NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16: Rahasia di Balik Masa Lalu

Episode 16: Rahasia di Balik Masa Lalu

Matahari sudah meninggi, namun cahaya pagi yang cerah seolah tak mampu menembus suasana tegang yang masih menyelimuti halaman rumah sederhana itu. Setelah mobil Kirana menghilang di tikungan jalan, keheningan yang berat menyelimuti semua orang. Pak Haris masih memegang sisa-sisa kertas surat tuntutan yang sudah dirobek Arkan, sementara Bu Ibu menutup mulutnya, masih tak percaya atas apa yang baru saja terjadi.

Nara berdiri diam di samping Arkan, jantungnya masih berdebar kencang, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa haru dan kelegaan yang bercampur baur. Ia menatap sisi wajah Arkan yang tampak tegar namun lelah. Pria itu berani melawan Kirana, berani mengorbankan segalanya demi membela mereka. Namun, di balik keberanian itu, Nara bisa melihat bayangan kekhawatiran di mata Arkan. Ia tahu, perjuangan ini baru saja dimulai, dan Kirana tidak akan berhenti sampai di sini.

Pak Haris menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Arkan. Ia meletakkan tangan yang kasar dan penuh urat di bahu pemuda itu, menatapnya lekat-lekat.

"Arkan... Kau tahu apa yang kau lakukan tadi? Kau baru saja menantang wanita yang sangat berkuasa, dan kau melakukannya demi kami. Kau tahu, Kirana tidak main-main. Ancaman terakhirnya... ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-katanya. Aku bisa merasakannya," ucap Pak Haris dengan suara rendah, penuh perhatian namun juga waspada.

Arkan mengangguk pelan, menatap bapak dari wanita yang dicintainya itu dengan pandangan jujur dan penuh penyesalan.

"Aku tahu, Pak. Aku tahu risikonya. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain berdiri di sini. Aku tidak akan membiarkan dia merusak hidup orang-orang yang baik, apalagi orang-orang yang paling berharga bagiku. Kirana berpikir dia memegang kendali atas segalanya karena uang dan koneksi. Tapi dia lupa satu hal: ada hal yang tidak bisa dibeli atau dikendalikan, yaitu kebenaran. Dan aku akan mencari kebenaran itu, apa pun yang terjadi."

Bu Inah yang sedari tadi diam di dekat pagar, mendekat dengan langkah ragu. Wajahnya tampak pucat, matanya berkaca-kaca. Ia melirik ke arah jalan raya seolah takut Kirana akan kembali mendadak, lalu berbisik, suaranya gemetar seolah menahan beban berat yang sudah lama disimpan.

"Tuan Arkan... ada sesuatu... sesuatu yang mungkin harus Anda ketahui. Sesuatu tentang Mbak Kirana... tentang masa lalu dia saat berada di luar negeri."

Arkan menoleh cepat, matanya menyipit tajam. "Apa maksudmu, Bu Inah? Kau tahu sesuatu? Katakan saja, apa pun itu. Semuanya penting sekarang."

Bu Inah menelan ludah, melirik ke arah Nara dan orang tuanya, lalu melanjutkan, "Dulu... sebelum Bapak dan Ibu Arkan meninggal, dan sebelum Tuan pergi merantau, Ibu Arkan pernah bilang sesuatu padaku. Waktu itu aku masih bekerja di rumah besar itu. Beliau bilang, Kirana bukan gadis jujur. Beliau pernah menangkap telepon, mendengar percakapan... tapi saat itu tidak ada yang percaya, karena Kirana selalu pandai berpura-pura baik. Dan... saat berita datang bahwa Tuan mengalami kecelakaan di luar negeri lima tahun lalu... dan kabar bahwa Kirana yang menyelamatkan dan merawat Anda sampai pulih... ada yang janggal, Tuan. Sangat janggal."

