Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 | BIMBANG
Keheningan di area industri itu terasa begitu berat, hanya suara desis uap dari mesin mobil yang rusak yang memecah kesunyian. Masker Elara sudah tergeletak di tanah, membiarkan wajahnya terpapar sepenuhnya di bawah cahaya bulan. Dante tidak lagi menatapnya dengan tatapan meremehkan kini, matanya gelap, seolah sedang membedah setiap inci pertahanan diri Elara.
" Wanita normal tidak menembak dengan presisi seorang pembunuh elit, Elara," suara Dante memecah kesunyian, dingin dan menusuk. " Siapa kau sebenarnya? CIA? Interpol? Atau sekadar tikus kecil yang berani bermain di sarang singa?"
Elara merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia memaksakan ekspresi datarnya. "Aku hanya wanita yang tahu bagaimana caranya bertahan hidup. Sesuatu yang jelas tidak diajarkan di dunia glamormu."
Dante terkekeh, langkahnya mendekat, tidak mempedulikan moncong pistol yang masih diarahkan tepat ke dadanya. "Kau tahu, aku seharusnya mencabut nyawamu sekarang. Kau tahu namaku, kau tahu wajahku, dan kau baru saja membantai anak buahku. Secara teknis, kau adalah ancaman."
"Maka lakukanlah," tantang Elara, suaranya sedingin es. " Tarik Pelatuknya sebelum aku yang melakukannya."
Dante berhenti tepat di depan Elara. Jarak mereka begitu dekat hingga Elara bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. Dante perlahan mengulurkan tangannya, bukan untuk menyerang, melainkan untuk menyentuh pipi Elara dengan ibu jarinya. Sentuhan itu terasa seperti api yang menjalar ke kulit Elara.
" Bunuh kau? Sayang, itu terlalu membosankan," bisik Dante, suaranya merendah hingga menjadi geraman serak di telinga Elara. "Kau adalah misteri yang ingin kupecahkan. Bagaimana kalau kau masuk ke dalam duniaku? Menjadi bagian dari kerajaan ini sebagai milikku."
Elara menatap Dante dengan tatapan tidak percaya. "Kau gila. Kau pikir aku akan mengkhianati nuraniku hanya karena tawaran pria psikopat sepertimu?"
Dante menarik pistol dari tangan Elara dengan gerakan yang begitu cepat hingga Elara bahkan tidak sempat berkedip. Kini, Dante memegang pistol itu dan mengarahkannya kembali ke dahi Elara, sementara tangan lainnya merengkuh tengkuk Elara memaksa gadis itu menatap matanya.
" Nurani? Jangan lucu," Dante tersenyum sinis, senyum yang membuat Elara merasa terperangkap dalam jaring laba-laba. "Kau menembak tiga orang tanpa ragu sedikitpun tadi. Kau bukan pahlawan, Elara. Kau hanyalah predator yang tersesat di balik topeng gadis baik-baik."
Dante mendekatkan wajahnya bibirnya hampir menyentuh bibir Elara. "Aku tahu siapa kau. Aku tahu kau sedang memata-mataiku. Dan jujur saja aku menikmati permainan ini."
Elara membelalak. Dia tahu? Sejak kapan?
"Kalau kau tahu, kenapa kau belum membunuhku?"
Dante melepaskan pistol itu, membiarkannya jatuh ke tanah dengan dentuman keras. Ia menangkup wajah Elara, menatapnya dengan intensitas yang membuat lutut Elara terasa lemas.
"Karena aku ingin kau melihat sendiri bagaimana duniamu akan hancur oleh tanganku, sementara kau berada tepat di sampingku," bisik Dante posesif. "Kau tidak punya pilihan, Elara. Hari ini, kau bukan lagi agen. Hari ini, kau adalah properti berharga milik Dante Moretti."
