NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maafkan Aku

Malam semakin larut, membawa pekat yang kian mencekik waras. Di sebuah halte bus yang terpencil di sudut pinggiran kota, Sintia Arunika duduk sendirian. Lampu jalan di atas halte itu berkedip-kedip redup, sesekali mati total, meninggalkan Sintia dalam kegelapan yang sunyi. Hanya ada suara deru angin malam yang menusuk hingga ke tulang, berpadu dengan suara isak tangis yang berusaha ia redam di balik telapak tangannya.

Tas jinjing kain berisi segelintir pakaian dan dokumen penting tergeletak begitu saja di lantai semen yang dingin di samping kakinya. Sintia menatap kosong ke jalanan aspal di hadapannya. Pikirannya melayang kembali pada drama mengerikan yang baru saja terjadi di rumah mewah Mahesa beberapa jam lalu.

Hatinya hancur, remuk tak bersisa. Rasa sakitnya begitu nyata, bermanifestasi menjadi rasa sesak di dada yang membuatnya sulit untuk sekadar menarik napas.

"Bagaimana bisa, Mas... Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?" bisik Sintia pada malam yang sepi. Air matanya kembali meluncur deras, membasahi pipinya yang sudah sembap.

Suami yang selama tujuh tahun ini ia banggakan, pria yang selalu ia bela di depan mendiang ayahnya, pria yang ia layani dengan seluruh jiwa dan raganya, rupanya adalah seorang pengkhianat ulung. Dan yang paling mengoyak jiwanya adalah kenyataan bahwa wanita selingkuhan itu adalah Suci Wahyuni. Sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung sendiri. Wanita yang tahu setiap inci luka hati Sintia, namun dengan tega menusukkan belati paling beracun tepat di punggungnya.

Di tengah kegelapan halte itu, bayangan masa lalu mendadak berputar di benak Sintia bagai rol film tua. Wajah tegas dan teduh almarhum ayahnya, kakek tua yang menutup mata tiga tahun lalu, mendadak hadir dengan begitu nyata. Sintia teringat malam sebelum pernikahannya tujuh tahun silam. Saat itu, sang ayah menggenggam jemarinya dengan tangan yang gemetar karena sakit.

"Sintia, anakku... Pikirkan lagi pernikahan ini. Ayah melihat ada kabut hitam di mata Rian. Pria itu tidak tulus mencintaimu, dia hanya melihat apa yang bisa kamu dan keluarga kita berikan untuknya. Jangan percaya pada kata-kata manisnya, Sin. Ayah mohon, batalkan pernikahan ini..."

Namun, apa yang dilakukan Sintia tujuh tahun lalu? Ia begitu bodoh. Ia begitu naif dan buta karena cinta. Ia menepis tangan ayahnya, menangis, dan menuduh ayahnya terlalu berprasangka buruk pada Rian. Demi Rian, Sintia menentang satu-satunya orang tua yang ia miliki. Demi Rian, ia membuang nasehat emas itu demi mengejar fatamorgana kebahagiaan yang kini terbukti menjadi neraka jahanam.

"Maafkan Sintia, Ayah... Maafkan Sintia yang bodoh ini," ratap Sintia, memukul dadanya sendiri dengan rasa penyesalan yang teramat dalam. "Ayah benar... pria itu adalah iblis. Mereka semua adalah monster!"

Tangis Sintia perlahan mereda, digantikan oleh rahang yang mengatup rapat. Jemarinya yang gemetar kini mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit yang luar biasa itu mulai bermutasi, mengkristal menjadi sebongkah dendam yang membara di dalam dadanya.

"Aku bersumpah..." Suara Sintia berubah menjadi desisan dingin yang mengerikan, memecah kesunyian malam. "Rian, Suci, Ibu Anne... Demi air mata yang kutumpahkan malam ini, demi penyesalanku pada Ayah, aku bersumpah akan membalas setiap rasa sakit ini seribu kali lipat pada kalian. Kalian tidak akan pernah hidup tenang!"

****

Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Mahesa, atmosfer kemenangan masih terasa kental, namun dinodai oleh aroma kedengkian yang baru saja dimulai.

Suci Wahyuni berdiri di dalam kamar utama—kamar yang selama tujuh tahun ini menjadi daerah terlarang baginya. Kamar itu luas, dengan ranjang king size berseprai sutra abu-abu milik Sintia. Suci berjalan mendekati lemari pakaian besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Dengan gerakan kasar dan penuh kebencian, ia menyentak pintu lemari itu hingga terbuka lebar.

