Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pak Umar ikut berdiri. Raut wajahnya berubah semakin serius.
"Aisyah, Kalau kamu menolak, Ayah tidak tahu bagaimana nasib rumah tangga kakakmu."
Kalimat itu membuat langkah Aisyah terhenti. Tangannya mengepal namun ia tidak berbalik.
Suara pak Umar kembali terdengar, kali ini jauh lebih berat.
"Pikirkan baik-baik. Karena bisa jadi masa depan Salsa berada di tanganmu."
Aisyah memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya terasa semakin sesak. Malam itu, Ia merasa seolah seluruh beban dunia diletakkan di atas kedua bahunya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berharap ada seseorang yang datang dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Sayangnya, takdir baru saja mengetuk pintunya dan ia belum tahu apakah sanggup membukanya atau tidak.
Kalimat itu masih terngiang jelas di telinga Aisyah. Bahkan ketika kedua kakinya melangkah meninggalkan ruang keluarga, suara sang ayah seolah terus mengejarnya.
"Pikirkan baik-baik. Karena bisa jadi masa depan Salsa berada di tanganmu."
Aisyah menghentikan langkahnya sejenak. Matanya terpejam rapat, dadanya naik turun menahan sesak yang sejak tadi terasa semakin menyiksa. Tidak, Ia tidak sanggup mendengar kata-kata itu lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aisyah mempercepat langkahnya menuju kamar dan
Brak!
Pintu kamar ditutup sedikit lebih keras dari biasanya, Suara kunci diputar dari dalam dan membuat tubuh Aisyah langsung bersandar di balik pintu. Kedua lututnya mendadak lemas hingga perlahan ia melorot dan terduduk di lantai. Tangannya menutup wajah sementara tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa sisa.
"Ya Allah," Suara isaknya memenuhi kamar yang kini terasa begitu sunyi. "Kenapa harus Aisyah?"
Air mata terus mengalir membasahi cadar yang masih dikenakannya. Aisyah bahkan tidak sempat melepaskannya karena yang ada di kepalanya hanya satu pertanyaan. Kenapa?Kenapa Allah mengujinya dengan cara seperti ini? Ia rela berkorban untuk siapa pun. Ia rela mengalah. Ia rela kehilangan banyak hal, tetapi bukan dengan menikahi suami kakaknya sendiri. Bayangan wajah Salsa kembali memenuhi pikirannya. Kakak yang sejak kecil selalu melindunginya. Kakak yang selalu mengalah setiap kali mereka berebut sesuatu. Kakak yang rela bekerja lebih keras setelah ibu mereka meninggal agar Aisyah tetap bisa kuliah. Bagaimana mungkin sekarang justru ia yang harus mengambil hak perempuan itu?
"Tidak." Aisyah menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak bisa." Tangisnya semakin menjadi.
Di luar kamar, Pak Umar berdiri mematung menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup rapat. Tangannya sempat terangkat hendak mengetuk namun kembali turun. Laki-laki itu menghela napas panjang.
"Aisyah," Panggilnya pelan. "Ayah tahu kamu sedang sedih, tapi jangan seperti ini, Nak."
Tak ada jawaban, hanya keheningan. Pak Umar mencoba mengetuk pintu.
"Ayah tidak akan memaksamu malam ini tapi tolong buka pintunya. Kita bisa bicara lagi baik-baik."
Tetap tidak ada jawaban. Pak Umar menundukkan kepalanya. Selama menjadi ayah, inilah pertama kalinya ia melihat putri bungsunya mengunci diri seperti ini. Biasanya Aisyah adalah anak yang paling lembut hatinya. Kalau marah, ia hanya memilih diam. Kalau sedih, ia akan menangis sebentar lalu kembali tersenyum. Namun malam ini berbeda. Pak Umar bisa merasakan hati putrinya benar-benar hancur. Di balik pintu, Aisyah masih terduduk memeluk kedua lututnya. Suara ayahnya terdengar begitu jelas namun ia tidak memiliki keberanian untuk menjawab. Kalau ia membuka mulut, ia yakin tangisnya akan semakin pecah.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki Pak Umar akhirnya menjauh dan meninggalkan lorong rumah yang kembali sunyi. Aisyah mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, bengkak sementara napasnya masih tersengal karena terlalu lama menangis. Pandangannya jatuh pada sajadah yang belum sempat ia lipat. Entah mengapa kakinya perlahan melangkah ke sana. Ia kembali mengenakan mukenanya, berdiri menghadap kiblat dan membaca Takbir.
