"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Riak Cemburu Dibalik Kemudi.
***
"Aaaaarrrgh! Dasar Kak Galen gila! Sakit jiwa!".
Freya berteriak sejadi-jadinya, menumpahkan seluruh rasa frustrasi yang menyumbat dadanya sejak beberapa menit lalu.
Ia memukul bantal tidurnya berkali-kali dengan brutal. Beruntung, dinding kamar dirumah Danendra dirancang dengan lapisan kedap suara premium, sehingga raungan kemarahannya malam itu tidak akan pernah sampai ke telinga Om Baskoro atau Tante Karina di lantai bawah.
Napas Freya memburu pendek, dadanya naik turun dengan cepat. Setelah tenaganya terkuras habis untuk berteriak dan menangis membisu, ia menarik selimutnya secara kasar.
Demi meredam emosinya yang masih membakar batin, Freya memilih memejamkan mata dengan paksa, menenggelamkan diri ke dalam tidur yang dipenuhi sisa kejengkelan pada Galen.
Keesokan pagi harinya…
Sinar matahari pukul enam pagi menembus celah gorden, membangunkan Freya dari tidur nyenyaknya yang tidak tenang. Gadis remaja itu bergerak sigap bersiap menghadapi hari.
Hanya dalam waktu tiga puluh menit, Freya sudah mengenakan seragam sekolah putih-abu-abu yang melekat rapi, membungkus lekuk tubuh remajanya yang mulai tumbuh sintal dan proporsional.
Rambut hitam lurusnya yang panjang dibiarkan tergerai indah melewati bahu, berpadu sempurna dengan poni tipis yang membingkai wajah cantiknya.
Aura kecantikan alami Freya pagi ini benar-benar terpancar nyata, teramat memikat dan mempesona di bawah siraman cahaya pagi.
Cklek.
Freya memutar knop pintu kamarnya, melangkah keluar menuju koridor lantai dua. Namun, baru dua langkah kakinya bergerak, langkahnya mendadak terkunci mati. Pintu kamar di sebelahnya terbuka secara bersamaan.
Galen Danendra melangkah keluar. Pria tersebut sudah tampil rapi dengan setelan kemeja formal berwarna hitam pekat, celana kain senada, dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya.
Saat mata elang Galen turun dan menangkap sosok Freya di hadapannya, tubuh tegap sang CEO muda seketika membeku selama satu detik.
Sepasang manik matanya sempat melebar tipis, terpana melihat kecantikan Freya yang begitu memikat pagi ini. Jantungnya berdegup dengan ritme yang asing.
Namun, detik kemudian, Galen langsung menyentak kesadarannya. Wajah tampannya kembali mengeras sempurna, berubah kaku menjadi topeng es yang dingin dan memancarkan aura bahaya yang teramat pekat.
Pas sekali, Freya tidak mau membuang waktu. Ia melangkah maju, menengadah menantang mata elang pria itu dengan keras kepala.
"Kembalikan ponselku, Kak Galen". Tuntut Freya dingin tanpa basa-basi.
Galen menatapnya dari ketinggian dengan pandangan merendahkan. "Tidak."
"Kak Galen! Jangan keterlaluan ya! Ponsel itu hak milikku!". Pekik Freya, suaranya bergetar menahan geram.
"Di rumah ini, hakmu berada di dalam genggaman saya, Freya!". Balas Galen dengan suara baritonnya yang rendah dan berat.
"Aku butuh ponsel itu untuk urusan sekolah hari ini! Kembalikan!".
Galen tidak menjawab lagi. Pria itu justru mengabaikan tuntutannya sepenuhnya. Dengan langkah kaki yang tegap—lebar— penuh keangkuhan mutlak, Galen melangkah maju melewati tubuh Freya, berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
"Sialan!". Umpat Freya berbisik, dadanya sesak didera frustrasi.
Mau tidak mau, dengan perasaan geram yang amat sangat, Freya menghentakkan kakinya lebar-lebar, menyusul langkah tegap pria itu ke lantai bawah. Begitu mereka melangkah melewati pintu lengkung ruang makan, atmosfer mendadak berubah drastis.
Di sana, di meja makan marmer putih yang megah, sudah duduk Baskoro Danendra dan Kirana yang sedang menikmati seduhan kopi pagi mereka.
Melihat kehadiran kedua orang tua angkatnya, Freya langsung menarik napas dalam-dalam. Sesuai dengan bakat bertahannya, ia memaksakan seulas senyum manis yang teramat ceria dan polos di wajah cantiknya, menutupi seluruh badai emosi pagi ini.
"Selamat pagi, Om, Tante". Sapa Freya dengan nada suara yang teramat lembut dan sopan.
"Pagi, Freya sayang. Wah, putri Mama cantik sekali hari ini". Puji Kirana dengan mata berbinar hangat, beralih mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Freya.
"Terima kasih, Tante," Balas Freya, duduk di kursinya yang berseberangan dengan Galen.
Baskoro menurunkan koran bisnisnya sejenak, melemparkan senyum kebapakan. "Pertahankan prestasimu di kelas ya, Freya. Papa selalu bangga padamu."
"Baik, Om. Freya pasti belajar lebih giat lagi."
Sarapan pagi itu pun berjalan dengan sangat lancar dan penuh ketenangan semu. Freya menyuap makanannya dengan anggun, menyembunyikan rapat-rapat kenyataan bahwa dirinya baru saja dirampas hak komunikasinya oleh pria berwajah datar di seberangnya.
