Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Peluru di Ujung Bayangan
Malam kembali merayap turun, menyelimuti gedung-gedung pencakar langit Manhattan dengan selimut beludru gelap yang dipenuhi ribuan lampu neon buatan. Di dalam ruang kerja pribadi Sylus yang tenang, lampu meja bercorak antik memancarkan pendar kuning temaram, menerangi tumpukan dokumen digital dan laporan keamanan sindikat yang berbaris rapi di atas layar holografik.
Sylus berdiri di dekat dinding kaca raksasa, menatap kosong ke arah jalanan kota yang tampak begitu kecil dari lantai lima puluh. Segelas whiskey pekat tergenggam longgar di tangan kanannya, sementara sebelah tangannya yang lain merogoh saku celana dengan postur tubuh yang tetap waspada. Meskipun Faksi Barat telah runtuh dan Tuan Marcus telah disingkirkan, insting seorang raja mafia tidak pernah benar-benar tidur. Ada firasat buruk yang merayap di balik kesunyian malam ini—sebuah desas-desus samar dari sindikat bayangan internasional yang mulai bergerak di luar radar kendali utamanya.
"Logan," panggil Sylus tanpa menoleh, suaranya yang rendah dan berat memecah keheningan ruangan.
Pintu ruang kerja terbuka setengah meter dalam diam, dan Logan melangkah masuk dengan langkah terukur, berdiri tegak dalam posisi siap siaga. "Ya, King?"
"Bagaimana hasil penyadapan komunikasi di kediaman keluarga utama? Apakah saudari tiri itu masih terus meronta di sarangnya?" tanya Sylus dingin, manik mata merah menyalanya memantulkan kilat ancaman yang mematikan.
Logan mengangguk kecil, wajahnya tampak serius. "Kami mendeteksi adanya aktivitas komunikasi terenkripsi yang keluar dari ponsel pribadi Bianca sore tadi, King. Pesan itu ditujukan kepada jaringan sindikat bayangan independen di Eropa Timur—sebuah kelompok pembunuh bayaran bayaran bebas yang dikenal kejam dan tidak memiliki ikatan aturan dengan dewan sindikat kita."
Sudut bibir Sylus terangkat sebelah, membentuk sebuah seringai tipis yang sarat akan cemoohan dan kemarahan yang tertahan. "Jadi, tikus kecil itu benar-benar memilih jalan untuk mati dengan tangannya sendiri. Ia mengira pembunuh bayaran bayangan bisa menembus benteng pertahanan penthouse ini?"
"Mereka berencana bergerak malam ini atau esok dini hari, memanfaatkan momentum saat pergantian shift pengamanan perimeter luar," jelas Logan tegas. "Apakah kita harus melakukan penyergapan sekarang dan melenyapkan mereka di tempat persembunyiannya?"
Sylus menggeleng pelan, meneguk sisa whiskey di gelasnya hingga tandas, lalu meletakkannya kembali ke atas meja marmer dengan bunyi benturan kecil yang tajam. "Tidak. Biarkan mereka mendekat. Biarkan Bianca merasakan sedikit harapan palsu sebelum kita meremukkan sisa-sisa napasnya di hadapan Ceisya. Ratu kecilku berhak melihat bagaimana tikus terakhir itu memohon belas kasihan."
Jauh dari kemegahan menara pusat Manhattan, di dalam sebuah kamar tersembunyi yang berbau lembap dan dipenuhi asap rokok murah di distrik pelabuhan tua, suasana terasa jauh lebih menegangkan.
Bianca duduk di atas kursi rodanya dengan gelisah, jemarinya yang kurus mencengkeram erat sandaran tangan hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Di hadapannya, tiga orang pria berbadan kekar dengan tato tebal melingkar di leher dan tatapan mata kosong berdiri menyandarkan senapan serbu canggih berperedam di dinding kusam ruangan itu. Mereka adalah para algojo profesional dari sindikat bayangan luar negeri yang dibayar dengan harga fantastis menggunakan seluruh sisa aset rahasia yang berhasil disembunyikan Bianca.