Begitu kedua tangannya bersedekap, air matanya kembali jatuh. Setiap bacaan salat yang keluar dari bibirnya terdengar bergetar. Bahkan ketika ia bersujud, tangis itu kembali pecah sangat lama hingga sajadah di bawah wajahnya mulai terasa basah.
"Ya Allah," lirihnya di sela isak. "Kalau semua ini adalah ujian untukku, berikanlah hamba kekuatan." Ia kembali menangis sementara dadanya terasa semakin sesak. "Ya Allah, jangan jadikan aku sebagai perusak rumah tangga kakakku." Air matanya menetes semakin deras. "Aku tidak mau, demi apa pun aku tidak mau. Jangan jadikan aku duri di dalam rumah tangga Kak Salsa. Dia sudah terlalu banyak berkorban untukku. Jangan biarkan aku menjadi alasan dia menangis." Tubuh Aisyah bergetar hebat. Ia menggenggam ujung sajadah begitu erat. "Kalau memang harus ada yang terluka, biarlah itu aku asal bukan Kak Salsa. Jangan dia, Ya Allah."
Tangis itu kembali memenuhi kamar. Tak ada seorang pun yang mendengarnya. Tak ada seorang pun yang melihat bagaimana seorang perempuan sedang berusaha berdamai dengan takdir yang terasa begitu kejam. Malam terus berjalan, jam demi jam berlalu, namun mata Aisyah tak juga terpejam.
Sesekali ia duduk di tepi ranjang lalu kembali menangis. Sesekali ia memandang foto dirinya bersama Salsa yang terpajang di meja belajar. Foto itu diambil dua tahun lalu saat mereka berlibur bersama.
Di dalam foto itu, Salsa merangkul pundaknya sambil tersenyum lebar sedangkan dirinya tertawa tanpa beban. Aisyah meraih bingkai foto itu dan mengusap wajah kakaknya dengan ujung jemarinya.
"Kak...." Suara lirih itu nyaris tak terdengar. "Aisyah nggak bisa. Aisyah benar-benar nggak bisa. Maafin Aisyah."
Tangisnya kembali pecah. Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi malam paling panjang dalam hidupnya.
Keesokan harinya, sang Surya mulai menampakkan sinarnya dari balik jendela. Burung-burung berkicau menyambut pagi namun suasana di rumah Pak Umar justru terasa begitu muram. Sejak subuh tadi pintu kamar Aisyah masih tertutup rapat. Pak Umar sudah beberapa kali mengetuk namun tak ada jawaban dari Aisyah. Pak Umar mengembuskan napas berat. Tatapannya dipenuhi kecemasan. Ia tahu putrinya ada di dalam karena sejak tadi terdengar suara langkah pelan, Namun Aisyah sama sekali tidak mau membuka pintu.
Di dalam kamar, Perempuan itu bersandar di sisi ranjang. Matanya sembab, bengkak dan hampir semalaman ia tidak tidur. Cadar berwarna krem yang dikenakannya bahkan masih tampak lembap di bagian pipi akibat terus dibasahi air mata. Tatapannya kosong mengarah ke jendela. Ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun.
Perutnya lapar, kepalanya pening namun rasa sakit di hatinya jauh lebih besar daripada semua itu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Aisyah." Suara ayahnya kembali terdengar. "Nak.... Tolong buka pintunya. Ayah cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Aisyah menggigit bibirnya sementara air mata kembali menggenang. Bukan karena marah melainkan karena ia belum siap melihat wajah ayahnya. Kalau pintu itu terbuka, ia takut kembali mendengar permintaan yang sama dan Aisyah takut kalau dirinya mulai goyah karena jauh di lubuk hatinya, Ia juga tidak sanggup melihat Salsa diceraikan. Itulah yang paling menyiksanya, bukan soal dirinya, melainkan karena apa pun keputusan yang ia ambil, akan selalu ada seseorang yang terluka. Dan ia tidak tahu harus menyelamatkan siapa.