Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Penyatuan Darah
Setelah memasuki kamarnya, Arthur langsung menutup pintu dengan pelan. Langkahnya berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke halaman kastil. Tatapan merah gelapnya menerobos kegelapan malam, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan di luar. Rahangnya mengeras. Haruskah dia melakukan ritual itu? Haruskah dia benar-benar melukai Sonja demi memenuhi tradisi kuno kaum vampir?
Seumur hidupnya, Arthur tidak pernah peduli pada aturan siapa pun. Namun, kali ini berbeda. Yang dipertaruhkan bukan dirinya, melainkan wanita yang paling ingin ia lindungi. Dia mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
Di belakangnya, Sonja memperhatikan punggung sang suami dalam diam. Wajah dingin Arthur memang nyaris tidak pernah menunjukkan apa pun, tetapi entah mengapa ia selalu mampu merasakan setiap kegelisahan pria itu.
Sonja mengembuskan napas pelan, lalu melangkah mendekat."Arthur." Suara lembut itu membuat Arthur menoleh. Sonja berdiri tepat di hadapannya dengan senyum tipis yang menenangkan."Aku siap melakukan ritual itu."
Arthur membeku. Sepasang matanya membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Melakukan ritual penyatuan darah denganmu," lanjut Sonja mantap.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Arthur masih menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh keterkejutan."Kau mengetahui tentang ritual itu?"
Sonja menganggukkan kepala."Alea menjelaskan semuanya padaku."
Arthur mengembuskan napas pelan, tetapi keterkejutannya belum juga hilang.
"Pernikahan kita baru benar-benar diakui oleh seluruh kaum vampir setelah ritual penyatuan darah dilakukan." Sonja tersenyum kecil. "Saat ini, di mata mereka, aku belum sepenuhnya menjadi pasanganmu, bukan?"
Arthur mengalihkan pandangan. Dadanya terasa semakin sesak. Beberapa saat yang lalu ia begitu marah ketika Damian mengingatkannya mengenai ritual penyatuan darah. Bahkan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, emosinya hampir meledak. Namun Sonja justru mengucapkan semuanya dengan begitu tenang. Terlalu tenang.
Hal itu membuat Arthur semakin gelisah. Apakah gadis itu benar-benar memahami arti ritual tersebut? Atau Alea belum menjelaskan semuanya?
Arthur kembali menatap Sonja."Apa kau benar-benar tahu arti penyatuan darah?"
"Tentu saja."
"Jelaskan padaku."
Sonja tersenyum tipis."Alea mengatakan, setelah ritual itu kita akan terikat sepenuhnya sebagai suami istri. Darahku akan menjadi milikmu, dan ikatan kita tidak bisa diputuskan begitu saja."
Arthur memejamkan mata sesaat."Itu belum semuanya."
Sonja terdiam.
Arthur melanjutkan dengan suara rendah."Ritual itu bukan sekadar meminum darah. Itu adalah ikatan seumur hidup. Aku akan meninggalkan tandaku padamu dan mulai saat itu kau akan benar-benar menjadi milikku."
Sonja tidak bergeming sedikit pun. Dia justru mengangguk pelan."Aku tahu." Ucapan singkat itu membuat Arthur kembali terdiam.
Sonja mengingat percakapannya dengan Alea. Wanita vampir itu bahkan mengatakan kemungkinan besar Arthur sengaja mempercepat pernikahan mereka agar bisa segera meminum darahnya. Alea juga memberinya pilihan. Tetap bertahan dan mungkin hanya menjadi manusia yang dimanfaatkan, atau pergi sebelum semuanya terlambat. Namun sejak awal, Sonja sudah menentukan jawabannya.
Dia memilih Arthur.
Apa pun alasannya, apa pun resikonya. Dia tidak peduli jika pada akhirnya dirinya hanya dimanfaatkan. Perasaannya kepada pria dingin itu sudah terlalu dalam untuk diingkari.
Arthur menatap Sonja lekat-lekat."Kau tidak takut?"
"Tidak."
"Sedikit pun?"
Sonja menggeleng."Aku percaya padamu."
Empat kata sederhana itu terasa jauh lebih tajam daripada sebilah pedang. Arthur menahan napas. Kepercayaan sebesar itu justru membuatnya semakin takut menyakiti wanita di hadapannya. Dengan langkah perlahan, Arthur mendekati Sonja hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Tatapan merah gelapnya mengunci kedua mata Sonja. Kini, wanita itu sedang menawarkan darahnya dengan sukarela.
