NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Kebalikannya

Dua hari setelah Darmawan menerima kartu operasional, toko bangkrut itu mulai terdengar hidup.

Bukan hidup yang ramai.

Lebih tepatnya hidup yang batuk-batuk.

Di pagi hari, dua tukang servis membuka panel kulkas yang berdebu. Di dekat kasir, Darmawan mencatat daftar perbaikan dengan wajah serius. Bau cairan pembersih bercampur dengan bau kardus lama. Beberapa rak sudah digeser ke tengah ruangan, meninggalkan garis debu panjang di lantai.

Rian berdiri di samping meja kasir lama, merasa puas.

Belum buka saja sudah keluar uang untuk servis, bersih-bersih, dan ongkos angkut.

Awal yang sehat.

Maksudnya, sehat untuk kerugian.

Menjelang siang, Pak Surya Atmaja datang lagi. Ia membawa buku tulis tipis, pulpen, dan ekspresi orang tua yang tidak tega melihat anak muda menabrak tembok tanpa helm.

"Mas Rian," katanya, "saya tahu toko ini sudah saya jual. Tapi kalau Mas tidak keberatan, saya ingin memberi sedikit masukan. Ritel itu margin-nya tipis. Salah langkah sedikit, uang habis."

Rian langsung mengambil kursi plastik.

"Silakan, Pak. Saya justru butuh pengalaman Bapak."

Itu kalimat tulus.

Pak Surya punya delapan tahun pengalaman membuka supermarket.

Artinya, Pak Surya tahu cara bertahan.

Dan kalau Rian tahu cara bertahan, ia tinggal memilih kebalikannya.

Pak Surya membuka buku tulis. Darmawan berdiri di samping, ikut mendengarkan dengan sikap seperti murid teladan.

"Pertama," kata Pak Surya, "karyawan jangan terlalu banyak. Untuk toko sebesar ini, cukup 80 sampai 100 orang dengan sistem shift. Kalau terlalu banyak, gaji makan margin."

Rian menulis: karyawan sedikit.

Pak Surya melanjutkan, "Kedua, harga jangan terlalu rendah. Boleh promo beberapa barang, tapi kebutuhan harian harus punya margin. Kalau semua ditekan murah, toko ramai tapi kas kosong."

Rian menulis: harga jangan rendah.

"Ketiga, tampilan toko harus rapi. Tidak perlu mewah, tapi bersih, terang, dan nyaman. Pelanggan menengah suka tempat yang kelihatan aman. Kalau kesannya murahan, mereka pindah ke minimarket lain."

Rian menulis: toko harus bagus.

Tiga kalimat.

Tiga jalan menuju sukses.

Rian menatap catatannya dengan mata berbinar.

Terima kasih, Pak. Ini peta jalan menuju kehancuran.

Pak Surya melihat wajah serius Rian dan tampak sedikit lega.

"Kalau Mas ikuti tiga hal ini, minimal toko bisa bertahan. Jangan terburu-buru ekspansi. Jangan bakar uang. Ritel bukan tempat main-main."

"Saya mengerti, Pak."

Rian benar-benar mengerti.

Karena itu ia berdiri, mengambil kertas kosong, lalu menulis judul besar:

Rencana Operasional Garuda Mart.

Darmawan langsung mendekat.

"Pak Bos mau saya siapkan formatnya?"

"Tidak perlu. Saya ucapkan, Mas Dar catat."

"Siap, Pak Bos."

Rian melihat catatan Pak Surya sekali lagi.

Karyawan sedikit.

Harga jangan rendah.

Toko harus bagus.

Ia tersenyum.

"Pertama, kita rekrut 400 karyawan."

Pulpen Darmawan berhenti di udara.

Pak Surya mengangkat kepala.

"Empat ratus?"

"Iya. Kasir, pramuniaga, gudang, kebersihan, keamanan, pelayanan pelanggan. Saya ingin setiap lorong ada orang yang siap membantu."

Pak Surya menatapnya beberapa detik. "Mas Rian, toko sebesar ini biasanya tidak butuh sebanyak itu."

"Justru karena tidak biasa, kita coba."

Dalam hati, Rian menambahkan:

Kalau 100 orang bisa bertahan, 400 orang harusnya bisa tenggelam.

"Kedua," lanjut Rian, "jam kerja enam jam sehari, lima hari seminggu. Tidak boleh lebih."

Darmawan menulis cepat, tapi dahinya mulai berkerut.

"Berarti jadwal shift harus banyak, Pak Bos."

"Bagus. Semakin banyak shift, semakin banyak orang yang bisa kita rekrut."

Pak Surya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Ketiga, gaji pokok 5 juta per bulan untuk karyawan biasa. Supervisor 8 juta. Manajer tetap 15 juta seperti kesepakatan kita."

Pulpen Darmawan hampir jatuh.

