Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Blokade
Suara riuh warga yang memblokade jalan setapak peternakan mendadak senyap oleh deru mesin mobil-mobil hitam.
Saskia berdiri di depan pagar kandangnya, kedua tangan menggenggam erat gagang sapu lidi. Di seberang pagar, tiga puluh warga desa berkumpul. Bukan untuk menonton seperti biasanya. Kali ini mereka membawa bambu, membawa pentungan, membawa spanduk darurat dari kain bekas dengan tulisan cat hitam: "USIR DUKUN PESUGIHAN."
Di depan barisan, Bibi Laras berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Wajahnya puas. Matanya berbinar dengan kilau kemenangan.
"Lihat sendiri, Pak RT!" teriak Bibi Laras, menunjuk ke arah Saskia. "Gadis ini tidak waras! Sapi impor datang, tiba-tiba mati satu! Itu pasti tumbal! Besok-besok tumbalnya bisa anak kita!"
Pak RT berdiri di sampingnya, mengangguk-angguk dengan ekspresi sok bijaksana. "Saskia, warga cuma mau yang terbaik buat desa. Kamu pindah saja. Kasih tanah ini sama Bibi Laras. Dia yang lebih berhak."
"Berhak?" Suara Saskia dingin. "Atas dasar apa?"
"Dia kakak ibumu!"
"Kakak yang tidak pernah membantu apapun. Kakak yang menguras hasil panen dua tahun. Kakak yang mengirim preman untuk menagih utang yang tidak pernah saya pinjam."
Wajah Pak RT memerah. "Kamu jangan kurang ajar! Saya ini RT-mu!"
"Saya tahu. Dan saya juga tahu Bapak diam saja waktu Bibi Laras mengambil beras dari dapur saya."
Kerumunan bergemuruh. Beberapa warga mulai mendorong pagar bambu. Suara retakan bambu terdengar. Satu batang patah. Dua batang.
Saskia mengangkat sapu lidinya. "Siapa yang masuk tanpa izin, saya anggap penyerobotan. Hukum pidana. Pasal 167 KUHP."
"Apa? Hukum apa?" Bibi Laras tertawa. "Kau pikir kau siapa? Pengacara?"
"Aku bukan pengacara. Tapi aku membaca."
Pagar bambu semakin terdorong. Saskia menghitung dalam hati: tiga puluh warga, satu dirinya, satu sapu lidi. Peluang menang: nol.
Lalu suara itu datang.
Deru mesin. Bukan satu. Bukan dua. Lima mobil. Semuanya hitam. Semuanya mengkilap. Beriringan memasuki jalan desa yang hanya muat satu mobil. Alphard di depan. Pajero di belakangnya. Tiga Avanza hitam di belakangnya lagi.
Warga yang tadinya ribut, sekarang diam. Kepala-kepala menoleh. Mulut-mulut terbuka. Bahkan Bibi Laras berhenti mendorong pagar.
Alphard hitam berhenti tepat di depan kerumunan. Pintu belakang terbuka.
Daniel Hardjono turun.
Bukan setelan jas abu-abu seperti biasanya. Kali ini setelan hitam. Kemeja hitam. Dasi hitam. Sepatu pantofel hitam. Rambutnya disisir ke belakang lebih rapi dari biasanya. Wajahnya tidak dingin. Wajahnya marah.
Dua belas orang turun dari mobil-mobil di belakangnya. Bukan preman. Bukan satpam. Pengacara. Semuanya berkemeja putih dan berdasi. Masing-masing membawa tas kerja kulit.
"Pak RT." Suara Daniel rendah, tapi entah kenapa seluruh kerumunan bisa mendengarnya. "Saya Daniel Hardjono. CEO PT Hardjono Agribisnis Tbk. Pemilik sah dari empat ekor sapi Wagyu Fullblood di dalam kandang ini. Dan mitra bisnis dari Mbak Saskia Utami."
Pak RT menelan ludah. "Sa-saya..."
"Bapak tahu berapa nilai aset saya di dalam kandang ini?"
"Ti-tidak..."
"Enam ratus juta rupiah. Empat ekor sapi. Belum termasuk nilai tanah, bangunan, dan peralatan yang sudah saya investasikan. Bapak mau bertanggung jawab kalau ada apa-apa dengan aset saya?"
Pak RT mundur selangkah. Wajahnya pucat.
Daniel berjalan mendekati kerumunan. Warga yang tadinya mendorong pagar, sekarang justru mundur memberi jalan. Ia berhenti tepat di depan Bibi Laras.
"Dan Anda." Mata Daniel menatap wanita itu dari atas ke bawah. "Bibi Laras, ya? Saya dengar Anda menyebarkan fitnah tentang mitra bisnis saya. Pesugihan. Tumbal. Tuyul."
"Itu... itu bukan fitnah. Itu fakta. Semua warga tahu."
"Fakta?" Daniel tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Kalau itu fakta, Anda bisa buktikan di pengadilan. Saya bawa dua belas pengacara. Spesialisasi pencemaran nama baik. Anda siap?"
Bibi Laras membuka mulut. Menutupnya lagi. Tidak ada suara yang keluar.
Daniel berbalik, menghadapi kerumunan. "Saya hanya akan bilang sekali. Siapa yang mengganggu Mbak Saskia, mengganggu aset saya. Siapa yang mengganggu aset saya, berhadapan dengan tim legal saya. Siapa yang berhadapan dengan tim legal saya, biasanya berakhir di penjara. Ada yang mau mencoba?"
Keheningan. Bahkan angin berhenti bertiup.
Satu per satu, warga mulai mundur. Menjauh. Membubarkan diri. Pak RT adalah yang pertama menghilang di tikungan. Bibi Laras, setelah beberapa detik terpaku, berbalik dan berjalan cepat ke arah rumahnya.
Dalam dua menit, jalan setapak depan kandang sudah kosong.
Daniel masuk ke dalam kandang tanpa diundang. Saskia mengikutinya, masih memegang sapu lidi.
"Mereka tidak akan berhenti," kata Saskia. "Besok mereka akan coba lagi."
"Besok saya kirim dua satpam. Jaga di sini dua puluh empat jam."
"Kenapa?"
Daniel berhenti. Tidak berbalik. "Apa?"
"Kenapa Anda membela saya? Datang langsung ke sini. Bawa dua belas pengacara. Kenapa?"
"Saya sudah bilang. Anda adalah aset. Mengganggu Anda berarti mengganggu..."
"Aset. Ya. Saya dengar." Saskia meletakkan sapu lidinya. "Waktu saya tanya, waktu Anda gendong saya ke mobil, itu juga bisnis? Anda tidak jawab. Sekarang saya tanya lagi. Kenapa?"
Daniel berbalik. Wajahnya sudah kembali ke ekspresi default-nya: dingin dan tidak terbaca.
"Kau membelaku karena aset, bukan karena aku."
Daniel tidak menjawab.
Keheningan di antara mereka hanya dipecahkan oleh suara Dara yang melenguh pelan di kandang belakang.
"Baiklah." Saskia mengangguk pelan. "Setidaknya kali ini aku tidak perlu bertanya dua kali."
Daniel menatapnya beberapa detik. Lalu berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Pengacara akan urus surat peringatan kedua untuk Bibi Laras. Satpam datang besok pagi. Jangan keluar desa sendiri malam-malam."