Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Ketegangan di Taman Tivoli
Di salah satu sudut Taman Tivoli Garden, seorang wanita duduk sendirian. Ia mengenakan pakaian santai—blouse sederhana dipadukan dengan celana jeans panjang dan sepatu boots hitam. Rambut panjangnya tergerai, menari ditiup angin sore. Di tangannya, ia memegang segelas kopi yang mulai mendingin.
Talia berkali-kali memeriksa ponselnya. Ia memastikan waktu dan tempat pertemuan sudah sesuai dengan pesan yang ia terima.
"Katanya pebisnis besar, tapi terlambat tiga puluh menit," gumamnya dengan nada kesal.
Rasa tidak sabar mulai menguasainya. Ia merapikan pakaiannya, lalu bangkit dari tempat duduk. Namun langkahnya terhenti saat pandangannya tertuju pada seorang pria bertubuh tinggi dan tegap yang berjalan ke arahnya.
Pria itu mengenakan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Langkahnya percaya diri, seperti model di atas catwalk. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sepatu yang dikenakannya beradu dengan lantai, menciptakan irama yang terdengar tegas. Setelan jas hitamnya tampak mencolok di antara pepohonan taman.
Tak sedikit wanita yang memperhatikan setiap langkahnya.
Hingga akhirnya, pria itu berhenti tepat di hadapan Talia yang masih terpaku.
“Maaf, aku sedikit terlambat,” ucapnya santai
"Terlambat tiga puluh menit itu bukan 'sedikit', Tuan Ethan," balas Talia tajam sambil melipat tangan di dada. "Apakah ini cara Taylor Group menghargai waktu?"
“Apa kau datang tepat waktu, Nona?”
“Tentu saja.”
“Ternyata kau sangat bersemangat.”
“Apa? Hah, maaf ya, Tuan. Ini bukan soal semangat, tapi soal menghargai waktu.”
Ethan menatap Talia dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kenapa kau masih di sini jika sangat menghargai waktu? Bukankah seharusnya kau sudah pergi sejak tadi?"
“Itu...”
Talia terdiam sejenak, mencari alasan. Sebelum ia sempat menjawab, Ethan melangkah mendekat dan berbisik di dekat telinganya, "Jujur saja itu karena kau sebenarnya sangat menantikan pertemuan ini."
Talia refleks menjauh, menyadari bahwa interaksi mereka kini menjadi pusat perhatian. Ethan memang sosok yang sangat dikenal publik, sementara Talia selalu dijaga ketat privasinya oleh keluarga Smith karena latar belakang mereka.
"Kenapa kau harus berpakaian seformal ini?" tanya Talia, melihat beberapa orang mulai mengambil foto.
"Sengaja. Agar rumor tentang kita semakin kuat," jawab Ethan acuh tak acuh. "Bukankah kau ingin membicarakan pembatalan perjanjian itu? Aku punya cara sendiri untuk menanganinya."
Talia menghela napas. “Aku tidak menyangka ternyata kau sangat kekanak-kanakan.”
“Apa kamu bilang?” Ethan mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
Talia mundur, namun tangan Ethan dengan cepat menahan pinggangnya. Terdengar suara histeris dari orang-orang yang melihat adegan itu.
Talia mendorong dada Ethan agar menjauh.
“Hati-hati bicara, Nona. Kau belum mengenalku. Aku tidak segan menyingkirkan siapa pun yang mengusikku—baik laki-laki maupun perempuan. Jadi, jaga ucapanmu.”
“Kalau kau ingin dihargai, maka hargai orang lain juga.”
“Berapa?”
“Apanya?”
“Nilaimu.”
Talia langsung mencengkeram kerah jas Ethan.
“Kau—”
Namun kalimatnya terhenti. Tanpa diduga, Ethan menarik wajah Talia mendekat dan mencium bibirnya.
Sekitar mereka langsung dipenuhi teriakan histeris.
Talia kaget dan spontan menggigit bibir Ethan. Namun pria itu tidak segera melepaskannya. Ia tetap mempertahankan ciuman itu hingga Talia berhenti melawan.
Ketika akhirnya mereka terpisah, bibir Talia tampak sedikit bengkak, sementara bibir Ethan berdarah akibat gigitannya.
Ethan mengusap darah di bibirnya, lalu dengan santai menyentuh bibir Talia menggunakan ibu jarinya. Namun Talia segera menepis tangannya
Talia menghela napas, merasa Ethan bersikap sangat manipulatif. Namun, sebelum ia bisa memprotes lebih jauh, Ethan meraih tangannya dan menariknya dalam jarak yang sangat dekat, seolah-olah mereka adalah pasangan yang sedang dilanda asmara. Tindakan spontan itu memicu reaksi riuh dari orang-orang di sekitar.
"Jangan pernah meremehkanku, Talia. Aku tidak suka rencana-rencanaku diganggu oleh siapa pun," ucap Ethan dengan nada rendah yang mengintimidasi.
Suasana semakin tegang saat Ethan menunjukkan sikap posesifnya di depan umum, menciptakan gambaran yang tak terbantahkan bagi siapa pun yang melihat. Talia mencoba melepaskan diri, namun Ethan tetap mempertahankan posisinya sampai ia merasa pesan peringatannya sudah tersampaikan.
"Rumor ini sudah menyebar. Rencanamu untuk membatalkan perjanjian sepihak tidak akan semudah itu," tambah Ethan saat mereka akhirnya menjaga jarak kembali.
Talia mengepalkan tangan, merasa telah masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Ethan. Dengan perasaan kesal, ia berbalik untuk meninggalkan pria itu. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan—
"Aah!" Talia memekik sambil memegangi bagian dahinya.
Ethan segera menghampirinya dengan raut wajah yang berubah drastis menjadi waspada. "Ada apa?"
"Seseorang... seseorang melemparku dengan batu," jawab Talia dengan nada panik.
Ethan langsung menyapu pandangan ke sekeliling taman dengan tajam, mencari pelaku di balik serangan tiba-tiba itu. Namun, di tengah keramaian pengunjung, sosok tersebut tidak terlihat, meninggalkan tanda tanya besar tentang siapa yang berani menyerang Talia di bawah pengawasannya.