"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN SIANG DAN PERHATIAN BARU
Di bawah terik matahari pagi yang mulai membakar, Yoga membanting pintu mobilnya dengan kesal. Asap tipis membumbung dari balik kap mesin mobil tua yang menjadi sarana utamanya menuju tempat kerja. Beberapa kali ia memutar kunci kontak, namun suara raungan mesin yang tersedak-sedak memperjelas bahwa kendaraan itu benar-benar mogok total.
Yoga mengusap peluh di dahinya, lalu melirik jam tangan. Lima belas menit lagi jam masuk kantor dimulai, dan posisi dirinya masih terjebak di pinggir jalan raya yang padat. Di tengah kepanikan dan bayangan wajah atasan yang bakal marah besar, sebuah mobil sedan putih berkilau melambat dan berhenti tepat di depan mobilnya.
Kaca mobil itu turun perlahan, menampilkan sosok wanita muda dengan pakaian kerja yang rapi, kacamata hitam yang anggun, serta senyum ramah yang terkembang. Dialah Gladis, salah satu staf di divisi keuangan perusahaan tempat Yoga bekerja.
"Mas Yoga? Kenapa mobilnya?" tanya Gladis manis sembari membetulkan posisi kacamata hitamnya ke atas kepala.
"Mogok, Gladis. Tiba-tiba mesinnya mati dan tidak mau menyala lagi," jawab Yoga lega menemukan wajah yang familiar di tengah situasinya yang terjepit.
Gladis melirik jam di dashboard mobilnya, lalu menatap Yoga dengan pandangan perhatian. "Aduh, jam masuk kantor sebentar lagi, Mas. Kalau tunggu derek atau montir pasti bakal terlambat jauh. Ayo naik mobilku saja, biar mobil Mas Yoga dititip dulu atau dipanggilkan montir lewat ponsel."
Yoga sempat ragu sejenak. Namun membayangkan hukuman keterlambatan yang akan memotong gaji bulannya—yang kini sudah berkurang drastis karena diserahkan pada ibunya—ia akhirnya mengangguk. "Terima kasih banyak ya, Gladis. Sungguh, kamu menyelamatkan aku pagi ini."
Selama perjalanan menuju kantor, suasana di dalam mobil terasa hangat dan nyaman. Gladis, yang memang sudah lama mengagumi kepribadian Yoga yang sopan dan pekerja keras, pandai mencairkan suasana. Ia melempar obrolan-obrolan ringan yang menghibur, membuat beban pikiran Yoga yang menumpuk sejak pagi akibat perselisihan rumah tangga perlahan sedikit terangkat.
Tanpa Yoga sadari, pertemuan sederhana di pinggir jalan ini menjadi awal dari dinamika baru yang siap menguji sisa-sisa komitmen dalam pernikahan lima tahunnya bersama Isma.
Di dalam mobil sedan yang sejuk oleh hembusan pendingin udara, Yoga sibuk menempelkan ponsel di telinganya. Setelah menunggu beberapa nada sambung, ia akhirnya berhasil menghubungi pihak bengkel langganan untuk menderek mobil tuanya yang mogok di pinggir jalan raya.
"Terima kasih banyak ya, Mas. Montir kami sedang meluncur ke lokasi tempat mobil Bapak ditinggalkan," suara petugas bengkel dari seberang telepon memberikan kepastian.
"Baik, terima kasih. Tolong diperiksa bagian mesinnya ya," sahut Yoga tenang sebelum mematikan sambungan telepon. Ia menghela napas lega, menyerahkan urusan kendaraannya yang bermasalah pada ahlinya.
Gladis yang duduk di balik kemudi melirik Yoga dari sudut matanya seraya tersenyum tipis. "Sudah beres, Mas?"
"Sudah, Gladis. Sekali lagi terima kasih banyak ya. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah kena tegur atasan karena terlambat," jawab Yoga tulus.
"Sama-sama, Mas Yoga. Santai saja, kita kan rekan kerja," balas Gladis manis.
Mobil terus melaju membelah kepadatan lalu lintas kota hingga akhirnya berbelok memasuki area parkir gedung perkantoran megah tempat mereka bekerja. Begitu mesin mobil dimatikan, Yoga merapikan jasnya dan bersiap untuk turun.
