NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujung yang Patah

Aiden dan Robin duduk pada ujung jalan layang yang patah dengan kaki menggantung di atas kegelapan. Permukaan beton di bawah mereka dingin dan kasar, dipenuhi kerikil kecil yang mudah terlepas jika tersentuh tumit.

Belasan meter memisahkan mereka dari tanah. Besi-besi penguat menyembul dari sisi patahan seperti jari hitam, sebagian bengkok ke bawah dan sebagian lagi bergetar halus setiap kali angin malam melewati celahnya.

Aiden menumpukan kedua telapak tangan di belakang tubuh. Ia tidak berani menggeser duduknya terlalu dekat karena sekali tadi sepotong beton sebesar kuku telah jatuh dari tepi dan baru terdengar menghantam tanah beberapa detik kemudian.

Haven terbentang di bawah mereka. Atap seng dan kayu berhimpitan di antara tiang penyangga, diterangi lampu minyak yang membuat beberapa jalur tampak kuning sementara bagian lain tenggelam dalam bayangan.

Dari ketinggian itu, rumah Aiden tidak lebih dari bentuk kecil yang menempel dekat dinding barat. Ia tidak dapat melihat jendela atau pintunya, tetapi mengenali letaknya dari tiang besar yang berdiri beberapa langkah di samping gubuk.

Pusat komunitas berada lebih jauh ke dalam permukiman. Bangunannya tampak lebih tinggi daripada rumah-rumah lain, dan sekelompok kecil warga masih bergerak dekat tangganya meskipun malam telah turun.

Aiden beberapa kali menoleh ke belakang. Sebuah tempat perlindungan dari papan dan karung pasir berdiri tidak jauh dari mereka, dibuat untuk penembak jitu yang biasanya menjaga bagian atas jalan layang.

Tempat itu kosong. Tidak ada laras senapan yang menonjol dari celahnya dan tidak ada penjaga yang akan bangkit untuk menarik mereka menjauh dari tepian.

Banyak penjaga dan warga yang mampu membawa senjata telah pergi bersama tim pencari. Penjaga yang masih berada di Haven ditempatkan pada gerbang dan sepanjang dinding, sehingga bagian atas jalan layang tidak diawasi seperti malam-malam biasa.

Aiden dan Robin memahami apa yang akan terjadi jika salah satu orang dewasa menemukan mereka. Baru sehari sebelumnya mereka dibawa pulang setelah keluar dari Haven tanpa izin, sedangkan hukuman Aiden bahkan belum selesai ketika ia meninggalkan rumah malam ini.

Pikiran itu membuat bagian belakang lehernya sesekali terasa gatal. Namun, tidak ada teriakan dari tangga dan tidak tampak cahaya lentera bergerak naik ke arah mereka.

Di luar Haven, tanah datar membentang sampai menyatu dengan gelap. Jalan lama muncul sebagai garis pucat yang retak dan dipenuhi rumput, lalu menghilang di antara bayangan bangunan yang tersebar jauh dari dinding.

Bangunan-bangunan itu mungkin pernah berdiri tegak dan angkuh sebelum Red Winter. Kini sebagian hanya menyisakan dinding tanpa atap, jendela kosong, dan lantai atas yang terbuka karena salah satu sisinya telah runtuh.

Sebuah bangunan tinggi berdiri miring di kejauhan. Bulan terlihat melalui lubang-lubang bekas jendelanya, membuat bangunan itu tampak seperti rangka besar yang telah ditinggalkan terlalu lama.

Lebih dekat dari sana terdapat deretan rumah yang hampir tertutup semak. Pohon-pohon tumbuh dari halaman, menembus pagar yang roboh, dan menjulurkan cabang melewati lubang atap.

Tidak ada lampu di antara reruntuhan tersebut. Tidak terlihat asap, gerakan, atau bayangan orang yang melintasi jalan.

Aiden dan Robin hanya memandangi keheningan itu. Angin menyentuh wajah mereka, membawa bau tanah, rumput, dan air yang tidak dapat dilihat dari atas.

Mereka sudah beberapa kali datang ke tempat yang sama pada siang atau sore hari. Matahari tenggelam selalu membuat dataran di depan mereka berubah merah, lalu ungu, sebelum warna terakhir hilang dari balik bangunan-bangunan rusak.

Malam memiliki pemandangan yang berbeda. Bulan menaruh cahaya pucat pada setiap permukaan yang masih utuh, sedangkan kerangka kota lama berubah menjadi bayangan tanpa dasar yang membuat Aiden ingin terus melihat meskipun matanya mulai perih tertiup angin.

Robin duduk begitu diam sampai Aiden hampir lupa ia berada di sampingnya. Sepatu barunya tidak lagi berdecit, dan kedua tumitnya hanya bergerak kecil di udara.

Beberapa helai rambut pirangnya terangkat oleh angin. Ia menyelipkannya ke belakang telinga, lalu memandang lurus ke depan ketika akhirnya berbicara.

“Sudah kuputuskan.”

Aiden menoleh. Robin masih tidak melihat kepadanya dan hanya mengusap satu telapak tangan pada permukaan beton di antara mereka.

“Kalau sudah besar, aku akan ikut denganmu ke Commonwealth.”

“Apa?”

Kata itu keluar lebih keras daripada yang dimaksudkan Aiden. Ia segera menoleh ke arah tempat penjaga yang kosong, lalu ke tangga di belakang mereka untuk memastikan tidak ada orang yang mendengarnya.

Robin kini memandangnya. Wajahnya terlihat tenang, seolah ia baru menyampaikan keputusan tentang tempat duduk atau permainan yang akan mereka lakukan esok hari.

“Bagaimana dengan orang tuamu?”

“Kalau aku sudah besar, aku akan menikah denganmu. Perempuan yang sudah menikah tinggal bersama suaminya.”

Aiden berhenti bernapas selama beberapa detik. Panas naik dari kerah kemeja menuju leher dan kedua telinganya, terasa ganjil di tengah udara malam yang dingin.

Ia mengalihkan pandangan ke dataran di depan mereka. Tidak ada sesuatu di sana yang dapat menolongnya menemukan jawaban, hanya bangunan runtuh dan jalan kosong yang tidak peduli pada apa pun yang baru diucapkan Robin.

“Kau mau menikah denganku?”

Lidah Aiden tersangkut pada kata menikah. Ia harus mengucapkannya lebih lambat agar tidak terdengar seperti sedang tersedak.

“Ya. Kenapa?”

Robin memiringkan kepala. Kedua alisnya turun ketika Aiden belum juga menatapnya.

“Kau tidak menyukaiku?”

“Bukan. Bukan begitu maksudku.”

Aiden merapatkan kedua telapak tangan pada beton. Debu melekat di sepanjang jarinya, tetapi ia terus menggosoknya karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kedua tangan tersebut.

“Jadi apa?”

Robin menyipitkan mata. Tatapannya bergerak pada wajah Aiden, menunggu jawaban yang tidak berhasil disusun bocah itu.

Aiden tahu ia menyukai Robin. Mereka tumbuh bersama, mengetahui tempat persembunyian yang sama, bertengkar mengenai barang temuan, lalu kembali bermain sebelum kemarahan mereka sempat bertahan sampai malam.

Namun, menikah terdengar seperti sesuatu yang dilakukan orang dewasa. Kata itu membawa bayangan rumah, meja makan, dan kehidupan yang panjang, bukan dua anak yang duduk dengan kaki menggantung pada jalan layang patah.

“Kau sendiri tidak terlalu percaya Commonwealth benar-benar ada, kan?”

Aiden akhirnya memilih pertanyaan lain. Robin menatapnya beberapa saat, mungkin menyadari ia sedang berusaha keluar dari pembicaraan, tetapi tidak memaksanya kembali.

“Aku tahu.”

Ia kembali melihat hamparan gelap di depan mereka. Ujung sepatunya bergerak pelan, membuat tali yang tidak sama panjang bergoyang di atas kehampaan.

“Tapi aku tetap ingin pergi denganmu.”

Jawaban itu membuat panas di wajah Aiden bertambah. Ia menunduk dan memusatkan perhatian pada retakan yang membelah beton di antara kedua pahanya.

“Kita masih anak-anak.”

“Tujuh atau delapan tahun lagi kita sudah besar.”

Robin mengatakannya tanpa ragu. Bagi Aiden, tujuh tahun terasa lebih lama daripada seluruh waktu yang masih dapat diingatnya, tetapi Robin menyebutnya seperti hitungan hari menuju kedatangan karavan.

Ia mengangkat kedua tangannya dan membentangkannya selebar mungkin. Tubuhnya ikut berputar menghadap Aiden, sementara telapak kakinya tidak lagi menggantung lurus di bawah tepi.

“Kita akan punya anak yang sangat banyak.”

Aiden memandang jarak di antara kedua tangannya. Jika jumlah anak dapat diukur dari lebar lengan Robin, rumah yang mereka tinggali nanti harus jauh lebih besar daripada gubuk Marcus.

Robin menurunkan tangannya ke pangkuan. Ekspresi pada wajahnya tetap sungguh-sungguh meskipun Aiden hampir tertawa.

“Mom bilang bayi dibuat dari tanah liat, lalu Tuhan memberi mereka hidup.”

Aiden benar-benar melupakan rasa malu selama beberapa saat. Ia menoleh penuh kepada Robin dan mencoba membayangkan Nadia duduk sambil membentuk bayi dari segumpal tanah basah.

“Sungguh? Aku tidak pernah tahu.”

“Tentu saja. Ibumu sudah tidak ada...”

Suara Robin mengecil sebelum kalimatnya selesai. Kedua matanya melebar sedikit, lalu pandangannya turun ke tangan yang terlipat pada gaun.

Angin terus bergerak di atas jalan layang. Di bawah mereka, sebuah pintu ditutup dan bunyi kayunya memantul sekali di antara rumah-rumah sebelum menghilang.

Aiden memandang bagian depan sepatunya. Ia mengetahui ibunya meninggal setelah sakit keras, tetapi Marcus tidak banyak menceritakan hari-hari terakhirnya dan Aiden tidak pernah memaksa.

