Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Sultan dan Strategi "Trolling"
Pagi hari di kediaman mewah keluarga Adhitya dimulai dengan suara tawa yang sangat periang dari balkon lantai dua. Rizky Adhitya, sang mantan penulis novel miskin yang kini mendiami tubuh antagonis terkaya di dunia novel, sedang menikmati sarapan pagi berupa roti panggang dengan selai yang dibuat dari buah langka yang hanya tumbuh di lereng gunung Alpen. Di depannya, layar holografis biru dari System Menghamburkan Uang berkilau indah, seolah-olah memberikan tantangan baru baginya untuk bersenang-senang.,
[Ding! Misi Harian Terdeteksi!] [Tujuan: Persiapkan diri Anda untuk Pelelangan Naga Emas. Musuh Anda\, Rama Wijaya\, sangat menginginkan 'Medali Keberuntungan' untuk memperkuat auranya.] [Instruksi Khusus: Beli barang yang paling diinginkan musuh dan gunakan untuk fungsi yang tidak semestinya (Trolling Strategi)!] [Target Belanja Persiapan: Minimal 50 Miliar Rupiah!] [Hadiah: Peningkatan Fisik Level 2 dan Skill Pasif 'Deteksi Kebohongan'.]
Rizky menyeringai lebar. Misi ini sangat cocok dengan jiwanya yang humoris dan santai. Ia tidak pernah suka mengikuti aturan, apalagi aturan di dunia novel yang dulu dianggapnya terlalu kaku.,
"Rafa!" teriak Rizky sambil menyesap kopi mahalnya.
Rafa Ariyanto, asisten setianya yang selalu tampak seperti orang yang baru saja melarikan diri dari kejaran penagih utang karena stres mengelola keuangan bosnya, masuk dengan langkah gontai. "Iya, Tuan Muda? Tolong jangan bilang Anda ingin membeli gunung pagi ini karena merasa udaranya kurang segar.",
"Hahaha! Ide bagus, Rafa, tapi simpan itu untuk nanti," Rizky berdiri dan merangkul bahu Rafa dengan akrab. "Siapkan mobil. Kita akan pergi ke butik paling mahal di kota ini. Aku butuh setelan jas untuk acara lelang lusa nanti. Tapi ingat, aku tidak ingin sesuatu yang membosankan seperti hitam atau biru tua."
"Tuan Muda, Anda akan menghadiri pelelangan barang antik yang prestisius," Rafa mencoba mengingatkan dengan nada penuh kekhawatiran. "Para kolektor biasanya mengenakan pakaian yang elegan dan tenang agar tidak menonjolkan diri. Apakah Anda tidak ingin mempelajari sejarah 'Medali Keberuntungan' yang akan dilelang itu?"
Rizky tertawa terbahak-bahak hingga air matanya hampir keluar. "Mempelajari sejarah? Rafa, aku adalah penulis takdir di sini! Kenapa aku harus repot-repot belajar sejarah kalau aku bisa membelinya? Aku ingin setelan jas yang paling mencolok, paling mahal, dan paling mengganggu mata siapa pun yang melihatnya. Aku ingin menjadi pusat gravitasi di ruangan itu!",
Satu jam kemudian, iring-iringan Rolls-Royce milik Rizky berhenti di depan butik Yeti Media & Fashion, kerajaan mode milik ibunya. Sebagai putra dari Yeti Adhitya, Rizky disambut dengan karpet merah dan puluhan pelayan yang membungkuk hormat.
Rizky melangkah masuk dengan gaya sultan yang tak tertandingi. Ia mengabaikan rekomendasi desainer tentang jas wol sutra yang "elegan". Sebaliknya, ia menunjuk ke arah sebuah kain yang ditenun dengan benang emas murni dan dihiasi butiran berlian mikro.
"Itu! Buatlah jas dari kain itu. Dan aku ingin kancingnya diganti dengan batu zamrud asli," perintah Rizky dengan wajah periang.
"Tuan Muda, itu akan sangat... menyilaukan," desainer butik itu tergagap. "Dan biayanya... untuk satu setelan jas saja bisa mencapai sepuluh miliar rupiah."
"Sepuluh miliar? Hanya segitu?" Rizky mendengus kecewa, lalu menatap Rafa. "Rafa, tambahkan sepatu yang solnya terbuat dari kulit buaya putih langka dan jam tangan yang harganya minimal dua puluh miliar. Aku tidak ingin terlihat seperti orang miskin di depan Rama Wijaya.",
Rafa hanya bisa memegang dahinya yang berdenyut. "Tuan Muda, Anda benar-benar ingin memancing keributan di acara lelang nanti, ya?"
