Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. Lahir Kembali di Sarang Racun
Rasa sakit adalah hal pertama yang Tang Hyun rasakan ketika kesadarannya kembali, dan itu bukan rasa sakit biasa seperti luka sayatan atau tulang patah yang pernah dia rasakan sebagai Gu Cheol dulu, melainkan rasa sakit yang membakar dari dalam, seolah-olah ada ribuan jarum kecil yang menusuk setiap pembuluh darahnya dan ada api yang mengalir bersama darahnya ke seluruh tubuh, membuatnya ingin berteriak tetapi tenggorokannya terasa kering dan kelu, seolah sudah bertahun-tahun tidak digunakan untuk berbicara.
Langit-langit di atasnya terbuat dari kayu gelap yang sudah tua, dengan ukiran bunga plum yang samar dan beberapa jimat kertas kuning tergantung di sudutnya, mengeluarkan bau herbal yang pahit bercampur dengan bau besi dan sesuatu yang manis namun beracun, sebuah aroma yang khas dan hanya bisa ditemukan di satu tempat di seluruh dunia murim.
Klan Tang.
Tempat yang bahkan para pendekar dari Gunung Hua dan Wudang tidak berani mendekat tanpa undangan, tempat yang ditakuti karena setiap sudutnya bisa menjadi jebakan mematikan, dan tempat yang sekarang menjadi rumah baru bagi jiwa yang dulunya bernama Gu Cheol.
"Dia bangun," sebuah suara tua dan serak terdengar dari samping ranjangnya, dan ketika Tang Hyun memaksa matanya terbuka, dia melihat seorang lelaki tua dengan jubah ungu gelap duduk di kursi kayu, wajahnya penuh kerutan, rambutnya diikat ke belakang, dan kedua tangannya dipenuhi bekas luka bakar hitam serta tusukan jarum kecil yang tidak pernah sembuh, tanda bahwa orang ini sudah hidup bersama racun selama puluhan tahun.
Itu adalah Tetua Ketiga Klan Tang, orang yang bertanggung jawab atas pelatihan murid luar dan juga salah satu dari sedikit orang yang berani bereksperimen dengan Jalur Racun Darah yang dilarang bahkan di dalam klan sendiri.
Tang Hyun mencoba menggerakkan tangannya, dan yang dia lihat membuatnya tertegun, karena tangan itu bukan tangan Gu Cheol yang kurus dan penuh kapalan karena mengais tempat sampah, melainkan tangan seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun, dengan kulit pucat yang hampir transparan, urat-urat berwarna hitam tipis menjalar dari pergelangan tangan hingga ke siku, dan beberapa bekas luka bakar melingkar di telapak tangannya seolah dia pernah memegang sesuatu yang sangat panas.
"Jangan bergerak dulu," kata Tetua itu dengan nada datar, seolah sedang berbicara kepada seekor anjing yang baru saja dia pungut dari jalan, "tubuhmu masih menolak racun di dalamnya, kalau kau bergerak terlalu cepat, jantungmu bisa meledak sebelum kau sempat bernapas tiga kali."
"Di... di mana aku?" suara Tang Hyun keluar sebagai bisikan parau, karena rasanya seperti ada pasir di tenggorokannya.
"Kau berada di Aula Racun Dalam Klan Tang, di Sichuan," jawab Tetua itu sambil menuangkan cairan hitam kental ke dalam mangkuk kecil, "tiga hari yang lalu kami menemukanmu setengah mati di perbatasan, tubuhmu penuh luka dan demam, tetapi denyut nadimu sangat aneh, darahmu sudah tercampur dengan racun alami dari ular dan kalajengking yang kau makan untuk bertahan hidup."
Tetua itu menatapnya dengan mata yang tajam, seolah sedang menilai seekor kuda untuk dijual.
"Kebanyakan orang akan mati dalam kondisi seperti itu, tetapi kau tidak, dan itu berarti tubuhmu memiliki bakat langka, bakat untuk menjadi wadah racun."
Tang Hyun menutup matanya sejenak, mencoba mencerna semua informasi itu, dan perlahan-lahan ingatan mulai kembali, ingatan tentang hujan di Kaifeng, tentang pedang yang menembus punggungnya, tentang Tiga Bunga yang berjalan pergi tanpa menoleh, dan tentang sumpah terakhirnya sebelum mati.
