Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Foto yang Hilang
Pagi itu, sebelum alarm sinkronisasi harian berbunyi, Atharva telah melangkah keluar dari asrama. Keheningan koridor lantai empat puluh dua tidak mengganggunya; justru, ia menikmati bagaimana setiap langkah sepatunya bergema di dinding logam, memetakan akustik gedung yang sunyi. Ia tidak langsung menuju ruang kelas taktis. Alih-alih mengikuti jadwal, ia membelokkan langkahnya menuju sayap administratif yang jarang diakses siswa: Galeri Alumni.
Dinding galeri tersebut adalah perpaduan antara kaca siber dan material kayu kuno yang kontras dengan sisa arsitektur Nexus yang serba modern. Di sana, wajah-wajah para lulusan terbaik dari dekade ke dekade dipajang dalam bingkai logam hitam yang seragam. Ini adalah dinding keabadian tempat bagi mereka yang dianggap sebagai produk sukses oleh Veritas Lux Fortuna.
Atharva berjalan menyusuri galeri, tatapannya menyapu barisan nama dan wajah yang dingin. Ia mencari satu sosok yang selama ini menghantui catatan arsip yang sempat ia curi aksesnya sebelum masuk akademi: Alvaro. Namanya sering disebut dalam dokumen terenkripsi yang pernah ia retas sebagai arsitek awal dari sistem simulasi biner yang kini mereka jalani.
Matanya terus bergerak, melewati barisan lulusan tahun-tahun awal, hingga ia sampai di deretan tahun angkatan tujuh tahun yang lalu.
Di sana, di antara barisan foto yang tertata rapi, terdapat satu kejanggalan.
Ada satu ruang kosong di dinding. Ukurannya sama persis dengan bingkai di sekelilingnya, namun bingkai itu telah hilang. Yang tertinggal hanyalah bekas debu yang membentuk persegi panjang bersih di atas panel kayu, menandakan bahwa bingkai tersebut baru dilepas beberapa waktu lalu. Tidak ada label nama, tidak ada sisa logam pengait, hanya ruang hampa yang seolah sengaja dibiarkan untuk menelan keberadaan siapa pun yang pernah terpajang di sana.
Atharva mendekat. Ia tidak menyentuh dinding, namun jari-jarinya menelusuri udara di depan bekas debu tersebut. Ia bisa melihat garis tipis bekas perekat di dinding, menunjukkan bahwa bingkai itu tidak sekadar jatuh, melainkan dicabut dengan tergesa-gesa oleh seseorang yang ingin menghapus jejak.
"Mencari sesuatu?"
Suara itu muncul dari belakang, datar dan tanpa emosi. Atharva tidak terkejut. Ia memutar tubuhnya perlahan, menemukan Profesor Adrian yang berdiri di ujung koridor, tangannya terlipat di balik punggung. Pria itu menatap Atharva dengan tatapan yang sama seperti saat ia memandang lencana NX-001 di dadanya sebuah tatapan yang penuh perhitungan.
"Galeri ini adalah sejarah, Profesor," ujar Atharva, suaranya tetap tenang meski ia tahu ia sedang tertangkap basah di area terlarang. "Sejarah seharusnya tidak disensor."
Profesor Adrian melangkah maju, sepatu kulitnya memukul lantai dengan ritme yang lambat dan mengintimidasi. Ia berhenti tepat di samping Atharva, menatap kotak debu kosong di dinding itu dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Sejarah di Nexus bukanlah tentang siapa yang bertahan, Atharva," kata Adrian pelan. "Sejarah di sini hanyalah tentang siapa yang masih memiliki kegunaan bagi sistem. Ketika seseorang tidak lagi dianggap berguna, atau ketika keberadaannya justru merusak integritas algoritma yang kami bangun, maka penghapusan adalah tindakan yang paling efisien."
"Jadi, Alvaro tidak lulus?" tanya Atharva langsung, memancing reaksi.
Adrian terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tak terlihat. "Dia melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada gagal. Dia mencoba memberikan kesadaran pada sistem. Dan di Nexus, kesadaran adalah virus yang harus segera dikarantina dan dimusnahkan."
Adrian membalikkan badan, meninggalkan Atharva sendirian di depan ruang kosong itu. "Kembalilah ke ruang kelas taktis, NX-001. Peringkatmu saat ini mungkin tinggi, tapi di sini, semua orang hanyalah foto yang sedang menunggu giliran untuk dicopot dari dinding."
