Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENJARA BUMI DAN DARAH DI KUARSA
GONGGG!
Suara dengungan gong perunggu raksasa belum sepenuhnya pudar ketika Gao sang Pembantai menghentakkan kakinya. Detik itu juga, gelombang Qi elemen logam yang tajam dan dingin merebak ke seluruh penjuru arena kuarsa putih. Udara di sekitar Zei mendadak berbau karat yang menyengat, disusul oleh tekanan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat beberapa penonton di barisan depan merinding. Gao menyeringai kejam, sepasang kapak logam raksasa di tangannya mulai memancarkan pendaran cahaya kelabu yang siap mencabik mangsanya.
Tanpa memberikan peringatan, Gao melesat maju. Tubuhnya yang besar bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukurannya, didorong oleh letupan energi logam di bawah tumitnya. Kapak raksasanya terayun horizontal, membelah udara dengan suara mendesing yang mengerikan.
Zei yang belum sepenuhnya pulih secara fisik segera memasang kuda-kuda rendah. Ia memanggil Qi tanahnya secara instan, memicu pola Sisik Naga di bawah lapisan jubah rami cokelatnya yang telah robek.
BUMMM!
Mata kapak Gao menghantam lengan kiri Zei yang digunakan untuk menangkis. Benturan keras itu menghasilkan suara dentingan seperti dua bongkah besi raksasa yang saling beradu. Namun, kekuatan Gao berada di tingkat yang jauh berbeda dari Lin Feng. Momentum tajam dari kapak logam itu begitu berat hingga membuat kedua kaki Zei melesak beberapa inci ke dalam panggung kuarsa yang keras. Pakaian rami di lengannya hancur berkeping-keping, dan garis darah segar mulai merembes dari kulit Zei akibat luka gores elemen logam yang tajam.
Zei meringis menahan sakit, tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah. Penonton di stadion langsung bersorak riuh, mengira sang petani desa akan segera berakhir menjadi tumpukan daging cincang di bawah kapak Gao.
"Hanya segini kemampuanmu, Tikus Sawah?!" raung Gao, kembali mengangkat kedua kapaknya ke udara untuk melepaskan tebasan vertikal yang fatal. "Mati kau!"
Melihat maut yang datang dari atas kepalanya, Zei tidak panik. Di tengah detak jantungnya yang berpacu cepat, wejangan Tetua Gu di halaman belakang kedai semalam mendadak bergema dengan sangat jernih di dalam benaknya. Logam berasal dari bumi, maka bumi harus bisa menyerap dan mengendalikannya. Jangan gunakan tanah hanya sebagai perisai statis tubuhmu. Gunakan bumi sebagai penjara senjata mereka.
Zei menarik napas dalam-dalam. Kali ini, ia tidak memusatkan Qi tanahnya ke lengan untuk bertahan. Sebaliknya, ia mengalirkan seluruh sisa energi dalam dari dantiannya, memompanya lurus ke bawah melalui telapak kaki kanan, lalu menyebarkannya secara ekstrem ke dalam panggung kuarsa tepat di bawah posisi berdiri Gao melalui teknik Bumi Bergeser.
Tepat saat kedua kapak Gao hampir menyentuh dahi Zei, panggung kuarsa padat di sekitar kaki Gao mendadak melunak, berubah wujud menjadi cair dan pekat seperti lumpur hisap dalam sekejap mata. Kedua kaki Gao yang sedang menumpu seluruh berat badannya langsung amblas masuk sedalam lutut ke dalam jebakan tersebut.
"Apa?!" Gao terpekik kaget saat merasakan keseimbangannya hilang secara mendadak.
Belum sempat Gao menarik kakinya, Zei menyentakkan kaki kirinya ke panggung. Lumpur kuarsa yang tadinya cair langsung mengeras kembali dalam hitungan detik, berubah menjadi semen batu yang mencengkeram erat kaki Gao hingga tak bisa digerakkan seujung rambut pun. Momentum tebasan kapak raksasa Gao mendadak terserap habis oleh getaran tanah, membuat arah serangannya meleset dan menghantam ruang kosong di samping telinga Zei.