Aku tidak akan kehilangan siapa pun lagi.
"Siapa namaku?" tanyanya akhirnya.
"Mulai sekarang namamu adalah Tang Hyun," kata Tetua itu sambil menyodorkan mangkuk berisi cairan hitam itu, "kau akan menjadi murid luar Klan Tang, dan karena kau ditemukan olehku, maka mulai hari ini kau berada di bawah pengawasanku."
Tang Hyun menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar, dan ketika cairan itu menyentuh lidahnya, rasa pahit yang luar biasa menyebar ke seluruh mulutnya, diikuti oleh rasa terbakar yang menjalar ke perut dan kemudian ke seluruh tubuh, membuatnya melengkungkan punggung dan mengepalkan gigi agar tidak berteriak.
"Minum semuanya," perintah Tetua itu tanpa sedikit pun simpati, "itu adalah Ramuan Penempa Tulang Racun, dan kalau kau bisa bertahan selama tujuh hari tanpa mati, maka kau layak untuk mempelajari teknik Klan Tang."
Tujuh hari terasa seperti tujuh tahun.
Selama waktu itu Tang Hyun tidak diberi makan kecuali ramuan pahit dan beberapa butir pil kecil yang rasanya seperti memakan kaca, dia tidak diperbolehkan tidur lebih dari dua jam, dan setiap malam dia harus berendam di dalam tong besar berisi air hitam yang mendidih dengan puluhan jenis ular, kelabang, dan katak beracun di dalamnya, sementara Tetua itu duduk di luar dan membaca buku sambil sesekali melemparkan bubuk tambahan ke dalam tong.
Kulitnya melepuh, lalu mengelupas, lalu tumbuh lagi, lebih pucat dan lebih kuat.
Darahnya berubah warna menjadi sedikit lebih gelap, dan ketika dia tidak sengaja menggigit bibirnya, darah yang keluar membuat seekor tikus yang lewat langsung kejang dan mati dalam beberapa detik.
Pada hari ketujuh, ketika dia akhirnya keluar dari tong itu, Tetua Ketiga menatapnya dari atas ke bawah dan mengangguk pelan, sebuah gestur yang sangat langka dari orang setua dia.
"Bagus," katanya singkat, "kau lulus ujian pertama."
Malam itu Tang Hyun diberi jubah murid luar Klan Tang, berwarna ungu gelap dengan sulaman bunga plum kecil di bagian dada, dan dia diberi kamar kecil di bagian paling luar kompleks klan, bersama dengan puluhan murid luar lainnya yang memandangnya dengan campuran rasa takut dan iri, karena semua orang tahu bahwa siapa pun yang dilatih langsung oleh Tetua Ketiga biasanya tidak akan hidup lama, tetapi jika mereka hidup, mereka akan menjadi monster.
Di malam pertama di kamar barunya, Tang Hyun duduk sendirian dan membuka gulungan bambu yang diberikan Tetua kepadanya, di atasnya tertulis dengan tinta merah: Teknik Racun Darah Sembilan Bunga.
"Ini adalah teknik terlarang," tulisnya di bagian awal, "karena untuk mempelajarinya, kau harus mengubah darahmu sendiri menjadi racun, dan prosesnya akan membuatmu kesakitan setiap hari selama sisa hidupmu, tetapi imbalannya adalah tubuhmu akan menjadi senjata, napasmu akan menjadi racun, dan sentuhanmu bisa membunuh tanpa jejak."
Tang Hyun membaca setiap kata dengan hati-hati, dan tangannya yang masih bergetar berhenti ketika dia sampai di halaman terakhir, di mana ada sebuah catatan kecil yang ditulis dengan tangan: "Kalau kau takut kesepian, jangan pelajari teknik ini, karena suatu hari nanti tidak akan ada orang yang berani menyentuhmu."
Dia tertawa pelan, suara tawanya kosong dan bergema di kamar kecil itu.
"Takut kesepian?" gumamnya, "aku sudah kesepian selama delapan belas tahun. Aku sudah mati karena kesepian."
Sejak hari itu, hidup Tang Hyun berubah menjadi neraka yang dia pilih sendiri.
Pagi hari dia berlatih melempar jarum dan dadu beracun bersama murid luar lainnya, dan karena tubuhnya sudah setengah kebal, dia selalu menang, tetapi kemenangan itu tidak membuatnya bahagia, karena dia bisa melihat ketakutan di mata teman-temannya setiap kali dia menyentuh mereka secara tidak sengaja.