Jantung Arkan seakan berhenti berdetak. Ingatannya tentang masa lima tahun lalu masih kabur dan terpecah-pecah. Kecelakaan parah itu, masa pemulihan yang panjang, dan Kirana yang selalu ada di sisinya, berkata bahwa ia adalah satu-satunya orang yang peduli padanya. Arkan dulu begitu berterima kasih, begitu percaya, hingga ia menuruti semua kemauan Kirana dan meninggalkan segalanya, termasuk perasaannya sendiri, karena merasa berutang nyawa padanya.

"Janggal bagaimana, Bu Inah?" desak Arkan, suaranya serak. "Kau mau bilang... kecelakaan itu bukan kebetulan? Bahwa dia...?"

"Aku tidak berani menuduh, Tuan. Aku cuma pembantu tua, tapi mata ini masih bisa melihat dan telinga ini masih bisa mendengar. Saat Anda koma berbulan-bulan di sana, Kirana sering berbicara di telepon dengan nada marah dan menekan seseorang. Dia bilang, 'semuanya harus selesai sekarang, jangan sampai ada bukti yang tersisa'. Dan saat Anda sadar, dia selalu bilang bahwa Anda menderita amnesia sebagian karena benturan keras di kepala. Tapi... aku pernah mendengar dari dokter yang dulu merawat Anda saat dibawa pulang... bahwa luka di kepala Anda sepertinya disengaja, bukan murni akibat kecelakaan mobil."

Arkan mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding rumah. Dunianya terasa berputar. Potongan-potongan ingatan yang kabur mulai mencoba menyatu, namun masih ada kabut tebal yang menutupinya. Rasa sakit di kepalanya terasa kembali datang. Apakah selama ini dia hidup dalam kebohongan besar? Apakah wanita yang dia anggap pahlawan penyelamat hidupnya, justru orang yang hampir membunuhnya?

Nara segera memegang lengan Arkan, menopang tubuh pria itu yang tampak goyah. "Arkan? Kau baik-baik saja? Jangan memaksakan dirimu mengingat kalau itu menyakitkan."

Arkan menatap Nara, matanya memancarkan kemarahan yang bercampur dengan ketakutan akan kebenaran yang mungkin jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkannya.

"Dia bilang... dia menyelamatkanku. Dia bilang dia membiayai pengobatanku, merawatku siang malam, mengorbankan segalanya demi aku... Dan aku bodoh, aku percaya. Aku merasa berutang nyawa padanya, makanya aku melakukan apa saja yang dia minta. Aku meninggalkan mimpiku, aku mengikuti semua aturannya, aku bahkan hampir menikah dengannya hanya karena rasa bersalah itu..." Arkan mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras. "Dia menggunakan rasa bersalahku untuk menguasai hidupku. Dan mungkin... dia-lah penyebab aku harus merasa bersalah itu sejak awal."

"Kalau itu benar..." bisik Pak Haris dengan nada berat, "maka Kirana bukan hanya wanita yang iri dan tamak, Arkan. Dia berbahaya. Dia akan melakukan apa saja, termasuk membunuh, demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sekarang, karena kau berpihak pada Nara, kau menjadi ancaman terbesarnya. Dia tidak akan ragu untuk melukaimu juga."

Arkan menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia menatap wajah semua orang di hadapannya—orang-orang yang tulus, orang-orang yang tidak pernah berubah meski hidup susah. Ia tidak akan membiarkan kejahatan menang.

"Aku harus pergi ke kantor hukum keluarga. Aku harus mencari berkas lama, berkas tentang kecelakaan itu, tentang perusahaan, semuanya. Aku harus buka semua pintu yang selama ini ditutup rapat oleh Kirana. Dan aku butuh bantuan, Bu Inah. Kau adalah satu-satunya orang yang ada sejak dulu, satu-satunya yang masih jujur bersedia bicara padaku. Maukah kau membantuku mengingat semua hal yang kau tahu, sekecil apa pun?"