"Pak Bos... UMR di sini sekitar 3,5 juta."

"Maka 5 juta cukup layak."

"Tapi untuk 400 orang..."

"Catat saja."

"Siap, Pak Bos."

Suara Darmawan tetap patuh, tetapi wajahnya sudah tidak bisa menyembunyikan hitungan yang berlarian di kepala.

Rian belum selesai.

"Tambahan: makan siang gratis. Seragam gratis. BPJS lengkap. Cuti sakit tetap dibayar. Kalau ada lembur darurat, bayar dua kali lipat."

Pak Surya akhirnya tidak tahan.

"Tadi Mas bilang jam kerja tidak boleh lebih."

"Betul. Jadi lembur sebisa mungkin dilarang. Tapi kalau benar-benar terjadi, kita bayar mahal."

"Mas Rian..."

Pak Surya menatap kertas itu seperti menatap resep untuk menenggelamkan kapal.

"Kamu sedang bercanda?"

Rian tersenyum sopan.

"Tidak, Pak. Bapak bilang karyawan jangan terlalu banyak. Saya ingat. Tapi saya memilih kebalikannya."

Ruangan itu hening.

Di belakang mereka, suara obeng tukang servis jatuh ke lantai terdengar terlalu keras.

Pak Surya memijat pangkal hidung.

"Mas juga mau harga barang bagaimana?"

Inilah bagian favorit Rian.

"Harga harus serendah mungkin. Tapi tetap tidak boleh di bawah harga pokok. Kita ambil margin paling tipis yang diizinkan. Kalau bisa, cukup untuk terlihat tidak rugi per barang."

Darmawan menelan ludah.

"Berarti keuntungan per item sangat kecil, Pak Bos."

"Benar."

"Dengan gaji dan jumlah karyawan seperti ini..."

"Akan berat?"

"Sangat berat."

Rian mengangguk puas. "Bagus."

Pak Surya menatapnya kosong.

"Bagus?"

"Maksud saya, bagus karena kita berani berbeda."

Darmawan kembali menulis. Jari-jarinya lebih lambat sekarang. Ia mulai membuat kolom kasar di pinggir kertas: 400 orang x 5 juta, supervisor, makan siang, seragam, BPJS, servis alat, stok awal, promosi pembukaan. Angka-angka itu naik seperti air banjir.

Dalam tiga bulan, beban manusia dan pembukaan toko bisa menembus belasan miliar.

Dan toko ini bahkan belum menjual seikat kangkung pun.

Wajah Darmawan memucat.

Tapi ia tidak membantah.

Pak Surya berdiri dari kursinya. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia terlihat benar-benar menyerah.

"Mas Rian, saya sudah bicara sebagai orang yang pernah gagal. Kalau Mas tetap mau begini, saya tidak bisa melarang."

Rian ikut berdiri.

"Saya menghargai semua nasihat Bapak."

"Kalau begitu kenapa semuanya dibalik?"

Rian diam setengah detik.

Karena saya butuh rugi, Pak.

Tentu saja kalimat itu tidak boleh keluar.

Jadi ia memilih wajah paling tenang.

"Karena kalau mengikuti cara lama menghasilkan hasil lama, mungkin Garuda Mart perlu cara baru."

Darmawan menatapnya.

Pak Surya juga menatapnya.

Kalimat itu terdengar seperti strategi.

Padahal Rian baru saja menyusun jebakan untuk uangnya sendiri.

Pak Surya menghela napas panjang. "Tiga bulan lagi, toko ini bisa tutup lagi."

Rian hampir bersorak.

"Saya siap menanggung risikonya, Pak."

Pak Surya menggeleng pelan, lalu berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh pada Darmawan.

"Dar, kamu jaga baik-baik. Kalau memang harus tenggelam, setidaknya tenggelam dengan catatan rapi."

Darmawan membungkuk. "Baik, Pak Surya."

Setelah Pak Surya pergi, Rian menyerahkan kertas kebijakan itu kepada Darmawan.

"Mulai hari ini, buka rekrutmen. Prioritaskan orang yang butuh kerja, mau belajar, dan tidak takut melayani pelanggan."

"Siap, Pak Bos."

"Jangan hemat untuk hal yang membuat karyawan nyaman."

"Siap."

Rian menatap angka perkiraan biaya di pinggir kertas. Semuanya gemuk, berat, dan indah.

"Kalau ritme ini jalan," gumamnya, "tiga bulan menghabiskan 50 miliar bukan mimpi."

Darmawan berdiri di tengah toko kosong, menggenggam Rencana Operasional Garuda Mart seperti memegang surat perang.

Ia belum tahu, 400 karyawan bergaji tinggi itu kelak bukan menjadi lubang kebocoran.

Mereka akan menjadi alasan pertama orang-orang rela antre di depan Garuda Mart.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!