Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Rahasia di Tong Beras
Rumah Bu Sumiati hanya berjarak beberapa puluh langkah dari rumah Karina.
Pintu depannya masih terbuka. Di teras, sandal Ujang tergeletak miring di samping tas sekolah yang isinya tumpah. Karina berhenti sebentar, menatap buku tulis dan pensil yang berserakan, lalu berjalan menuju pintu.
Bu Sumiati bergegas menyusul dan berdiri menghadang.
"Jangan sembarangan masuk rumah orang!"
"Tadi Bu Sumiati juga mau memeriksa rumah saya," jawab Karina. "Sekarang kita cari buku itu bersama. Bu Sumiati boleh ikut di depan saya."
Ketiga perempuan yang sejak tadi menonton sudah berkumpul di halaman. Dua tetangga lain ikut keluar setelah mendengar keributan. Tak ada yang ingin melewatkan kelanjutan tuduhan pagi itu.
Bu Sumiati melirik mereka. Menolak di depan semua orang justru akan membuatnya terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Cari saja," katanya akhirnya. "Tapi kalau nggak ketemu, anakmu harus minta maaf."
"Kalau ketemu, Ujang yang minta maaf kepada Nathan."
Ujang menundukkan wajah.
Karina menangkap gerakan itu. "Terakhir kali bukunya disimpan di mana?"
"Di kamar," jawab Bu Sumiati.
"Di meja," Ujang menyahut pada saat yang sama.
Beberapa orang di halaman saling pandang.
Karina masuk. Nathan dan Lucas tetap dekat di belakangnya. Rumah itu sedikit lebih luas daripada tempat tinggal mereka, tetapi susunannya hampir sama: ruang depan, satu kamar kecil, lalu dapur sempit di belakang. Tidak ada meja belajar di kamar Ujang. Hanya kasur tipis dan tumpukan pakaian.
"Mana mejanya?" tanya salah seorang tetangga dari pintu.
Bu Sumiati membentak anaknya, "Maksudmu meja dapur, kan?"
Ujang mengangguk cepat.
Karina menuju dapur. Sebuah tong beras plastik berdiri di sudut, bersebelahan dengan tempayan air besar. Di lantai terdapat beberapa butir beras yang tercecer. Tutup tong terpasang miring, sementara debu di belakang tempayan tampak bergeser seperti baru tersenggol.
Ia tidak langsung membuka apa pun. "Ujang, kamu biasa menyimpan buku di dapur?"
"Kadang-kadang."
"Di dekat air?"
Bocah itu mengusap hidung dan tidak menjawab.
Karina berjongkok di depan tong beras. Ia mengangkat tutupnya, lalu melihat sebuah kantong kain terselip di antara dinding tong dan wadah takaran. Setelah kantong itu ditarik, sudut sampul buku muncul dari bawahnya.
Bu Sumiati langsung maju. "Itu bukan..."
Karina mengangkat buku tersebut sebelum perempuan itu menyentuhnya. Nama Ujang tertulis besar di sampul. Beberapa halaman di dalamnya terkena coretan tinta biru, salah satunya bahkan robek di bagian bawah.
Halaman rumah mendadak riuh.
"Lho, katanya hilang?"
"Kok ada di tong beras sendiri?"
"Nathan belum masuk rumah ini dari kemarin."
Wajah Bu Sumiati berubah merah padam. "Mungkin anak itu menyelinap malam-malam dan menaruhnya di sini!"
Nathan tersentak. Karina mengangkat satu tangan, menandakan ia tidak perlu menjawab.
"Kalau Nathan yang menyembunyikan, bagaimana dia tahu ada kantong kain di dalam tong?" Karina bertanya. "Dan untuk apa dia mencuri buku, mencoretnya, lalu mengembalikannya ke rumah Ujang?"
"Bisa saja! Anak nakal pikirannya macam-macam."
Karina menatap debu yang bergeser di belakang tempayan. Ia menyelipkan tangan ke celah sempit itu dan menarik sebuah kotak biskuit. Isinya bukan makanan. Ada penghapus bergambar mobil, dua kelereng, penggaris patah, dan uang logam.
Seorang ibu di halaman langsung berseru, "Itu penghapus anak saya! Minggu lalu katanya hilang di dekat surau."
Perempuan lain mengenali kelereng milik putranya.
Ujang mulai menangis. "Aku cuma simpan!"
"Kamu yang menaruh bukunya?" Karina bertanya.
Bocah itu menatap ibunya. Bu Sumiati hendak menyuruhnya diam, tetapi suara orang-orang sudah semakin keras.
"Jawab yang jujur," kata salah seorang tetangga. "Jangan malah menuduh anak orang."
Ujang mengusap mata dengan punggung tangan. "Aku nggak sengaja numpahin tinta. Mama pasti marah. Jadi aku sembunyikan."
"Kenapa menyebut Nathan?"
"Dia lewat jalan depan kemarin." Isaknya membesar. "Aku pikir... aku pikir semua orang bakal percaya."
Sunyi jatuh selama sesaat.
Nathan berdiri di ambang dapur. Wajahnya tidak menunjukkan kemenangan. Ia justru tampak bingung, seolah belum pernah melihat orang dewasa memaksa penuduhnya berkata jujur.
Karina mengembalikan buku kepada Bu Sumiati. "Sekarang sudah jelas."
Perempuan itu menerima buku dengan tangan kaku. Beberapa tetangga mulai menegurnya. Ada yang mengingatkan bahwa tuduhan mencuri bisa melekat lama pada anak. Ada pula yang meminta barang-barang di dalam kotak dikembalikan kepada pemiliknya.
"Sudah, sudah." Bu Sumiati menarik bahu Ujang. "Minta maaf."
Ujang berdiri di depan Nathan sambil sesenggukan. "Maaf."
"Yang jelas," desak ibunya, meski wajahnya sendiri masam.
"Maaf aku bilang kamu mencuri."
Nathan tidak tahu harus berbuat apa. Matanya mencari Karina di antara orang-orang.
Karina mengangguk kecil. Bukan untuk menyuruhnya memaafkan, hanya memberi tahu bahwa ia bebas menjawab.
"Jangan lakukan lagi," kata Nathan akhirnya.
Bu Sumiati menarik napas berat. Tatapan para tetangga membuatnya tak punya jalan keluar. "Saya juga minta maaf. Saya terlalu cepat menuduh."
Kalimat itu terdengar dipaksakan, tetapi tetap keluar di depan semua orang.
Bahu Nathan perlahan turun. Lucas yang sejak tadi memegang belakang bajunya melongok ke arah Karina.
"Mama hebat!"
Beberapa perempuan tertawa kecil. Bukan tawa mengejek seperti tadi, melainkan karena wajah Lucas mendadak berbinar setelah tegang sejak pagi.
Nathan menatap adiknya, lalu simpul pita yang menyembul dari balik ujung celananya. Ketika Karina mengulurkan tangan, ia ragu sesaat sebelum menggenggamnya.
"Ayo pulang," kata Karina.
Lucas memegang tangan satunya. "Ayo, Mama."
Nathan ikut melangkah. Di tengah halaman yang masih dipenuhi orang, ia mendongak dan berkata sangat pelan, "Mama."
Karina berhenti.
Nathan langsung menunduk, tetapi tangannya tidak melepaskan genggaman. Lucas justru mengulang lebih keras, seolah bangga telah menemukan panggilan yang sekarang boleh mereka miliki.
"Mama!"
Karina menggenggam tangan keduanya sedikit lebih erat. "Iya. Kita pulang."
Mereka meninggalkan rumah Bu Sumiati bersama-sama.
Sebelum matahari naik tinggi, cerita pagi itu sudah berubah bentuk di setiap mulut. Ada yang berkata Karina mendadak pandai bicara. Ada yang bersumpah melihatnya meretakkan pagar hanya dengan satu tangan. Sebagian lain berbisik bahwa perempuan yang biasanya memaki kedua anak itu kini berdiri paling depan membela mereka.
"Jangan-jangan kesurupan," ujar seorang ibu di dekat jalan.
"Kalau kesurupan bikin orang jadi baik, biarkan saja," balas temannya, disambut tawa tertahan.
Karina pura-pura tidak mendengar. Selama dugaan mereka hanya sebatas gosip kampung, ia tidak akan membuang tenaga untuk menjelaskan.
Dalam perjalanan pulang, dua perempuan berpapasan dengan mereka sambil membawa sayuran. Salah satunya menurunkan suara ketika melihat anak-anak.
"Tadi Pak Hendi tanya lagi soal perempuan yang dulu tinggal di rumah kaki bukit."
"Dia masih cari-cari? Bukannya guru itu memang suka bikin anak perempuan nggak nyaman?"
"Makanya. Katanya dia mau mengambil barang yang pernah dititipkan. Tapi cara bertanyanya aneh."
Keduanya buru-buru diam ketika sejajar dengan Karina.
Karina tetap berjalan, tetapi senyumnya sudah hilang.
Pak Hendi sedang mencari "perempuan yang dulu".
Dan perempuan itu sekarang hidup di dalam tubuhnya.