NovelToon NovelToon
Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: lisxone

Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Memasak

[Hallo, Hana. Kakak sudah mentransfer bagianmu dari hasil panen sawit ke rekening kamu ya.]

Hana mendapat telepon dari sang kakak, memberitahu jika bagian dari hasil panen sawit sudah di transfer. Hana sebenarnya tidak meminta bagian, itu semua atas kemauan dari kakaknya sendiri. Memang tidak banyak yang di transfer kakaknya, tapi uang‑uang itu selama 3 tahun ini Hana tabung dan jumlahnya sudah sampai ratusan juta.

Sawit dan cokelat itu memang baru panen sekitar 3 tahun ini. Dulu saat Hana masih gadis, sawit dan cokelat itu belum pernah panen sama sekali. Kedua almarhum orang tua Hana mengandalkan penghasilan dari sawah dan ladang yang mereka tanami padi dan sayuran.

[Kak, kenapa tetap kasih bagian ke aku sih? Itu kebun sawit kan kakak yang urus, hasilnya untuk kakak saja. Kakak tabung untuk masa depan kakak dan keluarga kakak. Aku kan sudah ada sawah dan ladang, dan aku juga setiap panen dapat bagian dari pak Yanto. Untuk hasil sawit dan cokelat untuk kakak saja ya.]

[Tidak bisa begitu, Hana. Bagaimana pun kebun sawit dan cokelat itu ada bagian kamu. Kakak tidak mau mengambilnya semua. Kamu lupa, kalau kakak mu ini juga punya banyak sapi. Bahkan kakakmu dijuluki juragan sapi loh sama penduduk sini. Heheee... dari hasil sapi itu juga sudah lumayan, masa iya bagian sawit masih mau untuk kakak semua?.]

[Heemm... ya sudah terserah kak Farhan saja.]

[Ya sudah, kakak cuma mau kasih tahu itu saja. Jangan lupa ajak suami kamu ke kampung, sudah lama kamu ini tidak pulang kampung. Sudah ada 2 tahun lebih loh, kamu juga belum pernah masuk rumah baru kakak.]

[Iya kak, Hana usahakan ya]

Bukan Hana tidak mau mengajak Dimas pulang ke kampungnya, Hana hanya tidak mau keluarga Dimas tahu soal apa saja yang di miliki kakaknya. Terutama ibu Sundari, manusia serakah itu pasti akan meminta apa saja yang dia inginkan.

Setiap kali sawah dan ladangnya yang di garap orang panen, Hana juga akan mendapat bagian. Dan uang itu dulunya Hana pergunakan untuk biaya kuliahnya, meskipun 50 persen dibantu oleh kakaknya.

Kedua orang tua Hana meninggal saat Hana masih berusia 13 tahun. Saat dia masih duduk di kelas 2 SMP.

[Kamu jaga kesehatan ya. Salam untuk suamimu dan keluarga suamimu.]

[Iya kak nanti akan Hana sampaikan.]

[Baiklah, kakak tutup ya teleponnya.]

[Iya kak]

Selama ini Hana tidak menceritakan bagaimana kelakuan keluarga suaminya kepada kakaknya. Dia tidak mau membuat kakaknya banyak fikiran, terlebih dulu Farhan memang kurang suka Hana menikah dengan Dimas.

Awal mula Hana kenal Dimas, saat nonton pameran di balai kota. Dan akhirnya mereka pun menjalin hubungan, Dimas pria yang baik dan royal. Tapi siapa sangka saat sudah menikah royalnya hilang total.

Ibu Sundari sendiri saat itu memang tidak menyetujui Dimas menikah dengan Hana. Dengan alasan Hana hanya wanita dari kampung dan tidak mempunyai masa depan yang baik, terlebih Hana wanita yang berasal dari keluarga miskin. Namun berkat cinta dan kegigihan Dimas, akhirnya ibu Sundari menyetujui keinginan Dimas menikahi Hana dengan syarat tidak ada pesta.

Hana mengira, seiring berjalannya waktu ibu Sundari akan menerimanya sebagai menantu. Namun Hana salah, justru dia semakin dibenci dan dijadikan pembantu di rumahnya sendiri.

