NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Rara masih terisak, namun perlahan kepalanya mendongak saat merasakan bayangan seseorang mendekat. Di hadapannya, Alden berdiri dengan wajah pucat, mata yang menyiratkan penyesalan mendalam, dan bahu yang merosot layu.

"Ra... gue bener-bener minta maaf," suara Alden bergetar, mencoba melangkah satu senti lebih dekat. "Gue nggak tahu kalau ego gue pagi ini bakal bikin Fino kehilangan beasiswanya. Gue nggak bermaksud bikin lu sehancur ini, Ra. Sumpah, gue cuma—"

"Cukup, Alden!" potong Rara. Suaranya tidak melengking tinggi, melainkan rendah, bergetar hebat, namun sarat akan kemarahan luar biasa yang selama ini belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Rara berdiri tegak, melepaskan rangkulan Fino di pundaknya. Sepasang mata bulatnya yang sembap kini menatap Alden dengan kilatan amarah yang begitu pekat, membuat Alden seketika bungkam dan tercekat di tempatnya.

"Minta maaf kamu bilang?!" napas Rara memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap di ubun-ubun.

"Dengan kamu minta maaf, apa beasiswa Fino bisa balik lagi?! Apa nama baik keluarga aku yang kalian injak-injak dari pagi bisa bersih lagi?! Kamu egois, Alden! Kamu datang membawa tuduhan menjijikkan, memancing keributan, dan sekarang setelah masa depan adik aku hancur, kamu cuma bisa bilang nggak bermaksud?!"

"Ra, bukan gitu—"

"Pergi, Alden! Aku kecewa banget sama kamu," potong Rara lagi, air matanya kembali luruh, namun kali ini murni karena rasa sakit hati yang mendalam akibat dikhianati oleh orang yang selama ini sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya sendiri.

"Selama ini kami hidup susah, tapi kami nggak pernah mengusik hidup orang lain. Kenapa kamu tegap berdiri di sana dan membiarkan gerombolanmu memfitnah aku sekeji itu? Mulai hari ini, tolong jauh-jauh dari kehidupan aku dan adik-adikku!"

Mendengar penolakan mentah-mentah dan usiran dari Rara, mental Alden runtuh seketika. Dadanya terasa dihantam batu besar. Rasa bersalah yang teramat sangat kini mengunci lidahnya, membuatnya hanya bisa mematung menatap Rara dengan hati yang ikut patah berkeping-keping.

Tak jauh dari posisi mereka berdiri, tepat di balik tembok koridor dekat ruang piket, Tasya menyaksikan seluruh drama pertikaian itu dengan senyuman miring yang sangat lebar. Kepuasan batin yang luar biasa meluap di dalam dadanya.

Tasya benar-benar begitu sangat gembira melihat Rara mengamuk dan mengusir Alden. Baginya, pemandangan ini adalah mahakarya terbaik minggu ini. Hancurnya hubungan kepercayaan antara Alden dan Rara berarti satu saingan besarnya untuk mendapatkan hati Alden telah tersingkir secara permanen oleh tangan Rara sendiri.

“Bagus... teruslah menangis, anak kontrakan sialan,” batin Tasya sambil terkekeh sinis, matanya berkilat penuh kemenangan. “Ini baru permulaan. Setelah lu kehilangan Alden, kehilangan beasiswa Fino, sore ini gue pastikan lu bakal lebih hancur di lagi.”

Tasya membalikkan tubuhnya dengan langkah anggun, bersiap menemui Nisa untuk mematangkan jebakan mereka di jam pulang sekolah nanti.

Melihat luapan kemarahan Rara yang begitu hebat hingga dadanya naik turun menahan emosi, Fino tidak tinggal diam. Sifat protektifnya sebagai seorang adik pria kembali menyala 180 derajat. Cengiran di wajahnya mendadak lenyap, berganti tatapan mata yang sangat tajam dan dingin menusuk ke arah Alden.

Tanpa aba-aba, Fino melangkah maju ke depan Rara. Tangan kanannya terulur dan mendorong sedikit kasar dada tegap Alden hingga cowok kelas 3 itu terhuyung mundur satu langkah.

"Lu denger sendiri kan kata kakak gue? Pergi dari sini, Bang!" gertak Fino dengan suara berat yang menekan, menunjuk wajah Alden dengan pandangan mengancam.

