Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU PERTAMA
Selang beberapa hari setelah festival dewa kucing yang meriah, Pagi ini Tsukimori terasa sangat tenang, benar benar suasana pedesaan .
Keiko sudah membuka semua jendela rumah, Udara pegunungan yang sejuk segera mengalir masuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Keiko menggulung lengan bajunya, menjemur selimut dan berjalan menuju halaman samping.
Saat menata selimut pada jemuran batang bambu, pandangannya tertuju pada mangkuk tanah liat di dekat sumur. Mangkuk itu sudah kosong.
"Jadi dia datang lagi semalam," bisiknya
Keiko mengambil gayung kayu dan mengisi kembali mangkuk itu hingga hampir penuh.
Menjelang makan pagi, Setelah mandi dan bersiap, Keiko mengambil tas kain belanja milik neneknya dan berjalan menuju toko kelontong di ujung desa untuk membeli persediaan makanan.
Tring
Saat pintu toko didorong, bel berbunyi nyaring. Pria paruh baya pemilik toko—orang yang sama yang melayaninya kemarin—sedang menyusun minuman di rak pendingin.
"Oh, Keiko-chan. Selamat siang."
"Selamat siang, Paman."
Pria itu melirik tas belanja di tangan Keiko. "Mau masak apa hari ini?"
"Hanya membeli seperlunya saja paman, aku hanya tinggal sendiri" jawab Keiko
Paman penjual mengangguk setuju sambil menyusun barang barangnya ke etalase, Keiko mulai memilih tahu, daun bawang, dan miso. Namun, langkahnya terhenti di depan kotak pendingin berisi ikan segar.
"Ikannya segar baru masuk keiko-chan..."
Keiko ikut tersenyum. "Iya paman,, aku akan membeli beberapa buat stok... aku harus memancing dia dengan ikan panggang."
Pria itu tertawa. "Oh? Siapa?"
Keiko terdiam sesaat, baru sadar dengan apa yang ia ucapkan. Ia tertawa kikuk sambil menggaruk pipi. "Ah... bukan siapa-siapa...hahaha"
Paman ikut terkekeh. Ia membungkus dua ekor ikan segar untuk Keiko. Saat ia sedang mengikat bungkusan, suara warga yang mengobrol di luar toko terdengar jelas.
"Jangan lupa nanti malam."
"Iya, setelah lonceng pertama. Lentera juga sudah dipasang."
Keiko menoleh ke arah pintu, lalu menatap pemilik toko.
"Paman, malam ini ada acara?"
"Oh itu, Malam purnama. Di kuil ada ritual kecil seperti biasa. Tidak sebesar festival kemarin, hanya warga desa yang datang."
Keiko mengangguk pelan, teringat papan pengumuman yang pernah ia lihat.
"Kalau orang luar datang... boleh?"
"Tentu saja boleh. Kalau penasaran, datang saja. Tidak ada aturan khusus."
"Baik, terima kasih," ucap Keiko sambil pamit.
Begitu keluar, beberapa warga menggantung lentera kecil dan anak-anak berlarian membawa pita warna-warni. Keiko berjalan santai menikmati pemandangan itu, hingga langkahnya tiba-tiba membeku.
Di ujung jalan menuju tangga kuil dewa kucing, seseorang berjalan jauh didepannya. Kimono hitam, rambut panjang yang diikat rendah, dan postur tubuh tinggi yang familiar.
Napas Keiko tercekat. "Itu..Pria itu..Pria yang sama yang ia temui di tangga kuil.."
Keiko menatapnya sekali lagi, takut itu hanyalah ilusi dari pikirannya sendiri. Namun sosok itu nyata. Ia menggenggam erat tali tas belanjanya.
"Permisi..." ucapnya pelan. Tidak ada reaksi.
Keiko mempercepat langkah, suaranya sedikit lebih keras. "Maaf... tunggu..."
Tepat saat jarak mereka tersisa beberapa meter, sebuah mobil pengangkut hasil panen melintas perlahan, menutupi pandangan Keiko. Ia berhenti sejenak memberi jalan. Begitu mobil itu lewat,
Kosong.
Keiko berdiri mematung, jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Ke mana perginya?"
Keiko mengembuskan napas panjang. Ia mencoba mencari penjelasan paling logis, meski jauh di lubuk hatinya, ada firasat ganjil yang menolak tenang. "Sudahlah."
Selang beberapa menit, ia sudah tiba di rumah, Keiko meletakkan kantong belanjaannya di meja dapur, lalu mulai menata isinya ke dalam lemari pendingin satu per satu.
setelah ia menyeduh teh, keiko duduk bersila di lantai kayu beranda samping rumah, matanya menatap sekitar halaman rumah rumah neneknya, tiba-tiba
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu depan memecah lamunannya. Keiko beranjak dengan sigap. "Iya, Sebentar!"
Begitu pintu digeser, seorang pria berdiri di sana sambil menenteng kantong kertas cokelat. Usianya mungkin tak jauh beda dengannya. Rambut hitamnya yang pendek tampak sedikit berantakan tertiup angin. Wajahnya ramah, senyumnya tipis, dan ia mengenakan kaus lengan panjang dengan celana jins yang sedikit berdebu—seolah baru saja selesai bekerja.
"Halo .. Maaf mengganggu," pria itu menyodorkan kantong kertas di tangannya. "Ada yang tertinggal."
Keiko mengerjap, bingung. "Ketinggalan?"
"Iya," pria itu mengintip ke dalam kantong. "Botol kecap dan garam dapur."
Keiko langsung menepuk dahinya. Astaga, aku benar-benar lupa mengambilnya saat membayar. Wajahnya terasa panas karena malu. "Ya ampun, sumimasen (maafkan saya)."