Atharva kembali menatap bekas debu di dinding tersebut. Ia menyadari satu hal krusial: Alvaro tidak hanya dihapus, tetapi perlawanannya terhadap sistem telah menjadi fondasi dari kekejaman yang mereka hadapi sekarang. Dan foto yang hilang itu bukan sekadar penghapusan sejarah itu adalah peringatan bagi siapa pun yang berani mempertanyakan algoritma Veritas Lux Fortuna.
...****************...
Atharva berdiri mematung sejenak, membiarkan keheningan galeri menyerap percakapan tadi. Sebelum berbalik, ia sempat melirik tajam ke arah dinding kayu itu. Dengan gerakan secepat kilat, ia mengaktifkan pemindai optik pada lensa kontak taktisnya, menyapu permukaan bekas debu tersebut.
Data mikroskopis muncul dalam proyeksi tipis di retinanya. Di sana, di balik lapisan tipis yang menutupi panel kayu, ia menemukan residu kimia bukan debu biasa, melainkan residu nanopartikel pembersih yang hanya digunakan oleh tim pemeliharaan sistem tingkat tinggi. Seseorang telah menghapus bingkai itu bukan hanya secara fisik, tetapi juga melakukan sterilisasi data digital di balik bingkai agar sensor kamera pengawas tidak bisa merekam bayangan gambar yang pernah ada di sana.
"Protokol pembersihan tingkat empat," gumam Atharva pelan. Ia menyadari bahwa tindakan ini bukan sekadar upaya menghapus kenangan, melainkan bentuk sinkronisasi ulang realitas. Jika seseorang bisa dihapus begitu sempurna dari sejarah fisik dan digital sekolah ini, maka tidak ada jaminan bahwa nama Atharva akan tetap tercatat di akhir semester jika ia gagal.
Ia melangkah pergi dari Galeri Alumni dengan ritme yang tetap tenang, namun otaknya bekerja ribuan kali lebih cepat. Saat ia menyusuri lorong menuju aula taktis, ia berpapasan dengan Farel yang sedang berjalan terburu-buru menuju kelas.
Farel berhenti sejenak, menatap Atharva dengan alis berkerut. "Kau dari mana? Sistem sudah memberikan peringatan check-in sepuluh menit lagi. Kau bisa kehilangan poin disiplin jika terlambat."
Atharva tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap mata Farel dengan sorot yang lebih tajam dari biasanya. "Farel, dalam sejarah data yang kau retas sebelum kita masuk ke sini, apakah kau pernah menemukan file dengan enkripsi dual-layer bertanda kode Alpha-Zero?"
Farel membeku. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan koridor benar-benar kosong sebelum mendekat. Suaranya merendah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. "Itu kode akses utama untuk inti sistem Nexus. Aku menemukannya sekali, tapi itu terkunci di balik yang mustahil ditembus. Kenapa kau menanyakan itu?"
"Karena seseorang yang memiliki akses ke sana baru saja menghapus jejak seorang murid dari sejarah akademi ini," jawab Atharva datar.
Farel terdiam, wajahnya yang biasanya tenang kini pucat. "Maksudmu... Alvaro?"
"Jangan sebut nama itu di sini," potong Atharva dingin, melanjutkan langkahnya menuju kelas. "Dinding di galeri ini memiliki sensor auditori. Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati dengan apa yang kita bicarakan di luar area blind-spot asrama."
Farel tertegun di tempatnya, menyadari bahwa apa yang mereka hadapi bukanlah sekolah yang korup, melainkan sebuah entitas yang secara aktif memanipulasi kebenaran untuk mempertahankan kekuasaannya. Saat mereka sampai di pintu masuk auditorium kelas taktis, jam digital di dinding menunjukkan sisa waktu tepat tiga puluh detik.
Atharva masuk dengan kepala tegak, meninggalkan Farel yang masih terpaku dengan kesadaran baru bahwa di Nexus, bahkan sebuah foto di dinding pun bisa menjadi bukti kejahatan yang mematikan. Di dalam kelas, Profesor Adrian sudah duduk di balik meja pengawasnya, menatap ke arah pintu dengan senyum yang tidak sampai ke matanya seolah ia sudah tahu persis apa yang baru saja ditemukan oleh Atharva di koridor galeri.