"Sekarang giliran bumi yang mengunci logammu," desis Zei dengan mata berkilat tajam.
Dengan posisi Gao yang terkunci rapat di atas tanah, Zei langsung merangsek masuk ke dalam jarak dekat yang sangat intim. Gao yang menyadari bahaya mengancam segera mengaktifkan mekanisme pertahanan zirahnya; puluhan duri logam tajam mencuat dari pelindung dadanya, siap menusuk tubuh Zei jika ia nekat mendekat.
Namun, Zei sudah mengantisipasinya. Sembari melangkah maju, ia menggunakan tangan kanannya untuk menyapu serpihan batu kuarsa yang hancur di lantai arena, melapisinya dengan Qi tanah tingkat tinggi hingga serpihan batu itu membentuk sarung tangan kuarsa yang bergerigi tajam di atas kepalan tinjunya.
Menggunakan prinsip dasar dari gerakan Membajak Bumi yang dimodifikasi menjadi pukulan lurus jarak pendek, Zei menghantamkan tinju kuarsanya tepat ke arah titik sambungan zirah logam di bagian ulu hati Gao.
PRAKKK!
Zirah logam tebal milik Gao yang terkenal tak tertembus seketika retak dan hancur berkeping-keping di bawah hantaman murni energi bumi yang masif. Pukulan beruntun Zei tidak berhenti di situ; ia melepaskan hantaman kedua yang bersarang telak di dada Gao, menghantarkan gelombang kejut yang merusak aliran meridian logam di dalam tubuh sang petarung bayaran.
HOEKKK!
Gao memuntahkan seteguk darah hitam yang kental. Sepasang kapak raksasanya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di atas kuarsa sebelum tubuh besarnya berlutut tak berdaya di hadapan Zei. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi karena seluruh energi dalamnya telah dikunci oleh Qi tanah Zei yang masih tertanam di kakinya.
Wasit turnamen melangkah maju dengan wajah yang dipenuhi rasa tidak percaya yang semakin menjadi-jadi. Setelah memastikan Gao tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan, ia mengayunkan tangannya. "Pemenang... Zei dari Desa Danau Keruh!"
Stadion kembali gempar oleh suara gemuruh kepanikan penonton. Dua kali berturut-turut, seorang pemuda rami tanpa latar belakang sekte berhasil menumbangkan petarung-petarung tangguh kota dengan cara yang sangat brutal dan tak terduga.
Zei menurunkan tangannya, membiarkan lapisan kuarsa di tinjunya luruh kembali menjadi debu. Sebelum Gao benar-benar kehilangan kesadarannya dan ambruk ke lantai, petarung bayaran itu mendongak, menatap Zei dengan kombinasi rasa ngeri sekaligus hormat yang mendalam.
"Kau... kau sangat kuat, Petani," bisik Gao dengan suara serak yang terputus-putus. "Tapi... berhati-hatilah. Sekte Taring Besi... tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari kota ini hidup-hidup setelah kau merusak taruhan mereka..." Setelah mengucapkan kalimat itu, mata Gao berputar ke atas dan ia jatuh pingsan sepenuhnya.
Zei berdiri tegak di tengah panggung, mengabaikan sorak-sorai yang bergemuruh. Ia perlahan mendongak ke arah tribun VIP yang berada di atas awan. Di sana, di sebelah tempat duduk Qian Yue’er yang kini menatapnya dengan ekspresi yang sangat serius, berdiri seorang pria paruh baya berjubah abu-abu mewah dengan sulaman sepasang taring emas di pundaknya.
Itu adalah Master Sekte Taring Besi. Pria itu menatap lurus ke arah Zei dengan sepasang mata yang memancarkan aura membunuh yang sangat pekat dan dingin, seolah bersiap untuk meremukkan Zei dengan tangannya sendiri. Zei mengepalkan tinjunya erat-erat; ia menyadari bahwa kemenangan spektakuler ini tidak hanya membawanya selangkah lebih dekat ke langit, melainkan juga baru saja menarik perhatian monster sejati yang siap menelan langkahnya di bumi kota.