Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pendidikan Baja & Rahasia Gelap
Udara di dalam markas utama terasa berbeda. Dingin, berbau logam, oli, dan keringat bercampur dengan aroma disinfektan yang tajam. Langit-langitnya tinggi, koridornya panjang dan lebar, diterangi lampu-lampu neon putih yang menyala terang tanpa kedip, menciptakan suasana yang steril, kaku, dan penuh disiplin. Tidak ada lagi suara gemuruh sungai, tidak ada lagi desisan makhluk hutan, tidak ada lagi kegelapan yang menakutkan. Namun, Raka merasa... suasana di sini justru lebih menyesakkan daripada di dalam hutan belantara tadi.
Dua belas orang yang selamat itu berjalan beriringan melewati lorong-lorong panjang itu. Seragam mereka yang tadinya hijau sekarang sudah berubah warna menjadi cokelat lumpur, penuh sobekan dan noda darah kering. Wajah mereka masih menyimpan sisa ketakutan dan trauma, namun di balik itu semua, terpancar kilatan mata yang berbeda. Mata orang-orang yang pernah mati dan hidup kembali.
Mereka dibawa ke sebuah ruangan besar yang berisi fasilitas pembersihan dan ruang ganti. Di sana, instruktur memberi mereka pakaian baru: seragam tempur berwarna hitam legam, tebal, dan terbuat dari bahan yang sangat kuat, jauh lebih baik daripada seragam hijau yang mereka pakai selama ini. Di lengan kiri setiap seragam itu, tersulam lambang Garuda yang gagah, emas berkilau di atas kain hitam.
"Ini tandanya," bisik Bara pelan saat mereka sedang berganti pakaian. Ia mengusap lambang di lengannya dengan jari. "Kita bukan lagi sekadar calon. Kita sudah masuk ke dalam lingkaran dalam. Tapi ingat, Raka... semakin tinggi kita naik, semakin tajam pisau yang mengarah ke leher kita."
Raka mengangguk pelan sambil memakaikan baju barunya. Kain hitam itu terasa berat, seolah membawa beban tanggung jawab dan rahasia besar yang tersimpan di tempat ini. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di dinding. Wajahnya makin tirus, matanya makin tajam, dan bekas luka goresan di pipinya kini menjadi tanda kebanggaan. Ia terlihat seperti laki-laki dewasa yang sesungguhnya, bukan lagi pemuda yang bingung mencari uang untuk ibunya.
Setelah bersih dan berpakaian rapi, mereka dibawa ke aula makan besar. Di sana, makanan yang disajikan sangat melimpah. Nasi putih, daging ayam, daging sapi, sayuran segar, buah-buahan, dan air minum yang bersih. Semua orang terdiam sejenak menatap makanan itu. Selama berhari-hari mereka hanya makan cacing, kerang, ikan mentah, dan air dari batang pohon. Melihat makanan mewah seperti ini, rasanya seperti mimpi.
Namun, tidak ada yang berani langsung menyambar. Mereka sudah terlatih disiplin. Mereka menunggu perintah.
Komandan Hendra masuk ke ruangan itu, berjalan tegak, diikuti oleh dua orang laki-laki lain yang penampilan dan auranya jauh lebih mengerikan darinya. Laki-laki pertama bertubuh raksasa, bahunya sangat lebar, wajahnya penuh bekas luka, matanya tajam seperti elang. Laki-laki kedua lebih kurus, lebih pendek, tapi gerakannya sangat luwes dan tenang, matanya dingin dan kosong seolah tidak punya perasaan sama sekali.
"Silakan makan," ucap Komandan Hendra singkat sambil berdiri di depan meja. "Makanlah sampai kenyang. Isi tenaga kalian kembali. Karena mulai besok, makanan enak seperti ini akan menjadi hal yang langka. Kalian akan belajar makan apa saja, tidur di mana saja, dan bertempur dalam kondisi apa saja."
Mereka mulai makan dengan tenang, namun telinga mereka tetap menangkap setiap kata yang diucapkan sang komandan.
"Perkenalkan," lanjut Hendra sambil menunjuk ke arah laki-laki berbadan raksasa itu. "Ini Letnan Kolonel Arga. Dia akan menjadi pelatih utama kalian dalam taktik tempur jarak dekat, penggunaan senjata berat, dan kekuatan fisik. Dia adalah orang yang pernah membunuh tujuh orang sekaligus hanya dengan tangan kosong. Jangan pernah mencoba membantah atau menantangnya, kalau kalian ingin tetap punya tulang yang utuh."
Lalu ia menunjuk ke arah laki-laki kurus yang bermata dingin itu.
