NovelToon NovelToon
Sistem Restoran Antar Dimensi

Sistem Restoran Antar Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.

Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Reza membuka matanya saat sinar matahari pagi menembus celah jendela.

Dia tidur di sebuah kamar kecil yang berada di lantai dua bangunan kedai.

Semalam dia baru menemukan tangga di belakang dapur yang mengarah ke kamar ini.

Kamar itu sederhana namun memiliki tempat tidur yang sangat bersih dan nyaman.

Reza bangkit dari kasur dan meregangkan otot tubuhnya yang kaku.

Dia segera berjalan menuruni anak tangga kayu menuju area dapur.

Jam dinding berbentuk bundar di dapur menunjukkan pukul tujuh pagi.

Reza menyalakan keran air di wastafel dan mencuci wajahnya agar lebih segar.

"Sistem, apakah jadwal hari ini masih sama seperti yang kau katakan semalam?" tanya Reza memecah keheningan.

"Benar Host," jawab Sistem dengan nada datar di dalam kepalanya.

"Hari ini pintu utama telah terhubung dengan Dimensi Kultivasi Timur."

Reza berjalan perlahan mendekati pintu kayu utama di depan area makan.

Dia meletakkan telapak tangannya di atas kenop pintu berbahan kuningan tersebut.

Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya karena merasa gugup.

Dia menarik napas panjang lalu memutar kenop pintu tersebut dengan kuat.

Klek.

Pintu terbuka dan hembusan angin segar langsung menerpa wajah Reza.

Pemandangan di luar pintu membuat matanya membelalak lebar.

Jalanan aspal berdebu dan gedung-gedung kota telah menghilang tanpa sisa.

Kini di hadapannya terhampar sebuah hutan bambu hijau yang sangat rimbun.

Daun-daun bambu berguguran tertiup angin pagi yang sejuk.

Di kejauhan terlihat puncak gunung tinggi menjulang yang tertutup kabut putih tebal.

"Ini benar-benar dunia lain," ucap Reza menatap takjub pemandangan di depannya.

"Udaranya jauh lebih bersih dan segar daripada di kota."

"Host telah berhasil membuka akses ke Dimensi Kultivasi Timur," kata Sistem memberitahu.

"Misi utama pertama saat ini sedang berlangsung."

Reza kembali masuk ke dalam kedai dan membiarkan pintu utama tetap terbuka lebar.

Dia berjalan menuju dapur untuk memeriksa bahan makanan di dalam lemari pendingin.

Ada daging ayam segar, beras putih bersih, daun bawang, dan beberapa bumbu dasar.

Reza memutuskan untuk membuat bubur ayam sebagai menu sarapan pagi ini.

'Orang yang datang di pagi hari biasanya mencari makanan yang hangat dan lembut di perut,' batin Reza.

'Bubur ayam adalah pilihan paling aman untuk pelanggan pertama.'

Reza mencuci beras dengan teliti dan merebus daging ayam untuk membuat kaldu bening.

Aroma gurih dari rebusan kaldu ayam perlahan memenuhi seluruh ruangan kedai.

Satu jam berlalu namun belum ada satu pun pelanggan yang melangkah masuk.

Reza duduk bersandar di salah satu kursi kayu sambil menunggu dengan sabar.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang terseret paksa dari arah luar pintu.

Reza langsung berdiri dari kursinya dan melihat ke arah luar kedai.

Seorang pria paruh baya berjalan gontai keluar dari balik pepohonan bambu.

Pakaian pria itu berupa jubah kain abu-abu model kuno yang sudah robek di beberapa bagian.

Pria itu memegang sebilah pedang panjang berkarat sebagai tongkat penopang tubuhnya.

Ada noda darah segar yang merembes di bagian dada dan lengan kirinya.

Pria itu menatap bangunan kedai Reza dengan tatapan sangat bingung.

"Tempat apa ini?" gumam pria itu dengan suara serak menahan sakit.

"Tadi malam aku yakin di daerah sini tidak ada bangunan apa pun."

Reza ragu-ragu sejenak saat melihat pedang tajam yang dipegang pria tersebut.

Namun instingnya sebagai seorang koki membuatnya ingin membantu orang yang terlihat kesusahan.

"Selamat pagi, Pak," sapa Reza ramah dari ambang pintu kedai.

"Apakah Anda membutuhkan bantuan atau tempat istirahat?"

Pria itu mendongak lalu menatap Reza dengan pandangan penuh kewaspadaan.

Dia mengangkat pedangnya sedikit mengarah ke tubuh Reza.

"Siapa kau sebenarnya?" bentak pria itu berusaha terlihat kuat.

"Apakah kau utusan pembunuh dari Sekte Serigala Hitam?"

Reza buru-buru mundur selangkah sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Saya sama sekali tidak tahu apa itu Sekte Serigala Hitam," jawab Reza dengan nada tenang.

"Saya hanya seorang koki biasa yang mengelola kedai makan ini."

Sistem tiba-tiba memberikan pemberitahuan singkat di layar biru.

Ting.

"Fungsi penerjemah bahasa otomatis telah diaktifkan," ucap Sistem.

"Host dan target kini dapat berkomunikasi secara langsung tanpa kendala bahasa."

Pria paruh baya itu tiba-tiba terbatuk hebat dan memuntahkan sedikit cairan darah.