Bu Inah mengangguk tegas, matanya berkobar semangat. "Siap, Tuan. Sudah lama aku ingin bicara, tapi aku takut. Takut kalau kau tidak percaya, takut dia akan mencelakakanku. Tapi sekarang... aku melihat kau sudah bangun dari buaian mimpi buruk itu. Aku akan bantu sekuat tenaga."

Nara menatap Arkan dengan cemas. "Tapi Arkan... kalau kau melakukan ini, kau menantang nyawamu sendiri. Kirana punya banyak orang bayaran, dia punya kuasa di mana-mana. Bagaimana kalau dia berbuat jahat padamu saat kau mencari bukti?"

Arkan menoleh, tersenyum tipis namun menenangkan. Ia mengusap pipi Nara dengan lembut. "Selama aku tahu kau aman, aku tidak takut apa pun. Lagipula, aku tidak sendirian lagi. Aku punya kalian. Dan aku punya hak untuk mengetahui kebenaran tentang siapa diriku sebenarnya dan siapa wanita yang selama ini aku percayai."

 

Sementara itu, di dalam mobil mewah yang melaju kencang kembali menuju pusat kota, Kirana duduk di kursi belakang dengan napas memburu. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap-luap hingga tangannya gemetar. Di sampingnya, seorang pria berwajah dingin dan berotot duduk diam, dia adalah salah satu orang kepercayaan lamanya yang ia bawa dari luar negeri.

"Kau lihat kan? Arkan berani melawanku. Dia berani mempermalukan aku di depan orang-orang kampung itu! Dia lebih memilih mereka daripada aku! Setelah semua yang aku korbankan, semua yang aku berikan padanya..." geram Kirana, suaranya melengking tinggi, hampir histeris.

Pria di sampingnya berdeham pelan, suaranya rendah dan berat. "Tenang, Nona. Kau sudah mengantisipasi hal ini. Kau bilang masih ada kartu terakhir. Kalau dia sudah tidak mau diajak bicara baik-baik, saatnya kita mainkan langkah terakhir. Ingat, dokumen yang kau simpan... itu bisa menghancurkan dia seketika."

Kirana tersenyum miring, senyum yang mengerikan dan penuh kejam. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit dari tas tangannya, lalu membuka halaman yang ditandai. Di sana terselip foto lama—foto Arkan yang terbaring lemah di rumah sakit, dengan luka parah di kepala, dan sebuah salinan dokumen medis yang sudah dimanipulasi, serta rekaman percakapan lama yang disimpan dalam bentuk file digital.

"Arkan ingin tahu kebenaran? Dia ingin membongkar masa lalu? Baiklah... aku akan berikan kebenaran itu. Tapi bukan kebenaran yang dia kira. Aku akan pastikan, saat dia tahu apa yang ada di dalam berkas ini, dia akan jatuh lebih dalam dari siapa pun. Dia akan kehilangan segalanya: nama baik, harta, dan bahkan kepercayaan orang-orang yang dia bela mati-matian itu."

Kirana menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi kota berlalu di depan matanya.

"Arkan mengira dia pahlawan? Dia mengira dia bisa menyelamatkan putri kecilnya itu? Tunggu saja sampai dia tahu... bahwa kekayaan yang dia banggakan, kekayaan yang dia gunakan untuk melawanku... sebagian besar ada di tanganku. Dan lebih dari itu... aku punya bukti bahwa kecelakaan lima tahun lalu bukan hanya kecelakaan. Dan aku akan memastikan, Arkan akan dituduh sebagai pelaku yang menyebabkan kematian orang tuanya sendiri dalam kecelakaan itu, bukan korban."

Pria di sampingnya mengangguk dingin. "Akan saya siapkan semuanya. Kita akan sebarkan berita ini besok pagi. Dan saat itu, Arkan Adhitama tidak akan punya tempat lagi di dunia ini."

