NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Hari Pernikahan Sepihak & Aturan di Mansion Mewah

​"Berdirinya jangan terlalu jauh. Kamu ini mau mendaftarkan pernikahan, bukan mau mengantre sembako bantuan."

​Suara bariton Calix yang dingin memecah kecanggangan di dalam ruangan privat Kantor Urusan Catatan Sipil pagi itu. Mireya yang berdiri dua langkah di belakang Calix tersentak. Gadis itu mengenakan gaun putih polos sederhana—satu-satunya pakaian semi-formal terbaik yang dibelikan ibunya tadi malam sebelum mereka ditinggal begitu saja di hotel.

​"Maaf, Tuan," cicit Mireya, melangkah maju dengan ragu hingga bahunya hampir bersentuhan dengan lengan jas hitam Calix.

​Calix meliriknya sekilas melalui sudut mata. "Jangan panggil aku Tuan di depan petugas nanti jika kamu tidak ingin memicu rumor baru bahwa aku menculik anak di bawah umur."

​"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Mireya polos, menatap rahang tegas Calix yang kaku.

​"Calix. Cukup panggil namaku jika kita sedang berada di luar mansion," jawabnya ketus sembari menandatangani berkas kesepakatan pranikah yang disodorkan oleh petugas.

​Pernikahan itu berjalan sangat singkat, sepihak, dan dingin. Tanpa gaun mewah bertabur berlian, tanpa dekorasi bunga mawar, dan tanpa kehadiran satu pun anggota keluarga. Ardan dan Fiona bahkan tidak repot-repot datang dengan alasan harus menjaga Aiden di rumah sakit—padahal Mireya tahu, ayahnya langsung sibuk memeriksa rekening banknya untuk memastikan uang muka dari David Group sudah masuk.

​Hanya dalam waktu tiga puluh menit, Mireya resmi menyandang status sebagai istri sah dari seorang Calix David. Setidaknya di atas kertas kontrak satu tahun mereka.

​Mobil Rolls-Royce hitam milik Calix membelah jalanan kota menuju sebuah kawasan perumahan elite di puncak bukit. Begitu gerbang besi setinggi tiga meter terbuka, mata polos Mireya membelalak. Di hadapannya berdiri sebuah mansion megah bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilar putih raksasa, sangat mirip dengan kastel di buku dongeng yang sering ia baca di desa.

​"Turun," perintah Calix begitu pintu mobil dibukakan oleh sopir pribadi mereka.

​Mireya melangkah keluar dengan canggung, memeluk tas ransel kecilnya yang usang. Langkah kaki kungkungannya mengikuti Calix masuk menembus pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir emas. Di dalam lobi, belasan pelayan berseragam rapi sudah berbaris, membungkuk serentak begitu mereka masuk.

​"Selamat datang, Tuan Besar. Selamat datang, Nyonya Muda," ucap mereka kompak.

​Mireya refleks membungkuk membalas mereka dengan canggung. "Ah, i-iya... selamat siang semuanya."

​Calix langsung menghentikan langkahnya, berbalik dengan kening berkerut dalam. "Mireya, kamu tidak perlu membungkuk pada pekerja di rumah ini. Mulai hari ini, posisimu berada di atas mereka. Paham?"

​"Tapi mereka lebih tua dariku, Tuan... maksud saya, Calix. Di desa, saya diajarkan untuk selalu menghormati orang yang lebih tua," protes Mireya pelan, menolak melupakan sopan santunnya.

​Calix menghela napas kasar, memijit pelipisnya yang mendadak berjudul tegang. "Terserah kamu. Keberadaanmu di sini bukan untuk mengubah tata krama rumahku." Pria itu kemudian menoleh ke arah seorang wanita paruh baya berwajah tegas dengan pakaian formal hitam. "Bi Ani, bawa dia ke kamar utama dan jelaskan semua aturan di mansion ini."

​"Baik, Tuan Besar," jawab Bi Ani patuh. Wanita tua itu menatap Mireya dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Mari, Nyonya Muda. Saya antar ke atas."

