NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Malam itu, Adhitama Mansion seolah terkunci di dalam kepungan badai.

Langit Jakarta yang biasanya penuh dengan polusi cahaya kini tertutup awan hitam pekat, menumpahkan air bah yang menghantam jendela-jendela besar mansion dengan suara gemuruh yang menakutkan.

Petir menyambar silih berganti, menerangi interior ruangan dengan kilatan biru pucat yang mencekam.

Alana terjebak di balkon lantai tiga, tepat di luar kamar utama Devran. Tadi, saat ia sedang memeriksa sampel kain desain interior untuk ruang perpustakaan mansion, embusan angin kencang yang datang tiba-tiba telah menerbangkan lembaran kain sutra eksklusif yang sangat penting ke arah teras balkon luar.

Tanpa berpikir panjang, ia melangkah keluar, namun pintu kaca geser itu mendadak mengunci akibat hentakan angin yang begitu kuat.

"Sial! Pintu ini benar-benar tidak bisa dibuka dari luar!" umpat Alana.

Ia menggedor pintu kaca itu dengan telapak tangannya, namun suara hujan yang begitu lebat meredam suara ketukannya.

Dinginnya air hujan yang mulai menembus blazernya membuat tubuh Alana menggigil hebat. Ia meringkuk di sudut balkon, mencoba melindungi diri dari cipratan air yang tertiup angin kencang.

Dalam situasi ini, ia merasa sangat konyol. Bagaimana mungkin seorang arsitek profesional bisa terjebak di balkon rumah seseorang hanya karena sebuah kain sampel?

Tiba-tiba, pintu kaca itu terbuka dengan sentakan keras dari sisi dalam.

Sosok tinggi Devran berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak sangat marah namun terselip kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Alana?! Apa yang kamu lakukan di luar sana saat badai seperti ini?!"

"Pintunya... pintunya terkunci otomatis, Devran!" suara Alana terdengar sangat lemah, bibirnya bahkan mulai membiru karena suhu tubuhnya yang turun drastis.

Tanpa membuang waktu, Devran meraih pergelangan tangan Alana dan menariknya dengan paksa masuk ke dalam kamar yang hangat. Sentakan itu begitu kuat sehingga tubuh Alana menabrak dada bidang Devran.

Di tengah gemuruh badai di luar, pintu kaca kembali tertutup rapat, menciptakan ruang yang sangat sunyi dan privat di dalam kamar.

Namun, Devran tidak segera melepaskan pegangannya. Alana masih berada dalam dekapannya. Pria itu menyadari bahwa Alana menggigil hebat, napasnya memburu dan kacau.

"Kamu bodoh! Bagaimana bisa kamu ceroboh seperti ini?!" bentak Devran, namun suaranya kali ini lebih terdengar seperti bentuk perhatian yang terdistorsi oleh rasa takut.

"Saya hanya... mencoba menyelamatkan kain itu," jawab Alana pelan, mencoba menjauhkan diri, namun Devran justru menarik pinggangnya lebih dekat.

"Kain itu tidak ada harganya dibandingkan dengan nyawamu, Alana!" Devran menatap wajah Alana yang basah kuyup.

"Lihatlah dirimu, kamu gemetaran seperti anak kecil."

Alana mendongak. Di ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu tidur yang temaram, ia bisa melihat gurat ketegangan di wajah pria itu. Mereka berdiri begitu dekat, terlalu dekat.

Jarak di antara wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Alana bisa merasakan embusan napas Devran yang panas menerpa kulit wajahnya yang dingin.

"Lepaskan saya, Devran. Saya harus berganti pakaian," bisik Alana, namun hatinya mendadak tidak sejalan dengan kata-katanya.

"Bukan ini yang kamu inginkan, kan?" bisik Devran dengan suara berat yang serak.

"Selama lima tahun ini, setiap kali aku memejamkan mata, aku selalu membayangkan momen ini. Momen di mana kamu tidak bisa lagi melarikan diri dariku."

Detak jantung Alana berpacu sangat kencang. Deg-deg-deg.

Suaranya begitu nyaring di telinganya sendiri, dan ia yakin Devran pun bisa mendengarnya. Keheningan di antara mereka begitu pekat, hanya diisi oleh suara hujan yang menghantam jendela.