Pria itu terkekeh. "Ayah sudah menduga. Katanya, 'Keiko-san pasti lupa sesuatu '."
Keiko tertawa kecil, rasa canggung mulai luruh. "Jangan-jangan seluruh penduduk desa sudah menganggapku pelupa."
"Belum kok," pria itu menggeleng jenaka. "Baru ayah saja."
Keiko ikut tertawa. Suasana yang semula kaku perlahan mencair. Ia menerima kantong belanja itu dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak, merepotkan sekali."
"Nggak, kok," pria itu menunjuk ke arah jalan di samping rumah. "Rumahku cuma dua rumah dari sini."
"Oh, begitu..." Pantas saja. Keiko menyadari bahwa sejak pindah ke Tsukimori, ia bahkan belum mengenal tetangganya sendiri.
Pria itu mengulurkan tangan dengan senyum tulus. "Aku Kyo."
Keiko menyambut uluran itu dengan sopan.
"Keiko. Senang bertemu denganmu."
"Aku juga."
Hening sejenak. Namun, keheningan itu kini terasa nyaman. Kyo melirik halaman rumah yang tampak jauh lebih terawat dibanding hari-hari sebelumnya. "Kamu membersihkan ini semua sendirian?"
"Iya kemarin, meskipun masih banyak yang harus dibereskan,"
"oh ya keiko, Kalau butuh bantuan untuk atap yang bocor, bilang saja ya."
"Nanti malah merepotkanmu."
"Di desa ini, saling membantu itu sudah biasa," sahut Kyo ringan, seolah ia baru saja membicarakan rutinitas paling lumrah di dunia.
Sebelum Keiko sempat menanggapi, embusan angin sore kembali menyapa. Kyo tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke atas pagar bambu. "Hm?"
Keiko ikut menoleh. Di sana, seekor kucing abu-abu sedang duduk tenang, menatap mereka tajam dengan sepasang mata keemasan yang dingin. Tak jelas sejak kapan ia berada di sana.
Kyo tersenyum kecil. "Sepertinya kamu sudah punya tamu tetap."
Keiko mendesah pelan. "Jangan dibahas. Dia baru saja mencakar aku kemarin."
Kyo terkekeh pelan. "Kalau yang itu... memang agak galak."
Keiko melirik ke arah pagar, memperhatikan kucing itu lekat-lekat. "Dia sering datang ke sini?"
"Kadang ia menghilang Cukup lama" sahut Kyo sambil ikut memandang kucing abu-abu itu.
"Entah punya siapa. Dari dulu, dia memang punya kebiasaan berkeliaran di sekitar Rumah-rumah tua yang kosong."
Keiko mengangkat alisnya. "Pantas, dia seperti menjaga tempat kekuasaan nya,, mungkin rumah nenek sudah lama kosong dia jadi penasaran tiba-tiba ada aku disini "
"Ya kau benar,," Kyo tersenyum tipis. "Dan warga desa, belum pernah sekali pun aku mendengar dia mengeong."
"Masa?" Keiko tampak tak percaya.
"Iya. Makanya, anak-anak di sini menjulukinya 'kucing bisu'."
Keiko terkekeh geli kembali menatap si kucing.
"Hahah...Setahu ku kucing yang galak justru biasanya lebih berisik."
Beberapa saat kemudian, kucing itu melompat turun dari pagar. Tanpa menoleh lagi, ia melenggang santai menuju rumpun bambu di samping rumah, lalu sosoknya lenyap begitu saja ditelan bayang-bayang dedaunan.
"Berarti semua warga di sini mengenalnya?"
"Hampir semua. Anak-anak sering mencoba mengajaknya bermain, tapi dia selalu menghindar" Kyo mengangkat bahu ringan. "kucing introvert plus plus"
Keduanya tertawa kecil. Baru kali ini Keiko merasa benar-benar bisa mengobrol santai sejak tiba di Tsukimori. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu.
"Oh iya, tadi ayahmu bilang malam ini ada ritual bulan purnama di kuil, ya?"
Kyo mengangguk. "Iya, memang rutin diadakan setiap bulan purnama."
"Apakah seramai festival kemarin?"
Kyo menggeleng. "Jauh berbeda. Festival kemarin itu acara tahunan, sedangkan ritual bulan purnama jauh lebih sederhana. Biasanya warga hanya berkumpul, berdoa, lalu menyalakan lentera sebelum masing-masing pulang ke rumah."
Keiko mengangguk, membayangkan suasananya dalam kepala.
"Kalau kamu mau, Gimana kalau kita berangkat bersama?"
"Eh... tidak merepotkan?"
"Justru lebih enak. Aku memang selalu datang ke sana, dan rumahmu juga searah."
Keiko terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lega. "Kalau begitu... baiklah. Arigatou kyo-san"
Kyo mengibaskan tangan sambil terkekeh. "Iie (tidak masalah) Kalau begitu, nanti sekitar setengah jam sebelum lonceng pertama berbunyi, aku akan mampir ke sini. Jangan sampai lupa lagi, ya."
Keiko tertawa malu. "baiklah ..."
Kyo melambaikan tangan sebelum melangkah turun dari beranda. "Konnichiwa (selamat siang)."
"Konnichiwa," balas Keiko sambil terus memperhatikan punggung pria itu hingga menghilang di tikungan jalan.
Keiko merasa rumah tua peninggalan neneknya tidak lagi terasa sesepi dulu. Setidaknya, sekarang ia mengenal seseorang yang bisa diajak berbincang tanpa rasa canggung yang menyiksa.