NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Ini Salah Ku...

...

Sinar matahari pagi menyengat sisa-sisa embun yang menempel di dinding kontrakan petak. Setelah malam panjang yang melelahkan di rumah sakit, Tania hanya sempat pulang untuk mandi kilat dan mengganti pakaiannya dengan kemeja flanel longgar yang lain. Coretan arang tipis kembali terpasang di wajahnya, membungkus rapat identitas aslinya sebagai Marysa.

Begitu dia mendorong pintu kayu hijaunya yang berderit, langkah kaki Tania mendadak terhenti. Matanya yang sipit berkedip pelan, menatap lurus ke arah depan pagar tanaman yang membatasi gang.

Di sana, Rangga sudah berdiri menyandar pada sepedanya.

Pria jangkung itu langsung melambaikan tangannya dengan semangat begitu melihat Tania keluar. Ada yang berbeda dengan penampilan Rangga pagi ini. Kaos oranye kebersihan yang biasanya tampak kusut dan berbau matahari, kini terlihat sangat lurus, licin, dan rapi seolah-olah baru saja disetrika dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Rambut hitamnya tidak lagi acak-akan, poninya tertata rapi, bergerak perlahan melambai ditiup angin pagi yang berembus semilir dari arah pelabuhan. Pria itu meringis lebar, memamerkan deretan giginya, berusaha menyembunyikan rona lelah.

"Pagi, Neng Tania!" sapa Rangga, suaranya medok dan bertenaga, kontras dengan tubuhnya yang sebenarnya encok.

Tania tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk kaku, mengunci pintu kontrakannya, lalu melangkah mendekat. Mereka mulai berjalan beriringan menuju sektor luar, tempat tugas menyapu mereka berada. Rangga menuntun sepedanya di sisi jalan, sementara Tania berjalan dengan postur tegak lurus di trotoar.

Sepanjang perjalanan, Tania tidak banyak bicara. Dia mempertahankan keheningan yang dingin, namun sepasang mata kelamnya sesekali bergerak ke samping, melirik penampilan Rangga yang tampak jauh lebih bersih dan wangi daripada biasanya.

Sialnya bagi Tania, Rangga bukan pria yang tidak peka. Pria jangkung itu menangkap setiap lirikan singkat dari sudut mata Tania. Menyadari wanita dingin di sebelahnya sedang memperhatikannya, Rangga mendadak salah tingkah. Dia berdehem berkali-kali, membetulkan posisi stang sepedanya yang tidak rusak, dan mendadak bingung harus menaruh tangan kirinya di mana. Semburat merah samar muncul di pipinya yang kecokelatan, membuat sifat playboy jalanannya yang biasa lincah mendadak lumpuh total akibat gugup.

...

Malam kembali turun, membawa kegelapan yang pekat dan pengap di pos ronda kumuh dekat gang buntu. Sejujurnya, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Rangga sama sekali tidak ingin membawa Tania kembali ke dunia gelapnya ini. Dia tahu lingkungan nongkrongnya kasar, dipenuhi bau ciu, rokok kretek, dan perempuan-perempuan malam yang tidak berpendidikan dalam bertutur dan bertindak. Dia ingin menjaga Tania tetap bersih dari semua itu.

Namun, Tania tetap kekeh ingin ikut. Kehampaan di dalam jiwanya menuntut distrasi, dan dunia kumuh ini entah mengapa memberikan rasa mati rasa yang dia butuhkan untuk melupakan rasa sakit di masa lalunya.

Saat mereka duduk di atas tikar pandan, suasana langsung terasa canggung bagi Rangga. Malam ini, dia kembali diikuti oleh seorang wanita yang baru lagi, setidaknya, baru bagi pandangan mata Tania. Bukan Anisa yang kemarin menjambak rambut Tania, melainkan wanita lain bertubuh kurus dengan riasan wajah yang terlalu tebal dan pakaian ketat bermotif bunga.