 

Siang harinya, Arkan langsung menuju kantor pusat perusahaan keluarga Adhitama. Gedung pencakar langit itu berdiri megah, namun bagi Arkan sekarang, tempat ini terasa seperti benteng yang dibangun di atas kebohongan. Ia berjalan masuk dengan langkah tegas, diikuti oleh pengacara lama keluarganya yang masih setia dan dipercayanya, Pak Wijaya.

Mereka menuju ruang arsip lama yang sudah lama terkunci dan hanya bisa dibuka dengan izin pemilik saham mayoritas. Kirana selama ini yang memegang kendali penuh atas aset dan dokumen perusahaan dengan alasan mewakili Arkan yang "belum pulih sepenuhnya".

"Pak Wijaya, saya butuh melihat semua dokumen akta perusahaan, surat-surat warisan orang tua saya, dan laporan keuangan lima tahun terakhir. Semuanya," perintah Arkan sambil membuka pintu ruang arsip yang berdebu itu. "Saya curiga, Kirana tidak hanya memanipulasi hidup saya, tapi juga menggelapkan aset dan mengubah jalannya perusahaan ini demi keuntungan pribadinya."

Pak Wijaya mengangguk dengan wajah serius, tangannya bergetar saat memegang berkas-berkas tebal itu. "Sudah lama saya ingin bicara, Tuan Muda. Ada banyak transaksi yang janggal, banyak uang yang keluar tanpa keterangan jelas, dan keputusan-keputusan yang diambil sepihak oleh Nona Kirana. Tapi saya terikat kontrak dan ancaman, saya takut beliau akan mencelakai keluarga saya jika saya bicara."

Mereka mulai memeriksa satu per satu berkas. Berjam-jam berlalu, hingga akhirnya tangan Arkan berhenti pada satu dokumen tebal berwarna merah. Di sampulnya tertulis: Laporan Penyelidikan Kecelakaan Mobil Keluarga Adhitama - 2021.

Arkan membuka halaman demi halaman, matanya meneliti setiap baris tulisan, setiap foto, dan setiap keterangan saksi. Semakin ia membaca, semakin wajahnya memucat. Di laporan resmi tertulis bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh kelalaian pengemudi—yaitu Arkan sendiri. Disebutkan bahwa Arkan mengemudi dalam keadaan tidak sehat dan tidak sadar, sehingga menabrak pembatas jalan dan menyebabkan kematian kedua orang tuanya yang ada di kursi belakang.

Tapi ada sesuatu yang salah. Di sudut laporan itu, ada cap revisi yang dicoret samar, dan ada tanda tangan yang tidak dikenal. Dan di bagian bukti barang, ada foto rem mobil yang rusak parah. Arkan, yang pernah belajar sedikit tentang otomotif dari ayahnya, melihat ketidaksesuaian. Kerusakan pada rem itu bukan karena benturan, tapi terlihat seperti ada jejak paksa atau pemotongan yang dilakukan sebelumnya.

"Dia mengubah laporan ini..." bisik Arkan, napasnya tercekat. "Dia membuat semua orang percaya bahwa aku yang membunuh ayah dan ibu dalam kecelakaan itu. Dia membuatku hidup dengan rasa bersalah bertahun-tahun, membiarkanku membenci diri sendiri, agar aku selamanya berutang budi dan patuh padanya."

Pintu ruang arsip terbuka tiba-tiba. Seorang pegawai berjalan tergesa-gesa dengan wajah pucat, memegang sebuah tablet di tangannya.

"Tuan Arkan... Anda harus melihat ini. Berita baru saja menyebar di semua saluran berita dan media sosial. Ada dokumen dan rekaman suara yang baru saja diunggah. Isinya... isinya sangat buruk, Pak."

