Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Menit berikutnya, bunyi monitor jantung yang tadinya tidak beraturan berubah menjadi satu nada panjang yang statis dan memekakkan telinga.
Detak jantung Amira mendadak berhenti. Garis di layar monitor berubah menjadi lurus.
"Dok, jantungnya berhenti!" seru perawat dengan raut wajah tegang.
Dokter tidak membuang waktu. "Siapkan defibrilator! Isi seratus lima puluh joule! Perawat, berikan epinefrin satu miligram intravena, sekarang!" perintah dokter dengan suara lantang sembari melanjutkan kompresi dada secara manual.
Daniel yang menyaksikan itu dari sudut ruangan merasa seluruh sendinya melemas.
Ia melihat perawat dengan cekatan menyuntikkan obat, lalu dokter menempelkan dayung defibrilator ke dada Amira.
Tubuh wanita itu tersentak ke atas. Sekali. Dua kali.
Hingga pada sentakan ketiga, keajaiban kecil terjadi.
Bunyi panjang itu terputus, digantikan oleh bunyi bip... bip... bip... yang kembali teratur, meski masih terdengar sangat lemah.
Amira berhasil ditarik kembali dari ambang kematian.
Setelah memastikan kondisi pasiennya relatif stabil, dokter mendesah lega, melepaskan sarung tangan medisnya, lalu berjalan mendekati tirai pembatas tempat Daniel berdiri dengan wajah sepucat kapas.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Daniel, suaranya bergetar menahan seluruh kecamuk di dalam dada.
Dokter menatap Daniel dengan tatapan penuh simpati.
"Kami sudah berhasil mengembalikan detak jantungnya. Namun, maaf, Pak, benturan keras di kepalanya menyebabkan istri Anda jatuh ke dalam kondisi koma. Kami tidak bisa memastikan kapan beliau akan terbangun."
Mendengar kata koma, sebuah rencana gila langsung terbentuk di kepala Daniel.
Jika Amira tetap di rumah sakit ini, identitas aslinya lambat laun pasti akan terungkap oleh pihak berwajib atau keluarga yang mencarinya.
Daniel tidak bisa membiarkan hal itu terjadi sebelum situasi terkendali.
"Apakah saya bisa membawanya pulang, Dok?" tanya Daniel tiba-tiba, suaranya kini terdengar sangat dingin dan penuh kepastian.
Dokter itu mengernyitkan keningnya, menatap Daniel dengan tatapan tidak percaya.
"Maksud Anda? Pasien dalam kondisi koma dan membutuhkan perawatan intensif, Pak. Sangat berisiko untuk memindahkannya."
"Saya tahu," potong Daniel cepat, matanya menatap tajam sang dokter.
"Di rumah saya ada ruangan khusus dengan peralatan medis lengkap. Nanti dokter spesialis pribadi saya yang akan memantau seluruh perkembangannya secara langsung, dua puluh empat jam penuh."
Mendengar penjelasan Daniel dan menyadari bahwa pria di hadapannya bukanlah orang sembarangan yang kekurangan dana, dokter praktik itu akhirnya menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
Di dunia medis, pemindahan pasien koma ke perawatan rumah (home care) mewah bukanlah hal yang mustahil jika fasilitasnya memadai.
"Baiklah kalau begitu. Tapi Anda harus bertanggung jawab penuh atas segala risiko selama pemindahan," ujar dokter tersebut sembari mengambil selembar berkas.
Ia memberikan surat pernyataan pulang paksa atas kemauan keluarga.
Daniel tanpa ragu mengambil pena dan menandatangani surat itu dengan nama Daniel Narendra, secara resmi mengambil alih hidup Amira ke dalam tangannya.
Setelah urusan administrasi darurat selesai, Daniel berjalan menjauh ke sudut koridor rumah sakit yang sepi.
Ia merogoh ponselnya, lalu segera menghubungi orang kepercayaannya.
"Siapkan ambulans swasta tanpa atribut dan tim medis sekarang juga ke Rumah Sakit Puncak," perintah Daniel begitu telepon tersambung.
"Satu lagi, hubungi dokter spesialis saraf terbaik kita. Siapkan ruangan khusus di paviliun belakang rumah saya. Lengkapi dengan peralatan ICU medis terbaik malam ini juga. Kita akan merawat seorang pasien koma."
Daniel menutup teleponnya, lalu berbalik menatap ke arah ruang UGD.
Di dalam sana, seorang wanita asing kini terbaring koma, resmi menjadi sandera takdir dari sebuah kebohongan yang baru saja Daniel ciptakan.
Daniel bangkit dari brankar tempat ia sempat diperiksa tadi.
Mengabaikan rasa nyeri yang masih berdenyut di dadanya, ia melangkah perlahan mendekati ranjang tempat Amira terbaring.
Kamar UGD itu kini terasa begitu sunyi, hanya menyisakan bunyi ritmis dari mesin monitor jantung.
