NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Ketenangan yang Tidak Lama

Perjalanan pulang dari Pasar Lama terasa lebih tenang dibandingkan saat berangkat tadi. Tidak ada lagi tatapan takut dari warga yang lewat, malah banyak yang melambaikan tangan atau memberi senyum kecil sebagai tanda terima kasih. Namun, meskipun suasana di luar sudah terasa damai, pikiran Kael masih terasa dipenuhi satu pertanyaan yang tidak mau hilang.

Kenapa Roderick berani bertindak seberani itu?

Dulu dia hanyalah pemimpin kelompok kecil yang hanya menguasai satu gang sempit di ujung barat kota — jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang, dan mereka selalu berhati-hati agar tidak melanggar batas wilayah kelompok lain. Dalam waktu singkat, dia bisa mengumpulkan tiga puluh orang dan memiliki keberanian untuk menantang Malaikat Hitam secara terbuka. Hal itu tidak terasa seperti kebetulan semata.

Sesampainya di depan pintu pabrik tua, mereka mendengar suara dengkuran halus yang sudah sangat akrab. Begitu pintu didorong terbuka, terlihat pemandangan yang sama persis seperti saat mereka pergi tadi: Arda masih terbaring di atas tumpukan karungnya, selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya menyisakan sebagian rambut yang terlihat di atas bantal goni.

Bau mi yang dimasak Mikhael tadi masih tercium samar, sudah mulai dingin dan sedikit mengental karena didiamkan terlalu lama.

"Lihat dia," gumam Bastian sambil tertawa kecil. "Berangkat dan pulang, posisinya tidak berubah satu sentimeter pun. Seolah dia tahu kita pasti bisa menyelesaikannya tanpa perlu dia angkat jari."

Mereka berjalan masuk, lalu menutup kembali pintu besi itu dengan bunyi berderit yang cukup keras. Namun, suara itu sama sekali tidak mengganggu Arda — dia hanya mengerutkan dahi sebentar, lalu memutar posisi tubuhnya sedikit saja, sebelum kembali terlelap.

Mikhael segera berjalan ke sudut dapur darurat, mengangkat panci besi yang sudah agak dingin, lalu mencium isinya sambil mengerutkan hidung.

"Hmm, sudah agak dingin dan lembek," katanya sambil mengaduknya dengan sendok kayu. "Tapi masih bisa dimakan. Nanti aku panaskan sebentar di atas api. Lebih baik daripada tidak ada makanan sama sekali."

Niko duduk di kursi kayu yang sudah goyah, lalu mengeluarkan selembar kertas dan pensil dari saku jaketnya. Dia mulai mencatat beberapa hal dengan gerakan tangan yang teratur.

"Kita sudah selesaikan masalahnya untuk hari ini," katanya sambil terus menulis. "Tapi kita tidak bisa lengah begitu saja. Roderick sudah malu dan marah besar. Orang yang terobsesi pada kekuasaan dan harga diri tidak akan diam saja begitu saja setelah dikalahkan secara terbuka."

Kael duduk di tempatnya yang biasa, meletakkan kedua siku di atas meja papan, lalu menopang dagunya dengan telapak tangan. Matanya menatap kosong ke arah api yang mulai dinyalakan kembali oleh Mikhael.

"Aku juga berpikir begitu," jawabnya perlahan. "Yang membuatku heran bukan hanya dia berani menyerang, tapi bagaimana dia bisa berkembang secepat itu. Dua bulan yang lalu, dia masih meminta izin kalau ingin lewat wilayah kita. Sekarang dia berani menguasai pasar utama. Ada sesuatu yang tidak beres di sini."

Bastian yang baru saja melepas jaketnya dan mulai mengelap keringat mendengus pelan.

"Mungkin dia hanya merasa sudah cukup kuat karena mengumpulkan banyak orang," katanya sambil duduk bersila di lantai. "Atau mungkin dia hanya terlalu sombong dan tidak berpikir panjang. Banyak orang yang berbuat bodoh hanya karena merasa dirinya hebat."

"Atau mungkin dia didorong oleh seseorang di belakang layar," sela Niko pelan, matanya masih tertuju pada tulisannya. "Kalau ada yang memberinya dukungan — entah itu uang, senjata, atau janji kekuasaan yang lebih besar — maka dia akan merasa tidak takut menghadapi kita."

Mendengar kata itu, suasana di ruangan itu menjadi sedikit lebih hening. Mereka semua tahu bahwa di Kota Veyra, di balik setiap kelompok yang tiba-tiba bangkit dan kuat, sering kali ada tangan yang tidak terlihat yang menggerakkannya.