​"Terima kasih, Bi," sahut Mireya lega, bergegas mengikuti Bi Ani dan meninggalkan Calix yang masih berdiri di lobi dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Kamar utama mansion itu luar biasa luas, didominasi warna abu-abu, hitam, dan putih. Kasur king-size di tengah ruangan tampak begitu empuk dengan seprai sutra yang berkilau. Namun, alih-alih merasa kagum, Mireya justru merasa terintimidasi. Kamar ini terlalu dingin, persis seperti pemiliknya.

​"Nyonya Muda, ini adalah daftar aturan tertulis yang wajib Anda patuhi selama tinggal di mansion ini atas perintah Tuan Calix," ucap Bi Ani lembut sembari menyerahkan selembar kertas tebal berlogo David Group.

​Mireya menerima kertas itu dan membacanya dengan saksama.

​"Aturan pertama..." Mireya menggumam, membaca baris pertama. "Dilarang memasuki ruang kerja Tuan Calix di lantai tiga tanpa izin tertulis?"

​"Benar, Nyonya. Area lantai tiga adalah privasi mutlak Tuan Besar. Bahkan kami para pelayan hanya boleh masuk pada jam-jam tertentu untuk membersihkannya," jelas Bi Ani.

​"Lalu ini... dilarang mengubah dekorasi apa pun di dalam mansion, terutama barang-barang di kamar terlarang di ujung lorong barat?" Mireya mendongak, matanya yang bulat memancarkan rasa ingin tahu. "Kamar terlarang? Memangnya ada apa di sana, Bi?"

​Wajah Bi Ani mendadak berubah tegang. Wanita tua itu menoleh ke arah pintu yang tertutup sebelum berbisik pelan, "Saya sarankan Nyonya jangan pernah mendekati atau bertanya tentang kamar itu. Itu adalah tempat penyimpanan barang-barang mendiang Nyonya Besar, adik perempuan Tuan, dan... mantan tunangan Tuan Besar. Tempat itu adalah luka terdalam Tuan Calix."

​Mireya merasakan dadanya berdenyut aneh. Dia teringat ucapan orang-orang tentang kemalangan yang menimpa wanita di sekitar Calix. 'Pasti rasanya sangat menyakitkan kehilangan semua orang yang disayangi secara tragis,' pikir Mireya, rasa ibanya mulai tumbuh.

​Mireya menggelengkan kepala untuk mengusir rasa sedih itu, lalu beralih ke aturan berikutnya. "Aturan ketiga: Mulai pukul sembilan malam, Nyonya Muda wajib berada di kamar utama untuk... melaksanakan kewajiban kontrak?" Wajah Mireya seketika merona merah padam sampai ke leher.

​"Mengenai hal itu, Tuan Besar adalah pria yang sangat disiplin dengan waktunya, Nyonya," tambah Bi Ani, mencoba menyembunyikan senyum gelinya melihat kepolosan sang nyonya muda.

​Tepat saat itu, pintu kamar terbuka kasar tanpa ketukan. Calix masuk dengan kemeja yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, memamerkan tulang selangka dan sedikit dada bidangnya yang kokoh.

​"Bi Ani, tinggalkan kami," perintah Calix dingin.

​"Baik, Tuan." Bi Ani menunduk hormat lalu bergegas keluar, menutup pintu rapat-rapat.

​Kini hanya tersisa Calix dan Mireya di dalam ruangan yang mendadak terasa menyempit itu. Calix melangkah mendekat, merebut kertas aturan dari tangan Mireya lalu melemparnya ke atas meja rias.

​"Sudah kamu baca semuanya, Gadis Desa?" tanya Calix, memajukan tubuhnya hingga Mireya terpaksa mundur sampai punggungnya membentur tiang tempat tidur yang kokoh.

​"Su-sudah," jawab Mireya gugup, matanya bergerak liar menghindari tatapan tajam Calix yang mengunci pergerakannya. "Tapi ada beberapa aturan yang menurutku terlalu berlebihan."

​"Berlebihan?" Calix mendengus remeh, satu tangannya bertumpu pada tiang ranjang di samping kepala Mireya, mengurung gadis itu sepenuhnya. "Di rumah ini, aturanku adalah hukum. Kamu di sini bukan sebagai tamu, Mireya. Kamu di sini sebagai istri kontrak yang dibayar mahal untuk melahirkanku seorang ahli waris."

