NovelToon NovelToon
Dari Sampah Jadi Dewa: Sistem Daur Ulang Multiverse

Dari Sampah Jadi Dewa: Sistem Daur Ulang Multiverse

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Cklek!

Pintu kayu berukir itu terbuka dari dalam dan Aris melangkah keluar dengan pipi kiri yang masih memerah akibat bekas tamparan ayahnya.

Keempat penjaga bersenjata itu langsung menunduk hormat saat Aris berjalan melewati mereka dengan wajah cemberut menuju lift pribadi.

Setelah pintu lift tertutup dan membawa Aris turun, Anton terlihat muncul sebentar di ambang pintu ruangannya.

Pria paruh baya dengan uban di pelipisnya itu menatap tajam ke arah keempat penjaga setianya.

"Kalian tetap berjaga di posisi ini, aku harus turun ke ruang arsip bawah sebentar untuk mengambil beberapa stempel basah palsu," perintah Anton dengan tegas.

"Baik Tuan Anton, kami jamin bahkan seekor nyamuk pun tidak akan bisa masuk ke dalam ruangan ini!" jawab keempat penjaga itu serempak.

Anton mengangguk puas lalu mengunci pintu ruangannya dari luar dan berjalan menyusul masuk ke dalam bilik lift yang lain.

Inilah kesempatan emas dan satu-satunya celah yang sudah ditunggu-tunggu oleh Bara sejak tadi.

"Keamanan mereka ternyata sangat lemah karena pikiran mereka terlalu sibuk memikirkan masalah," batin Bara dengan perasaan geli.

Bara perlahan berjalan mendekati pintu kayu yang sudah dikunci dengan rapat oleh Anton tersebut.

Dia tidak perlu merusak lubang kunci itu dengan kekerasan, karena dari dalam sakunya Bara sudah menyiapkan sepotong kawat kecil.

Klik! Klik! Cklek!

Hanya butuh waktu delapan detik bagi keterampilan tangan lincah Bara untuk mencongkel kunci ganda yang rumit tersebut.

Bara mendorong pintu kayunya secara perlahan dan langsung melesat masuk ke dalam ruangan gelap itu sebelum para penjaga di luar menoleh ke belakang.

Klik.

Bara kembali mengunci pintu dari dalam agar tidak ada orang bodoh yang mengganggu acara pencariannya malam ini.

Ruangan kerja utama Anton Aristha ini memiliki ukuran yang sangat luas dan dipenuhi oleh perabotan kayu jati berkualitas tinggi.

Bara langsung melepaskan tudung jubahnya ke belakang bahu dan mengaktifkan Kacamata Identifikasi Spiritual yang sedari tadi dia pakai.

"Kacamata, tunjukkan padaku di sudut mana pria tua bangka itu menyembunyikan brankas utamanya," perintah Bara berbisik.

Lensa kacamata berbingkai perak itu langsung memancarkan pendaran cahaya redup dan memindai seluruh penjuru ruangan.

Sebuah garis cahaya petunjuk berwarna putih terang langsung melayang menunjuk tepat ke bagian belakang sebuah lukisan besar di dinding.

Bara berjalan cepat mendekat dan langsung menggeser paksa lukisan pemandangan sungai tersebut.

Sebuah brankas baja yang sangat tebal langsung menampakkan wujud aslinya yang tertanam kokoh di dalam beton dinding.

Brankas itu ternyata menggunakan sistem penguncian ganda yang cukup rumit, yaitu deretan kombinasi angka digital dan juga sensor sidik jari.

"Sistem keamanan yang lumayan untuk menipu maling amatiran, tapi sayang sekali kacamata gaib ini terlalu curang untuk benda seperti itu," ucap Bara dengan senyum lebar.

Melalui lensa Kacamata Identifikasinya, Bara bisa melihat dengan sangat jelas sisa-sisa kepekatan warna suhu dan bekas tekanan jari Anton yang tertinggal di tombol angka.

Bara langsung menekan enam digit angka yang bercahaya itu secara berurutan sesuai dengan warna suhu yang paling merah.

Pip! Pip! Pip!

Kini untuk sensor sidik jarinya, Bara tentu saja sama sekali tidak repot-repot mencari potongan jari asli milik Anton.

Bara hanya perlu mengalirkan sedikit tenaga fisik manusia supernya agar terkonsentrasi di telapak tangan kanannya.

Brak!

