Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datangnya Penagih Arisan
Tok
Tok
Tok
Pintu rumah kontrakan Dimas diketuk dari luar, siapa pagi‑pagi begini sudah bertamu. Dimas dan Sintia masih tidur di kamarnya, sementara itu ibu Sundari sudah bangun karena dia ingin merebus air untuk membuat teh manis.
Dengan malas ibu Sundari berjalan ke arah pintu depan untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.
Cekleeeekkk
Suara pintu dibuka dengan suara khasnya. Mata ibu Sundari membola saat tahu siapa yang datang.
Bu Rt, bu Ida?.Seru ibu Sundari kaget.
Iya ini kami bu, maaf ya kalau kedatangan kami mendadak dan masih pagi begini. Apa kami tidak disuruh masuk dulu bu?.Seru ibu Rt dengan sopan.
Mau apa kalian datang ke sini? Tidak ada masuk‑masuk rumah, jika ada perlu langsung bicara saja.Ucap ibu Sundari malah berkata dengan ketus.
Oh begitu, ya sudah sini bayar uang arisan mu. Sudah 2 bulan kamu tidak bayar arisan sama kita, boro‑boro mau bayar arisan nongolin wajah saja tidak. Oh iya arisan kamu itu masih 8 lagi, cepat sini bayar !! Kamu sudah dapat ya jadi jangan pura‑pura lupa.Ucap ibu Ida tak kalah ketus saat bicara.
Gglleekk
Ibu Sundari kesusahan menelan salivanya sendiri. Dia sampai melupakan arisan Rt di tempat tinggalnya yang dulu, dan masih 8 kali lagi. Uang dari mana dia untuk membayarkan arisan itu, dia juga kembali teringat jika besok lusa juga jadwal arisan dengan teman sosialitanya dan acaranya bertepatan di rumahnya.
Besok lusa aku ada arisan dengan teman sosialitaku. Aduh bagaimana ini? Masa iya aku mau arisan di rumah ini, biasanya di cafe tapi kali ini mereka ingin di adakan di rumah. Bisa gawat kalau mereka tahu aku sudah miskin dan tinggal di kontrakan sempit begini.Gumam ibu Sundari dengan wajah kebingungan.
Heehhh bu, kok diam saja? Mana uang arisannya jangan pura‑pura lupa ya bu.Ucap ibu Ida dengan sedikit meninggikan suaranya.
Jangan teriak‑teriak dong, kalian mau aku usir? Uangnya belum ada, nanti kalau sudah ada pasti akan aku bayar. Sudah sana kalian pulang. Aku masih sibuk.Ucap ibu Sundari mengusir kedua tamunya.
Sebenarnya uang arisan itu sudah dibayar Hana lunas menggunakan uang ganti rugi dari Bayu. Namun kedua ibu itu ingin memberikan pelajaran ibu Sundari arti sebuah tanggung jawab, Hana pun tahu soal ini dan Hana memang yang menyuruhnya.
Mendengar suara ribut‑ribut, Sintia dan Dimas keluar dari kamar dengan rambut acak‑acakan dan baju yang tidak sopan. Sintia hanya memakai pakaian dalam yang super tipis sampai bagian dalamnya sampai terlihat.
Ada apa sih ini ribut‑ribut, Bu?.Tanya Dimas dengan kesal karena olahraga paginya dengan Sintia terganggu padahal belum sama‑sama puas. Bisa dilihat wajah Sintia terlihat manyun dengan bibir bisa diikat dengan karet gelang.
Ya ampun Sintia !! Kamu tidak malu keluar hanya dengan baju seperti itu, lihatlah hutan berawa‑rawa dan gunungmu terlihat begitu.Seru ibu Ida sambil menggeleng.
Isshh suka‑suka aku dong. Ini loh rumah kami, kalian saja yang datang dan mengganggu aktifitas kami. Ada apa sih? Pagi‑pagi bertamu dan sudah heboh.Ucap Sintia tanpa tahu malu.