" Ahh sudah jam 4 sore, lebih baik aku pulang sekarang agar tidak terjebak macet." Ucap Hana pada dirinya sendiri.

Hana membereskan meja kerjanya, setelah selesai dia keluar dari ruangannya menuju parkiran khusus motor. Sebenarnya Hana mendapat transportasi mobil dari kantor, namun Hana menolaknya. Dia akan memakai mobil itu saat ada urusan diluar kantor saja. Beli mobil pun dia sanggup, namun tidak untuk saat ini.

Sebelum sampai rumah, Hana mampir ke rumah makan lebih dulu. Dia membeli makanan untuk dirinya sendiri saat makan malam nanti. Dia sudah memutuskan untuk mogok masak, sampai batas yang tidak ditentukan.

Jam 5 sore Hana sampai di rumahnya, dia memasukkan motor ke garasi yang lumayan besar itu. Garasi yang seharusnya ada mobil di sana, tunggu saatnya pasti garasi itu akan terisi mobil juga.

" Pulang juga kamu, sudah sana cepat ganti baju lalu masak dan beres‑beres rumah. Lihatlah, gara‑gara kamu yang tadi pagi tidak beres‑beres rumah berantakan seperti ini. Sakit mata ibu melihat rumah berantakan begini, merusak pemandangan rumah anakku saja." Ucap ibu Sundari menyambut kedatangan Hana dengan omelan demi omelan.

Mata Hana mengelilingi setiap sudut rumah, rumah benar‑benar berantakan. Bantal kursi sudah tidak di tempatnya lagi, bungkus makanan ringan tabur di lantai. Bahkan sepatu dan sandal milik Lastri dan Sintia juga ada di depan ruang televisi. Rumah sudah seperti kapal pecah.

" Iya bu." Jawab Hana singkat.

Hana terpaksa mengiyakan perintah ibu mertuanya agar ibu mertuanya tidak mrepet kemana‑mana. Hana pun masuk ke kamarnya, sesampainya di kamar Hana segera mandi lalu mengistirahatkan tubuhnya.

" Segarnya habis mandi. Sekarang waktunya mengistirahatkan tubuhku. Mulai malam ini aku tidak akan memasak sampai mas Dimas berubah. Terserah mereka mau makan apa, bahan makanan ada di kulkas. Jika dia mau memasak silakan, kalau tidak mau ya silakan saja beli. Untuk urusan beres‑beres rumah sesekali tidak masalah aku membereskannya. Lagi pula rumah Ini rumahku, jika aku membiarkan begitu saja yang ada rumahku akan semakin kotor dan menjijikkan."Ucap Hana bicara pada dirinya sendiri.

Sampai pada saatnya makan malam, Ibu Sundari melihat di atas meja makan belum ada makanan apapun, dan rumah juga masih berantakan. Ibu Sundari meradang, dia segera mendatangi kamar Hana dan menggedor serta berteriak memanggil nama Hana.

Braakkk.. bbraaakk bbraaakk

" Hana !!."

" Hana !! Keluar Hana, cepat memasak kami semua sudah lapar dan Dimas juga sebentar lagi pulang. Hana !! Jangan kurangajar kamu, Hana !! Dasar menantu tidak tahu diri, sudah hidup numpang tapi tidak berterima kasih."Ucap ibu Sundari berteriak memaki Hana.

" Bu, Hana belum memasak ya? Aku sudah lapar bu, bagaimana kalau asam lambungku kambuh."Seru Sintia sambil mengusap perutnya.

" Ibu sudah menggedor pintunya dan berteriak tapi Hana tidak keluar juga. Mati mungkin dia di dalam sana ."Seru ibu Sundari dengan kesal.

Di dalam kamar, Hana dengan santainya memakan makan malam nya yang tadi dia beli. Dia tidak menghiraukan teriakan dan gedoran ibu Marni. Ada saatnya Hana juga harus tega dan tegas dengan keluarga suaminya, agar mereka tidak semakin kurangajar.

Ibu Sundari, Lastri dan Sintia duduk di ruang keluarga dengan wajah yang kusut. Mereka bertiga sama‑sama lapar, tapi tidak ada yang mau memasak.