Yoga memang memiliki perawakan yang amat menarik. Tubuhnya tegap, garis rahangnya tegas, dan wajahnya memancarkan wibawa yang alami. Di usianya yang mendekati kepala tiga, penampilannya masih sangat segar dan karismatik. Banyak orang sering tak menyangka bahwa ia telah membina rumah tangga selama lima tahun, sebab garis wajahnya yang muda dan bersih seolah mengisyaratkan ketenangan laki-laki yang belum terbebani oleh hiruk-pikuk mengurus anak.
Gladis memperhatikan setiap gerak-gerik Yoga yang berjalan di sampingnya menuju lobi kantor. Langkah Yoga yang mantap dan tatapan matanya yang teduh tak memungkiri fakta mengapa banyak staf wanita di kantor yang diam-diam mengaguminya.
"Mas Yoga, nanti waktu istirahat siang ada rencana makan di mana?" tanya Gladis santai saat mereka berada di dalam lift yang perlahan bergerak naik.
Yoga menatap layar angka lift yang berganti, teringat akan wajah Isma dan konflik uang belanja pagi tadi yang masih menggantung di hatinya. "Belum tahu, Gladis. Sepertinya aku cuma di kubikel saja menyelesaikan laporan."
Gladis menyunggingkan senyum penuh arti. "Kalau begitu, bagaimana kalau aku pesan makan siang lewat aplikasi lalu kita makan bareng di ruang istirahat?"
"Boleh jika tidak keberatan, nanti saya ganti uangnya," ucap Yoga akhirnya seraya tersenyum tipis.
Gladis terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya sembari menatap Yoga dengan binar mata yang hangat. "Astaga, Mas Yoga. Cuma makan siang saja pakai ganti segala. Anggap saja ini sebagai perayaan kecil karena mobil Mas sukses dievakuasi ke bengkel."
Pintu lift berdenting terbuka di lantai lima, menghentikan percakapan mereka. Keduanya melangkah keluar menuju area kerja masing-masing. Namun, tawaran sederhana dari Gladis itu menyisakan hangat yang tidak biasa di benak Yoga sepanjang pagi. Di tengah penatnya tumpukan berkas dan tekanan pekerjaan, perhatian kecil dari rekan kerjanya terasa bagai angin segar. Sangat berbeda dengan atmosfer tegang dan dingin yang menyelimuti rumahnya beberapa hari terakhir.
Saat jam istirahat siang tiba, Gladis menghampiri kubikel Yoga membawa dua porsi kotak makan siang berkualitas tinggi yang baru saja diantarkan oleh kurir. Mereka memilih duduk di sudut ruang istirahat kantor yang cukup tenang. Gladis dengan telaten membukakan wadah makanan untuk Yoga, memperlihatkan menu lengkap tinggi protein yang tertata cantik.
"Ayo dimakan, Mas. Katanya pria pekerja keras seperti Mas Yoga butuh asupan yang bernutrisi," ujar Gladis ramah.
Yoga menatap hidangan lezat di depannya dengan perasaan campur aduk. Pikiran melayang pada ucapan Isma pagi tadi tentang anggaran belanja harian yang dipotong drastis, serta bayangan tumis kangkung dan tempe goreng yang disajikan di meja makan rumahnya. Ada rasa getir yang menyelinap. Mengapa orang luar seperti Gladis justru tampak lebih mengerti kebutuhan dan stamina dirinya dibanding istrinya sendiri di rumah?
"Terima kasih banyak, Gladis. Kamu perhatian sekali," tutur Yoga tulus sebelum menyuap makanannya.
Gladis tersenyum manis, lalu menopang dagunya sambil menatap Yoga lembut. "Aku cuma heran saja, Mas. Laki-laki hebat, berwibawa, dan penyabar seperti Mas Yoga ini harunya dijaga dan dimanja baik-baik di rumah. Istri Mas Yoga pasti beruntung sekali punya suami seperti Mas."
Mendengar kalimat itu, sendok di genggaman Yoga sempat tertahan di udara. Kata-kata Gladis seolah menyentuh titik sensitif di hatinya yang sedang rapuh. Yoga menghela napas halus, menyembunyikan kekecewaan atas konflik rumah tangganya di balik senyuman tipis, tanpa menyadari bahwa celah kecil dalam hatinya kini mulai terbuka untuk hal-hal yang tidak seharusnya.