Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Anak Dari Wanita Lain
"Kamu pulang? Bukannya tadi kamu bilang mau menginap di hotel?" Ucap Shella tanpa menoleh. Tangannya masih luwes meratakan krim malam di wajahnya, menatap pantulan suaminya dari cermin meja rias.
Bramantyo melempar jam tangan mahalnya ke atas nakas dengan kasar. Wajahnya kusut masai, jasnya sudah tak lagi menempel di tubuh. "Aku akan pergi sebentar lagi. Aku cuma butuh sedikit ketenangan."
Sudut bibir Shella berkedut, menahan senyum sinis. "Ketenangan? Kenapa? Apa ini gara-gara Om Galuh dan Tante Sekar?"
Sontak, dari pantulan cermin, Shella melihat mata Bramantyo menatapnya tajam. Dia yakin tebakannya benar. Tentu saja, setelah Shella menjatuhkan bom waktu di rumah keluarga besarnya tadi, kedua orang tua Saskia pasti langsung melabrak Bramantyo di kantor, dia yakin itu. Rencana malam panas pria itu dengan selingkuhannya jelas hancur berantakan.
"Aku akan tetap memperjuangkannya," Ujar nya mengabaikan sindiran istrinya.
Shella memutar tubuhnya perlahan di kursi rias, menatap pria yang dulu begitu ia puja itu dengan tatapan kasihan. "Setelah dia membohongimu mentah-mentah soal restu keluarganya? Kamu benar-benar sudah buta, Mas. Pahami ini, tidak ada satu pun wanita baik-baik yang sudi merusak rumah tangga orang lain. Kamu akan menyesal karena telah mengorbankan segalanya demi ular seperti Saskia. Percayalah padaku."
"Ck! Jangan sok tahu kamu!" bentak Bramantyo, urat di lehernya menonjol. Ia menunjuk wajah Shella dengan telunjuknya. "Urus saja nasibmu sendiri! Sebentar lagi kamu hanya akan jadi janda miskin! Bisa apa kamu setelah ini, hah? Ingat, Shella, sepeser pun—aku tidak akan membagi hartaku denganmu!"
Alih-alih meledak dalam tangis atau amarah seperti yang Bramantyo harapkan, Shella hanya menatap pria itu dengan sorot mata yang benar-benar kosong.
"Oh."
Hanya satu suku kata itu yang keluar dari bibir Shella. Datar, dingin, dan tak bernyawa.
Ia memutar tubuhnya kembali, meletakkan botol skincare-nya ke atas meja dengan tenang. Tanpa repot-repot menatap suaminya lagi, Shella berjalan menuju ranjang, merebahkan tubuhnya, dan menarik selimut sebatas bahu—memunggungi Bramantyo sepenuhnya.
Di balik punggungnya yang tampak tegar, dada Shella sebenarnya bergemuruh hebat. Ia tahu, setelah ketukan palu hakim nanti, ia akan terhempas kembali ke titik nol. Ia tidak punya apa-apa. Rumah ibunya jelas bukan lagi tempat berlindung, mengingat betapa hinanya ia dipandang di sana. Sahabat? Selama lima tahun pernikahan ini, ia terlalu sibuk menjadi pion untuk ambisi Bramantyo hingga dunianya terisolasi.
Bisa saja besok ia benar-benar berakhir di jalanan tanpa uang sepeser pun. Ketakutan itu nyata.
"Aku hanya berharap... suatu saat karma itu datang untukmu dengan sangat kejam, Mas," gumamnya nyaris tak terdengar. Perlahan, ia memejamkan mata, memeluk erat kehancurannya sendirian.
**
"Apa salahnya? Toh, sekarang Bram sudah jadi pria sukses," ujar Galuh santai pada istrinya.
Sekar menatap dengan pandangan tak percaya pada suaminya sendiri. Pria yang dulu ikut membenci Bram, kini seolah berbalik membela demi materi. Padahal baru kemarin Sekar mendatangi kantor Bram untuk memberikan wanti-wanti keras agar menjauhi putri mereka, Saskia. Sekar tidak ingin anaknya merusak hubungan Shella dan Bram. Dia tahu batasan moral itu.
"Mas, kamu sadar tidak? Kamu itu seperti mau memasukkan ular ke dalam keluarga kita. Bisa saja kan, setelah bosan dengan Saskia, dia akan mencari wanita lain lagi?" tegas Sekar.
Dia tahu betul tipe pria seperti Bram—sekali berani bermain api, dia akan terus melakukannya. Sekar tidak ingin anak kandungnya berakhir terluka dan hancur seperti Shella.
"Om, Tante, tenang saja. Aku bakal menjaga Saskia dengan baik," ucap Bramantyo santai.
