Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Pulang
Laluna menatap ke arah pintu besar di hadapannya, ia menarik napasnya sebelum membuka pintu itu. Setelah 6 tahun ia meninggalkan keluarga dan rumahnya, di saat hidupnya tersandung skandal ia kembali melangkah ke rumahnya.
"Pulang juga kamu." Suara seorang wanita paruh baya terdengar saat Laluna sudah benar benar masuk ke dalam rumah itu.
Laluna memejamkan matanya sejenak, mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi omelan yang akan dilontarkan ibunya.
"Hehehe... Mama, aku kangen sekali denganmu." Senyum sumringah terpancar di wajah cantik Laluna.
Sang ibu, Ratna Roselyn segera memutar bola matanya sata melihat Laluna tiba tiba memeluknya.
"Lihat, kecerobohan apa lagi yang kamu buat! Sudah mama katakan lebih baik kamu urus perusahaan dari pada harus terjun ke dunia seperti ini yang dimana kamu berbuat salah sedikit saja nama kamu akan tercoreng."
Laluna yang masih memeluk ibunya hanya bisa tersenyum kaku mendengar omelan tersebut. Ia tahu masalah yang telah ia sebabkan kali ini lebih besar dari masalah masalah kecil yang selalu ia lakukan. Ia perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wanita di depannya.
"Aku baru masuk rumah, Ma. Belum sempat duduk, tapi Mama sudah memarahiku."
Ratna mendengus pelan, lalu berjalan menuju ruang tengah.
"Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kamu selalu menganggap semua masalah itu masalah sepele. Dan sekarang? Kamu sudah di fitnah seperti ini bagaimana?"
Laluna mengikuti langkah ibunya dengan senyum kecil yang mulai menghilang.
Ia tahu alasan sebenarnya ia datang ke rumah ini. Bukan hanya karena ingin menghindari wartawan yang mulai mengejar apartemennya. Bukan juga hanya karena membutuhkan tempat untuk bersembunyi dari sorotan publik.
Tetapi karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia membutuhkan keluarganya. Setelah pengkhianatan dan fitnah yang menimpanya, ia benar benar merasa tidak ada orang yang peduli dengannya kecuali keluarganya sendiri terutama sang mama.
"Skandal itu sudah besar sekali," lanjut Ratna sambil mengambil koran yang terletak di meja. "Bahkan nama keluarga kita ikut terseret."
Laluna terdiam. Tatapan ibunya yang biasanya tegas kini terlihat lebih lelah daripada marah.
"Mama tidak bisa menyelesaikan masalah ini, masalah ini begitu besar dan tidak akan mudah menutup berita berita itu. Kau ini dasar ceroboh sekali, bagaimana bisa kamu tidak sadar sedang direkam."
Laluna segera mendekat ke arah ibunya, ia menatap ibunya dengan wajah cemberut.
" Aku sudah kepalang kesal ma, bagaimana bisa aku diam saja saat melihat orang yang aku percaya malah mengkhianatiku. Aku memukul Selena karena dia begitu nekat merebut Kevin dariku!" Laluna mulai membela dirinya.
Sang ibu segera duduk di sofa yang tak jauh dari arahnya, ia memijat pelipisnya yang terasa begitu pusing untuk menghadapi masalah putri tunggalnya itu.
"Lebih baik, kamu keluar saja dari industri itu. Mama sudah tidak sanggup untuk Back up semua masalah yang selalu kamu buat," ujar sang ibu, akhirnya.
Laluna terdiam mendengar perkataan ibunya. Senyum kecil yang tadi masih tersisa di wajahnya perlahan menghilang. Keluar dari industri hiburan? Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Laluna itu seperti meminta dirinya menyerahkan separuh hidupnya.
"Ma..." panggilnya pelan.
Ratna masih memijat pelipisnya, tidak berani menatap mata putrinya.
"Mama tahu kamu mencintai dunia itu. Mama tahu kamu sudah bekerja keras selama bertahun-tahun. Tapi lihat keadaanmu sekarang."
Ratna menunjuk koran yang masih berada di atas meja. "Orang-orang yang tidak mengenalmu berhak menghancurkan namamu hanya karena satu video. Setiap langkahmu diawasi. Setiap kesalahanmu dibesar-besarkan."
Laluna mengepalkan tangannya. "Tapi aku tidak salah. Semua masalah itu hanyalah fitnah!"
"Aku tahu." Jawaban cepat Ratna membuat Laluna terdiam.
Wanita itu akhirnya menatap putrinya. "Mama tahu kamu tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan. Tapi dunia tidak peduli dengan alasanmu, Lala."
Mendengar panggilan kecil itu, mata Laluna sedikit berkaca-kaca.. Sudah lama ibunya tidak memanggilnya seperti itu.
"Mama hanya takut melihat kamu terus terluka karena sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan."
Laluna menunduk. Selama ini ia selalu berpikir keluarganya tidak pernah mendukung keputusannya menjadi aktris. Ia berpikir mereka hanya kecewa karena dirinya menolak meneruskan perusahaan keluarga.
Namun sekarang, ia baru menyadari. Mungkin mereka bukan tidak mendukungnya.. Mereka hanya takut kehilangan dirinya karena dunia entertainment cukup kejam.
"Aku tidak bisa berhenti, Ma." Suara Laluna terdengar pelan, tetapi penuh keyakinan.
Ratna menghela napas.. "Laluna..."
"Aku tahu ini sulit. Aku tahu semua orang membenciku sekarang. Aku tahu mungkin karierku akan hancur." Ia menarik napas dalam-dalam. "Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja."
Ratna menatap putrinya. Ia tahu tekat akan putrinya untuk berhasil di dunia akting begitu besar. Laluna menatap foto dirinya saat memenangkan penghargaan yang terpajang di sudut ruangan. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, saat ia pertama kali membuktikan bahwa dirinya bisa sukses tanpa bantuan keluarga.
"Aku membangun semua karirku dari nol, Ma." Suaranya mulai bergetar. "Aku meninggalkan rumah ini bukan karena aku tidak mencintai kalian. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri dengan namaku sendiri."
Ratna terdiam.
"Aku tidak mau semua yang aku perjuangkan selama enam tahun hilang karena dua orang yang mengkhianatiku. Aku tidak bisa membiarkan dua pengkhianat itu menang."
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah itu, tatapan Laluna terlihat penuh tekad.
"Aku akan membersihkan namaku."
Ratna memperhatikan putrinya lama. Kemudian ia menghela napas panjang.
"Dasar keras kepala. "
Laluna tersenyum kecil. "Bukankah mama juga keras kepala," godanya.
Ratna hampir tersenyum, tetapi ia segera mengalihkan wajahnya. "Jangan pikir karena Mama mengizinkan kamu tetap menjadi aktris, Mama akan membantu menutupi semua masalahmu."
Laluna yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya, sejujurnya ia sendiri tidak tahu harus bagaimana menyelesaikan skandal itu. Bahkan bukti pun ia tidak punya. Laluna menghela napasnya lalu menyenderkan punggungnya dipinggir sofa. Tatapannya menatap langit langit rumah mewah itu.
"Kalau mama tidak mau menyelesaikan masalahku aku harus bagaimana," gumamnya.
Sang ibu yang masih bisa mendengar gumaman dari putrinya itu segera menoleh.
"Bukankah kamu tadi sudah yakin, akan berhasil membersihkan namamu. Kenapa sekarang wajahmu terlihat lesu."
Laluna segera menatap ibunya lekat lekat, dengan sifatnya yang manja ia segera mendekat dan merangkul tangan ibunya. Ia terus menggoyang goyangkan tangan ibunya. Wajahnya dibuat begitu menyedihkan.
" Ayo lah ma, bantu Lala sekali lagi, " ujarnya, memelas.
Ratna menatap tangan putrinya yang terus menggoyang lengannya. Tingkah Laluna yang sejak kecil tidak pernah berubah itu membuatnya hampir kehilangan ketegasan. Namun, ia segera menarik tangannya perlahan dan berusaha memasang wajah serius.
"Laluna, kamu pikir masalah ini bisa selesai hanya dengan meminta bantuan Mama?" tanyanya.
Laluna langsung menggeleng cepat. "Tidak, Ma. Aku tahu Mama tidak bisa menghapus masalah ini begitu saja." Ia menunduk sebentar. "Tapi setidaknya aku butuh seseorang yang percaya padaku."
Ucapan itu membuat Ratna terdiam. Selama beberapa hari terakhir, Laluna pasti sudah mendengar banyak hinaan dari orang-orang. Publik yang dulu memujanya kini berbalik menyerangnya. Teman-teman di dunia hiburan mungkin mulai menjauh, dan semua orang menunggu kehancurannya.
Sebagai seorang ibu, Ratna tahu putrinya sedang berusaha terlihat kuat. Padahal sebenarnya ia sedang sedih dan ketakutan
"Kamu benar-benar tidak mau menyerah?" tanya Ratna pelan.
Laluna menggeleng tanpa ragu. "Tidak.Aku tidak akan menyerah begitu saja. "
"Meski semua orang membencimu?"
"Aku akan tetap membuktikan kebenarannya."
"Meski kariermu tidak akan kembali seperti dulu?"
Laluna terdiam beberapa detik. Kemudian ia tersenyum kecil. "Kalau memang aku harus memulai dari nol lagi, aku akan melakukannya."
Tatapan Ratna berubah lembut. Anaknya memang keras kepala atau mungkin sangat keras kepala. Tetapi justru sifat itulah yang membuat Laluna bisa bertahan selama ini di dunia yang penuh persaingan.
Ratna menghela napas panjang. "Baik."
Mata Laluna langsung membesar. "Mama akan membantuku?"
"Jangan terlalu senang dulu." Ratna menunjuk wajah putrinya. "Mama akan membantu, tapi dengan satu syarat."