"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Rencana di Balik Pangkalan IPS
****
Deru mesin motor sport hitam milik Saka bergemuruh nyaring, membelah jalanan aspal kota yang masih menyisakan genangan air pasca-hujan gerimis siang tadi. Di atas jok belakang yang tinggi, aku mencengkeram erat-erat pinggang jaket kulit hitam yang dia kenakan, membiarkan embusan angin sore yang dingin menerpa wajahku dengan bebas tanpa ada penghalang. Sore ini, kami tidak berkendara menuju arah rumah komplek perumahanku yang tenang. Saka sengaja membawa rute perjalanan kami berbelok jauh, menyusuri jalanan sempit di area belakang pasar lama kota—sebuah kawasan semi-industri yang sejak bertahun-tahun lalu telah resmi menjelma menjadi markas besar atau pangkalan utama bagi anak-anak jurusan IPS SMA Tunas Bangsa untuk berkumpul dan menepi setelah jam pelajaran sekolah usai.
Begitu motor sport besar milik Saka berbelok tajam memasuki sebuah area halaman luas yang terletak di samping bangunan bengkel tua yang terbengkalai, riuh rendah suara gelak tawa khas remaja laki-laki dan dentingan kunci pas besi langsung menyambut kedatangan kami memecah kesunyian sore. Belasan cowok dengan seragam putih abu-abu yang sebagian besar sudah dikeluarkan bajunya dari celana tampak sedang asyik nongkrong di atas deretan motor sport masing-masing sambil membicarakan banyak hal. Namun, suasana santai itu mendadak berubah menjadi sedikit lebih formal saat mata mereka menangkap siluet kedatangan sang motor hitam.
"Woy! Lihat siapa yang datang! Sang Ketua kita akhirnya turun gunung nih! Tapi kok rapi amat lo hari ini, Sak? Kesambet setan apa lo di gedung IPA?" teriak salah satu anak bertubuh tambun yang mengenakan jaket jens pudar sambil melemparkan puntung rokoknya ke tanah, terkekeh renyah saat melihat Saka turun dari motor dengan setelan seragam putih abu-abu yang masih terkancing sempurna dan sangat bersih menuruti aturan sekolah.
Saka sama sekali tidak berniat membalas gurauan blak-blakan dari temannya itu. Dia mematikan mesin motor, menurunkan standar samping dengan satu sentakan kaki yang kokoh, lalu segera berbalik untuk membantuku turun dari atas jok belakang yang tinggi dengan memegangi kedua lengan tanganku secara sangat lembut, namun penuh dengan penekanan yang posesif. Mata elangnya yang tajam langsung menyapu ke sekeliling area halaman pangkalan, memeriksa dan memastikan bahwa atmosfer di sekitar tempat itu benar-benar aman bagi keberadaanku sebelum dia akhirnya membimbing langkah kakiku untuk duduk di sebuah kursi kayu panjang yang berada di bawah kanopi seng bengkel tua.
"Kalian semua tetap di sini, jaga jarak, dan awasi setiap orang asing yang lewat di sekitar jalan depan," perintah Saka dengan nada suara bariton yang berat, rendah, dan sarat akan otoritas mutlak kepada anak-anak IPS yang berada di pangkalan. Mereka yang mendengar perintah tegas itu langsung mengangguk patuh tanpa banyak bertanya lagi, bubar ke posisi masing-masing untuk berjaga.
Saka kemudian mendudukkan dirinya tepat di sebelahku, mengikis jarak di antara kami hingga punggung tegapnya bersandar pada sandaran kursi. Dia meraih sebuah map plastik berwarna biru tua yang sejak sore tadi ternyata sudah terselip dengan rapi di balik kompartemen bagasi bawah motor sport-nya, lalu meletakkannya di atas meja kayu panjang yang penuh dengan noda oli hitam terbakar.
"Sebenarnya urusan penting apa yang lo maksud tadi pas kita ketemu di depan lab fisika bawah, Sak?" tanyaku dengan nada suara berbisik, menatap lekat-lekat ke arah map plastik biru yang kini mulai dibuka oleh jemari kokoh Saka dengan gerakan yang sangat teratur.
Saka membuka ritsleting map plastik tersebut perlahan, mengeluarkan beberapa lembar kertas putih berisi cetakan draf daftar nama siswa, lengkap dengan jabatan organisasi serta nomor telepon pintar yang tercetak dengan sangat rapi di sana. "Gue dapet informasi yang bener-bener valid dari salah satu anak divisi ketertiban OSIS yang memilih buat berkhianat dari kubu Devan siang tadi. Malam ini, tepat jam tujuh malam nanti, empat orang anggota inti kepengurusan OSIS lama yang masih sangat setia sama Devan mau mengadakan sebuah pertemuan tertutup di kafe tua seberang taman kota."
Saka memajukan posisi duduknya sedikit, menundukkan wajah tampannya untuk menatapku lurus-lurus dengan kilat intensitas mata elangnya yang sangat tajam, dingin, dan mengintimidasi. "Mereka semua gak terima kalau Devan dicopot secara tidak hormat dari jabatan Ketua OSIS dan dijatuhi sanksi skorsing selama dua minggu penuh dari sekolah oleh Pak Malik gara-gara draf rekaman suara kemarin. Sekarang, orang-orang setianya itu lagi menyusun rencana licik buat mencari-cari kesalahan lo atau kesalahan gue di luar lingkungan sekolah, biar bisa mereka pakai sebagai bahan laporan balik ke dinas pendidikan untuk membatalkan sanksi hukum Devan."