Sebuah senyum jemawa tersungging di bibirnya setelah berhasil merebut hati ayah Saskia yang memang gila harta. Bram tahu tidak mudah meluluhkan hati Sekar, tapi dia yakin uang dan kekuasaan bisa membeli segalanya. Apalagi sekarang, ada kartu as di tangannya: Saskia sedang hamil.
"Setelah menghancurkan Shella, sekarang kamu ingin merusak Saskia juga? Bagus sekali, Bramantyo. Tapi ingat, sampai kapan pun saya tidak akan pernah memberikan restu!" sergah Helena, ibu kandung Shella.
Helena sangat membenci pria di hadapannya ini. Pria oportunis yang memanfaatkan keringat anaknya, lalu mendepaknya begitu saja setelah sukses. Helena sebenarnya tidak keberatan jika Bram menceraikan Shella—karena sejak awal dia memang membenci pernikahan itu. Namun, melihat bagaimana Shella mengorbankan seluruh hidup dan uang warisannya hanya untuk dibalas dengan pengkhianatan sekeji ini, ego Helena sebagai ibu terusik. Dia tak habis pikir bagaimana dulu Shella bisa begitu tergila-gila pada pria busuk ini, hingga membuat hubungannya dengan Shella menjadi dingin dan berantakan.
"Biarkan saja, Ma. Sudah... Bramantyo sekarang kan sudah sukses," potong Surya Atmadja, matanya berbinar menatap peluang bisnis di depan mata.
Selama ini, Helena selalu menolak kehadiran Bram di rumah mereka, tapi kini Surya melihat celah keuntungan. Dia bisa memanfaatkan Bram untuk menyuntikkan dana ke perusahaannya yang sedang merangkak megap-megap.
Tidak seperti mendiang suami Helena terdahulu yang sukses, karier bisnis Surya tidak pernah berjalan mulus. Perusahaan yang dulu dibangun oleh mantan suami Helena terpaksa dijual karena desakan anak mereka yang serakah. Hanya berbekal sisa modal dari Helena-lah, Surya bisa membangun bisnisnya kembali, meski kini terseok-seok.
Di sudut ruangan, Gladis dan Vino hanya bungkam, sama sekali tidak peduli pada nasib Shella maupun Saskia. Pikiran mereka hanya dipenuhi oleh gaya hidup mewah. Bagi Gladis yang sejak kecil dimanja oleh ayah kandungnya, bekerja keras adalah hal tabu. Dengan modal kecantikannya, dia yakin bisa menggaet pengusaha kaya mana pun kelak. Sementara Vino, hanyalah pria manja yang tumbuh di tengah pesta pora tanpa memikirkan masa depan.
Melihat situasi itu, Surya sebenarnya merasa sedikit gelisah. Keluarga besar ini tergolong berantakan dan penuh intrik. Namun, dia menepis ego morilnya. Bisnis Helena masih menggurita di mana-mana—mulai dari butik mewah hingga perhotelan. Jika suatu saat bisnis pribadinya bangkrut, Surya tahu dia masih bisa menumpang hidup nyaman pada kekayaan istrinya.
"Kenapa, Pah? Aku tetap tidak suka. Aku tahu pria ini tidak akan pernah berubah, busuk luar dalam!" kekeh Helena sinis menatap suaminya, Surya.
"Saya tidak akan menolak gugatan ceraimu pada anak saya, Bram. Tapi soal Saskia? Saya yakin kamu hanya ingin mempermainkannya."
"Ma, kita bisa membangun perusahaan kita jauh lebih besar lagi. Aku bahkan berniat menawarkan proyek kerja sama eksklusif dengan Papa Surya. Aku yakin, begitu kita bergabung, kita semua akan untung besar. Kita tidak perlu saling membenci lagi, bukan?" tawar Bramantyo penuh manipulasi.
"Saya tetap tidak merestui kalian!" bantah Sekar telak, memotong ucapan Bram.
"Tapi, Ma... aku mencintai Mas Bram. Kami saling menyayangi!" ujar Saskia, mencoba memasang wajah memelas demi meyakinkan ibunya.
Sekar mendecih ketus. "Cinta dan nafsu itu beda tipis, Saskia! Kamu masih mau menjerumuskan dirimu sendiri dengan buaya darat seperti dia?!"
"Aku serius, Ma! Kami tidak sedang bermain-main!" potong Saskia dengan nada tinggi. Matanya melirik tajam ke arah ibunya sebelum menjatuhkan bom waktu yang sesungguhnya.
"Bahkan... saat ini aku sudah mengandung anak Mas Bram. Usia kehamilanku sudah jalan dua bulan."
"Apa?!" teriak Sekar, wajahnya seketika pias dan matanya membelalak tak percaya.