Tubuhnya oleng ke depan dan dia hampir jatuh tersungkur ke atas tanah.

Reza langsung berlari keluar pintu dan menangkap tubuh lemas pria itu.

"Bapak terluka sangat parah, mari kita masuk ke dalam dulu," ajak Reza sambil menahan berat tubuh pria itu.

Pria itu sudah terlalu lemas untuk menolak bantuan Reza.

Reza memapahnya perlahan masuk melewati ambang pintu utama kedai.

Begitu mereka berdua melewati batas pintu, pria itu tersentak kaget bukan main.

"Energi spiritualku menghilang," ucap pria itu dengan wajah panik.

"Kenapa aku tidak bisa merasakan aliran Qi di tubuhku sama sekali?"

"Itu terjadi karena aturan khusus di tempat ini," jawab Reza sambil mendudukkan pria itu di kursi kayu terdekat.

"Di dalam kedai ini, tidak ada satu orang pun yang bisa menggunakan kekuatan sihir atau bertarung."

Pria itu menatap sekeliling ruangan kedai dengan kedua mata terbelalak lebar.

Ruangan ini memiliki benda-benda aneh yang bersinar terang memancarkan cahaya di bagian atapnya.

"Ini pasti formasi pelindung tingkat tinggi yang sangat langka," gumam pria itu pelan.

"Kau pasti seorang senior kultivator hebat yang sedang menyembunyikan identitas."

Reza hanya bisa tersenyum tipis mendengar tuduhan acak pria tersebut.

Dia merasa tidak perlu menjelaskan terlalu panjang karena pasti akan sangat membingungkan orang ini.

"Nama saya Reza," kata Reza memperkenalkan dirinya secara formal.

"Boleh saya tahu siapa nama Bapak?"

"Panggil saja aku Yixu," jawab pria itu sambil terus memegang dadanya yang terluka parah.

"Aku hanyalah seorang pendekar pengelana biasa."

"Luka di dada Anda terlihat cukup parah, Pak Yixu," ucap Reza merasa khawatir.

"Apakah Bapak ingin saya coba panggilkan tabib atau dokter?"

"Dokter biasa tidak akan bisa menyembuhkan luka akibat racun Qi ini," tolak Yixu sambil menggelengkan kepala.

"Hanya pil spiritual penyembuh tingkat tinggi yang bisa memulihkan kondisiku."

Yixu kembali terbatuk pelan menahan rasa perih.

"Sayangnya aku sudah kehabisan semua pil spiritualku saat dikeroyok musuh tadi malam," lanjut Yixu dengan nada pasrah.

"Mungkin ajalku memang sudah dekat dan harus berakhir di tempat aneh ini."

"Jangan bicara sembarangan begitu," potong Reza dengan cepat.

"Bapak tunggu duduk di sini sebentar, saya akan mengambilkan makanan hangat dari dapur."

Reza langsung berlari kecil menuju area dapur di belakang konter.

Dia melihat uap panas mengepul dari panci yang menandakan bubur ayamnya sudah matang sempurna.

Reza mengambil mangkuk keramik putih lalu menuangkan bubur kental yang masih mengepul panas itu.

Dia menyuwir daging ayam rebus tipis-tipis dan menaburkannya dengan rata di atas permukaan bubur.

Sebagai sentuhan akhir, dia menambahkan irisan daun bawang segar, sedikit kecap asin, dan siraman kaldu.

Aroma bubur olahan Reza itu benar-benar sangat menggugah selera siapa pun yang menciumnya.

Reza membawa nampan berisi mangkuk bubur itu beserta segelas air putih hangat ke meja Yixu.

"Silakan dimakan selagi hangat, Pak Yixu," ucap Reza meletakkan mangkuk itu perlahan di atas meja.

"Makanan ini namanya bubur ayam."

Yixu menatap mangkuk putih bersih yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya itu.

Aroma gurih masakan itu masuk ke indera penciumannya dan membuat perutnya berbunyi cukup keras.

"Makanan jenis apa ini?" tanya Yixu merasa sangat heran.

"Bentuknya terlihat seperti butiran nasi yang hancur namun baunya sangat wangi."

"Ini adalah beras yang dimasak perlahan menggunakan banyak air kaldu ayam sampai teksturnya menjadi sangat lembut," jelas Reza ramah.

"Sangat cocok dimakan oleh orang yang sedang sakit atau terluka karena sangat mudah dicerna perut."

1
Yuliana Tunru
💪💪💪👍👍👍
Kasma Wati
lanjut👍👍👍👍
Alia Chans
lanjut✍️👈
Äï
loh kok dia tau?
cynth
Deja vu....
Yui: ehehehe, klo yang dah baca bayu pasti tau/Facepalm/
total 1 replies
Yuliana Tunru
cerita bagus jg santai tanpa tantangan berat reza menikmati posis koki dgn baik .. 👍👍👍up yg byk thorr
Gege
sampe bab 10 sangat ringan dan enak dibaca sebagai hiburan. saran koki akan menyiapkan menu dengan harga yang sudah dipatenkan, terkesan mahal, tapi efeknya warbyasaaah bagi tubuh. pada akhirnya pundi pundi milyaran menjadikan koki menjadi kayah rayah...
Gege
ide ceritanya menarik.. harusnya bisa jadi ratusan episode ini..💪🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!