Daniel menatap lekat-lekat wajah pucat di hadapannya.
Jemarinya yang gemetar terulur, menyentuh punggung tangan Amira yang terasa sedingin es.
"Siapa kamu sebenarnya?" bisik Daniel dengan suara parau.
Tatapannya dipenuhi kebingungan yang teramat sangat.
"Kenapa, wajahmu bisa mirip sekali dengan Selena?"
Wajah wanita ini adalah salinan sempurna dari mendiang istrinya.
Jika bukan karena Selena yang ia makamkan dengan tangannya sendiri setahun lalu, Daniel pasti akan mengira bahwa wanita yang sedang koma ini adalah istrinya yang kembali dari kematian.
Daniel mencengkeram tangan Amira sedikit lebih erat, tenggelam dalam pusaran misteri yang tiba-tiba mendatangi hidupnya.
Sampai akhirnya, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan.
Pintu tirai tersingkap, menampilkan beberapa petugas medis dari ambulans swasta yang ia pesan, lengkap dengan peralatan transportasi ICU portable.
Mereka bergerak cepat dan efisien. Dengan sangat hati-hati, tubuh Amira dipindahkan dari ranjang rumah sakit ke atas brankar ambulans khusus yang sudah disiapkan.
Di belakang para petugas medis itu, muncul seorang pria berjas rapi dengan raut wajah siaga.
Lukas, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Daniel yang paling setia.
"Semua akomodasi dan ruang perawatan di rumah sudah siap, Tuan Daniel," lapor Lukas setengah berbisik.
Daniel mengangguk, lalu menatap Lukas dengan pandangan tajam dan penuh penekanan.
"Mobilku masih di lokasi kejadian, tolong kamu urus. Jangan sampai ada pihak berwajib yang mencium insiden ini, terutama tentang mobil sedan putih yang jatuh ke jurang itu. Bersihkan semuanya."
Lukas menganggukkan kepalanya dengan patuh, memahami betul implikasi hukum dan kekacauan publik jika identitas bosnya terlibat dalam kecelakaan malam ini.
"Baik, Tuan. Serahkan pada saya. Saya akan pastikan tempat kejadian bersih sebelum fajar."
"Bagus."
Daniel membalikkan badan, mengikuti langkah para petugas yang mulai mendorong brankar
Amira keluar menuju lobi belakang rumah sakit, tempat sebuah ambulans tanpa atribut telah menunggu dengan mesin yang menyala.
Daniel melangkah masuk ke dalam kabin ambulans yang sempit namun dipenuhi peralatan medis canggih itu.
Ia duduk di samping tubuh Amira yang masih memejamkan mata dengan tenang, terhubung dengan berbagai selang infus dan oksigen.
Pintu ambulans ditutup rapat dari luar, mengunci mereka berdua di dalam keheningan, sebelum kendaraan itu melaju membelah sisa-sisa hujan malam menuju Jakarta.
Ambulans swasta itu akhirnya tiba di pelataran kediaman mewah Daniel Narendra pada dini hari yang sunyi.
Langit malam masih menyisakan rintik hujan yang tipis, membawa hawa dingin yang menusuk. Lukas, yang rupanya telah bergerak lebih cepat, berdiri di dekat pos penjagaan untuk memastikan gerbang besi menjulang tinggi itu segera tertutup rapat begitu roda ambulans melintas.
Situasi benar-benar steril; tidak ada satu pun mata luar yang boleh mengendus kedatangan tamu tak diundang ini.
Pintu belakang ambulans terbuka dengan sentakan pelan.
Para perawat pribadi berwajah serius yang telah disewa Daniel dengan bayaran mahal segera bergerak cepat.
Mereka menurunkan brankar medis Amira, memastikan seluruh selang infus dan monitor portabel tetap terpasang sempurna.
Dengan langkah-langkah yang terlatih, mereka mendorong brankar tersebut melewati koridor panjang menuju paviliun belakang—sebuah area privat yang dalam waktu singkat telah disulap Lukas menjadi ruang ICU mini dengan peralatan medis tercanggih.
Suara gaduh roda brankar yang bergesekan dengan lantai marmer serta derap langkah kaki yang tergesa-gesa mau tak mau memecah keheningan rumah megah tersebut.
Di ujung koridor yang lain, sebuah pintu kamar terbuka perlahan.
Felia, balita berusia dua tahun yang sejak malam terbangun karena merindukan ayahnya, melangkah keluar dengan mata yang masih sembap.
Suster pengasuhnya berjalan di belakang, mencoba membujuk nona kecilnya untuk kembali tidur. Namun, langkah Felia seketika terhenti.
Di bawah sorot lampu koridor yang benderang, brankar medis Amira lewat tepat di hadapan mereka.
Meskipun wanita di atas ranjang itu tampak sangat pucat, dengan luka gores di pelipis dan tubuh yang dipenuhi selang medis, wajahnya terekspos dengan jelas.