Jantungku seketika berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan mendengar penuturan runtut dari mulut Saka. Rasa cemas dan ketakutan yang semula kukira sudah berakhir sepenuhnya setelah pengumuman penurunan takhta Devan di lapangan upacara tadi pagi, kini kembali mencuat ke permukaan dengan intensitas yang jauh lebih mengerikan dan menekan mental. "M-maksud lo... Devan masih berusaha buat mengontrol situasi dan menghancurkan kita lewat kaki tangannya meskipun dia sekarang lagi dikurung di dalam rumah karena skorsing?"
"Tepat sekali, Mikaela," sebuah seringai dingin nan sangat tajam terukir di sudut bibir tampan Saka, sebuah seringai kemenangan yang sarat akan rencana pembalasan yang jauh lebih matang dan tak tersentuh oleh sistem hukum mana pun. Dia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas kertas daftar nama tersebut dengan ritme yang konstan dan lambat. "Si ular manipulatif itu gak bakal pernah menyerah begitu saja sebelum dia benar-benar kehabisan seluruh racun di dalam tubuhnya. Devan tahu kalau dia udah gak bisa lagi menyentuh atau mengintimidasi lo di dalam lingkungan sekolah karena ada pengawasan dari gue dan Pak Malik. Makanya, dengan liciknya dia memindahkan medan perangnya ke luar dinding sekolah, menggunakan tangan dan tenaga orang lain agar posisinya aman."
Saka tiba-tiba terulur, meraih jemari tangan kananku ke dalam genggaman telapak tangannya yang besar dan hangat. Dia mengunci genggaman tangan kami dengan sangat erat, hingga bandul berbentuk bintang kecil di gelang perak pemberiannya bergesekan lembut dengan kulit pergelangan tanganku, menyalurkan getaran proteksi yang teramat pekat.
"Tapi Devan dan seluruh sekutunya itu salah besar kalau mereka mengira gue bakal diam saja duduk manis melihat mereka menyusun taktik kotor buat melukai lo lagi. Dengan adanya pengaturan strategi baru untuk mempercepat alur permainan asmara kita yang harus selesai di bab 65 tamat ini, gue gak bakal memberikan waktu sedetik pun bagi Devan untuk bernapas, menyusun rencana matang, atau mengumpulkan kekuatan lamanya," tutur Saka dengan nada suara yang merendah namun dipenuhi dengan keagresifan tulus yang mutlak.
Saka bangkit berdiri dari atas kursi kayu panjang bengkel, menarik kembali tas ransel hitamnya dengan satu sentakan tangan yang sangat kokoh dan bertenaga. Dia menatap ke arah langit sore kota yang perlahan-lahan mulai menggelap diselimuti warna jingga kemerahan, memancarkan pesona seorang *bad boy* versi patuh aturan yang jauh lebih tak dapat diprediksi pergerakannya.
"Sore ini juga, sebelum jam menunjukkan pukul tujuh malam, kita berdua bakal langsung mendatangi lokasi kafe tempat anak-anak buah Devan itu berkumpul. Gue mau lo ikut bersama gue, berdiri tepat di belakang punggung gue, dan melihat dengan mata kepala lo sendiri gimana cara ugal-ugalan gue yang sesungguhnya di luar sistem sekolah untuk menghancurkan sisa-sisa kekuatan milik si mantan Ketua OSIS posesif itu sebelum mereka sempat melangkah selangkah pun untuk melukai kebebasan hidup lo lagi," tegas Saka sambil menatap mataku dengan pandangan yang mengunci seluruh kesadaranku.
Gue tertegun mematung, menatap kagum sekaligus ngeri ke arah sosok tegap Saka yang kini berdiri menantang badai baru di luar dinding SMA Tunas Bangsa. Karakter *red flag* perlindungan posesif dan agresifnya benar-benar menyala dengan sempurna di bab ini, bergerak dengan sangat cepat demi mengunci pergerakan musuh sebelum berkembang menjadi ancaman nyata yang membahayakan. Aku mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan, bangkit dari atas kursi kayu lalu mempererat pegangan tanganku pada lengan almamater biru tuanya yang rapi, siap melangkah masuk bersama-sama ke dalam episentrum konflik baru yang jauh lebih liar, cepat, dan berbahaya malam ini di luar sana.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> Alur pergerakan plot cerita **RED FLAG** sengaja dibuat bergerak dengan jauh lebih cepat, padat taktik konfrontasi, dan langsung menusuk ke inti masalah di luar lingkungan sekolah agar para pembaca tidak merasa bosan! Konflik asmara segitiga beracun ini dipastikan bakal semakin memacu adrenalin dengan pergerakan taktik Saka yang semakin cerdas dan berbahaya.
> Jangan lupa ya buat klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** sebanyak-banyaknya untuk kelancaran novel kita di NovelToon, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan teori kalian tentang apa yang bakal terjadi di kafe malam ini! Sampai jumpa di Bab 23 besok pagi, *keep reading and stay alert, guys!*
>