​Mireya memberanikan diri menatap mata elang itu. "Aku tahu posisiku, Tuan Calix. Aku akan menepati janjiku. Tapi tolong, jangan perlakukan aku seperti penjahat yang harus diawasi setiap detiknya. Aku punya hati, bukan cuma mesin!"

​Calix terdiam sesaat. Kedekatan mereka membuat Calix bisa menghirup aroma alami tubuh Mireya yang harum seperti bunga melati di pedesaan—sangat bersih, tanpa campuran parfum kimia mahal. Ada sengatan gairah yang tiba-tiba membakar dirinya, membuat jakun pria 35 tahun itu naik turun.

​Calix memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Kalau kamu punya hati, simpan hatimu baik-baik, Mireya. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku, karena aku tidak akan pernah bisa membalasnya. Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang."

​Mireya merasakan hatinya sedikit mencubit mendengar penegasan ketat itu, namun dia tetap mendongak angkuh. "Jangan khawatir, Tuan Tsundere. Aku juga tidak akan pernah jatuh cinta pada pria kaku seperti Anda. Sekarang, menjauhlah dariku."

​Calix tersenyum sinis, menatap bibir ranum Mireya yang mengerucut kesal. "Aku akan menjauh sekarang. Tapi ingat, pukul sembilan malam nanti, kamu tidak akan punya hak untuk menyuruhku menjauh lagi, Istriku."

1
umie chaby_ba
kasian calix 🤭
elief
calix sudah menerima hukumannya mireya, sudah cukup. coba kamu sekarang berdamai dengan hati kamu, mencoba memaafkan kembali. semoga hati mu luluh ya mireya dan kembali ke calix. 👍
Ariska Kamisa: Terima kasih kak atas komentarnya ❤️. Memaafkan memang penting, tetapi menyembuhkan luka juga butuh waktu. Kita lihat nanti apakah cinta Calix cukup kuat untuk meluluhkan hati Mireya kembali 🥹✨💕
total 1 replies
umie chaby_ba
kasian juga sih sebenarnya calix...
🤭
Ariska Kamisa: iya ya kak ... tapi mireya juga sakit sih kak
total 1 replies
elief
karya mu bagus thor, tetapi semangat dalam berkarya💪
Ariska Kamisa: MasyaAllah, terima kasih banyak kak. Komentar seperti ini yang bikin saya semangat berkarya dan melanjutkan cerita. Sehat dan bahagia selalu ya ❤️🌷
total 1 replies
elief
lanjut thor, semoga hati mireya luluh kembali.
Ariska Kamisa: siap kak, 👍
total 1 replies
elief
lanjut thor
Ariska Kamisa: siap kak👍
total 1 replies
umie chaby_ba
Ditinggal baru merasa kehilangan lo?! /Right Bah!/
Ariska Kamisa: ya begitulah manusia kak🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
lanjutkan thor💪
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan feeling ku juga Ilana karena belum tertangkap
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭 ketebakbya
total 1 replies
umie chaby_ba
bener mending pergi aja mireya!!!
Ariska Kamisa: iya yuk
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Tuhan... rencana zeana KW effort banget sampai di rekannya live lagi!! jahat banget /Panic/
Ariska Kamisa: iyah iih jahatnya kebangeten yaa
total 1 replies
umie chaby_ba
gob**k... /Angry/
itu berarti jebakan si zeana KW
Ariska Kamisa: sabar kak... sabar 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih masih ingat aja!
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
calix... lo awas aja nyakitin! tapi kayanya si calix masih ngarep zeana masih hidup kali 🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calix lo labil banget dih!! /Angry/
Ariska Kamisa: iyah emang calix nih... nakal🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah nyesek/Cry/
Ariska Kamisa: sabar ya kak 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
ada lagi aja! baru geh dimanjain bentar!
Ariska Kamisa: namanya hidup kak... selalu ngada-ngada..
stay read kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
zeana kw ini!!!
Ariska Kamisa: iyah ka terobsesi banget jadi kesayangannya calix
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean lo Bianca!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!