Siang hari dia dipaksa menghafal ratusan jenis racun, bagaimana cara membuatnya, bagaimana cara menetralkannya, dan bagaimana cara menyembunyikannya di dalam makanan, air, bahkan di dalam udara.
Dan malam hari adalah waktu yang paling buruk, karena malam adalah waktu untuk "menempa" tubuhnya, yaitu dengan menelan racun dalam dosis kecil dan membiarkan tubuhnya beradaptasi, sebuah proses yang membuat seluruh tubuhnya terasa seperti dibakar dari dalam dan membuat bekas luka baru muncul setiap minggu.
Sebulan berlalu, dan Tang Hyun sudah bisa membuat seseorang lumpuh hanya dengan menghembuskan napas ke arah mereka.
Tiga bulan berlalu, dan dia sudah bisa membuat racunnya mengalir di ujung jarinya tanpa harus menyentuh lawannya.
Setengah tahun berlalu, dan Tetua Ketiga mulai membawanya ke ruang bawah tanah tempat Klan Tang menyimpan racun paling berbahaya mereka.
"Kenapa kau melakukan ini pada dirimu sendiri?" suatu malam, seorang murid luar perempuan bernama Tang Ling diam-diam bertanya kepadanya ketika dia melihat Tang Hyun muntah darah setelah latihan, gadis itu adalah satu-satunya orang yang berani mendekatinya tanpa rasa takut yang berlebihan.
Tang Hyun menyeka darah dari sudut mulutnya dengan punggung tangan, dan darah itu langsung menghitamkan kain jubahnya.
"Karena aku pernah kehilangan semuanya," jawabnya dengan suara tenang, "orang tuaku, teman-temanku, dan bahkan kesempatan untuk dicintai. Aku tidak ingin itu terjadi lagi."
Tang Ling terdiam, lalu dia meletakkan semangkuk sup hangat di samping Tang Hyun dan pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi, dan itu adalah pertama kalinya sejak dia bereinkarnasi ada seseorang yang melakukan sesuatu untuknya tanpa mengharapkan imbalan.
Setahun kemudian, nama Tang Hyun sudah dikenal di kalangan murid luar sebagai "Anak Racun", dan meskipun dia belum pernah bertarung sungguhan, semua orang tahu bahwa jika dia bertarung, lawannya akan mati sebelum sempat menyentuhnya.
Pada hari ulang tahunnya yang ke delapan belas di tubuh baru ini, Tetua Ketiga memanggilnya ke aula utama.
"Aliansi Murim akan mengadakan Turnamen Besar di Gunung Hua tiga bulan dari sekarang," kata Tetua itu, "dan Klan Tang akan mengirim beberapa murid inti dan beberapa murid luar sebagai perwakilan."
Tang Hyun berlutut dan menundukkan kepala.
"Dan kau," lanjut Tetua itu, "akan ikut sebagai murid luar. Bukan untuk menang, tetapi untuk belajar bagaimana dunia luar bekerja."
Jantung Tang Hyun berdegup kencang, karena dia tahu apa artinya itu, itu berarti dia akan meninggalkan Sichuan untuk pertama kalinya, itu berarti dia akan melihat dunia murim yang lebih luas, dan itu berarti... dia mungkin akan melihat mereka lagi.
Tiga Bunga Kecantikan Jianghu.
Baek Seolhwa. Nangong Yeon. Dan Tang So-yeon.
Tangannya yang penuh bekas luka dan urat hitam mengepal di atas lantai batu, dan di dalam hatinya, suara Gu Cheol yang sudah mati berbisik bersamaan dengan suara Tang Hyun yang baru lahir.
"Aku akan datang ke Gunung Hua. Bukan sebagai pengemis yang hanya bisa menatap dari jauh. Tapi sebagai racun yang tidak bisa kalian abaikan, dan sebagai orang yang tidak akan pernah lagi membiarkan orang yang penting baginya pergi."
Di luar jendela, bunga plum di halaman Klan Tang mulai mekar, kelopaknya berwarna ungu gelap dan indah, tetapi siapa pun yang menyentuhnya tanpa sarung tangan khusus akan langsung mati karena racunnya.
Sama seperti Tang Hyun.