Bagi Felia, yang selama setahun ini hanya bisa memandangi foto di atas meja, garis wajah itu langsung membuat pasokan memori di kepala kecilnya bergejolak hebat. Karakter wajah itu terlalu melekat di jiwanya
"M-mama..." cicit Felia, suaranya bergetar.
Detik berikutnya, balita itu melepaskan pegangan tangan susternya.
Ia berlari kecil menembus koridor sambil menangis seolah takut kehilangan kesempatan berharga ini.
Tangannya yang mungil terulur ke udara, mencoba menggapai tepi brankar yang terus berjalan.
"Mama! Mama...!" seru Felia dengan tangisan yang pecah, mengguncang kesunyian dini hari itu.
Daniel, yang berjalan tepat di belakang brankar, seketika membeku di tempatnya.
Langkah kakinya lumpuh total mendengar jeritan sang putri.
Jantungnya serasa dihantam badai yang jauh lebih hebat daripada badai di Puncak tadi malam.
Di satu sisi, Daniel didera kepanikan medis; ia harus segera menahan tubuh Felia agar tidak mendekat dan mengganggu jalannya evakuasi kritis yang sedang dilakukan tim dokter.
Namun di sisi lain, runtuhan dinding pertahanan emosionalnya runtuh sepenuhnya.
Hatinya hancur berkeping-keping melihat kerinduan yang begitu masif dan murni dari putrinya, yang kini dilemparkan pada sosok "ibu" yang sebenarnya hanyalah seorang wanita asing yang tengah sekarat.
Daniel berlutut dengan cepat, menangkap tubuh mungil Felia sebelum balita itu menyentuh brankar Amira yang mulai memasuki pintu paviliun belakang.
"Mama, Felia mau Mama..." tangis Felia menjerit-jerit di dalam pelukan ayahnya, meronta-ronta ingin dilepaskan demi mengejar bayangan yang baru saja lewat.
Daniel memeluk erat tubuh putrinya yang bergetar hebat, menyembunyikan wajahnya sendiri di ceruk leher Felia
Air mata Daniel menetes pelan, membasahi pundak sang putri saat pintu paviliun belakang tertutup rapat, memisahkan Felia dari "topeng" Selena yang baru saja ia temukan.
Daniel mempererat pelukannya pada tubuh mungil Felia yang masih sesenggukan.
Dengan lembut, ia mengusap punggung putrinya, mencoba menyalurkan kehangatan di tengah malam yang dingin itu.
"Felia sayang, biarkan Mama istirahat dulu, ya?" bisik Daniel, suaranya serak dan sarat akan emosi yang tertahan.
Felia mendongak, menatap ayahnya dengan mata bulatnya yang digenangi air mata. Wajah polosnya tampak begitu penuh harap.
"Mama capek, ya, Pa? Mama baru pulang dari surga?"
Mendengar pertanyaan polos yang menyayat hati itu, tenggorokan Daniel tercekat. Namun, melihat binar kerinduan yang begitu suci di mata putrinya, Daniel tidak mampu menghancurkan harapan itu.
Dengan berat, ia menganggukkan kepalanya.
"Iya, Sayang. Mama baru pulang. Tapi Mama sedang sakit dan butuh banyak istirahat. Felia anak pintar, kan? Kita tidak boleh mengganggu Mama dulu," bujuk Daniel selembut mungkin.
Felia akhirnya mengangguk patuh, meski jemari kecilnya masih meremas kemeja Daniel.
Sambil menyeka sisa air mata di pipi putrinya, Daniel menyerahkan Felia kembali ke gendongan suster pengasuhnya yang sejak tadi berdiri cemas di belakang mereka.
Begitu sosok Felia menghilang di balik pintu kamar, keheningan koridor kembali merayap, menyisakan Daniel yang masih berlutut di atas lantai marmer.
Ia menatap nanar ke arah pintu paviliun yang tertutup rapat, tempat Amira tengah berjuang melewati masa kritisnya.
Melihat dampak psikologis yang begitu masif pada Felia hanya dalam hitungan detik tadi, sebuah ketetapan yang dingin dan mutlak mulai mengkristal di benak Daniel.
Sumpah gila itu tertanam kuat di kepalanya. Daniel tahu, ia tidak bisa dan tidak akan pernah boleh melepaskan Amira lagi. Ikatan takdir yang berdarah ini sudah terkunci.
Ketika wanita asing itu terbangun dari komanya nanti, ia tidak akan diizinkan kembali menjadi dirinya sendiri.
Ia harus memakai topeng itu. Ia harus menjadi Selena demi Felia—tidak peduli apa pun taruhannya, tidak peduli seberapa keras wanita itu akan menolak kelak.
Daniel bangkit berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut dengan tatapan mata yang berubah menjadi tajam dan penuh obsesi pelindung.
"Siapapun kamu sebenarnya, aku akan menjadikanmu istriku," gumam Daniel pelan pada kesunyian koridor.