Arkan menyambar tablet itu. Di layar utama, judul berita besar berkedip: "RAHASIA KELUARGA ADHITAMA: ARKAN ADHITAMA PELAKU KECELAKAAN YANG MENEWASKAN ORANG TUANYA? DOKUMEN DAN BUKTI SUARA TERBONGKAR!"

Jantung Arkan serasa berhenti berdetak. Ia memutar rekaman suara itu. Suara yang terdengar adalah suaranya sendiri, yang terdengar bingung dan lemah saat masih dalam pemulihan pasca koma, berbicara dengan Kirana.

"Aku... aku ingat mobil itu berjalan cepat... aku merasa bersalah... aku tidak bermaksud... aku membunuh mereka, kan, Kirana? Aku yang membunuh Ayah dan Ibu?"

Dan jawaban Kirana terdengar lembut namun penuh manipulasi: "Ya, Arkan. Itu kecelakaan. Tapi kau tidak sadar. Aku yang akan menanggung malu ini. Aku yang akan merahasiakannya agar kau tidak dipenjara. Aku akan menyelamatkanmu, meski semua orang membencimu jika tahu kebenarannya."

Rekaman itu dipotong dan disusun sedemikian rupa sehingga seolah Arkan mengakui kesalahannya, dan Kirana tampak sebagai pahlawan yang rela berkorban menutupi dosa besar itu.

Arkan jatuh terduduk di kursi. Dia mengerti sekarang. Ini adalah langkah terakhir Kirana. Dia tidak hanya ingin memisahkan dia dengan Nara. Dia ingin menghancurkan nama baiknya, membuatnya dibenci semua orang, dikucilkan, dan dipenjara. Sehingga tanpa kuasa dan tanpa nama baik, Arkan tidak akan punya apa-apa, dan akan kembali merangkak memohon belas kasihan padanya.

"Dia benar-benar ingin menghancurkanku..." gumam Arkan, matanya memerah menahan amarah dan kepedihan yang luar biasa. "Dia mengubah kenyataan, dia memutarbalikkan fakta, dan sekarang seluruh dunia berpikir aku adalah anak durhaka yang membunuh orang tuanya demi harta."

Ponsel Arkan berdering tak henti, pesan masuk bertumpuk. Dari kerabat, mitra bisnis, bahkan panggilan dari kepolisian. Namun satu pesan yang paling membuat hatinya bergetar datang dari Nara:

"Arkan, aku tahu kamu tidak bersalah. Apa pun yang dikatakan dunia, aku percaya padamu. Aku bersamamu. Kita akan hadapi ini bersama."

Arkan menggenggam ponsel itu erat. Di titik terendah dalam hidupnya, saat semua orang mulai menuduh dan menjauh, hanya Nara yang tetap berdiri teguh di sisinya.

"Baiklah, Kirana..." ucap Arkan pelan, matanya kembali menatap dokumen di tangannya, menatap jejak-jejak manipulasi yang ada di sana. "Kau mau main kotor? Kau mau menuduhku melakukan hal yang paling kejam di dunia? Kau pikir kau sudah menutup semua jejakmu? Kau salah. Aku mungkin tidak ingat semuanya, tapi kebenaran tidak akan pernah bisa dibunuh selamanya."

Arkan berdiri tegak, memegang dokumen asli dan bukti yang baru ia temukan.

"Pak Wijaya, siapkan semuanya. Kita akan mengundang pers. Kita akan berhadapan langsung dengan Kirana. Dan kali ini, di depan mata seluruh kota, aku akan membongkar siapa sebenarnya monster yang selama ini kita anggap malaikat."

Badai yang semula hanya melanda hati mereka, kini telah meluas ke seluruh kota. Perang antara kebenaran dan kebohongan telah mencapai puncaknya. Dan di tengah badai itu, nasib Arkan, Nara, dan semua orang yang mereka cintai tergantung pada satu hal: seberapa kuat bukti yang bisa mereka temukan sebelum Kirana berhasil menghancurkan segalanya selamanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!