"Apakah kalian yakin rencana ini tidak akan gagal?" suara Bianca berbisik tajam, napasnya memburu di tengah hawa ruangan yang pengap. "Target utamanya adalah wanita jalang bernama Ceisya. Aku ingin ia mati dengan cara yang paling menyakitkan sebelum Sylus sempat melindunginya. Hancurkan wajahnya, buat ia menderita, lalu bawa kepalanya ke hadapanku!"
Pria pemimpin kelompok pembunuh bayaran tersebut—seorang pria berparut panjang di pipi kiri dengan senyum menyeringai mengerikan—mendengus rendah. "Nona, kami tidak pernah gagal dalam kontrak selama target bernapas di atas tanah. Pengamanan penthouse mewah itu mungkin ketat bagi penegak hukum biasa, tapi bagi kami, selalu ada celah di balik dinding baja."
Bianca tertawa kecil di dalam hatinya, sebuah tawa penuh keputusasaan yang berubah menjadi delusi kemenangan. Di dalam benaknya, ia sudah membayangkan bagaimana esok hari berita kematian Ceisya akan menggemparkan seluruh dunia hitam, dan mahkota ratu yang selama ini direbut darinya akan kembali jatuh ke tangannya.
Kembali ke dalam penthouse utama, suasana terasa hangat dan sangat kontras dengan ancaman maut yang tengah merayap di luar sana.
Ceisya sedang duduk di atas permadani beludru tebal di dekat perapian buatan di kamar utama, mengenakan jubah tidur sutra panjang berwarna merah anggun yang membalut tubuh indahnya. Rambut panjangnya tergerai bebas menutupi punggung, memantulkan kilat keemasan di bawah temaram lampu kamar. Di hadapannya, sebuah meja kecil dipenuhi dengan rancangan bab-bab web novel terbarunya yang sedang ia tulis, mencurahkan seluruh kreativitasnya ke dalam dunia fiksi gelap yang ia kuasai.
Pintu kamar terbuka tanpa suara, dan langkah kaki tegap Sylus mendekat. Pria itu melepas jaketnya, lalu berlutut di samping Ceisya, melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di pinggang ramping istrinya dari belakang. Dagunya bersandar nyaman di bahu Ceisya, sementara hidungnya menghirup dalam-dalam aroma wangi lembut yang menguar dari rambut gadis itu.
"Kau masih belum tidur, Ratu kecilku?" bisik Sylus serak, suaranya begitu lembut dan penuh pemujaan saat berhadapan dengan wanita miliknya seorang, sangat kontras dengan nada dinginnya saat berbicara dengan para pengawal.
Ceisya menghentikan aktivitas menulisnya, lalu menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya, menikmati kehangatan dekapan yang selalu berhasil memberinya rasa aman di tengah kejamnya dunia sindikat. Jari lentiknya menyentuh rahang tegas Sylus, mengelusnya perlahan.
"Aku sedang merapikan bab terakhir sebelum diterbitkan, King," balas Ceisya lembut, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Lagi pula, bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika aku tahu ada seekor tikus busuk di luar sana yang masih berusaha menggali kuburannya sendiri?"
Sylus mendengus rendah, sebuah seringai tipis terukir di bibirnya. Ia tahu persis bahwa insting tajam istrinya tidak pernah meleset. Jemari besar Sylus menggenggam jemari lentik Ceisya, membawanya ke bibirnya dan mengecup punggung tangan itu dengan penuh kepemilikan.
"Kau tidak perlu mengotori tangan indahmu untuk memikirkan sampah-sampah itu, Ceisya," bisik Sylus tepat di telinga istrinya, nadanya berubah menjadi sangat berbahaya. "Tikus-tikus itu sudah berjalan menuju sarang singa malam ini. Dan aku akan pastikan mereka tidak pernah melihat matahari terbit esok hari."
Ceisya menolehkan kepalanya sedikit, menatap manik mata merah menyala suaminya dari jarak yang sangat dekat. Tidak ada rasa takut atau ragu di dalam manik mata hijau terangnya; yang ada hanyalah kilat kepuasan dan candu yang semakin mengakar kuat di antara mereka berdua. Di luar jendela, angin malam Manhattan menderu kencang membawa badai, tetapi di dalam benteng obsidian itu, ikatan maut di antara sang raja mafia dan ratunya berdiri semakin kokoh, tidak terkalahkan oleh apapun di dunia ini.