NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Rama dan Cerita Air Terjun

Suara angin pagi berhembus pelan di sekitar kandang kuda, membawa aroma jerami dan tanah basah yang khas. Liora masih berdiri di dekat Jack, tangannya perlahan mengelus leher kuda hitam itu yang tampak begitu tenang dan menikmati perhatian yang diberikan. Alex berdiri di sisi lain, sesekali bercerita tentang betapa cepatnya Jack berlari saat ia masih bisa menungganginya dulu.

"Jack suka sekali kalau diajak lari," ujar Alex dengan mata berbinar. "Kalau Alex bersiul, Jack langsung lari ke arah Alex. Dia sangat pintar, Liora."

Liora tersenyum mendengar semangat Alex. Ia mulai merasakan bahwa berada di dekat hewan-hewan ini memberinya ketenangan yang tidak ia rasakan sejak tiba di desa ini.

Namun, obrolan mereka terhenti ketika terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari belakang. Langkah itu berat tetapi tidak tergesa-gesa, disertai bunyi tongkat yang sesekali mengetuk tanah.

Liora menoleh. Seorang pria tua berjalan mendekati mereka. Rambutnya sudah memutih, tetapi wajahnya masih terlihat tegap dan matanya masih tajam. Kulitnya cokelat dan keriput karena paparan sinar matahari bertahun-tahun di peternakan. Ia mengenakan baju lengan panjang berwarna cokelat tua dan celana kain tebal, dengan sebuah topi petani lusuh di kepalanya.

Pria tua itu berhenti di dekat pagar kandang dan tersenyum lebar saat melihat Alex.

"Selamat pagi, Tuan Alex!" sapa pria itu dengan suara berat namun ramah.

Alex langsung berbalik. Begitu melihat siapa yang datang, wajahnya berseri-seri. Ia berlari kecil mendekati pagar dan melambaikan tangannya dengan penuh semangat.

"Rama! Rama datang!" teriak Alex dengan gembira.

Liora mengamati interaksi mereka. Alex memanggil pria tua itu dengan sebutan "Rama"—sebuah panggilan yang menunjukkan rasa hormat dan keakraban. Jelas bahwa pria ini bukan orang asing bagi Alex.

Pria tua itu, Rama, berjalan mendekat dan mengelus rambut Alex dengan penuh kasih sayang, seperti seorang kakek yang menyambut cucunya.

"Halo, Tuan Alex. Sehat hari ini?" tanya Rama.

"Alex sehat!" jawab Alex ceria. "Rama, ini Liora! Istri Alex!"

Rama mengalihkan pandangannya kepada Liora. Matanya meneliti wajah Liora dengan tatapan yang hangat, tidak ada sedikit pun rasa curiga atau penilaian. Ia lalu mengulurkan tangannya yang kasar namun bersih.

"Selamat pagi, Nona. Saya Rama. Saya yang mengurus dan merawat seluruh peternakan di sini—mulai dari sapi, kuda, hingga kebun-kebun di sekitar. Saya sudah bekerja untuk keluarga Theodore sejak zaman ayahnya Tuan Alexander. Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya di sini."

Liora menerima uluran tangan Rama dan menjabatnya dengan sopan. "Selamat pagi, Pak Rama. Saya Liora. Senang berkenalan dengan Anda. Saya baru tiba di sini kemarin, jadi saya masih sangat buta dengan lingkungan sekitar."

Rama tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang sudah mulai keropos. "Tidak apa, Nona. Ini adalah tempat yang tenang. Anda akan terbiasa perlahan-lahan. Dan jangan sungkan bertanya kepada saya jika ada hal yang ingin Anda ketahui. Saya tahu hampir semua hal tentang desa ini dan peternakan ini."

Alex yang tidak ingin ketinggalan obrolan, segera menyela. "Rama! Liora suka sama Jack! Jack juga suka sama Liora!"

Rama tertawa kecil, suaranya bergema di sekitar kandang. "Jack memang kuda yang pintar, Tuan Alex. Dia bisa merasakan siapa orang yang baik hati. Jadi, kalau Jack sudah suka, berarti Nona Liora memang orang yang baik."

Liora tersipu mendengar pujian itu. Ia lalu memanfaatkan kesempatan untuk bertanya lebih banyak. "Pak Rama, di sini selain peternakan ayam dan kuda, ada apa lagi ya? Saya melihat ada kebun-kebun di sekitar sini juga."

Rama mengangguk. "Benar, Nona. Di belakang kandang ini, ada perkebunan sayuran. Kami menanam jagung, kacang panjang, tomat, dan cabai. Itu semua dikelola langsung oleh saya dan anak buah saya. Hasilnya kadang kami kirim ke rumah utama Theodore di kota. Tapi sebagian besar kami simpan untuk konsumsi di desa. Dan ada juga beberapa pohon buah-buahan di dekat sungai kecil yang mengalir di belakang perkebunan."

Mendengar kata "sungai", mata Liora berbinar. "Ada sungai di sini, Pak Rama?"