Galen sendiri tetap bergeming seperti patung es, menyantap sarapannya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Setelah dentingan garpu terakhir selesai, Galen meletakkan serbetnya secara kaku. Ia berdiri tegap, membenarkan posisi kerah kemeja hitamnya.
"Freya, berangkat dengan saya hari ini". Ucap Galen tiba-tiba, suaranya yang berat memotong kehangatan meja makan.
Freya tersentak, mata bulatnya melotot kecil menatap Galen. "Aku bisa naik ojek online atau angkutan umum kok, Kak—"
"Galen benar, Freya sayang. Berangkatlah bersama kakakmu". Potong Kirana mendukung putranya dengan senyuman tulus.
Baskoro ikut mengangguk setuju. "Iya, Freya. Di luar mendung, lebih aman kamu ikut mobil Galen hari ini."
Mendapat tekanan halus dari kedua orang tua angkatnya, Freya tidak memiliki pilihan lain untuk menolak. Jiwanya merutuk pasrah. "Baik, Om, Tante. Freya berangkat dulu."
***
Di dalam kabin mobil Mercedes-Benz hitam yang melaju membelah jalanan kota yang padat, atmosfer seketika berubah sebeku kutub utara.
Keheningan yang kaku dan mencekam menyelimuti ruang kedap suara tersebut. Galen fokus mencengkeram kemudi dengan satu tangan kekarnya.
TAK.
Secara tiba-tiba, Galen melemparkan ponsel pintar milik Freya ke atas pangkuan rok abu-abu gadis itu dengan gerakan yang kaku dan acuh tak acuh.
Freya terkejut, langsung menyambar benda persegi tersebut dengan binar lega di matanya. "Akhirnya Kakak sadar diri juga."
"Gunakan hanya untuk urusan sekolah". Desis Galen, suaranya sangat rendah, dingin, dan sarat akan ancaman berbahaya. "Jika saya tahu kau menghubungi bocah ingusan itu lagi... kau tahu sendiri akibatnya, Freya Anindita."
Freya mengabaikan ancaman pria di sampingnya. Ia sibuk menyalakan layar ponselnya. Begitu data seluler aktif, sebuah notifikasi pesan masuk dari Rendy langsung muncul di layar.
['Frey, pagi ini aku piket jadi berangkat duluan ya. Jangan lupa sarapan, sampai ketemu di kelas, Cantik!'].
Membaca pesan singkat yang dipenuhi perhatian manis khas remaja itu, Freya tidak bisa menahan diri. Sudut bibirnya perlahan tertarik ke samping, menciptakan seulas senyum manis yang teramat tulus dan hangat di wajah cantiknya—senyuman lepas yang sangat memesona.
Namun, pemandangan senyuman manis Freya yang terpantul dari kaca dasbor mobil seketika memantik badai baru di dalam dada Galen. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu melirik tajam dari balik sudut matanya, melihat dengan jelas bagaimana Freya tersenyum begitu bahagia hanya karena membaca sebuah pesan teks.
Darah di dalam tubuh tegap Galen mendidih sempurna dalam hitungan detik. Rahang tegasnya mengetat begitu rapat, mencengkeram erat lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Amarah gelap dan rasa tidak rela yang luar biasa panas meletup di dalam rongga dadanya.
“Sialan! Kenapa dia tersenyum semanis itu untuk orang lain?!”. Rutuk Galen di dalam batinnya yang berkecamuk gila.
Pria itu merutuki dirinya sendiri dengan perasaan frustrasi yang amat pekat.
Perasaan macam apa yang sebenarnya sedang menjerat dadanya saat ini?
Kenapa fokus dewasanya bisa hancur berantakan hanya karena melihat seulas senyuman dari seorang gadis remaja?
“Kau hanya anak pungut pembawa sial, Freya! Kau harusnya menderita!”. Tegas Galen di dalam benaknya, mencoba membakar gejolak asing itu menggunakan rasa dendamnya yang terdalam atas kematian Elena. Rasa benci dan dendam di hatinya kian membumbung tinggi menjadi pembenaran atas kegilaan posesifnya pagi ini.
"Simpan benda bodoh itu, Freya". Desis Galen, suaranya merendah menjadi bisikan bariton yang sangat kejam. "Atau saya hancurkan sekarang juga di bawah ban mobil ini."
Freya tersentak, melirik Galen dengan keras kepala dan tatapan muak, namun ia memilih menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas demi keselamatan benda tersebut.
Ckiit.
Mobil mewah Mercedes-Benz hitam itu akhirnya perlahan mengurangi kecepatannya, berhenti dengan mulus tepat di depan gerbang utama SMA Pelita Bangsa yang mulai ramai oleh hiruk-pikuk murid-murid.
Freya menghembuskan napas pendek, menyandang tas ranselnya ke bahu dengan anggun, lalu menoleh sekilas ke arah Galen dengan raut wajah yang kembali dingin dan malas.
"Makasih". Ucap Freya singkat dengan nada suara yang teramat malas dan ketus.
Tanpa menunggu balasan, tanpa pamit, Freya langsung mendorong pintu mobil dengan kuat, melangkah turun dari kabin, dan menutup pintu di belakangnya dengan satu sentakan keras.
Langkah kaki anggunnya bergerak cepat memasuki gerbang sekolah, melarikan diri sejenak dari sangkar neraka milik sang duda.
Sementara dari belakang kemudi, sepasang mata elang Galen terus mengunci punggung Freya yang menjauh dengan kilat amarah yang kian menggelap.
***