NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^03

'Berhentilah mengharapkannya, karena posisi mu akan kalah dengan seseorang yang dia sayangi'

Satu kalimat yang terlintas di kepala membuat Anna berusaha untuk tetap tenang dan menahan diri untuk tidak terpengaruh akan perkataan dari Aldi, yang entah kenapa sangat terang-terangan mengingatkan Anna akan perjuangannya tuk menarik perhatian seseorang yang memang sulit melihat ke arah Anna. Dan, Anna ingin tahu apa alasan utama dari hal iu. Apa benar, ada perasaan seseorang yang tengah orang itu jaga? Atau, ucapan Aldi sebuah jebakan tak kasat mata. Tatapi, bagaimana jika itu memang benar? Apa melangkah mundur pilihan terbaik sebelum mencoba kembali?

Tetapi, di sisi lain, Anna juga belum pasti seperti apa perasaannya terhadap orang itu. Mungkin, Anna hanya ingin berteman dengannya.

Anna juga tidak terlalu berharapan mendapatkan raga maupun hati orang itu. Karena, lagi dan lagi, kesadaran terus memenuhi kepala Anna, untuk tidak melangkah lebih jauh lagi. Tapi, ada waktu di mana, perasaan tidak bisa Anna kendalikan untuk diam pada posisinya.

Spontan kepala Anna mengangguk kecil, dengan sudut bibir sedikit tersungging. Saat kedua mata tidak sengaja membalas tatapan dari seorang wanita paruh baya yang tengah duduk sendiri di depan toko buku.

"Kau tidak pergi sekolah?" Tanya wanita paruh baya itu. Yang tidak mengalihkan pandangannya dari Anna, kini tengah memarkirkan sepedanya di antara beberapa sepeda yang berjejer rapi di depan toko.

"Aku harus bekerja jika ingin sekolah." Balas Anna dengan asal, sembari mengambil semua bunga yang berada di keranjang sepeda. Sebelum melangkah mendekat, dan kini berjongkok di hadapan wanita tua itu tanpa melupakan lengkungan sempurna yang menjadi penghias wajah cantik milik Anna.

"Apa mereka melepas tanggung jawabnya sebagai orang tua?" Kesal wanita itu, setelah mendengar kalimat tidak terduga dari Anna sebagai tanggapan.

"Jika aku mengatakan, 'iya' apa yang akan nenek lakukan?" Tanya Anna yang benar-benar senang sekali memancing amarah dalam diri seseorang dengan kesalah pahaman yang gadis itu buat sendiri.

"Aku akan menyeret mereka ke kantor polisi, dan mengambil alih hak asuh itu padaku."

"Jika nenek mengambil alih hak asuh itu, aku akan sangat senang sekali. Karena, hanya nenek yang dapat mengerti perasaan ku." Sangat antusias Anna melontarkannya, tanpa peduli kan permainan sesaat yang baru saja gadis itu mulai.

"Kau tidak perlu khawatir, nenek akan mengurusnya. Bagaimana bisa mereka menyuruhmu bekerja di saat anak seusia mu menuntut ilmu?"

Saat itu juga tawa keduanya pecah akan kekonyolan yang jarang sekali orang lakukan. Hanya karena, perbedaan usia. Tapi tidak untuk Anna. Gadis itu akan terlihat sangat antusias dan menerima tanpa merasa terbebani saat orang yang jauh lebih dewasa mengajaknya berargumen secara abstrak.

"Mereka merawatku denganbaik, nek. Mereka juga membiayai pendidikan ku tanpa melihat angka yang harus mereka keluarkan, dan mereka selalu memberiku makanan yang enak. Jadi nenek tidak perlu khawatir akan hal itu." Diam sejenak, Anna berusaha tetap menampilkan senyumannya dengan rasa nyeri memenuhi ruang dadanya.

"Bukankah itu sudah lebih dari cukup? Jika pun mereka tidak mengucapkan, 'selamat ulang tahun Anna' aku tidak mengharapkan hal banyak dari mereka." Sambung Anna yang terus menampilkan senyum tulusnya.

"Kau akan mendengarnya setelah pulang nanti." Rendah sangat nenek, seraya mengusap lembut kepala Anna.

Dan Anna hanya bergumam sebagai respon.

"Aku harus mengantarkan pesanan mereka lebih dulu. Setelah itu aku akan kembali dan bicara hal menyenangkan bersama nenek."

"Pergilah, jangan membuat mereka menunggu. Karena mencari pelanggan itu tidak semudah kau melempar batu ke dalam laut." Balas sang nenek.

Membuat Anna kembali menyempurnakan senyumannya, sebelum berdiri dari jongkoknya. Mengangguk sekilas. Dan kini melangkah pergi untuk menyeberangi jalan raya itu, tanpa membawa sepedanya.