"Dan ini Mayor Seno. Dia adalah ahli intelijen, penyamaran, pembunuhan senyap, dan strategi. Dia adalah otak di balik setiap misi yang kami jalankan. Dia bisa membaca pikiran kalian hanya dengan melihat gerak-gerik kalian. Dia bisa membunuh kalian sepuluh cara berbeda sebelum kalian sempat berkedip."
Suasana ruangan menjadi hening seketika. Dua orang ini bukan sekadar pelatih. Mereka adalah monster tempur yang sesungguhnya.
Garuda Security ternyata jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan.
"Kalian dua belas orang ini adalah krim dari krimnya," lanjut Komandan Hendra, suaranya makin rendah dan serius. "Dari ribuan pendaftar, hanya kalian yang punya kombinasi antara kekuatan fisik, ketahanan mental, dan akal sehat yang cukup untuk bertahan hidup di dunia kami. Tapi ingat satu hal penting: sampai detik ini, kalian masih belum tahu apa sebenarnya Garuda Security ini."
Raka berhenti mengunyah. Ia menatap tajam ke arah Komandan Hendra. Di sinilah jawabannya. Di sinilah rahasia yang ia cari selama ini.
"Kalian pikir kami hanya perusahaan keamanan swasta yang menjaga gedung atau mengawal orang kaya?" tanya Hendra sambil tertawa dingin, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Kalian salah besar. Garuda Security adalah organisasi militer bayangan terbesar dan terkuat di kawasan ini. Kami tidak bekerja untuk pemerintah. Kami tidak bekerja untuk hukum negara mana pun. Kami bekerja untuk siapa saja yang mampu membayar harga tertinggi. Dan kami melakukan pekerjaan yang terlalu kotor, terlalu berbahaya, atau terlalu rahasia untuk dilakukan oleh tentara resmi atau polisi."
Darah Raka berdesir hebat. Ia menoleh ke arah Bara, dan ia melihat sahabatnya itu menatapnya dengan mata terbelalak kaget. Apa yang mereka dengar ini? Mereka bukan jadi tentara keamanan biasa... mereka jadi tentara bayaran?
"Kami melakukan segala hal," lanjut Mayor Seno, mengambil alih pembicaraan dengan suaranya yang halus namun mengerikan. "Pengamanan VIP, penumpasan pemberontak, penyelidikan rahasia, sabotase, bahkan pembunuhan sasaran tertentu. Kami ada di mana-mana. Kami punya mata dan telinga di setiap pemerintahan, di setiap perusahaan besar, di setiap kelompok kriminal. Kami adalah kekuatan yang bergerak di balik layar sejarah dunia."
Ia berjalan perlahan menyusuri meja makan, menatap satu per satu wajah mereka.
"Dan kalian... mulai hari ini... kalian akan dididik untuk menjadi bagian dari kekuatan itu. Kalian akan diajari cara menggunakan semua jenis senjata api dari seluruh dunia. Kalian akan diajari cara bertempur di hutan, di gurun, di kota, di laut, bahkan di gedung tinggi yang terbakar. Kalian akan diajari cara membunuh dengan tangan kosong, dengan pisau, dengan tali, atau hanya dengan selembar kertas. Kalian akan diajari cara mencuri informasi, cara menyamar, cara memanipulasi orang lain, dan cara bertahan hidup saat disiksa atau ditawan musuh."
"Namun ada satu aturan utama," potong Letnan Kolonel Arga dengan suara berat dan menggelegar, suaranya seperti guntur. "Aturan nomor satu, yang tidak boleh dilanggar sampai kapan pun: Kesetiaan mutlak kepada Garuda Security. Organisasi ini adalah ayah, ibu, Tuhan, dan nyawa kalian. Kalian tidak punya keluarga lain. Kalian tidak punya negara lain. Kalian tidak punya prinsip lain. Apa pun perintah yang diberikan, sekejam apa pun, sekeji apa pun, seberat apa pun... kalian harus laksanakan tanpa ragu, tanpa tanya, tanpa belas kasihan. Siapa pun yang berkhianat, siapa pun yang membocorkan rahasia, siapa pun yang ragu... akan dimusnahkan. Bersama dengan seluruh keluarganya, sampai ke akar-akarnya."
Ancaman itu sangat jelas, sangat nyata, dan sangat mengerikan.
Raka meremas tangannya di bawah meja. Ia teringat ibunya. Ia masuk ke sini demi uang pengobatan ibunya. Ia masuk ke sini demi masa depan. Tapi sekarang ia sadar, harga yang harus dibayar jauh lebih mahal daripada sekadar kerja keras. Harganya adalah jiwanya, kemanusiaannya, dan kebebasannya sendiri.
Ia menatap Komandan Hendra lagi. "Dan kalau kami menolak, Pak?" tanya Raka berani, suaranya tenang namun tegas.