Urat malunya memang sudah tidak ada lagi, meskipun di tempat tinggalnya sendiri rasanya tidak sopan juga memakai baju seperti itu untuk di luar kamar. Ibu Rt dan ibu Ida pun mengusap dadanya.
Kami datang ke sini untuk menagih uang arisan ibu Sundari yang sudah menunggak 2 bulan. Tapi ibu mu ini bukannya bayar malah marah‑marah, ibu ini sudah dapat loh arisannya jadi mau tidak mau ya harus bayar.Ucap Ibu Rt memberitahu Dimas.
Aku tidak mau bayar ! Lagian aku juga sudah bukan warga komplek sana juga, jadi jangan tagih‑tagih uang arisan lagi. Sudah sana pergi !!.Seru ibu Sundari mengusir kedua tamunya dengan ketus.
Aarrgghhh...
Dimas mengacak rambutnya dengan kesal, uang dan uang terus yang saat ini jadi masalah. Uang dari mana lagi untuk membayar arisan ibunya.
Kami belum ada uangnya, nanti kalau sudah ada uangnya pasti kami bayar bu. Nanti Dimas yang antarkan ke rumah ibu, jadi sekarang lebih baik ibu pulang saja.Ucap Dimas mencoba mengalah dan berjanji untuk membayar uang arisan ibunya. Tidak tahu uang dari mana yang penting dua ibu itu pulang dari kontrakannya.
Awas kalau sampai bohong, ingat 2 bulan. Total nya 600 ribu.Ucap ibu Ida mengingatkan lagi.
Tidak menunggu lama, ibu Rt dan ibu Ida pun pulang. Setelah mereka pergi, Sintia menarik Dimas masuk kamar lagi dan melanjutkan permainan yang sempat tertunda.
Aldo mencoba mengambil hati Farhan, kakak dari Hana. Hari ini, dia datang ke rumah Farhan untuk meminta izin Farhan untuk mendekati Hana. Jauh‑jauh Aldo dari kota dan menempuh perjalanan 5 jam demi bertemu dengan Farhan.
Assalamualaikum.Ucap Aldo sambil berdiri di depan pintu rumah Farhan yang memang terbuka lebar.
Waalaikumsalam.Jawab Farhan dari dalam.
Farhan pun keluar untuk melihat tamu yang datang.
Loh Aldo? Kok kamu bisa sampai sini?.Tanya Farhan dengan wajah kebingungan.
Aldo dan Farhan memang sudah saling mengenal, dulu saat Hana masih kuliah Farhan sering ke kota untuk berkunjung ke kontrakan Hana. Dan Farhan juga sempat dikenalkan dengan Vera dan Aldo, dan mereka juga beberapa kali pernah bertemu.
Iya kak, lagi ada kerjaan di sekitar sini. Aldo ingat kak Farhan tinggal di kampung ini ya sekalian mampir.Jawab Aldo asal saja padahal dia itu sedang berbohong.
Ya sudah yuk masuk, kita ngobrol di dalam saja. Maaf ya rumahnya berantakan dan pasti tidak semewah rumah kamu di kota.Ucap Farhan cukup merendah diri. Padahal rumah Farhan sudah bagus dan besar, di kampung itu rumah Farhan paling besar dan bagus tapi dia selalu merendah.
Kini mereka sudah duduk di ruang tamu, dua cangkir kopi hitam panas sudah ada di atas meja dan akan menemani obrolan mereka. Rumah Farhan nampak sepi, Murni dan anaknya sedang ke pasar berbelanja.
Kok sepi amat Kak?.Tanya Aldo mulai berbasa‑basi.
Iya sepi, Do. Anak dan istri baru saja berangkat ke pasar, mau nambah anak lagi biar ramai tapi belum dikasih lagi.Jawab Farhan sedikit bercanda.
Usaha terus kak, pasti nanti juga dapat kok.Ucap Aldo mengikuti alur pembicaraan Farhan.