Wanita itu langsung mengambil tempat di sisi lain Rangga, melirik ke arah Tania dengan tatapan tidak suka yang amat kentara. Dia memicingkan matanya yang memakai bulu mata palsu, mengunyah permen karet dengan suara berisik, seolah-olah menganggap Tania sebagai saingan baru yang mengancam posisinya untuk mendapatkan perhatian sang playboy kampung.

Tania sama sekali tidak memedulikan lirikan itu. Dengan gerakan yang sangat tenang dan raut wajah datar seperti dinding beton, dia mengambil gelas plastik berisi ciu yang disodorkan Jono, lalu menegaknya hingga tandas dalam sekali tegukan besar. Keberanian dan ketenangan itu membuat para pria di sana kembali bersorak riuh.

Di tengah riuhnya malam, seorang pemuda bertato di lengannya yang duduk di dekat Doni tiba-tiba memajukan tubuhnya, menatap Tania dengan pandangan menyelidik. "Eh, Neng Tania... semalem itu gue gak salah lihat, kan? Gue liat lu sama si Rangga di depan rumah sakit daerah utara tengah malam. Lu berdua lagi nopang bapaknya Rangga, ya?"

Pertanyaan itu membuat atmosfer di pos ronda mendadak berubah agak serius. Rangga yang sedang memegang rokoknya langsung menegang. Dia melirik Tania, lalu mengembuskan napas pendek. Mau tidak mau, dengan berat hati, Rangga akhirnya menceritakan secara singkat apa yang terjadi semalam tentang ayahnya yang dilarikan ke rumah sakit dan bagaimana Tania membantu membiayai seluruh administrasi awal dengan uang tabungannya.

Mendengar cerita itu, wanita baru di sebelah Rangga langsung mendengus kencang. Dia melipat tangannya di dada, lalu berucap dengan nada suara yang ketus dan sinis, "Halah... hari gini ada cewek yang mau bayarin rumah sakit cowok yang baru dikenal pake uang tabungannya yang gak seberapa? Pasti lu ada maunya kan, Neng? Jangan-jangan lu sengaja biar si Rangga utang budi terus mau lu porotin balik nanti? Atau mau Rangga jadi pesuruh lu? Atau lu emang sok pahlawan aja?"

Tania tidak bergeming. Dia menaruh gelas plastiknya, mengambil sebutir kacang kulit, lalu mengupasnya dengan tenang. Dia mengacuhkan setiap kata-kata ketus itu. Baginya, berdebat dengan wanita jalanan yang otaknya sudah menyusut akibat alkohol adalah pemborosan energi yang tidak berguna.

Sikap acuh dan dingin yang ditunjukkan Tania justru membuat wanita berbaju bunga-bunga itu merasa terhina. Emosinya mendadak meledak karena merasa diabaikan. Dengan gerakan kasar, dia meraih selembar tisu basah bekas lap tumpahan ciu yang ada di atas meja kayu kecil, lalu melemparnya tepat ke arah wajah Tania.

Plak.

Tisu basah yang dingin dan berbau alkohol asam itu mengenai pipi kiri Tania, meninggalkan bekas basah sebelum akhirnya jatuh ke atas tikar.

Suasana pos ronda seketika hening mencekam. Doni dan Jono langsung menahan napas mereka.

Tania masih tetap mengacuhkannya. Dia mengambil tisu kering dari sakunya, menyeka pipinya yang basah dengan gerakan yang sangat lambat, tanpa ada kilat kemarahan di matanya. Hanya ada kekosongan yang dingin. Namun, ketenangan Tania yang abnormal justru memicu kegilaan wanita itu. Wanita itu bangkit berdiri, berteriak histeris, dan mencoba menerjang Tania untuk mencakar wajahnya. Pertengkaran satu pihak pun terjadi, memicu sorak-sorai riuh dari beberapa pemuda yang mengira ini adalah tontonan menarik. Tania tidak membalas sama sekali, dia hanya menghindar dengan gerakan mikro yang efisien, menahan diri agar tidak mematahkan pergelangan tangan wanita itu.

"Cukup! Sialan, amanin dia!" Rangga berteriak murka, suaranya menggelegar memotong keributan.

