NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Matahari pagi menyinari lantai penthouse mewah Anton dengan pendar keemasan yang hangat.

​Anton duduk di meja kerjanya yang menghadap langsung ke bentangan panorama kota. Layar tablet di depannya menampilkan ratusan halaman rancang bangun mikroskopis dan skema reaksi kimia tingkat lanjut.

​Itu adalah Cetak Biru Baterai Quantum Generasi 1, hadiah sistem yang ia terima setelah keruntuhan total PT Surya Mikro.

​"Kapasitas penyimpanan sepuluh kali lipat dari baterai lithium terbaik saat ini, pengisian daya penuh dalam waktu kurang dari tiga menit, dan masa pakai hingga dua puluh tahun tanpa degradasi," gumam Anton pelan, menganalisis data di kepalanya dengan mata yang sedikit berpendar fokus.

​Teknologi ini bukan sekadar lompatan maju; ini adalah palu godam yang akan menghancurkan dominasi industri bahan bakar fosil dan pabrikan baterai konvensional di seluruh dunia.

​Ponsel di atas meja bergetar pelan. Sebuah panggilan video dari Siska masuk. Anton langsung menggeser layar untuk mengangkatnya.

​Wajah Siska muncul di layar, tampak sangat bersemangat meskipun lingkaran hitam tipis terlihat di bawah matanya karena kurang tidur.

​"Selamat pagi, Pak Anton! Laporan keuangan minggu ini sudah masuk," lapor Siska dengan nada bersemangat. "Keuntungan dari pabrik Star-Core 1 melonjak 300%, dan kolaborasi kita dengan Aegis Medica di ibu kota telah mendongkrak valuasi gabungan perusahaan kita melewati angka sepuluh triliun rupiah!"

​Anton tersenyum tipis mendengarnya. "Bagus, Siska. Tapi simpan dulu perayaan itu. Aku punya pekerjaan baru yang jauh lebih besar untukmu."

​Siska langsung menegakkan punggungnya, memasang wajah siaga penuh. "Perintah apa pun dari Anda, saya siap, Pak."

​"Kirimkan tim akuisisi lahan kita ke kawasan industri bagian utara kota. Kita butuh area seluas minimal lima puluh hektar untuk membangun kompleks pabrik mandiri yang baru," instruksi Anton tegas.

​Siska tertegun sejenak. Lima puluh hektar? Itu area yang sangat masif.

"Baik, Pak. Tapi... bolehkah saya tahu apa yang akan kita produksi di pabrik sebesar itu? Apakah chip generasi kedua?" tanya Siska penasaran.

​"Bukan. Kita akan memproduksi baterai quantum," jawab Anton santai. "Ini akan menjadi revolusi energi global. Aku akan mengirimkan dokumen cetak birunya ke email amanmu dalam satu jam."

​Siska menelan ludah. Kejeniusan bos mudanya ini benar-benar tidak memiliki batas. Setiap minggu, Anton selalu menelurkan inovasi yang membuat industri dunia bergidik ngeri.

​"Baik, Pak Anton! Saya akan segera mengurus perizinan lahannya sekarang juga!" jawab Siska mantap sebelum panggilan ditutup.

​Namun, menguasai lahan seluas lima puluh hektar di kawasan industri utama ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.

​Tiga hari kemudian, di ruang rapat utama Star Technology.

​Siska berdiri di depan meja proyektor dengan wajah muram, melaporkan hambatan besar yang baru saja mereka temui kepada Anton.

​"Ada masalah besar, Pak Anton," kata Siska sambil mengganti slide presentasi. "Lahan seluas lima puluh hektar di sektor utara yang ingin kita beli... telah diblokir secara sepihak oleh otoritas tata kota."

​Anton menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Siska dengan tenang. "Diblokir? Padahal kita sudah mengajukan penawaran harga dua kali lipat dari pasaran?"

​"Bukan soal uang, Pak," jawab Siska dengan nada geram. "Lahan itu ternyata telah dikuasai hak eksklusif penggunaannya oleh Titanium Group, sebuah konglomerat multinasional asal luar negeri yang dipimpin oleh seorang direktur regional bernama Victor Vance."

​Siska mengklik slide berikutnya, menampilkan profil seorang pria paruh baya berwajah dingin dengan setelan jas mahal, berdiri di samping mobil mewah.

