Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Di Balik Kacamata
"Kalau mencintaimu adalah suatu kesalahan yang paling besar di hidupku, aku bersedia menanggung akibatnya seumur hidup." Emily menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di dada Sean.
Sean terpaku, tangannya gemetar menangkup wajah Emily. "Tapi, kenapa begitu, Mil? Kamu selalu bisa menemukan orang yang lebih baik dariku. Lelaki lain yang lebih kaya, lebih pintar, lebih tampan, dan lebih perhatian," ucap Sean dengan wajahnya yang tampak kebingungan.
Emily masih belum menjawab Sean, ia terus memeluk Sean seerat mungkin, berharap waktu bisa berhenti detik itu juga agar ia bisa selalu bersama dengan pria yang dicintainya.
"Kenapa harus aku?" imbuh Sean dengan tatapan wajah penuh harap. Ia tahu ia tidak layak untuk Emily, tapi ia juga berharap Emily tidak mengusir dirinya.
Emily menatap tepat di manik mata Sean dengan tatapan tajam nan basah. "Aku hanya mencintaimu seorang. Kalau orangnya bukan kamu, aku tidak akan mau menjalin hubungan asmara dengan siapapun!" jawab Emily dengan tegas.
Dada Sean seketika bergemuruh. Sean terharu mendengar jawaban Emily, ia juga tahu Emily tidak pernah pacaran dengan siapa pun sebelum bersama dengan dirinya. Ia yakin bahwa Emily hanya mencintainya dan akan terus mencintainya. Sean mendaratkan kecupan hangat di kening Emily, lalu berkata, "Makasih, sayang. Makasih sudah selalu mencintaiku sedalam ini. Aku jauh lebih mencintaimu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua tahun sebelumnya...
Aroma samar sampo dan uap panas dari catokan Remington mengisi kamar Emily Valencia setiap pagi sebelum ia berangkat ke sekolah. Jemari gadis 17 tahun itu telaten membentuk gelombang halus di ujung rambut hitam lurusnya, sebelum akhirnya memoles kacamata berbingkai tebal yang menyembunyikan paras cantiknya. Kacamata itu adalah perisai utamanya dari dunia luar.
Bagi Emily, hidupnya harus terus belajar dengan rajin dan mendapatkan nilai serta peringkat terbaik di sekolah untuk membuat kedua orang tuanya bangga memiliki anak sepertinya. Oleh karena itu, Emily jarang tersenyum. Ia juga hampir tidak pernah ikut hangout bersama teman-teman satu angkatan, membuatnya tidak memiliki banyak teman dekat di sekolah.
Emily selalu mengerjakan semua tugas dan belajar hingga larut malam, membuat kedua mata indahnya selalu memerah akibat kelelahan. Ia tidak akan tidur sampai ia bisa menguasai materi yang akan diujikan pada ujian besok.
Emily menjadi orang yang jarang berbicara bukan tanpa alasan, melainkan karena dirinya adalah anak tengah dari tiga bersaudara. Hal ini membuatnya sering diacuhkan oleh kedua orang tuanya dan seisi rumahnya. Emily menjalani rutinitasnya yang monoton setiap hari, namun ia tidak bisa mengeluh dan ia harus bersyukur bahwa dirinya masih diberikan kepintaran dari Tuhan sehingga ia bisa meraih peringkat satu di angkatannya.
Saat ini, Emily duduk di bangku kelas 10 di salah satu SMA swasta Jakarta paling elite, yaitu SMA Harapan Bangsa. Ia mengambil jurusan IPS dan sudah menjadi ranking terbaik sejak kelas 10. Semua guru sayang padanya, namun hal itu membuatnya tidak begitu disukai oleh teman-teman sekelasnya karena mereka menjadi iri hati setiap kali Emily mampu mendapatkan nilai ujian tertinggi di kelas.
Satu hal yang paling Emily ingat adalah saat pelajaran BK di kelas, sang guru menanyakan kepada murid-murid apakah cinta itu ada dan apakah mereka memercayai keajaiban cinta.
Awalnya, banyak murid yang tidak memercayai cinta karena mereka memang tidak punya pacar, namun sang guru berkata, "Jika cinta memang tidak ada dan tidak ada keajaiban dari cinta, memangnya kalian bisa lahir di dunia? Kalian lahir karena ada cinta dari kedua orang tua kalian. Keajaiban cinta itu ada karena mereka membesarkan kalian dengan penuh kasih sayang dan selalu memenuhi kebutuhan serta keinginan kalian, padahal mereka bisa saja memakai waktu, tenaga, dan uangnya untuk melakukan hal lain."