Semua mata tertuju padanya. Letnan Kolonel Arga tersenyum miring, senyum yang menakutkan. Mayor Seno berhenti berjalan, menatap Raka tepat di mata.
"Menolak?" ulang Mayor Seno pelan. "Anak muda... kalian sudah melihat terlalu banyak. Kalian sudah masuk terlalu dalam. Kalian sudah memegang lambang ini." Ia menunjuk lengan Raka. "Di Garuda Security, pintu masuknya terbuka lebar. Tapi pintu keluarnya... hanya ada dua: Pintu Keluar Kehormatan, atau Pintu Keluar Mayat."
Mayor Seno mendekatkan wajahnya ke arah Raka.
"Pintu Keluar Kehormatan hanya dibuka saat kalian sudah tua, sudah tidak berguna lagi, dan sudah membuktikan kesetiaan selama puluhan tahun. Dan Pintu Keluar Mayat... ya, kalian sudah melihat banyak contohnya di hutan kemarin. Jadi pertanyaanmu tidak perlu dijawab lagi, kan?"
Raka diam. Ia mengerti sekarang. Ia dan teman-temannya sudah terperangkap. Tidak ada jalan balik. Mereka sudah menjual diri mereka sendiri tanpa sadar saat mendaftar dulu. Sekarang, satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menjadi yang terbaik, menjadi yang terkuat, dan berharap suatu saat nanti ia bisa mengendalikan nasibnya sendiri kembali.
"Bagus," ucap Komandan Hendra memecah keheningan yang tegang itu. "Kalian sudah diberi tahu kebenaran pahitnya. Sekarang, pilihannya hanya satu: Bertahan, naik ke puncak, dan menjadi orang yang ditakuti dan dihormati seluruh dunia... atau jatuh, hancur, dan dilupakan begitu saja."
Ia menunjuk ke arah pintu keluar.
"Kamar kalian ada di blok sebelah. Istirahatlah malam ini sepuasnya. Nikmati kenyamanan ini. Karena besok pagi, pukul 04.00 tepat, pelatihan sesungguhnya dimulai. Dan percayalah... ujian hutan kemarin hanyalah permainan anak-anak dibandingkan apa yang akan kalian alami mulai besok."
Mereka semua bangkit berdiri, memberi hormat, lalu berjalan keluar ruangan itu dalam diam. Di kepala mereka masing-masing, berputar seribu pertanyaan, seribu ketakutan, dan serambu tekad baru.
Di koridor, Raka dan Bara berjalan beriringan, diikuti Rio yang masih tampak terguncang mendengar kebenaran itu.
"Jadi kita tentara bayaran..." gumam Rio pelan, suaranya bergetar. "Kita akan dibayar untuk membunuh orang lain, untuk kepentingan orang lain... apa pun alasannya."
Bara menghela napas panjang, menatap langit-langit koridor yang tinggi.
"Dunia ini tidak seindah yang kita kira, Rio. Kita pikir kita jadi pahlawan, ternyata kita cuma alat. Tapi ingat satu hal... alat yang tajam akan dihargai. Alat yang tumpul akan dibuang. Kita sudah terlanjur masuk. Tidak ada jalan pulang. Satu-satunya cara kita bertahan hidup dan mendapatkan apa yang kita inginkan... adalah dengan menjadi alat yang paling tajam, paling kuat, dan paling berharga bagi mereka."
Raka mengangguk setuju. Ia meraba saku bajunya, merasakan foto ibunya yang terselip di sana.
"Bara benar," ucap Raka tegas. "Mereka mengira kita cuma alat. Mereka mengira kita bisa dikendalikan. Tapi mereka lupa... alat juga bisa berbalik arah. Alat juga bisa memilih siapa yang dipotongnya. Kita akan belajar semua yang mereka ajarkan. Kita akan jadi yang terbaik. Kita akan menguasai semua ilmu, semua strategi, semua kekuatan yang mereka punya. Dan suatu saat nanti... kita yang akan memegang kendali."
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang di kamar barak yang kini hanya berisi dua belas orang itu. Di luar jendela, ia melihat bentangan hutan gelap di kejauhan, tempat di mana ia menemukan sahabat sejati, tempat di mana ia belajar arti hidup dan mati. Dan di dalam markas ini, di balik tembok kokoh ini, ia tahu bahaya yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Besok pagi, pukul empat.
Pendidikan baja akan dimulai.
Dan Raka berjanji pada dirinya sendiri, pada ibunya, dan pada kawan-kawannya yang gugur di hutan... bahwa ia akan bertahan. Ia akan tumbuh menjadi kekuatan yang tidak bisa dihancurkan siapa pun. Dan suatu hari, ia akan mengungkap semua rahasia gelap Garuda Security, dan mungkin... menjatuhkan mereka dari dalam.