"Bukan keributan, Rafa. Ini disebut 'permainan psikologis'," Rizky menyeringai licik namun tetap tampak santai. "Bayangkan wajah Rama yang munafik itu. Dia akan datang dengan jas sewaan yang tampak 'merakyat' sementara aku datang seperti dewa uang yang siap melumat semua mimpinya. Itu adalah hiburan terbaik bagi mantan penulis gagal sepertiku.",
Sementara itu, di sebuah kantor desainer interior yang mewah, Aprillia Rahma sedang duduk menatap layar ponselnya. Kabar tentang Rizky yang memborong isi mall dan mempersiapkan setelan jas berlian untuk acara lelang telah menyebar ke seluruh telinga sosialita kota.
April merasa hatinya sangat bingung dan bimbang. Dulu, Rizky akan mengiriminya ribuan mawar, pesan-pesan obsesif yang menakutkan, atau bahkan mengancam akan membeli gedung kantornya jika April tidak mau menemuinya. Namun sekarang, pria itu benar-benar mengabaikannya.,,
"Kenapa dia tidak menghubungiku?" gumam April pada dirinya sendiri. Ia menyentuh bros mawar hitam pemberian Rizky yang masih ia simpan. "Dia sibuk menghamburkan uang untuk jerapah dan jas berlian, tapi dia bahkan tidak melirikku lagi? Apakah dia benar-benar sudah berhenti mengejarku?"
Awalnya, April merasa sangat lega karena terlepas dari "Harimau Kecil" yang kejam. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan sifat Rizky yang menjadi periang, santai, dan tidak terduga justru membuatnya merasa ada sesuatu yang hilang. Rama Wijaya, yang dulu ia anggap sebagai pahlawan, kini mulai terlihat membosankan dan terlalu banyak bicara dibandingkan Rizky yang langsung bertindak dengan bom uangnya.,
"Nona April," sekretarisnya masuk memberikan berkas. "Tuan Muda Rizky baru saja mengirimkan pesan singkat ke kantor."
Jantung April berdegup kencang. "Apa katanya? Apakah dia ingin mengajakku makan malam?"
"Umm... tidak, Nona," sekretaris itu tampak ragu. "Pesannya hanya berbunyi: 'April, jangan datang ke lelang besok kalau kamu tidak ingin buta karena silau oleh jas baruku. Oh, dan aku sudah menyiapkan tempat duduk paling belakang untuk Rama, sampaikan padanya ya!'. Begitu katanya, Nona."
April tertegun, lalu tanpa sadar tertawa kecil. "Pria itu... dia benar-benar sudah gila."
Rasa penasaran April mencapai puncaknya. Ia memutuskan bahwa ia harus hadir di Pelelangan Naga Emas tersebut. Bukan untuk mendukung Rama Wijaya, melainkan untuk melihat secara langsung bagaimana Rizky menghancurkan "panggung" sang protagonis dengan cara yang paling konyol dan mewah.,
Malam harinya, Rizky berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Jas emas berliannya sudah selesai dan tampak sangat mencolok—benar-benar sebuah bencana bagi siapa pun yang menyukai kesederhanaan. Namun bagi Rizky, ini adalah baju perangnya.
"System," bisik Rizky.
[Ding! Persiapan Selesai. Inang telah menghamburkan 65 Miliar Rupiah untuk penampilan!] [Poin Hedon Bertambah!] [Informasi Tambahan: Rama Wijaya baru saja meminjam uang dari investor rahasia untuk menawar Medali Keberuntungan. Dia sangat yakin tidak ada yang bisa mengalahkannya.]
Rizky tertawa hingga bahunya berguncang. "Dia meminjam uang? Kasihan sekali. Dia ingin membeli 'keberuntungan' dengan uang pinjaman, sementara aku akan membelinya hanya untuk menjadikannya pajangan di ruang tamu Rafa.",
Ia teringat kembali kehidupannya di dunia asli, di mana ia harus memohon pada editor agar naskahnya dibaca. Di dunia ini, dialah yang mengatur naskahnya. Ia akan menunjukkan pada Rama Wijaya bahwa di hadapan kekayaan tanpa batas yang dikelola oleh seorang mantan penulis yang tahu setiap lubang plot, pahlawan asli tidak memiliki peluang sama sekali.,
"Besok akan menjadi hari yang sangat panjang bagimu, Rama," gumam Rizky sambil mematikan lampu kamarnya dengan sekali jentikan jari. "Dan aku akan menikmatinya dengan senyuman paling lebar.",