Setelah mendengar kalimat tersebut, banyak murid yang akhirnya berpihak kepada pemikiran sang guru, termasuk Emily. Hanya saja, meski Emily selalu memercayai ada cinta di dunia, tapi ia tidak percaya bahwa keajaiban dari cinta itu bisa terjadi di hidupnya. Ia merasa bahwa seumur hidupnya, ia bisa saja kesulitan untuk menemui pria yang ia idamkan karena standarnya dalam menemukan pria ideal sangatlah tinggi, membuat semua laki-laki di sekolahnya tidak berani menyatakan perasaan kepada Emily.
Apalagi dengan sifatnya yang pendiam dan terlihat tidak membutuhkan bantuan dari seorang pria membuat banyak siswa tidak berani mendekatinya karena merasa mereka tidak pantas menjadi kekasih dari seorang perempuan yang hampir sempurna seperti Emily. Satu-satunya kekurangan Emily adalah ia tidak begitu peduli dengan banyak hal. Ia hanya mempedulikan sesuatu dan seseorang yang sangat berharga di hidupnya.
Suatu pagi, ia mendapat kelas praktek memasak dan sekelompok dengan seorang siswa bernama Sean. Sean adalah seorang pria yang kasar, tidak ingin bergaul dengan wanita, dan ia juga merupakan siswa terkaya di sekolah ini. Meskipun harta keluarganya sangat banyak, Sean tidak pernah benar-benar memamerkannya. Sean tidak menyombongkan semua uangnya karena ia sendiri tidak tahu berapa banyak harta yang sebenarnya dimiliki oleh keluarganya.
Hari itu, Sean melakukan sesuatu yang membuat seisi kelas gempar. Ia menunjukkan layar ponselnya, foto dirinya merangkul seorang gadis berambut hitam bermasker putih dengan mata bertabur binar bahagia.
Dengan bangga, Sean meneriakkan kalimat ini ke satu kelas, ""Nih, kenalin. Cewek gua. Kita LDR-an," seru Sean dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan.
Riuh celetukan kagum langsung memenuhi ruangan. Emily hanya melirik sekilas ke arah layar ponsel Sean sebelum kembali memotong bahan makanan.
Ceweknya cantik, batin Emily datar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 Tahun Kemudian
Emily sudah menjadi siswi SMA Harapan Bangsa di tahun terakhir. Ia berharap dirinya bisa terus sehat dan dapat mengerjakan semua tugas dan ujian dengan baik. Emily bertekad untuk terus fokus belajar tahun ini karena tahun ini adalah penentuan peringkatnya di sekolah.
Emily masih satu kelas dengan Sean, namun Sean saat ini terus mengejar Emily. Sean sudah putus dari pacarnya satu setengah tahun yang lalu. Sekarang ia fokus melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hati Emily.
Mulai dari dirinya yang terus ingin berada di dekat Emily, mengajak ngobrol, dan ingin selalu membantu Emily dalam hal apa pun. Dia selalu hadir untuk Emily kapan pun Emily membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya yang tak pernah bisa diutarakan ke orang lain. Sean juga selalu mencari setiap kesempatan untuk berada di samping Emily, baik itu di dalam sekolah atau di luar sekolah.
Emily paling ingat saat Sean memberinya hadiah mewah pada ulang tahunnya yang ke-17. Emily mendapat sebuah tas putih merk Dior dari Sean. Emily sebenarnya tidak mau memikirkan alasan Sean memberi hadiah semewah itu karena teman-teman Emily yang lain juga memberi hadiah yang tidak kalah bagusnya dari Sean. Ada yang memberikan tas branded Burberry, ada yang memberikan emas batangan 5 kg, dan ada juga yang memberikan uang tunai dengan nominal fantastis di dalam amplop.
Selesai acara, Emily mengirim pesan singkat kepada Sean di Instagram.
@emily.valencia17
[Sean, makasih ya hadiahnya. Kamu kasih kado sebagus ini.]
@sean.anderson_
[Sama-sama, aku ga keberatan kok kasih kamu tas itu. Dipakai ya tasnya.]
Emily hanya tersenyum membaca pesan itu. Namun, hal yang lebih membuatnya terkejut adalah saat ibunya mengecek harga tas itu di internet. 50 juta. Fantastis.
"Mil, kenapa Sean bisa kasih kamu kado semahal ini? Dia pasti cinta banget sama kamu," ucap sang Mama dengan nada antusias dan wajah yang bahagia.
Bersambung......