"Saya tidak pernah ingin melarikan diri," aku Alana secara spontan, kalimat yang sudah lama tertahan di tenggorokannya.

"Saya hanya takut, Devran. Takut pada kekuatan Anda, takut pada dunia Anda yang begitu kejam."

Devran membelai pipi Alana dengan ibu jarinya, menghapus sisa air hujan di sana.

"Duniaku mungkin kejam, Alana. Tapi dunia itu adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menjamin keselamatanmu dan Leo."

"Apakah kamu masih belum melihatnya? Setelah apa yang terjadi dengan Siska tadi sore, masihkah kamu meragukan niatku?"

"Saya tidak tahu," gumam Alana, tatapannya jatuh pada bibir Devran yang terkatup rapat. "Semuanya terjadi begitu cepat."

"Maka biarkan semuanya melambat sekarang," desis Devran.

Ia mempererat pelukannya di pinggang Alana, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada celah tersisa di antara mereka.

Alana bisa mendengar detak jantung Devran. Ritmenya tidak jauh berbeda dengan miliknya, cepat, tidak beraturan, dan penuh dengan gairah yang lama terpendam.

Pria itu bukan lagi Petinggi Adhitama yang tak tersentuh, di matanya kini Alana melihat sosok pria yang kesepian dan sedang berjuang untuk memiliki kembali keluarga kecilnya.

"Apakah kamu mencintaiku, Devran? Atau kamu hanya menginginkan kendali?" tanya Alana lirih, menatap mata hitam pria itu yang berkilat dalam.

Devran tertegun. Ia memiringkan kepalanya sedikit, jemarinya kini berpindah ke tengkuk Alana, menahan wanita itu agar tetap menatapnya.

"Kendali adalah caraku untuk tidak kehilangan sesuatu yang berharga lagi. Tapi mencintaimu... itu adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bisa aku kendalikan dalam hidupku."

Jawaban itu membuat napas Alana tercekat. Sebelum ia bisa memproses kata-kata tersebut, Devran sudah menunduk dan mendekatkan wajahnya lebih dalam.

"Alana," panggil Devran pelan, suaranya seperti mantra.

"Hm?"

"Mulai malam ini, jangan pernah lagi mencoba mengambil risiko sekecil apa pun di luar sana tanpa persetujuanku. Kamu adalah milikku. Dan aku akan memastikan dunia tahu itu."

Alana memejamkan matanya, membiarkan pertahanan terakhirnya runtuh. Ia merasa seolah-olah ia telah jatuh ke dalam gravitasi Devran yang tidak bisa dihindari.

Di tengah badai yang mengamuk di luar mansion, di dalam ruangan yang hangat dan privat ini, ia sadar bahwa ia telah berhenti berlari. Pelarian lima tahunnya telah berakhir tepat di dalam dekapan pria yang selama ini ia coba hindari.

"Saya kedinginan, Devran," ucap Alana pelan, sebuah undangan terselubung.

"Maka biarkan aku menghangatkanmu," balas Devran.

Pria itu membawa Alana melangkah menuju tempat tidur besar di tengah ruangan tanpa melepaskan pelukan mereka.

Saat tubuh mereka semakin rapat, Alana menyadari bahwa detak jantung mereka kini berdetak dalam sinkronisasi yang sempurna. Hujan masih menderu di luar, namun bagi mereka berdua, dunia seolah berhenti berputar.

Malam itu, di antara kilatan petir yang terus membelah langit Jakarta, Devran menepati janjinya untuk menarik Alana ke dalam dunianya selamanya.

Tidak ada lagi kontrak kerja, tidak ada lagi status arsitek dan klien. Yang ada hanyalah dua jiwa yang akhirnya menemukan jalan pulang, di bawah perlindungan sang predator yang kini telah berubah menjadi pelindung yang posesif.

Alana tahu, besok pagi semuanya akan berubah. Leo akan mendapatkan keluarga yang utuh, dan rahasia besar tentang The Old Adhitama mungkin akan segera terkuak.

Namun untuk saat ini, ia hanya ingin membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan pria yang merupakan ayah dari putranya itu, membiarkan rasa takutnya larut bersama air hujan yang terus membasahi jendela mansion.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!