Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shocked
"Sumpah kalo bisa gue pengen turun aja dah!" gerutu Ziano. Kini tengah beranjak menuju toilet, tak sanggup mencium bau terasi dan jengkol yang begitu menyengat. Mana ribet banget kedua paruh baya itu terus memaksanya untuk makan.
"Astaga!" membuka pintu toilet malah membuatnya makin mual. Sempit dan tak sewangi kamar mandi di rumahnya.
Ziano mengurungkan niatnya untuk masuk toilet, padahal dia butuh membasuh wajah demi menghilangkan rasa kantuk karena percuma tidur pun tak bisa meskipun sudah dipaksa memejamkan mata, terlalu berisik dan penuh guncangan.
Menyusuri dari gerbong satu ke gerbong lain adalah pilihan yang ia ambil dari pada harus duduk beradu dengkul diirigi obrolan dan paksaan makan. Ditolak tetap maksa, mau ditelan pun tak sanggup. Nyatanya kondisi setiap gerbong yang ia pijak tak jauh beda dengan tempatnya tadi. Malahan gerbong kali ini lebih parah karena kaki para penumpang bahkan memenuhi ruang kosong diantara kursi yang digunakan untuk lewat. Sepertinya mereka terlalu pegal jika harus duduk sesuai aturan, space nya memang terlalu sempit. Katanya kereta ada kelas ekonomi, bisnis bahkan luxury, tapi kereta yang ditumpanginya terdiri nampaknya terdiri dari gerbong ekonomi semua. Sangat menyebalkan memang teman yang memesankan tiket untuknya.
"Nah disini aja lumayan." Ziano sedikit bernafas lega begitu memasuki gerbong restorasi. Kursinya cukup manusiawi dan tak seramai gerbong-gerbong yang lain. Pikirnya mungkin karena kebanyakan membawa bekal sendiri sehingga gerbong makan kosong. Supaya bisa berlama-lama disana, Ziano memesan beberapa makanan meskipun tak sama sekali ia sentuh, kecuali satu gelas teh tawar hangat yang ia teguk. Itu pun masih ia ragukan kehigienisannya, mengingat sang mama nyaris tak pernah memberinya junkfood sejak kecil.
Tiga jam berlalu Ziano mulai merasa bosan, "pemberhentian berikutnya gue turun aja lah. Nyari kereta yang bagusan dikit." batinnya.
Niatnya pergi ke Jogja, menemui pamannya yang tinggal disana, Shaka. Kali ini dia tak akan tertipu dengan tiket yang dipesankan Zaki. Temannya menginstruksikan turun di stasiun Purwokerto kemudian lanjut dengan kereta api Kutojaya Selatan menuju stasiun Tugu. Tapi bodo amat, lebih baik gunakan uangnya yang sedikit itu untuk membeli tiket baru, urusan di Jogja nanti bisa minta tambahan uang saku ke pamannya. Ini kan challenge hidup sederhana selama seminggu. Sekali lagi, sederhana bukan tutorial jadi orang susah pikirnya.
Saat terdengar suara pengumuman bahwa kereta akan berhenti di Stasiun Banjar, Ziano tak peduli, ia langsung turun dan bernafas lega setelah untuk turun pun ia harus berdesakan dengan penumpang lain.
"Finaly, gue bisa gerak bebas." gumamnya seraya meregangkan tangan.
Menengok kiri kanan ia memilih duduk di kursi tunggu saat penumpang lain pergi ke pintu keluar. Ia duduk santai sambil menatap kereta yang telah ditumpanginya berlalu meninggalkan stasiun dengan begitu lambat. Rasanya ada yang kurang tapi entah apa, Ziano tak menyadarinya.
Sudah hampir sepuluh menit berlalu duduk santai tapi rasanya tetap saja seperti masih berada didalam kereta, guncangannya masih terasa. Ziano menggelengkan kepalanya, "gini banget efeknya."
Menghela nafas panjang, tangan kirinya merogoh saku celana untuk mengambil dompet.
"Heh!" masih tenang meski tak menemukan benda itu, kini tangannya beralih mencari ke saku jaket yang ia kenakan. nihil.
"Mam pus gue." raut panik jelas mulai nampak kali ini. Biasanya tanpa dompet pun tak masalah, tapi kali ini dompet tak ada HP pun tak ada. Tamat sudah.
Ziano mulai berdiri, mengamati sekitar, bahkan kini ia jongkok guna mencari di bawah kursi, tapi lagi-lagi tanpa hasil.
Huh! helaan nafas frus ta si itu terdengar berat. Tangannya reflek menjambak rambutnya sendiri, "si al banget sih!"
Ziano kembali duduk sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, kepalanya sedikit menengadah karena kursi itu tak mampu menopang kepalanya. Ia makin menghela nafas panjang begitu menyadari jika bukan hanya dompetnya yang hilang, tas nya pun tertinggal di gerbong karena selepas dari gerbong restorasi ia tak kembali ke tempat duduk malah langsung turun.
"Bener-bener dah!" gumamnya lagi.
"Uti.. Uti.. lihat, itu Aa yang tadi duduk sama kita."