Berdiri di antara banyak orang yang juga ingin menyeberangi jalanan itu, hingga lampu lalu lintas para pejalan kaki kini berubah menjai warna hijau, membuat mereka mulai melangkahkan kaki mereka masing-masing melintasi zebra cross. Terutama Anna.

Yang tidak pernah merasa takut sedikit pun saat berada di keramaian orang asing di sekitarnya saat ini. Karena hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan Anna setiap hari libur sekolahnya. Dan, Anna sangat menyukainya. Entah apa alasannya.

Karena Tessa juga bukan tipe orang yang suka banyak orang tahu jika dirinya hidup di muka bumi ini. Apalagi jika mereka sampai tahu kehidupan kelamnya, di mana Anna yang tidak tahu siapa ibu kandungnya.

Dan Anna lebih suka jika banyak pasang mata yang memilih memalingkan pandangan mereka Ketimbang melihat ke arah Anna, saat ia hadir di antara mereka. Karena bagi Anna, sorot mata yang mereka berikan sangat menakutkan bagi Anna.

Akan tetapi, saat kedua kaki jenjangnya mulai menginjak di pekarangan perumahan sederhana namun begitu elit dan sangat nyaman untuk di jadikan tempat tinggal. Kalimat manis mulai memenuhi pendengaran Anna, yang kini hanya bisa tersenyum tulus dengan kepala mengangguk sekilas untuk membalas sapaan dari mereka. Tanpa menghentikan langkah kakinya.

"Hai Anna?"

"Wajah mu lebih ceria dari biasanya."

"Selamat pagi Anna?"

"Sering-seringlah datang kemari, agar aku bisa melihat senyum cantik mu."

Seperti itulah para penghuni perumahan saat bertemu dengan Anna. Karena mereka tahu, jika Anna putri dari toko pemilik bunga yang sangat banyak pelanggannya.

Bukan berarti mereka menyapa Anna, mereka ingin mengenal Anna lebih jauh lagi ataupun ingin berteman dengan Anna. Mereka menyapa, hanya sebagai rutinitas. Agar siapapun yang berkunjung di perumahan mereka merasa nyaman dan damai, tanpa merasa terbebani.

Terus melangkah, tanpa mengalihkan pandangan mata dari angka-angka yang tertempel pada dinding tembok beberapa rumah yang Anna lewati.

"36, 37, 28, 39," mulut Anna terus bergumam, hingga_ "40__" Refleks Anna menghentikan langkahnya didepan pintu pagar rumah yang jauh lebih besar dari pada rumah yang saat ini Anna tinggali.

"Rumah besar belum tentu nyaman bukan?" Pelan Anna yang harus menahan diri untuk tidak merasa iri dengan kehidupan siapapun.

Mengangguk kecil dengan napas gusar, pandangan melihat ke dalam untuk mencari siapapun penghuni rumah itu. Hingga sosok yang terlihat familiar di mata Anna, baru saja keluar dari rumah. Membuat kening Anna mengerut samar, karena, sosok itu benar-benar tidak asing di mata Anna.

"Kenapa harus dia yang memesan bunga ini?" Gumam Anna, melihat buket bunga di dekapannya dengan senyum masam.

"Kau yang mengantarkannya?" Cetus orang itu saat tiba di hadapan Anna, sembari membuka pintu pagar.

"Selamat atas kemenangan mu." Alih Anna seraya menyodorkan bunga itu sang pemesanan. Tak lupa dengan struk yang kini di terima oleh sosok itu.

"Ucapan mu terdengar tidak tulus. Apa kau menyesal, jika kemenangan itu ku dapatkan?" Balas sang tuan rumah. Sekilas menaikan alisnya, tanpa lupa lengkungan tidak sempurna itu terlihat sangat meremehkan Anna.

"Itu hanya sebuah perlombaan, menang kalah sudah hal biasa. Bukankah seperti itu?" Tidak begitu cepat Anna memberi tanggapan.

"Emm__" kepala orang itu mengangguk kecil. "Memang harus seperti itu. Karena, aku akan menghalangi siapapun yang berniat menggeser namaku di posisi pertama."

"Terserah apa yang kau katakan." Akhir Anna, kini memilih memutar tumit untuk melangkah pergi tanpa mengucapkan kata pamit kepada sang tuan rumah. Karena, berteman baik tidak ada dalam kamus mereka berdua. Tapi bukan berarti Anna membenci kehadiran orang itu. Hanya saja, Anna tidak menyukai sikapnya yang sangat membuat Anna ingin sekali menarik surai panjang gadis itu.

"Yuna__"

Panggilan yang bukan ditunjukkan untuk Anna, tapi entah kenapa membuat gadis itu tersenyum masam. Merasa, jika rumah besar itu benar-benar tempat paling tenang dan nyaman untuk dihuni. Karena Anna tahu, keluarga Yuna sangat lah harmonis.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!