Rama mengangguk lagi. "Ada, Nona. Tidak jauh dari sini, sekitar lima belas menit berjalan kaki ke arah timur. Sungainya cukup kecil, tetapi airnya sangat jernih. Bahkan, di bagian hulu sungai itu, ada sebuah air terjun yang sangat indah. Airnya jatuh dari tebing batu setinggi sekitar empat meter, dan di bawahnya terbentuk kolam alami yang sangat jernih."

Liora menarik napas pelan. Sebuah air terjun. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di desa terpencil ini ada tempat yang begitu indah. "Air terjun itu milik keluarga Theodore juga, Pak Rama?"

"Tepat, Nona. Seluruh lahan di sekitar sungai dan air terjun itu adalah milik keluarga Theodore. Tetapi tempat itu jarang sekali dikunjungi oleh keluarga besar. Mungkin karena letaknya yang agak jauh dan harus melewati sedikit area hutan."

Alex, yang mendengar percakapan mereka, langsung bersemangat. Matanya membulat, dan ia melompat-lompat kecil di tempat. "Air terjun! Alex mau lihat air terjun! Liora, ayo kita pergi ke air terjun! Alex belum pernah ke sana!"

Liora menatap Alex, lalu menatap Rama. Ia sendiri sebenarnya sangat ingin melihat air terjun itu. Namun, sebelum ia bisa menjawab, Rama menggelengkan kepalanya perlahan.

"Maaf, Tuan Alex. Saya tidak menyarankan Anda dan Nona Liora pergi ke sana sekarang," kata Rama dengan nada tegas namun tetap ramah.

Alex mengerutkan kening. "Kenapa, Rama? Alex ingin melihat air terjun!"

Rama menghela napas. "Wilayah itu lumayan masuk ke dalam hutan, Tuan Alex. Jalannya masih berbatu dan banyak akar pohon yang menonjol. Jika Anda pergi sendiri tanpa pendamping yang mengenal jalan, Anda bisa tersesat atau terluka. Apalagi sekarang cuaca mulai memasuki musim penghujan, tanah di sekitar hutan bisa menjadi licin."

Alex tampak kecewa. Ia menunduk, memainkan ujung bajunya dengan tangan.

Rama menyadari kekecewaan Alex. Ia kemudian menepuk pundak Alex dengan lembut. "Tetapi, Tuan Alex, jika Nona Liora ingin melihatnya, saya bisa mengantar kalian berdua di lain waktu, saat cuaca lebih cerah dan saya sedang tidak ada pekerjaan. Bagaimana, ya?"

Alex mengangkat wajahnya, dan senyum kembali muncul di wajahnya. "Benar, Rama? Rama mau antar Alex dan Liora?"

"Iya, Tuan Alex. Saya janji," jawab Rama dengan tulus.

Liora tersenyum mendengar percakapan mereka. Ia merasa Rama bukan sekadar pekerja biasa. Orang tua itu sangat peduli pada Alex, dan Liora merasa bersyukur ada sosok seperti Rama yang merawat Alex selama ini.

"Terima kasih, Pak Rama. Nanti jika sudah siap, kami akan mengabari Anda," ucap Liora.

Rama mengangguk. "Baik, Nona. Saya akan menunggu kabar dari Anda."

Alex kemudian menguap lebar, tanpa sengaja. Sudah hampir siang, dan matahari mulai terasa lebih panas. Liora melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul sebelas. Mereka sudah cukup lama berada di luar rumah.

"Alex, sepertinya kita sudah cukup lama di sini. Lebih baik kita pulang, sebelum matahari semakin terik. Nanti kita bisa main lagi dengan Jack," kata Liora lembut.

Alex mengangguk setuju. "Iya, Liora. Alex mau minum susu coklat lagi."

Liora tertawa kecil. "Baiklah, nanti aku buatkan susu coklat lagi."

Mereka berpamitan pada Rama. Alex melambaikan tangannya pada Jack, dan Jack menjawab dengan meringkik pelan.

"Dadah, Jack! Dadah, Rama! Besok Alex datang lagi!" teriak Alex.

Rama tersenyum dan melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan, Tuan Alex, Nona Liora. Sampai jumpa."

Liora dan Alex berjalan pulang melewati jalan setapak yang sama. Angin siang mulai berhembus hangat, dan suara jangkrik mulai bergantian dengan suara burung. Liora menatap punggung Alex yang berjalan di depannya dengan langkah ringan. Pria itu tampak begitu bahagia hanya dengan melihat kuda kesayangannya.

Saat mereka tiba di rumah, Liora membuka pintu dapur. Udara sejuk di dalam rumah langsung menyambut mereka.

Liora masuk, dan seperti yang dijanjikan, ia segera menyiapkan segelas susu coklat hangat untuk Alex. Alex duduk di kursi ruang tamu dengan wajah puas, menatap halaman luar yang masih dipenuhi cahaya matahari.

Di dalam hati Liora, perlahan-lahan mulai tumbuh rasa ingin tahu yang lebih besar. Air terjun di hutan. Sebuah tempat yang mungkin menyimpan banyak cerita tentang keluarga Theodore. Dan tentang Alex.

Tapi untuk hari ini, ia hanya ingin menikmati waktu bersama suaminya yang istimewa itu.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!