Rangga dengan kasar menarik tubuh wanita centil itu menjauh, lalu mendorongnya ke arah Doni. "Don! Bawa dia pergi dari sini! Jangan sampai aku hilang kendali!"

Tanpa menunggu jawaban temannya, Rangga langsung mencengkeram pergelangan tangan Tania dengan lembut namun erat, menarik wanita itu keluar dari area pos ronda yang kacau, meninggalkan kerumunan pemuda yang masih berbisik-bisik.

Mereka berhenti di bawah bayangan pohon mangga tua yang sepi, beberapa puluh meter dari pos ronda. Napas Rangga memburu pelan, wajah rupawannya dipenuhi oleh rasa frustrasi, penyesalan, dan kemarahan yang bercampur aduk di dalam dadanya.

"Neng... aku... aku bener-bener minta maaf lagi," kata Rangga, suaranya bergetar menahan luapan emosi kelam. Dia menatap Tania dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. "Ini udah kedua kalinya, Neng kamu diginiin. Setiap kali tak bawa kamu nongkrong, pasti selalu ada keributan kayak gini. Aku mikir... ini semua pasti karena kamu dekat-dekat sama aku. Sifat bajinganku dan cewek-cewek di sekitarku malah bikin hidupmu yang tenang jadi berantakan. Aku beneran minta maaf..."

Tania menatap tangan Rangga yang masih memegangi pergelangan tangannya, lalu perlahan menarik tangannya kembali. Dia menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang kaku namun pasti.

"Tidak perlu khawatir. Ini bukan salahmu," ucap Tania, suaranya terdengar pelan, rendah, dan dingin menembus angin malam. "Saya menyukai aktivitas nongkrong ini. Dan jika boleh jujur... saya mengakui jika mungkin karena kehadiran diri saya di sini, atmosfer tongkrongan kalian jadi panas dan kacau. Saya yang membawa hawa buruk."

Tania menjeda kalimatnya sesaat, sepasang mata kelamnya menatap lurus ke arah jalanan gang yang gelap menuju kontrakannya. "Besok... saya tidak akan datang lagi ke pos ronda. Cukup sampai di sini."

Rangga tersentak, dadanya terasa nyeri mendengar keputusan dingin itu. "Neng, tapi bukan berarti kamu gak boleh—"

"Saya ingin pulang sendiri malam ini," potong Tania, suaranya datar namun mengunci semua bantahan Rangga. "Kamu... tetaplah di sana. Kembali nongkrong bersama teman-temanmu. Jangan ikuti saya."

Tania membalikkan tubuhnya, melangkah perlahan meninggalkan bayangan pohon mangga tersebut, berjalan sendirian menembus kegelapan gang kumuh yang sunyi. Punggung kurusnya tampak begitu tegak, dingin, dan diliputi kesendirian yang pekat.

Rangga tidak berani melangkah maju. Dia tetap berdiri di tempatnya, membiarkan sepasang mata sipitnya terus memperhatikan sosok Tania dari kejauhan, menatap punggung itu hingga akhirnya menghilang sepenuhnya di balik tikungan gang menuju kontrakan hijaunya.

Di bawah siraman cahaya lampu jalan yang suram, Rangga mencengkeram kedua tangannya kuat-kuat. Rasa menyesal yang teramat sangat merayap gila-gilaan di dalam jiwanya. Dia merasa seperti seorang pecundang yang tidak bisa melindungi satu-satunya wanita yang telah mengulurkan tangan paling tulus untuk menyelamatkan hidup ayahnya.

...

Sementara itu, di belahan bumi bagian utara yang kian jauh, kabut tebal malam hari membungkus bandara militer Incheon saat roda pesawat jet pribadi yang membawa Kapten Herry mulai bergerak naik membelah langit malam, bersiap menempuh perjalanan ribuan mil menuju Jakarta.

Di dalam kabin yang temaram, pikiran Herry benar-benar campur aduk oleh kegelapan dan obsesi yang tidak bisa dia bicarakan pada siapa pun.

...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!