Bukan karena terpaksa.
Bukan karena diancam.
Melainkan karena kepercayaannya.
Arthur mengangkat satu tangan, lalu mengusap lembut pipi Sonja."Masih ada waktu." Suaranya terdengar berat."Tolak aku dan aku akan berhenti."
Sonja menatap wajah tampan suaminya tanpa ragu sedikit pun.
Arthur memang menginginkan ritual itu selesai. Namun jika Sonja berubah pikiran sekarang juga, ia rela mengabaikan seluruh aturan kaum vampir. Persetan dengan tradisi. Persetan dengan pengakuan para tetua. Selama Sonja tetap berada di sisinya, itu sudah lebih dari cukup.
Sonja menggenggam tangan Arthur yang berada di pipinya."Lakukan."
Arthur masih diam.
"Aku tidak keberatan."
Tatapan mereka saling bertaut dalam keheningan yang panjang.
Akhirnya Arthur menutup mata sejenak, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang dimilikinya. Saat kembali membukanya, sorot mata merahnya dipenuhi tekad sekaligus rasa bersalah."Kau yang meminta, Sonja."
***
Ethan masih berdiri mematung di halaman kastil, menatap langit malam yang perlahan berubah kelam. Awan hitam bergulung-gulung menutupi cahaya bulan, disusul suara gemuruh yang menggetarkan angkasa. Angin dingin berembus semakin kencang, membuat ujung mantel hitamnya berkibar liar. Sepertinya malam ini hujan akan turun.
Namun perhatian Ethan sama sekali tidak tertuju pada cuaca. Tatapan matanya tiba-tiba menajam. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Dia merasakannya.
Gadis itu...
Jantungnya berdegup semakin cepat. Ikatan darah yang selama ini terjalin dengan Sonja tiba-tiba bergetar hebat. Ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu. Sesuatu yang membuat nalurinya sebagai vampir terusik."Sonja," gumamnya lirih.
Di saat yang sama, Ana yang sejak tadi mengejar kakaknya akhirnya berhasil mendekat.
"Kak, aku tidak percaya dengan apa yang sudah kau lakukan pada Ayah," ucap Ana dengan napas masih memburu. Matanya dipenuhi kekecewaan. "Bagaimanapun juga dia ayahmu. Kenapa kau tega melakukan semua ini padanya? Apa kau benar-benar sudah tidak memiliki hati lagi?"
Tidak ada jawaban. Ethan tetap membelakanginya, seolah tidak mendengar satu kata pun.
Ana mengernyit bingung."Apa yang terjadi?"
Perlahan tubuh Ethan menegang. Aura hitam yang pekat mulai menguar dari seluruh tubuhnya, membuat udara di sekitar mereka terasa jauh lebih dingin. Mata Ethan yang semula kelam perlahan berubah menjadi merah menyala, berkilat mengerikan seperti bara api di tengah kegelapan.
Ana refleks mundur selangkah. Jantungnya berdebar tidak karuan. Belum pernah ia melihat kakaknya memancarkan aura sekelam ini.
"Kak?" panggil Ana pelan, kali ini suaranya dipenuhi kegelisahan. Dengan hati-hati ia mengulurkan tangan, berniat menyentuh bahu Ethan. Namun baru saja ujung jarinya menyentuh kain mantel sang kakak.
"Pergi." Suara Ethan terdengar rendah, dingin, dan dipenuhi tekanan yang mengerikan.
Ana membeku."A,aku hanya khawatir..."
"Aku bilang pergi."
Tanpa menoleh sedikit pun, Ethan menepis tangan Ana dengan kasar hingga tubuh gadis itu hampir kehilangan keseimbangan. Ana memegang pergelangan tangannya yang terasa nyeri. Matanya membelalak menatap punggung Ethan.
"Kak..."
"Pergi atau aku akan meremukkan tubuhmu." Setiap kata yang keluar dari mulut Ethan terdengar seperti ancaman nyata, bukan sekadar emosi sesaat.
Aura membunuh yang memancar darinya semakin kuat hingga membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan. Angin berputar liar di sekeliling Ethan, sementara petir menyambar langit, menerangi sepasang mata merah darah yang kini dipenuhi amarah dan kegelisahan.
Ethan tahu. Sesuatu sedang terjadi pada Sonja. Dan siapa pun yang berani menyentuh gadis itu akan menerima kemurkaannya.