Lima tahun telah lewat. Beberapa bagian wajah ibunya masih dapat dikenali ketika ia melihat gambarnya di dalam kepala, tetapi semakin lama semakin sulit bagi Aiden untuk mengingat suaranya dengan tepat.

“Maaf.”

Robin mengucapkannya nyaris seperti bisikan. Bahunya menurun dan ujung jarinya mencabut serpihan kecil dari permukaan beton.

“Tidak apa-apa.”

Aiden tidak ingin keheningan setelah perkataan itu menjadi lebih panjang. Ia menyenggol sisi sepatu Robin menggunakan sepatunya sendiri, cukup pelan agar kaki mereka tidak terayun terlalu jauh.

Robin mengangkat wajah. Ia masih memandang Aiden beberapa saat sebelum mengembuskan napas dan kembali duduk tegak.

“Intinya kita akan menikah.”

Nada suaranya kembali seperti semula. Robin mengangkat tangan kanan dan menunjukkan jari kelingkingnya kepada Aiden.

“Apa ini?”

Aiden memperhatikan jari kecil yang berdiri sendiri di antara mereka. Robin menggerakkannya satu kali agar ia segera memahami, tetapi gerakan tersebut tidak menjelaskan apa pun.

“Janji.”

Robin meraih tangan kanan Aiden. Jemarinya dingin karena angin, dan kulit pada telapak tangannya terasa kasar oleh debu tangga yang baru mereka naiki.

Ia meluruskan kelingking Aiden, lalu melingkarinya menggunakan kelingkingnya sendiri. Kedua jari kecil itu saling mengait di atas retakan jalan layang.

“Berjanjilah suatu hari nanti kau akan menikah denganku.”

Aiden melihat tangan mereka. Ikatan itu tampak terlalu kecil untuk sebuah janji yang menjangkau tujuh atau delapan tahun, tetapi Robin menahannya dengan kuat.

Ia mengangkat pandangan. Robin menunggu tanpa tertawa dan tanpa mengalihkan mata.

“Aku berjanji.”

Senyum Robin muncul perlahan, lalu melebar sampai kedua pipinya terangkat. Ia menggoyangkan jari mereka sekali sebelum akhirnya melepaskan tangan Aiden.

Bekas tekanan kecil tertinggal pada sisi kelingkingnya. Aiden mengusapnya menggunakan ibu jari sambil kembali menghadap dataran malam.

Sebuah suara tiba-tiba naik dari arah gerbang. Mula-mula hanya teriakan jauh, kemudian bunyi logam, langkah banyak orang, dan perintah yang saling bertumpuk.

Aiden serta Robin menoleh bersamaan. Beberapa cahaya bergerak di luar dinding, bergoyang di sepanjang jalan lama menuju pintu masuk Haven.

Cahaya itu semakin dekat dan memisah menjadi lentera-lentera yang dibawa para pria. Penjaga di atas dinding mulai bergerak, sedangkan dua orang di dekat gerbang mendorong palang pembuka dengan tergesa.

“Lihat. Mereka sudah kembali.”

Aiden bergeser menjauhi ujung patahan agar dapat melihat lebih jelas. Robin menempatkan kedua tangan di samping tubuh dan ikut membungkuk ke depan.

Gerbang Haven terbuka. Barisan pria masuk dengan langkah tidak teratur, sebagian saling menopang dan sebagian lain berjalan sambil terus menoleh ke belakang.

Aiden menemukan Marcus di antara mereka dari perban yang melingkari kepalanya. Ayahnya berjalan dekat bagian depan dengan wajah basah oleh keringat, dada naik turun, dan lentera berayun keras pada tangan kirinya.

Ewan berada beberapa langkah di belakang. Aiden mengenali tubuh besarnya dan kain yang menutup hidungnya, tetapi pria itu tidak berjalan tegak seperti ketika berangkat.

Keduanya tampak panik. Wajah para pria lain tidak jauh berbeda, dan tidak seorang pun berbicara seperti orang yang baru menyelesaikan perjalanan biasa.

Di tengah rombongan, enam pria membawa tiga tandu. Setiap tandu ditutup kain dari ujung sampai ujung, membuat Aiden tidak dapat melihat apa pun selain bentuk panjang yang berguncang mengikuti langkah para pembawanya.

Warga mulai keluar dari rumah. Cahaya lampu muncul satu demi satu, lalu suara panggilan dan tangis bergerak dari pusat Haven menuju gerbang.

“Apa yang terjadi?”

Aiden tidak melepaskan pandangan dari tiga tandu. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat, berbeda dari rasa malu yang baru saja memenuhi dadanya.

“Aku tidak tahu. Ayo kita cari tahu.”

Robin menarik kedua kakinya dari tepi. Ia bangkit terlalu cepat sampai sol sepatunya menggeser beberapa kerikil melewati patahan.

Batu-batu kecil itu jatuh tanpa suara. Robin sudah berbalik dan berjalan menuju tangga ketika Aiden baru berhasil berdiri.

“Robin, tunggu.”

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!