"Kita tidak punya bukti apa pun sekarang," kata Kael memecah keheningan. "Jadi kita tidak bisa langsung menuduh. Tapi mulai hari ini, kita harus lebih waspada. Niko, minta Lio dan anak-anak pengintai lain untuk mengawasi pergerakan Elang Berdarah. Lihat ke mana mereka pergi, siapa yang mereka temui, dan dari mana mereka mendapatkan uang untuk memberi makan dan membayar anak buahnya."

"Siap," jawab Niko sambil mengangguk. "Aku akan beritahu mereka sore ini juga."

Pembicaraan mereka terhenti ketika suara gerakan terdengar dari arah sudut ruangan. Arda akhirnya membuka matanya perlahan, mengedipkan mata berkali-kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya, lalu menguap lebar sampai bahunya terangkat. Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, lalu menoleh ke arah keempat sahabatnya dengan tatapan yang masih sayu.

"Sudah pulang?" tanyanya dengan suara yang masih serak karena baru bangun. "Lama sekali. Aku hampir lupa apakah kalian benar-benar pergi atau hanya bercanda."

Bastian tertawa keras mendengarnya. "Kita baru saja menyelesaikan pertarungan melawan lebih dari tiga puluh orang, dan kamu malah mengira kita bercanda? Tenang saja, semuanya beres. Tidak ada yang terluka parah, dan kita tidak perlu mengganggu tidurmu hari ini."

Mendengar itu, raut wajah Arda langsung terlihat lebih lega. Dia menarik napas panjang, lalu menghela napas dengan perasaan puas.

"Baguslah," katanya sambil duduk bersandar pada tumpukan karung di belakangnya. "Kalau begitu aku bisa tidur lagi sampai makanan siap. Jangan lupa bangunkan aku kalau mi sudah panas dan siap dimakan."

Dia mulai menutup matanya lagi, tapi suara Kael membuatnya berhenti sejenak.

"Arda..."

"Hmm?" jawabnya tanpa membuka mata.

"Kalau nanti masalah ini membesar dan menjadi lebih rumit — sampai kita benar-benar tidak sanggup menanganinya sendiri — kamu akan turun tangan, bukan?"

Arda membuka matanya sedikit, menatap Kael dengan pandangan yang terlihat malas tapi juga mengandung keseriusan halus. Dia menggaruk bagian belakang lehernya yang terasa gatal, lalu mengangkat bahu santai.

"Seperti yang sudah aku katakan tadi pagi," jawabnya pelan dan lambat. "Kalau kalian sudah benar-benar terjebak, tidak ada jalan keluar, dan nyawa kalian terancam... baru panggil aku. Tapi ingat — jangan panggil aku hanya karena ada sedikit kesulitan atau karena ingin menang dengan mudah. Mengeluarkan tenaga itu melelahkan, dan nanti aku butuh tidur lebih lama untuk memulihkannya."

Dia kembali memejamkan matanya, lalu menambahkan lagi dengan nada yang lebih rendah.

"Selama kalian bisa mengatasinya dengan kepala dan tenaga sendiri, selesaikan saja. Itu lebih baik untuk kalian, dan lebih baik untuk aku juga."

Keempat sahabatnya hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Sudah menjadi sifat Arda — dia tidak pernah menolak untuk membantu, tapi dia akan selalu membuat alasan seolah-olah itu adalah beban yang sangat berat untuknya. Namun, mereka semua tahu, di balik kemalasannya itu, dia tidak akan pernah membiarkan salah satu dari mereka terluka atau terancam bahaya yang nyata.

Beberapa saat kemudian, api di tungku mulai memanaskan kembali panci berisi mi. Aroma bawang dan bumbu mulai tercium lagi, menyebar ke seluruh ruangan dan mengusir bau debu serta kayu lapuk yang biasanya ada. Suara mendidih yang lembut terdengar, dan suasana kembali menjadi santai seperti hari-hari biasanya.

Mikhael membagikan makanan ke dalam piring-piring seng, lalu meletakkannya di atas meja papan. Begitu aroma makanan itu tercium jelas, Arda yang tadi sudah hampir terlelap kembali langsung membuka matanya sepenuhnya. Gerakannya yang tadi lambat dan malas, kini berubah sedikit lebih cepat saat dia melompat turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati meja.

"Sudah siap?" tanyanya sambil duduk dan segera mengambil piringnya sendiri.

"Sudah, sudah," jawab Mikhael sambil tertawa. "Bau makanan saja yang bisa membuatmu bergerak cepat. Kalau ada yang bisa membangkitkan semangatmu, itu pasti perut yang kosong."

