NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAKAN MALAM BERDARAH

Teori dan angka di atas layar tidaklah cukup. Kirana butuh melihatnya sendiri. Ia butuh rasa sakit itu menjadi nyata agar hatinya benar-benar membatu, agar tidak ada lagi ruang untuk belas kasihan atau keraguan dalam rencana pembalasan dendamnya nanti.

​Hari Jumat malam, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Aris yang sempat diintip Kirana saat suaminya mandi: "Meja nomor 7, tempat biasa. Jam 8 malam."

​Pukul tujuh malam, Kirana sudah bersiap. Ia tidak mengenakan gaun sutra hitamnya yang mewah. Ia memilih blus kasual berwarna gelap, celana panjang hitam, kacamata hitam besar, dan syal yang menutupi sebagian wajahnya. Ia menyewa taksi daring biasa, bukan mobil pribadinya, agar tidak memancing perhatian.

​Tujuan mereka adalah sebuah restoran bergaya gotik romantis di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di pusat kota. Restoran itu terkenal dengan pencahayaan yang temaram, bilik-bilik privat yang dibatasi kaca buram, dan pemandangan malam Jakarta yang berkilauan. Tempat yang sempurna untuk para pendosa yang ingin bersembunyi dari dunia.

​Kirana tiba lebih awal. Dengan menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada pelayan penerima tamu, ia berhasil mendapatkan meja di sudut yang sedikit gelap, tepat dua baris di belakang meja nomor tujuh. Posisinya terhalang oleh dekorasi tanaman rambat artifisial yang lebat—sebuah ironi, mengingat ia adalah seorang arsitek lanskap. Dari celah dedaunan itu, ia bisa melihat meja nomor tujuh dengan sangat jelas.

​Pukul delapan lewat sepuluh menit, sosok yang ia kenal melangkah masuk. Aris. Ia tampak sangat tampan dengan kemeja kasual premium berwarna biru dongker yang kancing atasnya dibuka. Tidak lama kemudian, seorang wanita dengan rambut merah bata bergelombang dan gaun merah berpotongan dada rendah menyusul. Sarah.

​Kirana mencengkeram garpu di tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan mata Aris saat menyambut Sarah... itu adalah tatapan penuh gairah yang sudah lama hilang dari pernikahan mereka. Tatapan seorang pria yang sedang dimabuk asmara.

​Kirana menyaksikan setiap detik interaksi mereka bagai menonton film horor dalam gerak lambat.

​Aris menuangkan wine ke gelas Sarah dengan gerakan yang sangat lembut. Mereka tertawa bersama, sesekali Sarah menyentuh lengan Aris dengan manja, dan Aris membalasnya dengan menggenggam jemari wanita itu di atas meja. Tidak ada kecanggungan. Mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang baru berpacaran, begitu lepas dan tanpa beban.

​Puncaknya adalah ketika hidangan utama selesai disajikan. Aris merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sangat familiar bagi Kirana. Itu adalah kotak dari toko perhiasan yang tagihannya sempat Kirana lihat di mutasi kartu kredit.

​Aris membuka kotak itu, mengeluarkan sebuah gelang emas putih dengan liontin berbentuk hati, dan memakaikannya ke pergelangan tangan Sarah. Sarah tampak terkejut, menutup mulutnya dengan drama, sebelum kemudian condong ke depan dan mencium bibir Aris dengan mesra. Aris tidak menolak. Di bawah temaram lampu restoran, mereka berciuman panjang seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.

​Di sudut yang gelap, air mata Kirana akhirnya jatuh. Hangat, namun rasanya seperti asam yang membakar pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping, hancur hingga tidak ada lagi yang tersisa selain debu. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia harus menggigit bibir bawahnya sendiri agar tidak berteriak histeris di dalam restoran mewah itu.

​Jadi ini rasanya, batin Kirana, dadanya kembang kempis menahan sesak. Semua pelukan di rumah, semua ucapan manis, semua janji setia... semuanya hanyalah sampah.

​Ia menyadari betapa bodohnya dirinya selama enam bulan ini. Berapa kali ia memercayai alasan Aris yang pulang larut malam karena "kelelahan bekerja"? Berapa kali ia dengan tulus memijat pundak suaminya yang "stres karena tekanan bisnis", sementara stres itu mungkin karena ia habis menghabiskan energi bersama wanita lain?

​Kirana memejamkan matanya selama beberapa menit. Ia mendengarkan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, lalu perlahan-lahan mengaturnya hingga kembali tenang. Bersamaan dengan air matanya yang mengering di pipi, sesuatu di dalam diri Kirana mati malam itu. Kirana yang lembut, Kirana yang penurut, dan Kirana yang naif telah lenyap.

​Ketika ia membuka matanya kembali, pandangannya tidak lagi menyiratkan kesedihan. Matanya kini sedingin es, setajam silet. Topeng Aris telah retak sepenuhnya di hadapannya, dan kini giliran Kirana yang akan memasang topengnya sendiri.

​Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, mengarahkan kamera dengan lensa tarik digital ke arah meja nomor tujuh. Klik. Klik. Klik. Ia mengambil beberapa foto berkualitas tinggi: saat Aris menggenggam tangan Sarah, saat Aris memakaikan gelang, dan saat mereka berciuman. Dokumen berharga untuk masa depan.

​Kirana berdiri dari kursinya dengan tenang, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar minumannya yang bahkan belum sempat ia sentuh, lalu melangkah keluar dari restoran dengan kepala tegak.

​Saat ia berjalan melewati meja Aris, ia memastikan langkahnya tetap anggun, lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun. Aris terlalu sibuk tenggelam dalam pesona Sarah untuk menyadari bahwa bayangan istrinya baru saja lewat di belakangnya, membawa serta seluruh kunci kehancuran hidupnya.

​Di dalam taksi yang membawanya pulang, Kirana menatap keluar jendela, memandangi lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap namun terasa asing. "Enam tahun pernikahan kita, Aris," bisik Kirana pada kegelapan malam. "Aku ikut membangun fondasi hidupmu. Dan dengan tanganku sendiri, aku akan meruntuhkan seluruh istanamu hingga rata dengan tanah. Kamu tidak akan pernah melihat ini datang."

​Rencana cerai biasa terlalu mudah untuk seorang pengkhianat. Kirana tahu apa yang paling dicintai Aris setelah dirinya—atau mungkin melebihi dirinya: harga diri, bisnisnya, dan status sosialnya. Untuk menghancurkannya, Kirana harus merebut semua itu. Dan untuk memulainya, ia membutuhkan bidak pertama. Seseorang yang memiliki akses hukum ke perusahaan Aris, seseorang yang sangat dekat dengan Aris, dan seseorang yang... diam-diam selalu menatap Kirana dengan tatapan yang berbeda.

​Kirana membuka daftar kontak di ponselnya, mencari satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi secara personal. Bimo.

​Permainan baru saja dimulai.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!