Mendengar suara yang tak asing, Ziano segera mengangkat kepalanya. Gadis kecil dengan rambut kuncir dua tengah berdiri di sampingnya, lengkap dengan kakek dan neneknya.
Ziano kembali menghela nafas panjang. Bisa-bisanya ketemu orang yang sama lagi.
"Uluh turun di dieu oge si kasep, Abah. Asli orang Banjar oge kasep? atanapi wargina urang dieu?" (Oh turun disini juga si ganteng, Kek. Asli orang sini juga ganteng? atau saudaranya yang orang sini?) tanya si nenek dengan ramah.
"Si Aa kayaknya lagi pusing, Uti. Jangan-jangan Aa nya nggak tau Uti ngomong apa." celoteh si cucu.
"Euleh punten atuh," (Ya ampun maaf kalo gitu) ucap si nenek.
Ehm. Ziano berdehem pelan, "saya paham bahasa sunda, nek. Hanya tidak terbiasa saja." jelas Ziano sopan.
"Saya bukan orang sini, mau ke Jogja tapi..." lanjutnya menjelaskan insiden kehilangan dompet bahkan tas yang ketinggalan.
"Euleuhh meuni karunya teuing Kasep." (Ya ampun kasihan banget) nenek berempati atas musibah yang dialami Ziano.
"Susah atuh ari dompet, tas, HP nggak ada mah." sambung kakek yang mulai bicara menggunakan bahasa indonesia meskipun campur aduk.
"Iya, begitu lah pak. Ini pengalaman pertama naik kereta, mana dikerjain temen pula." keluh Ziano.
Si kakek mengangguk berulang, "saya paham akan kesulitan yang kamu alami sekarang."
"Terus rencana selanjutnya mau kemana?"
Ziano menggelengkan kepala, dirinya kini double pusing. Kombinasi pusing karena tak tidur sama sekali ditambah pusing memikirkan nasib kedepannya. "belum tau, Pak." jawabnya singkat.
"Gimana kalo ikut pulang sama saya saja? kebetulan saya ada beberapa pekerjaan, bantu-bantulah. Nanti saya bayar, uangnya nanti bisa kamu gunakan untuk kebutuhanmu." ucap kakek.
Ziano memicingkan matanya. Kerja?
Padahal ia berniat pinjam uang saja untuk pulang kemudian akan ia ganti berkali-kali lipat.
"Kenalan dulu aja, Nur Kholidin." si kakek mengulurkan tangan. "Panggil aja Aki Dikun. Ini istri saya, Yatmini, panggil aja ambu Yayat. Dan yang cantik ini cucu aki, Lusi."
Meskipun belum setuju akan tawaran si kakek, Ziano balas menyambut tangannya. "Graziano, Ki. Panggil Ziano saja."
"Oke Cep Nono." ucap Aki Dikun.
"Ziano, Ki." ralat Ziano.
"A Nono." si kecil Lusi ikut-ikutan manggil.
"Hese ah, atos we Ano nya disebat na." (susah ah, udah Ano aja dipanggilnya) pungkas Aki Dikun.
Ck! Ziano hanya berdecak lirih. Kenapa saat nyasar pun ia harus ketemu orang-orang absurd. Mungkinkah ini karma? tak cukup kah panggilan-panggilan aneh yang disematkan keluarga padanya? kini malah nambah nama panggilan baru. Tak lama ia tersenyum, tiba-tiba teringat ratu jeli yang mungkin akan tantrum ketika mengetahui dirinya tak ada di rumah.
"Hayu ke depan, sakedap deui incu aki ngejemput." (ayo ke depan, bentar lagi cucu kakek jemput) ucap Aaki Dikun.
Ziano diam sebentar, tak ada pilihan lain, ia lantas mengikuti Aki Dikun. Tak tinggal diam ia membantu membawa dua kardus yang lumayan berat. Heran juga, cuma dua orang dewasa dan satu anak kecil tapi kenapa bawaannya banyak banget.
Kini mereka sudah di luar stasiun. "Nah itu mobilnya datang."
Ziano yang semula duduk di trotoar kini berdiri dan mencari mobil yang dimaksud. Melihat ke sekeliling tak ada mobil yang menuju ke arah meraka kecuali kolbak biru dengan lampu kuningnya.
"Yang mana mobilnya, Aki?" tanya Ziano.
"Lah itu yang kesini."
"Yang biru?" firasat Ziano sudah tak enak.
"Iya." jawab Aki singkat tapi membuat Ziano tercengang.
"Kamu sama Aki duduk di belakang. Ambu sama Uci di depan." jelas Aki.
"Apa? di belakang?" Ziano masih mencoba mencerna. Di belakang? bukankah di belakang tak ada kursinya?
Belum selesai dengan pikirannya, mobil biru itu sudah berhenti di depannya. Matanya berkedip berulang kali diikuti gelengan kepala tak percaya. "Di belakang?" ucapnya lirih. Ditambah lagi setengah dari bak mobil itu penuh dengan sayur mayur. Bahkan untuk menelan ludah pun rasanya seperti menelan beling.
"Seriusan ini gue duduk di belakang? mobil bak, tanpa atap, tanpa dinding dan tanpa kursi malah bareng sayuran?" batinnya tak percaya.
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih