"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. DSKKR
Keesokan harinya,
Pagi berganti siang di kawasan bisnis Senayan. Maya melangkah anggun menyusuri koridor kaca VANE Group. Gaun midi warna nude-beige yang membalut tubuhnya memperlihatkan lekuk pinggang yang makin ramping dan kencang. Kulit wajahnya memancarkan kilau sehat alami, membuat beberapa staf muda yang berpapasan dengannya berkali-kali melirik kagum.
Di ruang rapat utama, Arch sudah menunggu bersama tim riset dan pengembangan pasar. Ketika Maya melangkah masuk, tatapan Arch tertuju padanya selama beberapa saat sebelum pria itu tersenyum tipis.
"Semangat sekali harimu, Maya?" sapa Arch seraya menggeser sebuah dokumen analisis ke arahnya.
"Tentu, Mas Arch," jawab Maya ramah seraya menarik kursi di samping Arch. "Laporan penjualan pra-pesan koleksi pertama sudah keluar, kan?"
Arch mengangguk, menunjukkan grafik menanjak di layar monitor. "Angkanya menembus target awal kita sebesar tiga ratus persen hanya dalam waktu empat puluh delapan jam. *Brand* yang kamu rancang bukan cuma diterima pasar, Maya... tapi menciptakan tren baru."
Maya menatap grafik itu dengan mata berbinar tulus. Ada rasa haru yang hangat menyelusup dadanya. Hasil kerja keras, keringat, dan tetesan air matanya kini terbayar tunai.
"Ini baru awal, Mas Arch," tegas Maya mantap. "Aku mau kita mulai rancang lini busana eksklusif berikutnya buat pasar internasional."
"Itu ambisi yang sangat bagus may.. Oh ya, bagaimana penthouse nya?"
"Luar biasa mas, berkat pengacara prosesnya lebih cepat. Surat kepemilikan baru selesai minggu ini. oh ya terimakasih ya mas arch"
"Sudah ku bilang, itu adalah hak kamu may. Kamu dan keluarga mu pantas dapat beribu-ribu kebahagiaan"
Maya tersenyum dan sembari melanjutkan pekerjaan nya.
"Oh ya, Aku ada sedikit hadiah untuk anak-anak. Kamu mau ambil dan kasih kan ke mereka tidak may?"
"Hadiah? Hadiah apa mas?" Tanya maya.
Arch mengambil 3 paperbag yang ada di bawah meja. Lalu menunjukan nya pada maya. Maya pun di beri kode untuk membuka nya.
"Ya ampun.. ini lucu sekali.." ucap maya senang.
"Iya, aku sedang melihat mall ku dan aku lihat ini sangat lucu."
"Terimakasih mas arch. Anak-anakku pasti senang.."
"Sama-sama.. salam dari ku ya.."
***
Sementara itu, di kontrakan pinggiran kota Jakarta.
"Maa.. aku berangkat dulu ya.. siapa tau hari ini ada lowongan" ucap Fandi yang baru terbangun dari tidurnya.
"Ya ndi.. tapi kamu sisihkan juga ndi uang buat ibu dan intan makan."
Fandi mengeluarkan selembar uang berwarna hijau lalu memberikan nya pada ibunya.
"Kok cuma segini ndi? Mana cukup" ucap Ibu Ratna.
"Uang Fandi mau habis bu.. ini mau buat ongkos naik angkot" Ucap Fandi.
"Lah dengan 20 ribu makan berdua bisa dapat apa ndi di jaman sekarang"
"Bu.. kan ibu bisa masak bu.. itu masih ada gas nya juga kan."
"Ya ampun.. ndi ini cuma cukup beras setengah kilo sama tempe tahu aja. Kamu tega sekali sih ndi.. ibuk sama intan pengen makan di restoran dulu itu."
"Bu..kalau makan di resto bisa sampai lebih dari 200 ribu bu.Di bilang uang fandi menipis bu. Tolong perngertian nya. Syukuri yang ada dulu" Ucap Fandi menghela nafas lelah.
"Kamu ini.. ya sudah tambahin sini. Ibu sama intan mau beli fried chiken aja di depan"
Fandi mau tak mau merogoh saku nya lagi dan mengeluarkan selembar uang 10 ribu.lalu selepas itu, ia pun terpaksa berjalan kaki kemana pun dia pergi.
