakukan sendiri. Tidak ada satu pun panggilan dari Bella sampai ambulans berangkat meninggalkan rumah sakit.

Menjelang dini hari, rumah tua Nenek Ratna sudah dipenuhi tikar, kursi plastik, dan suara orang-orang yang membantu mempersiapkan pemakaman. Lampu putih dipasang di teras. Aroma kopi hitam bercampur tanah basah.

Arya duduk di samping peti yang masih tertutup kain putih. Kemejanya sudah kering, meninggalkan noda kusam di pundak. Seorang tetangga menyodorkan kopi, tetapi ia hanya mengucapkan terima kasih dan meletakkannya di lantai.

Ponselnya kembali menyala.

R. mengirim foto kedua, kali ini memperlihatkan mobil Reno keluar dari hotel dengan Bella di kursi penumpang.

Mereka menuju vila Halim. Perintah Anda?

Arya mengetik dengan ibu jari yang kaku.

Awasi. Jangan sentuh mereka.

Balasan datang hampir seketika.

Dimengerti.

Arya mengunci layar. Di hadapan jenazah perempuan yang mengajarinya menahan marah tanpa kehilangan harga diri, ia tidak akan memulai pertumpahan darah hanya karena dikhianati.

Namun memaafkan dan membiarkan adalah dua hal berbeda.

Suara langkah berat terdengar dari halaman. Percakapan para tetangga mereda. Seorang laki-laki bertubuh besar muncul di ambang teras. Jaketnya basah, rambutnya dipotong sangat pendek, dan tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada Arya.

Ia tidak ikut masuk ke dekat peti. Ia hanya menundukkan kepala kepada Nenek Ratna, lalu berjalan mendekat dengan kedua tangan terbuka agar orang-orang melihat bahwa ia tidak membawa senjata.

Di telapak kanannya tergeletak sebuah ponsel hitam tanpa merek.

"Maaf datang pada malam seperti ini," katanya pelan.

Arya menatap ponsel itu, kemudian wajah lelaki tersebut. Ia tidak pernah melihatnya, tetapi cara berdirinya terlalu rapi untuk seorang kurir biasa.

"Siapa yang mengirimmu?"

Lelaki besar itu menyodorkan ponsel yang layarnya masih gelap.

"Seseorang yang sudah menunggu Anda pulang selama bertahun-tahun." Ia menahan tatapan Arya tanpa berkedip. "Ada yang ingin bicara dengan Anda."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!