​"Victor Vance dikenal sebagai 'Serigala Hitam' di dunia korporat," lanjut Siska menjelaskan. "Mereka bergerak di bidang pertambangan dan energi fosil. Mereka tahu persis bahwa teknologi baterai quantum kita akan membunuh bisnis minyak dan energi mereka, jadi mereka sengaja memonopoli seluruh lahan strategis di kota ini agar kita tidak bisa membangun pabrik!"

​Anton mendengarkan dengan seksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis.

​"Jadi, singa tua dari luar negeri ingin mencoba bermain-main di halaman rumahku," ucap Anton dingin.

​Sebelum Siska sempat memberikan saran lanjutan, pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka tanpa diundang.

​Seorang wanita berjas hitam ketat dengan rambut pendek sebahu melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya, dua orang pengawal berbadan kekar mengekor ketat.

​Wanita itu memiliki tatapan mata yang tajam dan dingin, memancarkan aura seorang profesional hukum tingkat tinggi.

​"Maaf mengganggu rapat penting kalian, Tuan Anton," ucap wanita itu dengan suara tegas namun elegan, tanpa sedikit pun rasa bersalah karena menyelonong masuk.

​Siska langsung berdiri melindungi bosnya, menatap wanita itu tajam. "Siapa Anda?! Beraninya masuk ke ruang rapat Star Technology tanpa izin!"

​Wanita itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku blazernya dan melemparkannya pelan ke atas meja.

​Clank. Kartu itu berhenti tepat di depan Anton.

​Tertulis jelas di atasnya: Clara Vance Kepala Departemen Hukum & Strategi Regional, Titanium Group.

​Anton melirik kartu nama itu sekilas, lalu mendongak menatap wanita di depannya dengan tatapan tanpa beban.

​"Clara Vance," sebut Anton mengeja nama itu pelan. "Sepertinya pamanmu, Victor Vance, mengajarimu cara bertamu yang sangat buruk."

​Clara mengerutkan keningnya, sedikit terkejut karena pemuda di depannya sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh nama besar perusahaannya.

​"Tuan Anton, mari kita bicara langsung tanpa basa-basi," ucap Clara dengan nada suara yang tajam. "Titanium Group tahu apa yang sedang kalian rencanakan. Proyek baterai omong kosong kalian itu tidak akan pernah bisa dibangun di kota ini."

​Clara melangkah lebih dekat, menatap Anton dengan sorot mata meremehkan.

​"Pemerintah kota berada di bawah pengaruh kami. Lahan seluas apa pun yang kalian incar di negeri ini akan selalu ditolak. Jadi, lebih baik kalian menyerahkan hak paten teknologi baterai itu kepada Titanium Group dengan harga yang pantas, sebelum perusahaan kalian dihancurkan secara hukum dan finansial."

​Ancaman telak yang diucapkan dengan sangat percaya diri.

​Siska di sebelah Anton sudah mengepalkan tangan karena geram mendengar kesombongan wanita itu.

​Namun Anton justru tertawa kecil. Tawanya begitu tenang, membuat bulu kuduk Clara mendadak meremang tanpa alasan yang jelas.

​Anton berdiri dari kursinya, merapikan jasnya pelan, lalu berjalan mendekati Clara hingga jarak di antara mereka tersisa kurang dari satu meter.

​"Ancaman yang bagus, Nona Clara," bisik Anton tepat di depan wajah wanita itu.

​Anton memfokuskan pandangannya, mengaktifkan kemampuan Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 2 ke arah tas kerja kulit yang dipegang oleh pengawal Clara di belakang.

​Dalam sekejap, struktur kain tas itu memudar. Anton melihat dokumen rahasia berisi rencana kotor Titanium Group untuk menyuap pejabat tata kota guna menjatuhkan Star Technology, lengkap dengan tanda tangan asli Victor Vance di atas kertas perjanjian suap tersebut.

​Anton tersenyum lebar.

​"Tapi sayang sekali..." ucap Anton pelan, menatap lurus ke dalam mata Clara yang mulai diliputi kebingungan. "...kau datang ke sarang macan dengan membawa dokumen kejahatan yang siap menjebloskan pamanmu ke penjara."

​Wajah Clara seketika memucat. Jantungnya berdetak kencang.

​Bagaimana pemuda ini bisa tahu soal dokumen di dalam tas pengawalku?! batin Clara panik setengah mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!