Kalau itu sudah pasti, Do. Kamu ini, kapan dulu naik ke pelaminan. Jangan kebanyakan pilih‑pilih loh, nanti kehabisan bisa jadi perjaka tua kamu.Seru Farhan membuat Aldo tertawa.
Sebenarnya sudah pengen juga sih kak naik pelaminan, tapi yang perempuannya masih susah untuk didapatkan. Bagi tips nya dong kak supaya bisa menaklukkan wanita, sudah bertahun‑tahun aku menunggu dia kak tapi sampai sekarang aku belum berani mengungkapkan perasaanku. Sampai aku keduluan orang lain dan dia menjadi istri pria lain.Ucap Aldo dengan wajah nampak sedih.
Farhan menyimak perkataan Aldo dengan serius. Dari ucapan Aldo barusan, dia bisa mengambil kesimpulan jika Aldo mencintai istri orang.
Kamu mencintai istri orang? Wahh tidak bener ini Do, kamu tidak boleh jadi perusak dan perusak rumah tangga orang. Nanti kamu bisa kualat, Do.Seru Farhan mengingatkan Aldo.
Tidak kak, dia bukan istri orang lagi. Wanita itu sudah resmi bercerai, dan mereka bercerai bukan gara‑gara aku tapi karena suaminya yang selingkuh Kak. Kak Farhan pasti tahu siapa wanita yang aku maksud.Ucap Aldo serius.
Hana?.Tanya Farhan langsung tertuju dengan nama adiknya sendiri.
Aldo menganggukkan kepalanya, tujuannya datang memang untuk meminta izin Farhan agar dia diperbolehkan untuk mendekati Hana. Jadi Aldo sudah tidak mau berbasa‑basi lagi.
Iya kak, wanita itu Hana. Jujur aku sudah menaruh hati sejak kami masih berkuliah, namun saat itu aku dan Hana bersahabat baik meskipun sampai sekarang kami juga bersahabat baik. Saat itu aku takut Hana menolakku dan persahabatan kami akan merenggang. Ternyata rasa ini masih ada sampai sekarang kak, dan aku datang ke sini sebenarnya ada tujuannya kak. Aku ingin meminta izin kak Farhan agar mengizinkan aku untuk mendekati dan mempersunting Hana.Ucap Aldo bicara dengan serius.
Ini pertamanya Aldo membicarakan hal serius soal wanita, jantungnya saat ini berdegup cukup kencang.
Kamu serius?.Tanya Farhan.
Aku serius kak.Jawab Aldo menyakinkan.
Kamu tahu kan statusnya Hana itu seorang janda. Bahkan dia juga bercerai belum ada 1 bulan, masa iddahnya pun belum selesai.Seru Farhan lagi.
Kali ini dia harus selektif memilih calon suami untuk Hana, tidak memandang kaya atau miskin. Yang terpenting pria itu bisa menerima status Hana dan bisa menjadi imam yang baik untuk Hana. Farhan tidak mau kejadian rumah tangga Hana dan Dimas akan terulang lagi, cukup sekali saja Hana merasakan gagal berumah tangga.
Aku tidak mempermasalahkan status Hana kak, aku bisa menunggu Hana sampai iddahnya selesai. Aku hanya ingin kak Farhan memberikan aku izin, seban izin kak Farhan itu sangat berarti untuk Aldo.Ucap Aldo jujur.
Aldo, kamu itu pria yang baik dan kakak yakin kamu bisa menjadi imam dan suami yang baik untuk Hana. Kakak hanya bisa memberikan izin tapi untuk keputusan Hana menerima kamu atau tidaknya itu semua ada sama Hana. Keputusan ada sama Hana.Ucap Farhan memberikan izin dan merestui Aldo mendekati Hana.
Alhamdulillah, terima kasih kak.Ucap Aldo sangat senang sekali mendapatkan lampu hijau dari Farhan.
Bismillah, setelah mendapatkan izin dari kak Farhan semoga aku semakin berani untuk mengutarakan perasaanku ini. Apapun jawaban Hana nanti aku sudah siap.Gumam Aldo dalam batinnya.