NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Ketertiban

Satuan tugas itu bergerak lebih cepat dari yang kami perkirakan. Hanya empat hari setelah pertemuan darurat di gudang cadangan, kabar datang dari Pak Darto lewat pesan singkat yang membuat seluruh tubuhku dingin: besok pagi, akan ada "operasi penertiban dan pengamanan kawasan" di seluruh area pasar dan gang-gang utama Karang Wetan.

"Ini bukan razia biasa, Rangga," kata Pak Darto lewat telepon genggam pinjaman yang jarang kami pakai demi keamanan. "Ini gede. Puluhan personel, ada alat berat juga katanya, buat 'penataan awal' di beberapa titik yang katanya bakal jadi lokasi pembangunan tahap pertama."

Aku memejamkan mata sesaat, mencoba mencerna beratnya kabar itu. Ini bukan lagi soal mencari aku atau menakut-nakuti satu-dua orang. Ini operasi untuk mulai menghancurkan rumah-rumah, secara fisik, dengan kekuatan penuh negara di belakangnya.

---

Malam itu, aku mengumpulkan semua pemimpin dari setiap kawasan lewat jalur komunikasi darurat yang selama ini kami siapkan untuk situasi seperti ini. Keputusan yang harus diambil bukan lagi soal menyerang atau bertahan dengan cara-cara yang biasa kami lakukan—ini soal bagaimana melindungi ratusan keluarga dari alat berat dan personel bersenjata yang datang dengan legitimasi resmi negara.

"Kita nggak bisa lawan mereka pakai kekerasan," kataku tegas, menatap satu per satu wajah yang berkumpul di gudang kosong. "Kalau kita lawan pakai kekerasan, itu justru jadi alasan sempurna buat mereka nyerang lebih keras, dan bakal ada yang mati. Kita harus lawan ini dengan cara lain."

"Cara apa?" tanya Salim, wajahnya tegang. "Alat berat udah di depan mata, Rangga. Nggak ada waktu buat nunggu proses hukum lagi."

Aku menghela napas panjang, mencoba menata rencana yang sejak semalam berputar di kepalaku. "Kita bikin ini jadi tontonan yang nggak bisa mereka sembunyikan. Kita kumpulkan warga, bukan buat lawan fisik, tapi buat berdiri di depan rumah masing-masing, sambil kita pastikan semua ini terekam dan disiarkan langsung lewat jaringan Mira dan kontak media yang kita punya. Biar seluruh negeri lihat apa yang sebenarnya terjadi di sini, bukan cuma versi 'penertiban' yang bakal mereka umumkan besok."

---

Pagi itu datang dengan kabut tipis yang menyelimuti gang-gang Karang Wetan, suasana yang biasanya ramai dengan suara pedagang membuka lapak kini berubah jadi keheningan mencekam, hanya dipecah suara mesin kendaraan berat yang mulai terdengar dari kejauhan.

Aku berdiri di tengah kerumunan warga, bersama Yanto, Salim, Ujang, dan Sari, menyaksikan barisan petugas berseragam lengkap dengan tameng, diikuti dua alat berat yang perlahan memasuki mulut gang utama pasar. Di belakang mereka, aku bisa melihat sosok yang kukenali dari foto koran bertahun-tahun lalu—Komisaris Baskoro sendiri, berdiri mengawasi dari kejauhan dengan wajah tenang yang sama seperti waktu ia mengancamku di ruangan sempit itu.

Warga yang sudah berkumpul sejak subuh, ratusan orang dari empat kawasan yang tergabung dalam jaringan kami, berdiri diam di depan rumah dan lapak masing-masing, tidak melawan secara fisik, hanya berdiri—sebuah tembok manusia yang lebih kuat dari yang bisa dibayangkan siapa pun yang merancang operasi ini.

Beberapa dari mereka memegang ponsel tinggi-tinggi, merekam setiap gerakan petugas, sementara di sudut lain, seorang kru dari media yang dihubungi Mira sudah bersiap dengan kamera yang disiarkan langsung ke akun media sosial mereka.

---

Petugas yang memimpin barisan depan tampak ragu sejenak melihat kerumunan yang jauh lebih besar dari perkiraan, terlebih dengan kamera-kamera yang jelas terlihat merekam setiap gerakan mereka. Aku bisa melihat mereka saling berbisik, sesekali melirik ke arah Komisaris Baskoro yang berdiri di kejauhan, seolah menunggu instruksi lebih lanjut.

Aku melangkah maju, berdiri di barisan paling depan, menatap langsung ke arah petugas yang memimpin operasi itu.

"Kami nggak akan lawan bapak-bapak secara fisik," kataku, suaraku cukup keras agar terdengar oleh warga di sekitar sekaligus tertangkap jelas oleh kamera yang merekam. "Tapi kami juga nggak akan pergi dari rumah kami sendiri tanpa proses hukum yang jelas dan adil. Kalau bapak-bapak mau gusur kami hari ini, silakan lakukan di depan kamera ini, biar semua orang lihat gimana caranya."

Hening panjang menyelimuti gang itu, hanya dipecah suara mesin alat berat yang masih menyala tapi belum bergerak maju.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam, sebelum akhirnya seorang perwira yang tampak lebih senior—bukan Baskoro sendiri, melainkan seseorang yang mungkin diperintahkan untuk menghindari keterlibatan langsungnya di depan kamera—mendekat dan berbicara pelan, meminta waktu untuk "berkoordinasi lebih lanjut dengan atasan".

Operasi hari itu, meski tidak sepenuhnya dibatalkan, ditunda tanpa kepastian yang jelas. Alat berat mundur perlahan, personel berseragam mulai membubarkan diri satu per satu, sementara sorak kelegaan mulai terdengar dari kerumunan warga yang sejak subuh menahan napas.

---

Aku berdiri di tengah kerumunan itu, tubuhku gemetar antara lega dan kelelahan yang luar biasa, ketika Yanto menepuk pundakku pelan.

"Kita menang hari ini," katanya, meski wajahnya tetap waspada. "Tapi mereka bakal balik lagi, Rangga. Cuma masalah waktu."

Aku mengangguk, menatap ke arah kejauhan di mana Komisaris Baskoro sudah menghilang bersama iring-iringan kendaraannya, meninggalkan gang yang perlahan kembali ramai dengan suara warga yang saling berpelukan, sebagian menangis, sebagian tertawa lega.

Ini bukan kemenangan akhir. Aku tahu itu. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bertahan hidup—aku merasakan bahwa kekuatan negara sekalipun, kalau dihadapkan pada ratusan orang yang berdiri bersama tanpa rasa takut, bisa dipaksa mundur, meski hanya untuk sementara.

---

*(Bersambung ke Bab 22)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!