Bara langsung menghantamkan telapak tangannya dengan sangat keras tepat ke bagian engsel utama pintu brankas baja tersebut.

Logam baja super tebal itu langsung penyok parah ke arah dalam dan merusak seluruh mekanisme pengunci mekanis yang menahannya.

Bara kemudian mencengkeram celah pintu brankas itu dan menariknya paksa hingga terbuka lebar dengan suara engsel yang patah mengerikan.

"Mari kita lihat dokumen kotor apa saja yang disembunyikan oleh tikus-tikus tua keluarga Aristha di dalam sini," gumam Bara dengan mata yang berbinar.

Di dalam ruangan brankas itu terdapat beberapa tumpukan dokumen tebal, setumpuk sertifikat tanah, dan lima buah kotak kecil berlapis beludru hitam.

Bara meraih tumpukan dokumen itu terlebih dahulu dan membacanya secara sekilas menggunakan penerangan dari cahaya lampu jalan di luar jendela.

"Laporan pembukuan pajak ganda, bukti transfer uang pelicin untuk pejabat, dan surat kontrak palsu pencurian lahan," sebut Bara satu per satu.

"Semua bukti dokumen kotor ini sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh keluarga mereka membusuk di penjara paling kumuh seumur hidup."

Bara langsung memasukkan semua dokumen rahasia yang sangat krusial itu ke dalam tas ransel lipat yang dia bawa dari apartemen.

Pandangan mata Bara kemudian beralih fokus pada lima kotak beludru hitam yang tergeletak pasrah di bagian paling bawah brankas.

Bara membuka salah satu penutup kotak tersebut dan matanya langsung dibuat sedikit menyipit karena kilauan cahaya yang memantul.

Di dalam kotak hitam itu berjajar rapi belasan butir batu berlian mentah yang belum dipotong dan memiliki ukuran hampir sebesar biji kelereng.

"Sistem, coba kau hitung berapa perkiraan nilai pasar dari semua batu mengkilap ini?" tanya Bara dalam hati.

[Menjawab Tuan.]

[Lima kotak ini berisi total enam puluh butir berlian mentah murni hasil penyelundupan ilegal yang belum dicatat dalam administrasi.]

[Nilai total estimasi jika benda-benda ini dijual langsung di pasar gelap saat ini bisa mencapai angka lima puluh miliar rupiah secara tunai.]

Nafas Bara sempat terhenti sejenak mendengar rentetan nominal uang yang luar biasa fantastis diucapkan oleh sistem barusan.

Aris sore ini baru saja mencoba memonopoli pasar bahan baku herbal dengan dana darurat lima miliar.

Namun sekarang Bara justru merampok habis dana simpanan rahasia keluarga mereka sebesar lima puluh miliar rupiah tanpa tersisa.

Ini bukan lagi sekadar kerugian di atas kertas bisnis, tindakan ini benar-benar akan mencabut akar fondasi kehidupan keluarga Aristha.

"Ini adalah bayaran ganti rugi yang sangat setimpal untuk luka memar di perutku tempo hari," ucap Bara sambil memborong semua kotak beludru itu ke dalam tasnya.

Setelah memastikan brankas itu benar-benar bersih dan kosong melompong, Bara mulai bersiap untuk pergi.

Namun sebelum itu, dia sengaja mengambil sebuah pulpen mahal dari atas meja Anton dan mencari selembar kertas putih kosong.

Bara meletakkan kertas putih berisi pesannya itu tepat di tengah-tengah brankas baja yang sudah hancur lebur engselnya.

Dia kemudian kembali merapatkan Jubah Penyamar Hawanya dan menyatu kembali dengan kegelapan ruangan.

Bara membuka kunci pintu tanpa suara, melesat keluar, dan menyusup santai melewati para penjaga yang masih berdiri kaku menjaga lorong.

Misi penyusupan dan perampokan malam ini berjalan sangat mulus dan sempurna tanpa ada satu pun orang yang mencium keberadaannya.

Satu jam kemudian, Anton Aristha melangkah kembali menuju ruangannya dengan membawa stempel palsu yang dia perlukan.

Namun saat pria tua itu baru saja membuka pintu ruang kerjanya, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat melihat lukisan besarnya bergeser.

"T-tidak mungkin... brankas utamaku..." suara Anton bergetar hebat dipenuhi oleh rasa panik yang tak terbendung.

Dia langsung berlari menjatuhkan barang bawaannya mendekati brankas baja yang pintunya sudah jebol rusak dengan sangat parah tersebut.