Elara terdiam. Ia baru saja menyadari bahwa ia bukan sedang menghadapi musuh yang bisa dikalahkan dengan senjata, melainkan seseorang yang ingin merusak jiwanya dari dalam. Dante tidak hanya ingin menangkapnya Dante ingin memiliki seluruh keberadaan Elara.
Suara tembakan itu menggelegar, memecah kesunyian malam yang mencekam. Elara tersungkur ke tanah, tangannya mendekap erat luka di perutnya. Darah segar merembes cepat, menodai gaun mahalnya menjadi merah pekat.
Dante membeku Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia melihat Elara jatuh, melihat matanya yang biasanya tajam dan menantang kini meredup karena menahan sakit.
"Bos ! Saya sudah membersihkannya. Wanita ini terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup," suara Vito terdengar dingin, asap masih mengepul dari laras Pistolnya.
Dalam hitungan detik, dunia Dante seolah berhenti berputar. Tatapannya beralih pada Vito, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun anak buahnya itu melihat kematian nyata di mata sang pemimpin.
Dante bergerak secepat kilat, mencengkeram leher Vito dan membantingnya ke kap mobil hingga penyok. " Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhnya, Sialan?!" raung Dante. Suaranya bukan sekadar marah, itu adalah suara binatang buas yang terluka.
Vito terbatuk, wajahnya membiru. "Dia dia akan membunuh Anda, Bos,"
"Dan aku lebih suka mati di tangannya daripada melihatnya terluka!" Dante melempar tubuh Vito seperti boneka kain, lalu ia berbalik, berlari menuju Elara yang tersungkur di atas aspal yang dingin.
Dante berlutut di sampingnya, kepanikannya tidak bisa disembunyikan. Ia merobek kain kemejanya untuk menekan luka Elara, namun tangan gadis itu menepisnya dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
"Jangan sentuh aku, Monster," bisik Elara lemah, suaranya parau namun penuh kebencian.
" Diam," perintah Dante, suaranya bergetar. "Vito, ambilkan kotak medis di mobil sekarang, atau aku akan memastikan kau tidak melihat matahari terbit besok!"
Sirine polisi mulai terdengar di kejauhan, membelah malam. Situasi semakin kacau. Di tengah kepanikan anak buahnya yang bergegas membereskan tempat kejadian, Dante tidak melepaskan pandangannya dari Elara. Ia merasa dunianya yang selama ini beku, tiba-tiba runtuh. Perasaan asing yang sudah ia kubur dalam-dalam sebuah kekhawatiran yang menyesakkan kembali menyeruak.
"Vito! Mana kotaknya?!" Dante berteriak lagi.
"Bos, polisi semakin dekat! Kita harus pergi sekarang!" teriak Vito dari jarak yang aman.
Dante meraih tubuh Elara hendak menggendongnya, namun saat ia berbalik untuk membawa gadis itu ke mobilnya, ia tertegun. Tempat di mana Elara tadi tergeletak kini kosong. Hanya tersisa noda darah yang mulai mengering di atas aspal.
Dante berdiri mematung, menatap kegelapan di depannya. Gadis itu menghilang. Bahkan dalam kondisi terluka parah, dia mampu meloloskan diri.
"Mana wanita itu?!" geram Dante pada Vito yang baru saja mendekat.
"Saya tidak tahu, Bos. Dia seperti hantu," jawab Vito gemetar.
Dante mengepalkan tangannya hingga buku jarinya berdarah. Ia merasa dikhianati oleh takdir, namun di saat yang sama, ia merasa terobsesi lebih dari sebelumnya. Elara Vance bukan hanya agen rahasia; dia adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat Dante Moretti merasakan ketakutan takut kehilangan satu-satunya hal yang mulai ia pedulikan.
Dante menatap noda darah di telapak tangannya sendiri. "Cari dia," bisik Dante dengan suara dingin yang mematikan.
" Cari dia sampai ke lubang neraka sekalipun. Aku tidak akan membiarkan 'propertiku' hilang begitu saja."
●●●●●