" Mbak Sintia, sesekali beli makanan dong. Kita lapar nih, mau sampai kapan kita menahan lapar begini."Seru Lastri meminta Sintia untuk beli makanan.

Setiap 2 minggu sekali saat Bayu pulang, Sintia mendapat jatag uang 2,5 juta dan itu berarti dalam sebulan Sintia mendapat nafkah 5 juta dari bayu. Dan uang itu dia pergunakan untuk membeli perhiasan, baju, tas, sepatu dan yang lainnya. Sedikitpun dia tidak mau keluar uang untuk kebutuhan rumah. Untuk kebutuhan mandinya saja masih Hana yang membelikannya.

" Kok aku sih? Lagian mana aku ada uang? Uangku sudah menipis, buat pegangan sampai mas Bayu pulang. Mas Bayu pulang masih 3 hari lagi loh. Lagian urusan makan kita itukan tanggung jawab Hana, uang Dimas itu banyak loh yang dikelola Hana. Gaji seorang menejer dan tunjangan nya itu besar, ada kalau 25 juta. Belum bonusnya, pasti uang Dimas sudah banyak tuh yang di korup sama Hana."Seru Sintia menjelekkan Hana.

Haahhh..?

25 juta? Seketika ibu Sundari dan Lastri pun matanya melebar sempurna. Mereka benar‑benar syok jika gaji Dimas sebesar itu.

" Beneran gaji Dimas 25 juta? Dan itu belum bonus nya? Waahh.. besar juga gaji Dimas. Dimas bilang, gajinya itu setengah lebih dipegang Hana. Dan dia hanya pegang sedikit untuk ongkos, atau jangan‑jangan tabungan Dimas juga Hana yang pegang? Hemm kalau begini tidak bisa dibiarkan."Ucap ibu Sundari.

Tiba‑tiba Dimas pulang dengan wajah kelihatan sangat lelah. Dimas terpaksa pulang lebih lama, karena harus merevisi laporan yang dia buat.

" Kalian kenapa?."Tanya Dimas.

" Kita lapar mas, istrimu itu tidak memasak."Jawab Lastri.

" Iya Dim, Hana dari tadi hanya di dalam kamar. Sudah ibu gedor‑gedor pun dia tidak keluar juga. Dia tidak memasak dan tidak membereskan rumah, lihatlah rumah berantakan begini. Istrimu itu pemalas, dan sekarang dia semakin berani selalu membantah ibu. Lebih baik kamu ceraikan saja dia dan kamu usir dia, biar dia kembali ke kampung sama kakaknya yang miskin itu."Seru ibu Sundari.

Gglleekk

Tenggorokan Dimas tercekat, sulit sekali dia menelan salivanya sendiri. Jika dia menceraikan Hana, bukan Hana yang akan terusir tapi merekalah yang akan terusir dari rumah itu. Rumah itu 100 persen milik Hana, sepeserpun tidak ada uang Dimas di dalam rumah itu.

Selamat Membaca.

1
Heni Setiyaningsih
haaddeeuuh...alamat ini mah modelan suami mokondo/Left Bah!//Left Bah!//Left Bah!/
Anonim
hah dimas?? enggak ngerti nih cerita nya
Anonim
woy BISA NULIS GA SIH
Ma Em
Heran ya sama Bu Sundari dan menantu sintingnya si Sintia ga punya otak masa arisan dirumah orang , Hana buat mereka semua kapok agar TDK berani ganggu kamu lagi Hana bila perlu laporkan saja ke polisi agar tdk ganggu Hana lagi .
Anonim
BUNUH SAJA SEKALIAN SEMUANYA BUNUH
Anonim
BUNUH SEMUA NYA
Anonim
KAU YANG HARUS MATI ANJING
Ma Em
Akhirnya Hana berpisah juga dgn Dimas tanpa uang sepeserpun uang yg Dimas terima untuk permintaan Dimas yg katanya harta gono gini , benalu minta bagian harta sedangkan Dimas dan keluarganya Hana yg tanggung biaya hdp nya bahkan Domas tdk pernah memberikan nafkah untuk Hana , dasar Dimas muka tembok tdk punya malu Dimas cuma modal mokondo .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!