Hingga sore hari, Fandi berjalan menyusuri trotoar yang panas dengan bahu meliuk lelah. Di tangannya, dia menggenggam selembar brosur pameran fashion bergengsi yang menampilkan foto Maya di halaman utamanya sebagai pembicara utama.
Ponsel murah di sakunya bergetar berkali-kali. Nama 'Ibu' tertera di layar. Dengan malas dan dada sesak, Fandi menggeser tombol hijau.
"Halo, Bu?" suara Fandi terdengar parau.
"Fandi! Kamu di mana?!" suara Ibu Ratna terdengar panik dan menangis dari seberang telepon. "Ini ibu pemilik kontrakan datang bawa dua orang pria! Barang-barang kita dikeluarin ke jalan, Ndi! Kita diusir!"
Fandi mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih. "Fandi udah gak ada uang lagi, Bu! Fandi harus cari ke mana lagi?!"
"Kamu coba telfon Maya, Fandi!" ceretai Ibu Ratna tanpa rasa malu sedikit pun, suaranya terengah-engah di antara tangisnya. "Pinta bantuan sama Maya! Bagaimanapun juga kamu itu mantan suaminya, dan dia itu pernah jadi menantu Ibu! Masa dia tega lihat kita terlunta-lunta di jalanan begini?!"
Fandi terkekeh sumbang, sebuah tawa pahit yang sangat menyedihkan. "Minta bantuan Maya, Bu? Ibu lupa gimana dulu Ibu usir dia malam-malam tanpa bawa baju selembar pun?! Ibu lupa gimana Intan ngejek Maya kayak pembantu?!"
"Tapi kan situasi sekarang beda, Fandi!" seru Ibu Ratna egois. "Dia sekarang kaya raya! Duitnya gak bakal habis cuma buat bantu kita bayar kontrakan!"
"Maya bukan tempat sampah kita lagi, Bu," bisik Fandi lirih, air matanya menetes melewati pipinya yang tirus. "Dia udah diblokir nomor Fandi. Jangankan ngasih uang... lihat muka kita aja dia pasti udah jijik."
Fandi mematikan sambungan telepon itu begitu saja. Dia terduduk di bangku taman kota yang kotor, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Penyesalan yang melahap jiwanya kini menjelma menjadi kegelapan yang tak lagi menawarkan jalan keluar.
"Ya ampun.. kenapa jadi sangat memusingkan gini sih"
Tak lama kemudian ponsel fandi berbunyi lagi. Ia langsung mengangkat nya.
"Ya ampun bu. Apalagi sih" Ucap kesal Fandi.
"Kita di usir ndi.. sekarang kita jadi gelandangan.." Ucap Ibu ratna dengan menangis.
"Mas.. gimana ini mas.. masa kita engga punya rumah sih" ucap intan.
Fandi terdiam, ia tak tau akan berbuat apa kali ini. Semua terasa buntu bagi Fandi.
"Aku pulang sekarang."
Fandi pun mematikan telpon lalu dia berjalan cepat hingga setengah jam kemudian ia sampai di gang kontrakan nya yang sempit. Fandi melihat ibu dan adiknya sedang terduduk di tanah dengan barang-barang yang sudah berserakan.
"Bu.." panggil Fandi.
Ibu dan Intan pun menoleh. "Ndi.. gimana ini ndi..kita mau tidur dimana ini.." ucap Ibu Ratna.
Tiba-tiba pemilik kontrakan muncul kembali.
"Loh kalian belum pergi juga? Pergi sana! Enak aja mau tinggal gratis." Ucap Bu Sopiyah.
"Bu.. apa engga bisa beri kami kelonggaran sedikit lagi bu?" Ucap Fandi.
"Heleeh.. udah di beri kelonggaran sebulan loh. Kurang baik apa saya ini. Dimana-mana kontrakan itu di bayar dulu. Ini saya sudah berbaik hati, kalian juga sudah tinggal disini lebih dari 2 bulan."
"Tolong bu. Saya janji saya usahakan bu akan saya bayar" ucap fandi lagi.
""Dari awal ya janji janji mulu. Saya juga butuh duit.. kalau engga punya duit, jangan kontrak. Masih banyak yang mau ngontrak disni. Sudah sana kalian pergi! Atau saya akan serahkan kalian ke kantor polisi hah!" Ucap Bu Sopiyah tegas.
Mau tak mau, Fandi dan keluarga nya pun pergi membawa seluruh barangnya dari kontrakan tersebut.
"Mas.. mau kemanaa ini mas.." ucap intan mengeluh.
Bersambung..