Semua dokumen penting perusahaannya benar-benar lenyap, dan yang lebih parah, berlian selundupan senilai lima puluh miliar miliknya juga hilang ditelan bumi.

Kedua lutut Anton seketika terasa lemas dan pria congkak itu jatuh terduduk di atas lantai marmer dengan wajah yang memucat seperti mayat.

Matanya lalu tertuju pada selembar kertas putih yang dibiarkan menyendiri di dalam brankas kosong tersebut.

Anton meremas kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat dan mulai membaca tulisan tangan yang tertulis di sana.

"Terima kasih atas sumbangan lima puluh miliarnya malam ini, Tuan Anton. Uang ini akan aku gunakan untuk menghancurkan sisa-sisa nafas perusahaanmu besok pagi. Salam hangat, Cadangan yang Kalian Buang."

Dada Anton seketika terasa luar biasa sesak seolah baru saja ditimpa oleh beton seberat puluhan ton dari atas gedung.

"Bara... jadi pemulung bernama Bara itu yang sudah merampokku malam ini..." gumam Anton dengan nafas yang mulai tersengal-sengal menahan serangan jantung ringan.

Bara tidak hanya menguras habis seluruh harta gelapnya, tapi pemuda itu masuk dengan terlalu mudah melewati semua sistem pertahanan yang selalu dia banggakan.

"Aris sialan! Anak itu benar-benar sudah membangunkan monster yang salah dari tempat sampahnya!" teriak Anton mengutuk anak kandungnya sendiri.

Keluarga Aristha malam ini secara resmi kehilangan seluruh taring uang dan cakar kekuasaan mereka akibat kesombongan buta yang mereka pelihara.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Was pray
pengusaha yg punya produk yg sama jadikan kompetitor bersaing secara sehat dengan kualitas, menang tanpa menjatuhkan lawan, untung tanpa menimbulkan musuh
Was pray
sembuhkan Gideon dan dijadikan anak buah yg setia aja bara dia bisa dijadikan mata mata didunia bawah tanah
kiyoe: heheh tunggu update selanjutnya yaa kak 🤣
total 1 replies
Was pray
emang bisa langsung beroperasi tuh pabrik? kan butuh penyesuaian peralatan dan tenaga ahli? kayak sulap dong ... bim salabim langsung muncul... tuh krim kosmetiknya 🤭🤭🤣
Was pray
betul.... tembak kepala bara dia pasti mati Krn perlindungan kaos oblong yg dipakai hanya melindungi tubuhnya doang
Was pray
ntar Nadhira posisi berubah dari teman jadii pacar, terus dari rekamn bisnis menjadi rekan ranjang nih..... terus Nadhira jad adik iparnya Adit Pratama.... 🤣🤣
Was pray
beli rumah dulu bara, ntar jadi lelucon naik mobil sultan tapi rumah kontrakan... masih mending mobil sewaan tapi rumah idaman
Was pray: biar bisa pamer dan nunjukin ke orang2 Nuh gue kaya.... tapi rumah masih nyewa.... mobil kredit... 🤣🤣
total 5 replies
Was pray
utang nyawa Nadhira pada bara dibayar dengan secangkir kopi, amat sepadan buat bara.... 🤣
Was pray
untung yg kram bukan gigi nya.... 🤣🤣
Was pray
mau main sepakbola dong .. sis....
Was pray
daging panggang mewah. daging pasti daging hewan langka nih ... bisa daging rusa bertanduk gading atau sapi berbulu emas... 🤭🤭
Was pray
yg tadi nya rata seperti kayu sekarang kotak kotak kayak papan catur .... 🤭🤣
Was pray: kwk. ... kwk... kwk.. gak biliard aja... kan lebih menantang.... 🤣🤣
total 4 replies
Was pray
kalau sama dadanya mbak -mbak tebal nih dadanya bara? 🤭🤭
kiyoe: heheh
total 1 replies
Was pray
waduh bahaya nih.... ntar bisa terbang tertiup angin.... dan tersangkut di ranting pohon.... gak bisa turun... kan seringan kapas... 🤭🤭🤭🤣
Was pray
bara ini saudaranya Adit ya Thor? karena sama2 memakai nama pratama
kiyoe: Bara gelap gulita 🤣
total 3 replies
Was pray
moga aja alur cerita per bab nyambung dan sistem gak berubah fungsi kayak sistem peternak dan berkebun berubah arah jadi sistem kultivator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!