"Wanita mandul, pembawa sial!" umpat Suci, matanya berkilat penuh dendam terselubung yang selama bertahun-tahun ini ia sembunyikan di balik topeng kepura-puraan sebagai sahabat yang baik.

Suci meraup pakaian-pakaian itu dengan kedua tangannya, menariknya keluar dari gantungan hingga beberapa pakaian robek. Ia melempar pakaian-pakaian itu ke lantai dengan jijik.

"Suci, apa yang kamu lakukan?"

Suci menoleh dan mendapati Rian berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan aksinya. Bukannya takut, Suci justru memasang wajah cemberut yang dibuat-buat, memancing simpati suaminya.

"Mas, aku tidak mau ada satu pun barang milik wanita itu di kamar ini! Pakaian-pakaian ini membawa sial, Mas. Aku takut auranya yang buruk dan mandul itu menular padaku atau mengganggu tumbuh kembang Arka," ketus Suci sambil menghentakkan kakinya. "Aku mau membuang semuanya!"

Rian menghela napas panjang, berjalan mendekati Suci lalu mengusap bahu istri sirinya yang kini telah resmi ia bawa ke rumah. "Ya sudah, lakukan apa yang membuatmu nyaman. Lagipula, rumah ini sekarang milikmu dan Arka."

Mendengar restu dari Rian, senyum kemenangan terukir di wajah Suci. Dengan penuh semangat, ia membawa tumpukan pakaian Sintia ke halaman samping rumah. Di sana, di dekat tempat pembuangan sampah, Suci melemparkan kain-kain itu ke atas tanah yang mulai basah oleh rintik hujan.

Tidak puas hanya membuangnya, Suci menginjak-injak gamis abu-abu favorit Sintia ke dalam lumpur dengan tumit sandal rumahnya.

"Rasakan ini, Sintia Arunika! Tujuh tahun aku harus berpura-pura menjadi bayanganmu, mendengarkan keluh kesahmu yang membosankan, berpura-pura kasihan padamu saat aku tahu Mas Rian pulang ke pelukanku setiap minggu!" desis Suci dengan tawa tertahan yang terdengar sinis. "Sekarang, kamu hanyalah sampah yang terbuang. Nikmati hidupmu di jalanan, sementara aku akan menikmati semua kemewahan yang dulu kamu banggakan!"

Dari dalam rumah, Anne Wahyuandini mengintip dari balik jendela kaca yang besar. Wanita tua berkacamata tebal itu tersenyum puas melihat tindakan menantu barunya. Bagi Anne, hilangnya jejak Sintia dari rumah ini adalah sebuah pembersihan besar-besaran dari pembawa sial yang selama tujuh tahun menodai silsilah keluarga Mahesa.

****

Hujan yang awalnya rintik-rintik dalam sekejap berubah menjadi hujan badai yang sangat dahsyat. Petir menyambar-nyambar membelah langit malam, disusul oleh suara guntur yang menggelegar, seolah ikut memprotes ketidakadilan yang menimpa Sintia.

Di halte yang bocor di beberapa bagian, Sintia merapatkan tubuhnya ke dinding. Angin kencang membawa tampias air hujan yang langsung membasahi tubuhnya yang mulai menggigil. Ia memeluk lututnya, menatap nanar pada air yang mengalir deras di selokan. Kedinginan fisik yang ia rasakan sama sekali tidak sebanding dengan dinginnya hati yang telah mati rasa.

Hampir satu jam badai itu mengamuk, hingga akhirnya perlahan-lahan mereda. Langit menyisakan gerimis tipis dan hawa dingin yang berkabut. Jalanan di depan halte benar-benar sunyi, tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Sintia pasrah, berpikir bahwa ia mungkin harus bermalam di tempat pembuangan angin ini.

Namun, dari kejauhan, dua buah lampu sorot yang sangat terang membelah kegelapan malam. Sebuah mobil mewah, Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam, melaju perlahan membelah genangan air. Mobil itu tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar yang kumuh dan gelap.

Jantung Sintia berdegup agak kencang saat melihat mobil itu tiba-tiba memperlambat lajunya dan berhenti tepat di depan halte tempat ia duduk.

Pintu kemudi terbuka. Seorang pria keluar dari dalam mobil, memegang sebuah payung hitam besar. Pria itu mengenakan setelan jas formal abu-abu gelap tanpa dasi, dengan kemeja hitam di dalamnya yang kancing atasnya sengaja dibuka, memberikan kesan karismatik namun berbahaya.

1
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!