Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salam Dari Masa Lalu
Luki menatap catatan yang disusun Indra dengan campuran rasa bangga dan kekhawatiran yang sudah menjadi perasaan familiar setiap kali anaknya menunjukkan kemampuan yang jauh melampaui usianya.
"Kamu menemukan ini sendirian?" tanyanya, memeriksa setiap detail yang telah dikumpulkan Indra — alamat IP, pola waktu posting, bahkan analisis gaya bahasa yang menunjukkan kemungkinan besar artikel-artikel itu ditulis oleh orang yang sama.
"Aku janji nggak buka folder rahasia Ayah lagi," jawab Indra cepat, seolah mengantisipasi kekhawatiran ayahnya. "Aku cuma pakai informasi yang bisa diakses publik, terus aku analisis sendiri polanya."
Alena, yang duduk di sampingnya, menatap catatan itu dengan kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan. "Ini level analisis yang bahkan tim intelijen profesional butuh waktu berminggu-minggu untuk mencapainya, Indra. Kamu melakukan ini dalam beberapa hari."
Indra tersenyum kecil, meski matanya tetap serius. "Aku nggak mau cuma diem nunggu diselamatkan lagi, Kak Alena. Aku mau bantu jaga keluarga kita juga."
Kata-kata itu menghantam Luki dengan cara yang campur aduk — rasa haru mendalam karena anaknya begitu peduli dan berani, tapi juga ketakutan yang tidak pernah sepenuhnya hilang setiap kali Indra menempatkan dirinya, bahkan secara tidak langsung, dalam jangkauan bahaya.
"Aku menghargai ini, Bintang Kecil," katanya, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Sungguh. Tapi aku perlu kamu berjanji satu hal — kalau kamu menemukan sesuatu lagi, langsung kasih tahu aku atau Kak Alena. Jangan pernah mencoba menyelidiki lebih jauh sendirian, apalagi kalau itu berarti kontak langsung dengan orang-orang yang terlibat."
"Aku janji," jawab Indra, mengangguk serius.
Malam itu, tepat setelah Indra kembali ke kamarnya, sebuah paket kecil tiba di lobi penthouse, dikirim oleh kurir yang tidak terdaftar di sistem keamanan mana pun, meninggalkan paket itu begitu saja sebelum menghilang tanpa jejak yang bisa dilacak oleh kamera pengawas gedung.
Bram, yang segera diberi tahu oleh petugas keamanan lobi, membawa paket itu ke ruang kerja Luki dengan kewaspadaan penuh, memeriksa setiap sudutnya untuk kemungkinan bahan berbahaya sebelum akhirnya memutuskan itu aman untuk dibuka.
Di dalam paket itu, tidak ada bom, tidak ada senjata, tidak ada ancaman fisik apa pun — hanya sebuah foto lama, sedikit kusam karena usia, menunjukkan Antasena dan seorang wanita muda yang jelas adalah Raina, berdiri bersama di depan sebuah gedung yang, dari arsitekturnya, tampak seperti kantor lama keluarga Prawira sebelum semuanya runtuh.
Di balik foto itu, tertulis dengan tulisan tangan rapi:
"Kau menghancurkan keluargaku, Luki. Sekarang giliranku menghancurkan yang paling kau banggakan — bukan dengan darah, tapi dengan kehancuran yang jauh lebih lambat dan lebih menyakitkan. Nikmati sisa waktu tenangmu selagi bisa."
Luki menatap pesan itu lama, rahangnya mengeras, tapi kali ini kemarahannya tidak meledak seperti dulu — ia telah belajar, dari pengalaman pahit dua tahun lalu, bahwa reaksi impulsif justru bisa membuka celah bagi musuh untuk memanfaatkan kelemahannya.
"Dia ingin aku panik," katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Dia ingin aku bereaksi berlebihan, membuat kesalahan yang bisa dia manfaatkan."
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Alena, yang telah bergabung di ruang kerja begitu mendengar tentang paket misterius itu.
"Kita tidak akan memberinya kepuasan itu," jawab Luki tegas. "Kita akan tetap tenang, tetap waspada, dan kita akan melawan dengan cara yang sama seperti yang dia gunakan — cerdas, sabar, dan terstruktur, bukan dengan kemarahan membabi buta."
Keesokan paginya, Luki mengumpulkan tim intinya — Bram, kepala divisi hukum, kepala divisi keuangan, dan yang mengejutkan semua orang, ia juga mengundang Indra untuk duduk di ruang rapat, meski hanya untuk mendengarkan tanpa terlibat langsung dalam pengambilan keputusan strategis.
"Kita menghadapi musuh yang berbeda kali ini," katanya, membuka rapat dengan nada yang jauh lebih tenang dan terkendali dibandingkan malam ketika ia pertama kali mendengar tentang percobaan penculikan Indra dua tahun lalu. "Raina Prawira tidak menyerang dengan kekerasan. Dia menyerang reputasi, bisnis, dan kepercayaan. Itu berarti kita harus melawan dengan cara yang sama — bukan dengan senjata, tapi dengan strategi, bukti, dan kesabaran."
"Bagaimana caranya, Tuan?" tanya kepala divisi hukum.
"Pertama, kita perkuat pertahanan digital kita di semua lini bisnis," jawab Luki. "Kedua, kita mulai membangun kasus hukum terhadap Prawira Holdings, mengumpulkan bukti yang bisa kita gunakan untuk menuntut mereka secara terbuka kalau serangan ini terus berlanjut. Ketiga—" ia menatap ke arah Indra, yang duduk dengan penuh perhatian di sudut ruangan, "—kita manfaatkan setiap sumber daya yang kita miliki, termasuk kemampuan analisis yang sudah terbukti sangat berharga dalam menemukan jejak Raina."
Indra duduk lebih tegak mendengar pengakuan itu, matanya bersinar dengan campuran kebanggaan dan tanggung jawab baru yang ia rasakan.
"Tapi," lanjut Luki, menatap anaknya dengan tegas, "semua yang kamu temukan harus selalu dilaporkan padaku dulu, Kita menghadapi ini sebagai tim, bukan sebagai individu yang bertindak sendiri-sendiri. Mengerti?"
"Mengerti, Ayah," jawab Indra, mengangguk serius.
Rapat itu berlanjut hingga larut malam, menyusun strategi demi strategi untuk menghadapi ancaman baru yang, meski tidak melibatkan kekerasan fisik langsung seperti dulu, terasa sama beratnya — mungkin bahkan lebih berat, karena musuh kali ini tidak menunjukkan wajahnya, hanya bayangan yang perlahan mendekat dari kegelapan, menunggu momen yang tepat untuk menyerang bagian paling rentan dari keluarga yang telah bersusah payah membangun kembali kedamaian mereka.