Mereka pun duduk mengelilingi meja, mulai makan dengan tenang. Suara sendok beradu dengan piring, sesekali diselingi candaan dan keluhan ringan. Bahkan Bastian yang biasanya masih terasa emosian setelah bertarung, kini sudah terlihat santai sambil mengunyah makanannya.

Namun, di tengah suasana yang terasa damai itu, di tempat yang agak jauh dari pusat kota, sebuah pertemuan lain sedang berlangsung.

Di sebuah ruangan gelap yang terletak di dalam bangunan tua di pinggiran Dermaga Utara, cahaya hanya berasal dari satu lampu minyak yang tergantung di langit-langit. Di tengah ruangan itu, duduklah Roderick yang masih terlihat lemas dan memar di beberapa bagian wajahnya. Jas putihnya sudah kotor dan robek di beberapa tempat, membuatnya terlihat jauh berbeda dari sosok yang angkuh tadi pagi.

Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh sedang, mengenakan jubah gelap yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, wajahnya tertutup bayangan sehingga tidak terlihat jelas. Suaranya terdengar datar, dingin, dan tidak ada nada emosi sama sekali.

"Kamu gagal," kata pria itu dengan nada yang terasa seperti menyatakan fakta belaka, bukan mengeluh.

Roderick menunduk dalam, rasa takut mulai menyelimuti hatinya lebih hebat daripada rasa malu yang dia rasakan saat dikalahkan tadi. Dia menggenggam kedua tangannya di atas lutut, suaranya terdengar bergetar.

"Mereka... mereka lebih kuat dari yang aku duga. Hanya empat orang saja, tapi mereka mengalahkan tiga puluh anak buahku dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Cara mereka bertarung bukan seperti orang jalanan biasa..."

Pria berjubah itu hanya diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Memang sudah diperkirakan. Malaikat Hitam tidak memiliki nama itu hanya karena omongan kosong. Tapi tidak apa-apa. Kegagalanmu hari ini masih bisa dimanfaatkan."

Roderick mengangkat kepalanya sedikit, terlihat bingung. "Dimanfaatkan? Maksud Tuan?"

"Kekalahanmu akan membuatmu merasa lebih sakit, lebih marah, dan lebih ingin membalas dendam," jawab pria itu perlahan. "Perasaan itu yang akan membuatmu lebih berani, lebih kejam, dan lebih berguna bagi rencana kita. Jangan khawatir, dukungan yang aku janjikan tidak akan hilang. Malah, mulai besok, kamu akan mendapatkan lebih banyak orang dan peralatan yang lebih baik — asalkan kamu mau mengikuti arahanku dengan lebih taat."

Mata Roderick langsung menyala kembali. Rasa malu dan sakit hatinya perlahan tergantikan oleh rasa ingin membalas yang semakin membara. Dia mengepalkan tangannya, sampai kuku-kukunya menekan telapak tangannya sendiri.

"Aku akan membalasnya, Tuan," katanya dengan suara yang lebih mantap. "Aku akan membuat mereka menyesal pernah menginjakkan kaki di hadapanku. Aku akan menghancurkan Malaikat Hitam sampai tidak tersisa satu pun namanya di kota ini!"

Pria berjubah itu hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak terlihat oleh Roderick. Dia melangkah mundur menuju pintu, lalu berhenti sejenak sebelum berbicara lagi.

"Bagus. Persiapkan dirimu. Ini baru permulaan saja. Pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai nanti, dan saat itu tiba, Malaikat Hitam akan menghadapi musuh yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada sekadar kelompok kecil seperti mereka."

Begitu pintu tertutup kembali, Roderick duduk sendirian di dalam kegelapan, matanya memancarkan kilatan kebencian dan ambisi yang tidak lagi terhalang rasa takut. Dia tidak sadar bahwa dia hanyalah bidak kecil yang sedang digerakkan oleh tangan yang lebih besar — bidak yang akan terus didorong maju sampai tidak berguna lagi, atau sampai hancur di tengah jalan.

Sementara itu, di pabrik tua yang jauh lebih tenang, Arda sudah menghabiskan dua piring mi dan sekarang sedang duduk bersandar lagi sambil mengupas segenggam kacang tanah. Dia mendengarkan candaan sahabatnya dengan tatapan setengah terpejam, merasa bahwa hari ini sudah berjalan cukup baik — tidak ada masalah besar, perut kenyang, dan dia masih punya banyak waktu untuk tidur sore nanti.

Dia belum tahu, dan mungkin masih enggan untuk percaya, bahwa ketenangan yang dia nikmati hari ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sesungguhnya mulai bergerak mendekat.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!