"Gue peringatkan sama lu, Alden. Mulai detik ini, jauh-jauh lu dari keluarga gue! Jangan pernah lu berani lagi mendekat atau mengusik Kak Rara dan Nina! Lu dan gerombolan kelas tiga lu itu udah bikin hidup kakak gue hancur hari ini!"

Alden yang mendapat dorongan dan peringatan keras dari Fino hanya bisa terdiam membeku. Rasa bersalah yang teramat sangat mengunci seluruh raganya, membuatnya terpaksa membalikkan badan dan melangkah pergi dengan hati yang patah berkeping-keping di bawah tatapan puas Tasya dari kejauhan.

Setelah memastikan Alden benar-benar menjauh dan kerumunan murid mulai membubarkan diri karena bel masuk berbunyi, Fino kembali mengubah modenya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Rara, lalu kembali merangkul pundak kakaknya dengan gerakan santai demi menghibur Rara menggunakan gaya tengil andalannya.

Ia sengaja menyeka air mata di pipi kakaknya dengan ujung seragam abu-abunya yang agak kusam. "Aduh, Bos Rara, jangan hobi nangis gitu dong. Jelek tahu, entar pawang lu bisa ngamuk dan meruntuhkan gedung sekolah ini," kelakar Fino sambil menyengir tanpa dosa, mencoba memancing senyuman di wajah sembap Rara.

"Finoo... " dengan Rara lembut.

Di balik ocehan tengilnya, Fino sebenarnya sedang menyembunyikan kepedihan yang mendalam di hatinya karena telah kehilangan beasiswa. Namun, mentalnya yang kuat langsung menyusun tekad baru. Ia menatap lekat-lekat manik mata Rara, lalu berbicara dengan nada yang jauh lebih dewasa dan penuh keyakinan untuk menenangkan hati kakaknya.

"Lagian lepas beasiswa mah santai aja, Kak. Otak gue kan encer, besok-besok juga bisa dapet lagi lewat jalur lain," ujar Fino, meyakinkan Rara jika semua akan baik-baik saja di bawah kendalinya.

"Gue udah lima belas tahun, Kak. Gue udah dewasa sekarang. Aku juga sekarang bisa bekerja serabutan apa aja buat bantu ringankan beban Kakak selama masa skorsing seminggu ini. Jadi, jangan sedih lagi ya. Kita akan berjuang bersama-sama untuk hidup kita, Kak. Di atas langit masih ada lampu neon kontrakan kita yang baru, jadi semuanya pasti aman!"

"Iya adik kakak ini memang sudah tidak lagi manja seperti dulu. Tapi sayangnya malah bertambah nakal."

"Heheheh."

Mendengar ketulusan dan tekad bulat dari adik tengilnya yang mendadak bersikap sangat dewasa itu, Rara perlahan menghentikan isak tangisnya. Ia mengangguk pelan, merasakan sedikit kehangatan di tengah badai masalah yang sedang menghantam sekolah mereka pagi ini.

Fino menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Di bawah terik matahari siang, ia baru menyadari bahwa mencari pekerjaan paruh waktu di bengkel dan kafe sekitar sekolah ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ditambah rasa pusing akibat sisa baku hantam dengan Alden tadi pagi, Fino memutuskan untuk pulang sejenak ke rumah baru mereka demi mengistirahatkan tubuhnya.

Sesampainya di rumah, ia langsung merebahkan tubuh kurus tingginya di atas sofa empuk ruang tamu. Hanya dalam hitungan menit, remaja itu sudah terlelap saking kelelahannya.

Tak berselang lama, pintu depan terbuka. Athur melangkah masuk dengan setelan jaket kulit hitamnya. Ia sengaja pulang siang ini karena ada beberapa dokumen enkripsi mengenai jaringan bawah tanahnya yang harus ia akses melalui komputer canggih di ruang kerja khususnya.

Namun, langkah tegap Athur seketika terhenti tepat di ambang ruang tamu. Sepasang mata elangnya menyipit tajam. Pandangannya disambut oleh pemandangan yang sama sekali tak terduga. Fino sedang tidur telentang dengan wajah babak belur, sudut bibirnya bengkak keunguan, dan seragam abu-abunya tampak kusut masai.

Athur melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam baru menunjukkan pukul sebelas siang—masih jam aktif sekolah.

"Bangun," suara berat dan dingin khas bos mafia milik Athur menggelegar di ruang tamu yang sepi, menciptakan gelombang intimidasi yang kuat.

Sret!

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!