Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setelah cukup lama aku berbincang dengan semua keluarga aku pun memilih untuk pamit masuk kamar. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menyandarkan punggungku di sandaran kasur. Tak lama Galang masuk dan dia melangkah mendekati ku.
"Besok gue harus kembali, terserah lo mau ikut pulang atau tetap disini gue gak maksa lo, " ucapnya jutek.
Aku tidak langsung menjawab hanya menatapnya saja.
"Lo tau sendiri pernikahan ini cuman untuk menutupi nama baik keluarga jadi lo jangan berharap lebih dari pernikahan ini, " lanjutnya.
Aku kaget dengan perkataannya jadi selama ini dia cuman ingin menyelamatkan nama baik keluarga. Tapi berbeda dengan ku walau awalnya aku pun seperti itu namun sebuah pernikahan tidak bisa di jadikan permainan dan buat ku cukup sekali aku menikah.
"Aku ikut dengan mu, " ucap ku tegas membuat Galang yang hendak keluar kamar langsung berbalik ke arah ku.
"Oke kalau itu keputusan kamu, " ucapnya lalu keluar lagi.
Aku terlanjur masuk dalam pernikahan ini jadi aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan penurut bahkan aku akan berusaha untuk membuat Galang bisa Terima aku dan jatuh cinta pada ku walau sebenernya aku pun belum ada perasaan apa-apa padanya karena hati ku masih milik Doni.
"Alika, " ibu memanggilku.
"Masuk aja bu, " teriak ku dan ibu pun masuk.
Ibu duduk di samping ku lalu memegang tangan ku.
"Galang sudah ngasih tau ibu sama bapak kalau besok kamu mau ikut dia pulang, " ucap ibu.
"Iya bu, aku ini kan istrinya kemana pun dia pergi aku harus ikut, " balas ku.
"Tapi, kondisi kamu belum benar-benar sehat, " ujar ibu khawatir.
"Aku gak apa-apa kok bu, ibu sama bapak gak usah khawatir, " ucap ku sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau itu sudah keputusan kamu ibu sama bapak cuman bisa mendoakan saja, " ucap ibu sambil mengelus rambut ku.
Ibu keluar dan aku pun berjalan ke arah lemari baju dan aku keluarkan berapa baju yang akan aku bawa. Aku tidak terlalu banyak membawa baju toh di kota besar bisa beli lagi. Setelah selesai membereskan baju yang akan di bawa aku pun berbaring kembali karena tubuh ku masih terasa lemas.
Saat makan malam ibu mau bapak tidak banyak bicara bahkan Erika pun dia hanya diam saja.
"Aku tau kalian gak setuju aku ikut bang Galang tapi ini keputusan ku dan kewajiban ku sebagai seorang istri, " ucap ku.
"Aku gak masalah kalau kamu gak ikut biar nanti seminggu sekali atau sebulan sekali aku pulang, " ujar Galang dan aku meliriknya.
"Kalau gitu caranya kapan kita saling kenal? " tanya ku dan Galang melirik ku dengan ekspresi kaget.
"Benar kata Alika, jika kalian berjauhan mau kapan kalian saling kenal. Bapak setuju Alika ikut kamu, " ucap bapak.
"Aku titip Alika, kalau kamu gak bisa mencintai Alika jangan sakiti dia dan kembalikan dia pada kami, " ucap kang Arfan membuat aku kaget.
"Baik kang, " jawab Galang.
Selesai makan kami pun selesai makan dan aku langsung naik ke tempat tidur lalu berbaring. Aku pun langsung tidur karena efek dari obat jadi bawaannya ngantuk. Namun saat tengah malam aku ke bangun karena ingin ke kamar mandi. Saat aku bangun aku kaget saat melihat Galang masih belum tidur dan dia masih sibuk dengan laptopnya.
"Kamu kenapa belum tidur? " tanya ku dan Galang melirik ku.
"Masih ada kerjaan, " jawab nya ketus.
Aku pun keluar kamar karena rumah kami tidak mempunyai kamar mandi di dalam kamar. Setelah dari kamar mandi aku gak langsung masuk kamar melainkan duduk di meja makan sambil memegang air minum. Aku masih merasakan sakit di hati ku atas pengkhianatan Doni, ingin rasanya aku menemuinya lalu menamparnya dengan tangan ku ini namun apakah daya untuk bertemu dengannya pun aku tak sanggup.
"Teh, " panggil Erika dan aku pun langsung menghapus air mata ku.
"Lagian ngapain disini? " tanya nya mendekati ku.
"Habis dari kamar mandi, karena haus jadi aku minum dulu, " jawab ku.
"Teteh masih mikirin kang Doni ya? " tanya nya dan aku tidak menjawab pertanyaan Erika.
"Kalau menurut teteh dengan menangis bisa membuat teteh lega, menangis saja teh, " ucap Erika.
"Apa salah ku kenapa nasib ku seperti ini? " tanya ku dengan lirih.
"Teteh gak salah hanya saja teteh wanita kuat jadi Allah lebih sayang teteh. Teteh harus yakin suatu hari teteh bakal mendapatkan berkah dari setiap kejadian ini. Sekarang saja Allah langsung datang kan kang Galang yang menurutku lebih segalanya dari kang Doni, "ucap Erika membuat aku bingung.
" Kang Galang itu ganteng tinggi putih, pokonya lebih oke deh dari kang Doni, "ujar Erika muji Galang.
"Tapi dia jutek, " tambah ku.
"Jutek karena belum kenal, kalau udah kenal dan sayang biasanya bakal bucin banget, " balas Erika.
"Dih apaan, aku gak berharap lebih dengan pernikahan ini, " ucap ku lalu berdiri dan meninggalkan Erika di meja makan, namun langkah ku terhenti saat melihat Galang berdiri di depan pintu kamar dan sepertinya di mendengarkan pembicaraan ku dengan Erika.
"Abang mau ngapain? " tanya ku canggung.
"Gak apa-apa, " jawab lalu masuk kembali.
Aku pun ikut masuk lalu kembali naik ke atas tempat tidur.
"Abang gak tidur? " tanya ku saat melihat Galang duduk kembali di depan laptopnya.
"Abang tidur disini aja, " ucapku sambil memperbaiki bantal.
Galang melirik ku dan menatap ku tajam.
"Abang tenang saja aku gak akan macam-macam, " ucap ku lalu membelakanginya.
Aku bisa merasakan Galang naik ke tempat tidur dan dia tidur di samping ku. Sebenarnya aku juga sedikit gak karuan karena di samping ku ada pria asing beda lagi kalau yang tidur di samping ku Doni. Lagi dan lagi aku teringat pada Doni dan air mata ku jatuh begitu saja. Aku pun mencoba menutup mata agar segera tidur.
Paginya saat aku bangun Galang sudah tidak ada di samping ku dan saat aku lihat dia sudah rapi, aku pun seger bangun namun saat melihat jam ternyata masih jam lima pagi.
"Kita berangkat jam berapa? " tanya ku.
"Jam delapan, " jawab nya.
"Terus kenapa abang udah siap? ".
" Aku sengaja mandi sebelum anggota rumah ini bangun, toh aku gak biasa mandi di tempat seperti itu, "jawab nya membuat aku terdiam.
Aku pun turun dari tempat tidur dan langsung keluar tak lupa membawa handuk dan baju. Saat aku selesai mandi di depan kamar mandi sudah ada Erika adik ku.
" Pagi banget mandi nya? "tanya nya sambil menyinggung kan senyum dan itu senyum penuh arti.