Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Kecurigaan di Lantai 29
"Bang Bima, sini. Cepat. Yang ini seru banget."
Doni memiringkan ponselnya dari balik meja pos. Cahaya video berkedip-kedip di wajahnya, sementara satu earphone menggantung di telinga kiri.
Bima tidak menoleh.
Matanya tetap menyapu dua belas kotak CCTV di hadapannya.
Pukul 23.07 WIB. Akhir Juli, tetapi panas Surabaya masih menempel di kaca pos seperti lapisan minyak. Pendingin ruangan tua di atas pintu hanya menggeram tanpa membuat udara lebih sejuk. Di luar, lobi Apartemen Danau Utara telah sepi. Seorang pengemudi ojek daring tertidur di atas motornya dekat gerbang, sedangkan petugas kebersihan terakhir baru saja pulang sepuluh menit lalu.
"Kalau ketahuan Bang Jarot, ponselmu disita," kata Bima.
Doni mendengus. "Bang Jarot juga paling sekarang lagi karaoke. Memangnya dia pernah benar-benar cek CCTV?"
"Berarti malam ini kamu yang rajin."
"Rajin apaan? Aku ngajak nonton, malah diceramahin."
Bima hampir tersenyum. Hampir.
Gerakan kecil di monitor nomor delapan menahan perhatiannya.
Dua pria baru keluar dari lorong servis di belakang gedung. Keduanya memakai topi gelap dan jaket tipis meski udara malam terasa gerah. Yang berjalan di depan sempat menengadah ke arah kamera. Bukan tatapan penasaran orang yang tersesat. Ia hanya melihat sekali, cepat, untuk memastikan posisi lensa.
Kemudian pria itu menundukkan kepala dan mempercepat langkah.
"Don."
"Hmm?"
"Kamu kenal dua orang ini?"
Doni akhirnya berdiri. Ia mendekat sambil masih memegang ponsel. Di layar, kedua pria itu melewati lobi samping tanpa melapor ke pos, lalu masuk ke lift penghuni tepat sebelum pintunya tertutup.
"Kurir kali," jawab Doni.
"Tanpa paket?"
"Temannya penghuni."
Bima menunjuk panel kecil di sudut rekaman. Angka lift terus naik.
12.
18.
24.
29.
Lift berhenti.
Wajah Doni berubah sedikit. "Lantai dua puluh sembilan?"
Di lantai itu hanya ada dua unit besar. Penghuni unit sebelah barat sedang ke luar kota sejak tiga hari lalu; formulir pemberitahuan parkirnya masih terselip di laci pos. Unit timur dihuni seorang perempuan yang selalu pulang sendiri.
Bima tidak mengenalnya dekat. Hanya beberapa kali berpapasan di lobi. Perempuan itu selalu mengangguk, mengucapkan terima kasih saat dibukakan gerbang, dan tidak pernah memperlakukan seragam satpam seolah-olah seragam itu membuat pemakainya tak kasatmata.
Di gedung yang penghuninya sering melempar kunci mobil tanpa menatap wajah petugas, kesopanan kecil mudah diingat.
Monitor lantai 29 hanya menampilkan pintu lift dan sebagian koridor. Kamera di ujung timur sudah mati selama dua minggu. Bima telah menulisnya tiga kali di buku laporan. Manajemen tiga kali pula menjawab bahwa teknisi akan datang "secepatnya".
Kedua pria itu keluar dari lift. Salah seorang merogoh balik jaketnya. Sebuah benda logam memantulkan cahaya lorong sebelum mereka lenyap dari jangkauan kamera.
Doni menelan ludah. "Pisau?"
Bima sudah mengambil radio dari meja.
"Hubungi teknisi gedung. Minta mereka blokir akses lift ke lantai 29 setelah aku sampai. Kalau lima menit aku tidak mengabari, telepon polisi."
"Kita lapor Bang Jarot dulu, ya?"
"Lima menit."
"Bang, tunggu. Kita naik berdua saja."
Bima meraih pentungan listrik yang tersandar di bawah meja. Ia menekan tombol uji.
Tidak ada letupan. Tidak ada cahaya.
Baterainya mati sejak entah kapan. Pengajuan pengganti baterai tersimpan bersama laporan kamera rusak dan permintaan sepatu dinas yang tak pernah dijawab.
Doni menatap benda itu, lalu menatap Bima. "Pakai apa kalau mereka benar bawa pisau?"
Bima menyelipkan pentungan mati itu ke sabuknya.
"Seragam. Siapa tahu mereka takut."
"Bang Bima, aku serius!"
Namun pintu pos sudah menutup di belakangnya.
Bima melintasi lobi tanpa berlari. Langkah terburu-buru akan memancing perhatian orang di balik kamera, jika memang ada rekan lain yang mengawasi. Ia menekan tombol lift dan berdiri tepat di sisi pintu, bukan di depannya.
Tiga detik kemudian, bunyi denting terdengar.
Kosong.
Ia masuk, menekan angka 29, lalu melihat angka digital merangkak naik.
Selama dua belas tahun, ruang sempit semacam itu pernah membawanya menuju lantai hotel yang dipasangi bom, atap gedung tempat penembak jitu menunggu, dan ruang bawah tanah yang dijaga pria-pria bersenjata otomatis.
Malam ini ia hanya memakai seragam cokelat murah, sepatu yang sol kirinya mulai terkelupas, dan pentungan tanpa listrik.
Aneh. Ia justru merasa lebih tenang.
Radio di bahunya berdesis.
"Bang, teknisi gedung nggak angkat," suara Doni terdengar. "Aku telepon lagi."
"Tetap di pos. Pantau lobi dan tangga darurat."
"Kalau ada yang turun?"
"Kunci pintu pos. Jangan jadi pahlawan."
"Lah, terus Bang Bima jadi apa?"
Pintu lift terbuka sebelum Bima menjawab.
Koridor lantai 29 jauh lebih dingin daripada lobi. Lampu dinding berwarna kuning memantul di lantai marmer. Tidak ada suara televisi, percakapan, atau langkah kaki.
Hanya dengung pendingin sentral.
Bima keluar. Hidungnya menangkap bau tajam yang tidak seharusnya ada di koridor apartemen mewah.
Logam tergores.
Ia mendekati unit timur. Di bawah lampu, tampak bekas congkel baru pada sisi kunci. Daun pintu tidak tertutup rapat; celah hitam selebar dua jari terbuka di antara pintu dan kusen.
Dari dalam terdengar benturan tertahan.
Lalu suara benda berat jatuh.
Bima menekan tombol radio sekali, memberi tanda diam kepada Doni. Tangan kanannya menyentuh pentungan di sabuk, lalu melepaskannya lagi.
Benda mati itu hanya akan mengganggu.
Ia mendorong pintu dengan dua jari.
Ruang tamu berantakan. Bantal sofa tergeletak di lantai. Sebuah gelas pecah dekat meja. Televisi masih menyala tanpa suara, menampilkan iklan produk kecantikan yang terlalu cerah untuk ruangan setegang itu.
Pria pertama muncul dari balik dinding dapur.
Pisau lipat terbuka di tangannya.
Mata pria itu turun ke seragam Bima, lalu rasa tegang di wajahnya berubah menjadi ejekan.
"Cuma satpam."
Temannya keluar dari arah lorong kamar. Tubuhnya lebih besar, lehernya dipenuhi tato hitam. Ia juga memegang pisau.
"Pergi kalau masih mau hidup," katanya. "Anggap saja kamu nggak lihat apa-apa."
Bima melirik pintu kamar di belakang pria bertato. Tertutup. Di dekat ambangnya ada sobekan kain tipis berwarna pucat.
Sesuatu bergerak di balik pintu.
Isakan tertahan menyusul sesaat kemudian.
Tatapan Bima kembali kepada kedua pria itu.
"Taruh pisaunya," katanya.
Pria pertama tertawa. "Kamu tuli?"
Ia menerjang tanpa aba-aba. Bilah pisaunya bergerak dari bawah, mengarah ke perut.
Bima bergeser setengah langkah.
Ujung pisau lewat selebar kuku dari seragamnya.
Jari Bima menangkap pergelangan lawan. Tidak keras, tetapi tepat pada sudut yang mematikan tenaga genggam. Sebelum pria itu sempat mengumpat, telapak tangan Bima menghantam sisi lehernya.
Tubuh pria itu kehilangan kekuatan seketika.
Pisau jatuh lebih dulu.
Pemiliknya menyusul, ambruk di atas karpet tanpa sempat berteriak.
Pria bertato membeku.
Rasa meremehkan di matanya hilang. Ia mengangkat pisau dengan dua tangan, mundur satu langkah, lalu menggeram untuk menutup rasa takutnya sendiri.
"Bangsat!"
Ia menebas ke arah wajah Bima.
Bima merunduk, masuk ke sisi dalam lengan lawan, lalu mengunci siku dan bahunya dalam satu gerakan. Tubuh besar itu terpuntir. Lututnya menghantam lantai marmer dengan bunyi keras.
"Lepas!"
Bima menambah tekanan satu jari.
Pisau terlepas.
Pria itu mencoba meraih pinggangnya dengan tangan bebas. Bima sudah membaca gerak bahunya. Siku Bima menyentuh titik di bawah telinga.
Mata pria itu berputar. Ia jatuh menimpa temannya.
Semuanya selesai dalam beberapa detik.
Televisi masih menampilkan senyum seorang model. Pecahan gelas masih berkilau. Bahkan tetangga di unit seberang mungkin belum sempat mendengar apa pun.
Bima membungkuk, menendang kedua pisau ke bawah meja, lalu memeriksa napas para penyerang. Hidup. Pingsan. Salah satu akan bangun dengan leher kaku, yang lain dengan siku bengkak dan harga diri yang jauh lebih sakit.
"Bang?" Doni berbisik dari radio. "Ada apa? Aku dengar suara jatuh."
"Dua orang. Sudah aman. Telepon polisi sekarang. Bilang ada pembobolan dan senjata tajam."
Beberapa detik hanya berisi desis radio.
"Sudah... aman? Bang, kamu apakan mereka?"
Bima tidak menjawab.
Isakan dari kamar terdengar lagi.
Lebih lemah.
Ia melangkahi dua tubuh di lantai dan bergerak menuju lorong. Pintu kamar terkunci dari luar dengan seutas kabel yang dililitkan pada gagang. Bima merobek kabel itu, mencoba gagang pintu, lalu berhenti.
Dari balik kayu terdengar tarikan napas panik. Seperti seseorang sedang berusaha berteriak dengan mulut tersumbat.
"Saya satpam," kata Bima, cukup keras agar terdengar ke dalam. "Anda aman. Saya akan buka pintunya."
Tidak ada jawaban, hanya benturan kecil dan isak yang pecah.
Bima mundur satu langkah.
Tumitnya menancap. Bahunya berputar.
BRAK!
Daun pintu kamar jebol dari kusennya.
Bima masuk, dan pandangannya membeku pada sesuatu di dalam.