Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Sepasang Mata Elang
Langkah sepatu pantofel kulit buatan Inggris milik Zayyan berketuk pelan di atas lantai marmer, menciptakan gema tunggal yang memotong keheningan aula galeri. Olin bergemih di tempatnya, menolak untuk mundur meski instingnya meneriakkan perintah untuk lari. Dia menautkan kedua tangannya di depan perut, meremas jemarinya sendiri sampai buku-buku kuku memutih untuk meredam getaran yang nyaris lolos.
Zayyan berhenti tepat tiga langkah di depan Olin. Aroma maskulin yang familier—campuran kayu cendana dan tembakau mahal—seketika mengepung indra penciuman Olin, menarik paksa ingatan yang selama tujuh tahun ini sengaja dia pasung.
"Kau tidak berubah, Aureline," suara bariton Zayyan mengalun rendah, berat, dan sarat akan penekanan pada setiap suku katanya. Mata elangnya menyapu wajah Olin, berhenti sejenak pada coretan tipis abu arang di dahi wanita itu sebelum turun ke gaun kerjanya yang sederhana. "Selalu berantakan di tengah mahakarya yang kau buat."
Olin mendongak, menantang tatapan yang sanggup membuat jajaran direksi El-Ghazali Corp gemetar dalam rapat tahunan. Dia menarik napas dalam, mengisi rongga dadanya dengan sisa-sisa keberanian yang dia miliki.
"Tempat ini belum dibuka untuk umum, Tuan El-Ghazali," sahut Olin. Suaranya terdengar datar dan profesional, sebuah topeng yang dia pasang dengan susah payah. "Jika Anda ingin menikmati pameran, silakan kembali besok pagi bersama para pemegang undangan lainnya."
Zayyan tidak menjawab. Dia justru mengalihkan pandangannya pada lukisan besar di samping mereka—sebuah kanvas yang dipenuhi goresan warna monokrom dengan siluet seorang wanita yang berdiri di tepi dermaga berkabut. Sudut bibir pria itu terangkat sangat tipis, menyiratkan seulas senyum sinis yang dingin.
"Undangan?" Zayyan meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah gawai hitam tipis lalu mengetuk layarnya sekali. Proyeksi kode enkripsi siber yang melesat masuk ke peladen utamanya tadi siang muncul di layar. "Putramu mengirimkan tiket VIP langsung ke peladen privatku. Dia bahkan meretas protokoler keamanan tingkat empat untuk memastikan aku membaca pesan itu. Dan kau memintaku kembali besok?"
Jantung Olin mencelos. Tebakan Xavi tepat, namun melihat konfirmasi itu langsung dari bibir Zayyan membuat seluruh pertahanannya terasa rapuh. Zayyan melangkah satu kali lagi ke depan, memangkas jarak yang tersisa hingga Olin bisa melihat pantulan dirinya di dalam manik mata hitam pria itu.
"Siapa anak itu, Olin?" tanya Zayyan, suaranya merosot menjadi bisikan yang berbahaya. Aura intimidasi yang menguar dari tubuh tegapnya terasa begitu pekat, mengunci Olin di tempatnya berdiri. "Siapa bocah yang memiliki keberanian untuk memancingku ke tempat ini menggunakan kode siber keluarga El-Ghazali?"
"Dia bukan urusanmu," balas Olin cepat, sedikit terlalu cepat hingga nada suaranya mengkhianati ketenangan palsunya. Dia menatap lurus ke arah dada tegap Zayyan yang terbalut kemeja putih mahal. "Dia anakku. Hanya anakku."
Zayyan menyipitkan mata. Rahangnya mengatup rapat, menciptakan garis tegas yang kaku di sepanjang pipinya. Dia tahu Olin sedang berbohong. Jejak genetik yang dilaporkan oleh orang-orangnya dua hari lalu, cara anak itu meretas sistem menggunakan algoritma yang mirip dengan sistem pertahanan lamanya—semuanya menunjuk pada satu kebenaran yang tak terbantahkan.
Sebelum Zayyan sempat mendesak lebih jauh, suara derit halus dari arah koridor belakang menarik perhatiannya.
Di ujung lorong yang remang-remang, pintu ruang kerja sementara sedikit terbuka. Sebuah kepala kecil berambut hitam pekat mengintip dari balik celah panel kayu. Xavi berdiri di sana, menyesuaikan letak kacamata bundarnya dengan ujung telunjuk. Bocah itu tidak menatap ibunya dengan ketakutan; sebaliknya, sepasang mata bulatnya justru mengunci pandangan langsung pada sosok Zayyan dengan tatapan menilai yang sangat dingin.
Zayyan menoleh, gerakannya secepat elang yang menemukan mangsanya. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, sang CEO berdarah dingin itu terpaku. Pandangannya terkunci pada sosok anak laki-laki berusia tujuh tahun yang memiliki garis alis dan sorot mata yang persis sama dengan dirinya saat bercermin.
Olin yang menyadari arah pandang Zayyan langsung bergeser, memblokade garis pandang pria itu dengan seluruh tubuhnya. Napasnya memburu, matanya memancarkan kepanikan yang murni. "Jangan sentuh dia, Zayyan. Jangan berani-berani kau melangkah mendekatinya."
Zayyan kembali menatap Olin, namun kali ini, kilatan di matanya bukan lagi sekadar kemarahan. Ada badai emosi yang jauh lebih besar, sebuah kesadaran yang mendadak menghantam seluruh fondasi logikanya. Kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya kini berdiri tegak di dalam galeri ini, mengenakan celana jins kodok dan memegang sebuah gawai portable.